
PLAAKKKKK
Tamparan lumayan keras berhasil mendarat di pipi Abi oleh Kinan membuat semua yang berada di kamar perawatan Hana terkejut, tak terkecuali Hana yang langsung menutup mulutnya dengan tangannya.
"Udah Mamah pernah bilang sama kamu kalo sedang bersama istrimu hati-hati bawa mobilnya, sekarang lihat kondisi istri kamu! Bener-bener keterlaluan kamu Bi!" Gertak Kinan penuh amarah.
Abi hanya menginfokan jika dirinya dan Hana mengalami kecelakaan dan saat ini tengah dirawat di rumah sakit. Ia memang sengaja tidak memberitahukan terlebih dulu penyebab mereka di rumah sakit karena tak ingin membuat keluarganya semakin khawatir.
Abi memilih diam dan mendengarkan saja gertakan Kinan, karena ia tak ingin menjelaskan kondisi sebenarnya tentang Hana di depan Hana. Merasa kemarahan sang Mamah tak kunjung reda Abi memilih untuk keluar dari ruang rawat istrinya tersebut.
"Kebiasaan memang tuh anak, kalo orang tua ngomong main tinggal pergi aja!" Gerutu Kinan, ia pun menghampiri sang menantu dan duduk di sisi ranjang.
"Mana yang sakit, Sayang? Maafin Abi ya yang masih seenaknya sama kamu, masih enggak bisa ngertiin kamu!".
Pandangan Kinan tertuju pada kedua tangan Hana yang diperban, sedikit aneh dengan perban yang membalut menantunya itu, benturan seperti apa yang mengakibatkan tangan menantunya terluka sedangkan anggota tubuh lainnya aman dan lagi Abi tak sedikit pun terdapat luka atau memar.
Tapi tidak dengan Irma, ia tahu apa yang sesungguhnya terjadi pada puterinya. Tak ayal raut wajah Irma langsung berubah sedih karena sang puteri kembali kambuh kondisi mentalnya.
"Kak Abi gak salah Mah...!" Hana menjeda ucapannya yang lirih dan bergetar.
"Kak Abi bawa mobilnya udah pelan, tapi..!" Hana terlihat kembali mengumpulkan kekuatan dan keberaniannya untuk melanjutkan ucapannya.
"Kami.. kami.. ditabrak dari belakang Mah..!" Lanjut Hana dengan tertunduk, wajahnya kembali terlihat ketakutan.
"Astaghfirullah Al Adzim..!" Pekik Kinan dan semua yang tengah berada di sana.
"Tangan kamu kenapa sayang, luka ..?" Tanya Kinan yang memang benar-benar penasaran luka seperti apa di tangan menantu cantiknya itu.
"Mbak.." Ucap Irma memotong pertanyaan besannya tersebut dengan lembut agar Kinan tak tersinggung.
__ADS_1
Kinan mengerti ada sesuatu yang coba Irma halangi, ia pun mengangguk.
"Kalo gitu Mamah mau keluar dulu, mau lihat suami kamu. Pasti pipinya sakit banget udah Mamah tampar tadi!" Pamit Kinan kemudian meninggalkan Irma dan Hana diikuti oleh Rendra juga Hafidz di belakangnya.
***
"Abi..!" Sapa Kinan saat melihat sang putera tengah duduk sambil mengusap-usap pipi yang ditamparnya tadi.
Kinan, Rendra dan Hafidz kini duduk mengelilingi Abi, mereka bersamaan meringis saat dengan jelas melihat pipi Abi yang sangat merah akibat tamparan Mamahnya.
"Sakit ya Bi?" Tanya Kinan tak enak hati.
"Sakitlah Mah..!" Jawab Abi kesal.
"Maaf ya! Tadi Hana udah cerita kalo sebenarnya kalian ditabrak oleh pengemudi lain, jadi Mamah baru tau kejadian sebenernya tuh gimana!" Ucap Kinan.
"Iya maafin Mamah Bi!" Ucap Kinan sekali lagi.
"Sebenernya gimana ceritanya kalian bisa sampe tertabrak gitu? Terus yang aneh kenapa kamu baik-baik aja dan justru Hana yang terluka? Dan kenapa cuma tangannya aja yang terluka?" Tanya Kinan beruntun mewakili pertanyaan Rendra dan Hafidz yang juga sama penasarannya.
Abi pun kemudian menceritakan semua, mulai dari kecelakaan, ketakutan Hana sampai ketika Abi melihat tangan Hana berdarah akibat digigitinya sendiri, juga semua tentang petuah dokter untuk membawa sang istri ke psikiater.
"Separah itukah kondisi menantuku?" Lirih Kinan dengan mata berkaca-kaca.
"Abi bingung gimana membujuk Hana supaya mau konsul ke psikiater? Hana pasti marah!" Keluh Abi.
"Mamah ngerti Bi, kamu juga harus sabar, pelan-pelan. Perjalanan hidup yang dia jalani begitu sulit, bayangkan saja anak berusia delapan tahun harus mempunyai perjuangan begitu pelik bahkan perjuangan itu belum juga usai hingga sekarang. Berbicaralah dengan Ibu mertua kamu, bertukar fikiranlah dengan Beliau karena kini peran Beliau atas Hana sudah dibagi denganmu!" ucap Kinan menasehati.
***
__ADS_1
Sedang di kamar rawat Hana, Irma menatap sang puteri begitu sendu. Setelah beberapa tahun ia tak pernah melihat kondisi sang anak yang seperti saat ini, kini ia harus melihatnya lagi.
"Maafin Hana Bu, Hana ketakutan lagi..!" Ucap Hana lirih yang mengerti dengan apa yang Ibunya fikirkan.
"Ini musibah sayang, enggak ada yang salah. Ibu ngerti pasti kamu takut banget tadi, Ibu cuma mau bilang enggak usah takut ya toh kamu baik-baik saja!" Sahut Irma iba.
"Hana malu Bu..!" Lirih Hana.
"Malu kenapa?" Tanya Irma, kini tangannya telah mengusap lembut kedua tangan puterinya yang terbalut perban itu.
"Kak Abi dan keluarganya makin tau kondisi aku Bu aku aneh kan Bu? Mereka pasti nyesel punya menantu sakit mental kayak aku, aku udah coba ngontrol diri aku Bu, tapi enggak bisa!" Isak Hana dengan suara tercekat.
"Abi dan keluarganya sama sekali gak nganggep kamu aneh, mereka justru sangat khawatir dengan kondisi kamu, mereka bener-bener pengen kamu kembali seperti Hana yang mereka kenal!" Ucap Irma.
"Aku harus apa Bu?" Tanya Hana makin terisak.
"Kita konsultasi lagi yaa ke psikiater?" Usul Irma membuat Hana mendelikan matanya.
"Tapi Bu, Hana.." Ucap Hana terpotong di udara.
"Kamu tega ngelihat suami kamu makin frustasi mengahadapi kamu? Sejak awal dia mengungkapkan keinginannya untuk membawa kamu ke psikiater setelah keguguran dulu, dan kamu menolaknya mentah-mentah apa pernah dia membahasnya lagi? Tidak kan? Dan setelah itu apa pernah sikap dia berubah terhadap kamu setelah tau kondisi kamu yang sebenarnya, tidak kan? Itu semua karena dia benar-benar cinta sama kamu, sayang. Dia pernah bilang sama Ibu, dia tidak peduli dengan apapun tentang kamu, yang dia peduli kamu tetap bahagia dan ceria selama kamu dengannya, menjadi Hana yang selalu menggemaskan" Irma menjeda ucapannya, ia membalas tatapan Hana dengan penuh harap agar Hana mengerti dengan maksud ucapan Irma.
"Tapi, lihat kondisi kamu sekarang! Ibu yakin kondisi kamu saat ini membuat semua orang terlebih Abi sedih, apa kamu gak kasihan?" Lanjut Irma.
"Bu.. Hana sayang sama Kak Abi, tapi Hana gak mau ke psikiater lagi. Hana enggak gila Bu..!" sahut Hana terisak.
"Tak ada seorang pun dari kami menganggap kamu gila, kami hanya ingin menyembuhkan trauma kamu Nak. Kami hanya ingin melihat Hana yang selalu bahagia, selalu ceria tanpa bayang-bayang ketakutan masa lalunya. Semua sayang sama Hana, sayang sekali. Mau ya Nak, demi kami semua, demi Abi!" Pinta Irma dengan mata berkaca-kaca.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1