My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
Move On


__ADS_3

"Makan malem di luar yuk!" Ajak Abi saat mereka berdua di dalam kamar. Hana yang mendengar ajakan Abi memandang curiga suaminya, ia masih ingat betul saat waktu itu ia gagal makan di luar.


"Elahh Hana, kali ini gak gagal lagi deh. Lo nya juga kan lagi bulanan, dan kalo pun gak bulanan lo juga udah siap gue unboxing. Hehe..!" Kekeh Abi menggoda istrinya.


"Mau ngajak makan dimana? Hotel?" Sindir Hana.


"Kalo di hotel lo yang gue makan lah. Emh.. ke cafe temen gue aja yuk! Udah lama gue gak nongkrong di sana!" Ajak Abi.


"Kalo gitu Hana ganti baju dulu ya! Kaka mending sholat maghrib dulu gih, terus siap-siap!" Perintah Hana, meski malas Abi tetap menuruti perintah istrinya.


Hana memang tak butuh lama untuk berdandan, ia hanya mengaplikasikan liptin dan bedak bayi seperti biasanya, tak perlu yang berlebihan.


Alis mata yang tebal dan panjang alami, bulu mata yang lentik dan pipi putih yang memang merona merah alami, serta bibir berwarna pink natural tak butuh untuk banyak dipoles.


Kini keduanya telah siap untuk berangkat, Abi menggandeng mesra tangan mungil Hana selama perjalanan menuju basement parkiran bawah ke mobil mereka.


"Lo kok seneng banget pake bedak bayi sih Han?" Iseng Abi bertanya pada istrinya.


"Suka aja wanginya Ka, aku juga suka ngantongin minyak telon. Gemes aja kalo ada wangi-wangi bayi di badan aku!" Jawab Hana.


"Berarti lo siap nih secepetnya punya bayi? Entah jahil atau apa Abi menggoda istrinya dengan pertanyaan itu.


"Emang Ka Abi mau punya bayi dari Hana?" Skak, pertanyaan polos istrinya mampu membuat Abi terdiam.


"Kenapa emang gak mau?".


"Mbak Raya?" Lagi, jawaban polos istrinya mampu memporak poranda kan fikirannya. Namun ia tetap terlihat santai, ia tetap fokus mengendalikan mobil mewahnya.


"Kan istri gue itu lo, kenapa harus Raya coba?" Tanya Abi tanpa menoleh ke arah istrinya.


"Yaa, tapi kan cinta Ka Abi buat Mbak Raya. Semua laki-laki bukannya pengen punya anak dari perempuan yang dia cinta, Ka Abi pasti gitu juga dong!" Sindir Hana menatap lekat suaminya.

__ADS_1


"Kalo gue maunya punya anak dari lo gimana?" Kini pertanyaan Abi membuat Hana salah tingkah.


"Emang Ka Abi udah cinta sama Hana?" Seperti biasa Hana selalu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lagi.


"Mungkin.." jawab Abi singkat.


"Ahhh.. baru mungkin aja aku udah seneng banget ini!" Teriak Hana menepuk-nepuk kedua sisi pipinya dengan telapak tangan. Hal tersebut sontak membuat Abi tertawa gemas.


Setengah jam perjalan mereka akhirnya mereka sampai di tempat yang mereka tuju.


"Udah sampe!" Ucap Abi saat memarkir mobilnya.


Abi dan Hana pun bergandengan tangan saat memasuki kafe tersebut, sebelumnya Abi sudah memesan tempat untuk dia dan istrinya.


"Mau makan apa?" Tanya Abi membuka buku menunya.


"Aku gak ngerti Ka, pesenin yang sama aja deh kayak yang Kaka pesen!" Bisik Hana lirih karena malu dengan waitress yang menunggui mereka.


"Hana, ini kartu kredit buat lo. Semua kebutuhan rumah tangga sama kebutuhan pribadi lo ambil aja dari sini, juga buat bayar pengobatan, obat-obatan suster pribadi Ibu. Pokoknya kebutuhan Ibu ambil dari sini aja! Untuk gaji Angga asisten-asisten lo sama karyawan resto lo, itu tanggung jawab lo ya, karena lo pimpinan mereka. Gue mau lo belajar tanggung jawab sama bawahan-bawahan lo!" Ucap Abi sambil menyerahkan kartu kredit miliknya pada sang istri.


"Tapi Ka, biaya Ibu mahal! Aku terima nafkah lahir dari Kaka, tapi untuk biaya Ibu Insya Allah Hana masih mampu Ka, Hana gak enak kalo harus ngerepotin Kaka juga!" Hana mencoba bernegosiasi.


"Ibu lo itu, Ibu gue juga Hana. Gue ini suami lo udh wajibnya gue ngurus lo sama Ibu juga. Lo jangan ngeremehin gue, semahal apapun biaya Ibu, gue sanggup kok. Lo tau kan gue siapa?" Terselip kesombongan pada ucapan Abi, namun ia begitu agar istrinya tak lagi menolak perintahnya.


Tak lama makanan pesanan mereka pun datang, Hana sudah tak lagi menolak permintaan suaminya. Mereka berdua kini asyik menikmati makan malam pertama mereka diselingi obrolan dan candaan seperti biasanya.


"Abi..!" Sapa seseorang yang sedang menghampiri meja mereka berdua.


"Mike? Syukur deh lo di cafe, apa kabar?" Tanya Abi saat orang tersebut sudah duduk di sebelahnya.


"Gue baik Bro, lo sendiri apa kabar? Lama gak maen-maen ke cafe mentang-mentang penganten baru, udah gak nongkrong-nongkrong lagi sekarang mah!" Goda pria bernama Mike itu.

__ADS_1


"Ohh iya kenalin, ini istri gue Hana. Hana ini temen gue, Mike pemilik cafe ini!" Ucap Abi memperkenalkan dua orang dihadapannya. Hana dan Mike pun berjabat tangan memperkenalkan diri.


"Pantes gak pernah nongkrong lagi, kalo bininya macem dia siapa sih yang gak betah di rumah doang mah!" Puji Mike membuat Hana tersipu malu.


"Jangan sampe nih pisau stik nyongkel mata lo ya Mike!" Ancam Abi melihat Mike terus fokus menatap Hana.


"Ngeri amat lo ah!" Sahut Mike bergidik ngeri.


"Lo dari mana? Gue pernah sekali ke sini, tapi kata pegawai lo, lo nya lagi keluar negeri? Kemana?" Tanya Abi.


"Ke Perancis, nyokap gue sakit!" Jawab Pria yang memang terlihat seperti bule itu.


"Oh yaa sakit apa?" Tanya Abi lagi.


"Biasalah orang tua!" Jawab Mike singkat.


Sejenak hening..


"Tapi hebat ya mantan lo Bi, cepet banget move on!" Ucap Mike membuat Abi mengernyitkan dahinya.


"Maksud lo?" Tanya Abi bingung.


"Pas di Perancis gue sering ngeliat si Raya keluar masuk apartemennya selalu sama cowok macem sepasang kekasih, karena kebetulan unit apartemen dia satu lantai sama unit apartemen tunangan gue. Mereka beberapa kali juga keliatan mesra, pernah pas malem gue sama tunangan gue baru pulang jenguk nyokap gue ngelihat mereka berdua ciuman di depan pintu unit apartemen dia. Kayaknya dia gak ngeh in gue deh, mau negor juga gue nya takut ganggu!" Jawab Mike panjang lebar tanpa tau perubahan wajah Abi saat ini.


Sedang Hana cukup tercengang dengan penuturan teman suaminya itu. Ia yakin Mike bicara jujur, secara dia tidak tau pernikahan seperti apa yang dijalaninya dengan Abi.


"Gue balik ya Mike, udah terlalu malem. Besok gue harus berangkat ke Bandung ada acara soalnya!" Ucap Abi kemudian memanggil waitress untuk meminta bill.


"Gak usah bayar Bi, gue teraktir. Anggap aja acara perkenalan gue sama istri lo ini. Kapan-kapan mampir lagi ya!" Sahut Mike.


Setelah mengucapkan terima kasih, Abi dan Hana bergegas kembali ke apartemen mereka. Hana sadar saat ini Abi dalam keadaan yang sangat marah, kecewa dan sedih pastinya karena sepanjang perjalanan Abi bersikap sangat dingin bahkan wajahnya memerah menahan marah. Paling tidak dalam kondisi seperti ini Abi tetap melajukan mobilnya dalam kecepatan sedang, membuat Hana sedikit tenang.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2