My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
Pergi Dengan Tenang


__ADS_3

Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya 🙏🙏..


Happy Reading 😊😊


💕💕💕


"IBUUUUUU..!!!" Teriak Hana terbangun dari tidurnya.


Mendengar teriakan Hana, Kinan yang saat ini juga menemani Hana di ruang perawatan Kinan ikut terlonjak kaget, begitu pula dengan Abi yang berada di luar kamar langsung masuk ke dalam untuk melihat apa yang terjadi.


"Kenapa Sayang?" Tanya Kinan menghampiri Hana yang tubuhnya gemetar serta wajah yang pucat.


"Hana mimpiin Ibu, Mah. Ibu bilang semua akan baik-baik aja, Ibu juga bilang kalo Ibu udah nitipin Hana ke Kak Abi terus Ibu pamit sama Hana. Habis itu Hana dicium Ibu, gak lama Hana lihat Ayah dan Hani gandeng Ibu!" Hana menceritakan mimpinya dengan terisak.


"Hana mau ikut mereka, tapi enggak dibolehin Mah. Hana takut kalo ini sebagai pertanda" Isak Hana semakin pilu.


Tak lama Hana berucap, alat pantau jantung Irma berbunyi lebih cepat dari biasanya membuat semua langsung dilanda kepanikan terlebih Hana.


"Ibuuu???" Hana terlihat begitu ketakutan melihat kondisi Irma yang semakin menurun.


"Aku panggil Dokter Rama dulu!" Abi langsung bergegas keluar menuju ke ruangan Dokter Rama yang beberapa hari ini memang selalu berjaga untuk mengawasi kondisi Irma yang memang sudah diperkirakan akan semakin memburuk.


Tak lama Dokter Rama dan beberapa perawat juga Dokter pendamping sudah tiba di kamar perawatan Irma.


Mereka pun meminta agar seluruh keluarga yang hadir untuk keluar dari ruangan.


Awalnya Hana enggan untuk menuruti perintah Dokter Rama, namun setelah berbagai bujuk rayu dengan berat hati Hana pun mau keluar ruangan perawatan sang Ibu.


Abi yang berdiri menyandarkan punggungnya di dinding terus menatap istrinya yang tak sama sekali berhenti menangis dengan wajah pucat di dalam pelukan Kinan.

__ADS_1


"Sabar ya Sayang, doakan Ibu terus supaya Ibu bisa ngelewatin masa kritisnya. Hana harus kuat biar Ibu juga kuat!" Kinan terus-menerus menyemangati menantu cantik nya tersebut.


Tetapi sayang, harapan mereka untuk Irma melewati masa kritisnya saat ini sepertinya harus kandas setelah Dokter Rama, Dokter pendamping serta para perawat keluar dengan wajah penuh duka.


"Sebelumnya kami semua memohon maaf dan berharap keluarga bisa menerima kenyataan yang menyakitkan ini, kami sudah melakukan segala upaya terbaik kami tapi Allah berkendak lain. Kami semua turut berduka cita atas meninggalnya Almarhum Ibu Irma__!" ucapan Dokter Rama harus terputus ketika Hana menjerit histeris.


"ENGGAAAAKKKK, ENGGAKKK MUNGKIN IBU MENINGGAL. IBU UDAH JANJI MAU NEMENIN HANA SELAMANYA!" Hana langsung menerobos masuk ke dalam kamar perawatan Ibunya.


Langkahnya terhenti ketika menyaksikan tubuh sang Ibu sudah ditutup seluruhnya dengan kain putih. Hana pun melangkahkan kakinya perlahan ke pembaringan Ibunya, sedang yang lain sudah berdiri di belakangnya, menatap nanar ke arah Hana.


"Ini kenapa Ibu ditutup juga mukanya sama selimut, kalian bodoh atau apa hah? Kalo Ibu gak bisa nafas gimana?" gertak Hana pada beberapa suster yang mengurusi tubuh Irma.


"BUKAAA..!!" teriak Hana membuka selimut yang menutupi kepala dan tubuh Ibunya.


"Bu.." Hana menatap nanar wajah pucat Ibunya.


"Bu, bangun! Ibu jangan becanda kayak gini, enggak lucu! Bangun Bu, kita pulang!" Hana mensejajarkan wajahnya di dekat wajah sang Ibu, air matanya pun sudah luruh membasahi wajah cantik nan pucatnya.


"Hana yang sabar ya, yang kuat. Ikhlaskan Ibu!" sahut Dokter Rama dengan wajah sedih.


"Ikhlaskan apa? Ibu masih hidup kok, coba Pak Dokter sekali lagi tolong Ibu, pasti Ibu bangun. Usaha yang lebih keras, jangan nyerah gini aja!" Hana menatap tajam sambil terus mendekati Dokter Rama.


"Hana yang kuat ya, Ibu udah enggak sakit lagi. Ibu Hana pasti ditempatkan di tempat terbaik, karena Ibu Hana wanita baik. Ikhlaskan supaya Ibu juga tenang perginya!" Dokter Rama terus mencoba membuat Hana ikhlas melepaskan Ibunya.


Mendengar ucapan Dokter Rama, Hana hanya menatap sendu satu per satu orang-orang yang berada di ruangan tersebut dan ketika tatapannya tertuju pada suaminya tubuh Hana langsung jatuh tak sadarkan diri, beruntung Abi dengan sigap langsung menangkap tubuh lemah istrinya sebelum membentur lantai.


Abi membopong tubuh lemah istrinya dan langsung meletakan di atas bedsofa di ruangan tersebut. Abi menatap istrinya dengan tatapan sedih, tak pernah menyangka bahwa di usia semuda ini istrinya harus sering mengalami kejadian menyedihkan dan menyakitkan.


Ia pun berjanji akan selalu berusaha memberikan kebahagian pada sang istri, tanpa sedikit pun menyakitinya sama sekali.

__ADS_1


Entah sudah berapa lama Hana tak sadarkan diri, karena saat terbangun Hana melihat semua orang yang dikenalnya sudah berada di ruangan Irma, bahkan ia sendiri lupa jika telah ditinggal pergi sang Ibu.


Hana kemudian menatap Abi yang duduk di sampingnya dengan wajah penuh kesedihan dan kekhawatiran, anehnya Hana tak sama sekali merasa ketakutan berada sangat dekat dengan suaminya saat ini.


"Aku haus, minta minum!" Hana menunjuk gelas yang berada di dekat suaminya, dengan sigap Abi langsung membantu Hana duduk dan menyodorkan air putih yang diminta istrinya dan meminumkannya.


Selama Hana menyesap air di gelas, ia pun mulai mengingat apa yang tengah terjadi saat ini.


"Ib .. Ibu..?" Tanya Hana setelah menghentikan minum nya.


Abi langsung meletakan gelas dan membelai lembut puncak kepala istrinya, meskipun hatinya sedikit ragu, takut-takut jika Hana kembali histeris berhadapan dengan dirinya.


"Ikhlaskan Ibu ya Sayang, aku tau ini berat banget. Tapi kamu harus kuat, harus sabar, harus ikhlas menerima kepergian Ibu!" sahut Abi tanpa menghentikan belaian tangannya di atas kepala sang istri.


Hana menatap nanar mendengar ucapan suaminya, Abi yang mengira Hana mulai sadar dan ketakutan berdekatan dengannya berinisiatif untuk menjauh dari istrinya, tetapi tanpa ada yang menyangka satu pun Hana justru menggenggam telapak tangan Abi dan seraya meminta Abi untuk kembali duduk di hadapan nya.


Hana kemudian menjatuhkan kepalanya di dada bidang suaminya, memeluk erat dan menumpahkan air matanya terlebih disaat Hana memeluk suaminya ia melihat ke arah berangkar dimana tubuh tak bernyawa Ibunya terbaring dengan selimut yang menutupi kesuluruhan tubuh Irma.


Dengan suara lirih dan tercekat, Hana yang masih di pelukan Abi menguatkan diri untuk ikhlas melepas kepergian sang Ibu, "Innalilahi wa Innailaihi Raji'un".


"Maafin Hana Bu, kalo Hana belum bisa jadi anak yang baik buat Ibu, tunggu Hana di sana. Hana janji Hana bakal jadi anak baik supaya kelak kita dipertemukan di sana!" lanjut Hana masih di dalam pelukan suaminya yang juga membalas erat pelukannya dan menciumi puncak kepala Hana berulang-ulang.


"Aku tau kamu kuat, kamu hebat. Ibu pasti bangga punya puteri sehebat kamu. Yang sabar ya Sayang, ikhlaskan Ibu!" Abi menjauhkan wajah istrinya dari dekapan nya, tetapi tetap menangkup wajah mungil istrinya yang sudah banjir air mata dengan kedua telapak tangan lebarnya agar mereka saling menatap.


"Jangan tinggalin aku, jangan sakiti aku lagi. Aku udah gak punya siapa-siapa, Ibu bilang Kak Abi bakal nyanyangi Hana dan enggak akan nyakitin Hana lagi!" pinta Hana sesegukan.


Tanpa menjawab ucapan istrinya, Abi langsung menghujani wajah Hana dengan kecupan-kecupan. Puas menciumi wajah istrinya, ia yang juga menangis langsung kembali menarik Hana ke dalam pelukannya.


"Aku janji Sayang, gak akan pernah nyakitin kamu lagi. Aku akan membahagiakan kamu..!" tak hanya mereka berdua, semua yang berada di ruangan tersebut pun menumpahkan air mata mereka melihat pemandangan di depan mata mereka.

__ADS_1


"Kamu pasti bisa pergi dengan tenang sekarang, Irma. Anak-anak kita sudah saling memaafkan, mereka pasti kembali seperti dulu lagi. Terima kasih untuk semuanya" Kinan langsung memeluk tubuh kaku besannya tersebut.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2