
"SAH, SE-SAH-SAHNYA 🤗🤗".
Begitulah bunyi caption Abi saat mengupdate foto tempat tidur yang dia ambil sebelum membawa Hana ke villa ini.
Abi yang sudah membersihkan diri, langsung berselancar di dunia maya karena setelah pertempuran dengan istrinya tadi tak membuat Abi sama sekali mengantuk.
Ia menatap tubuh istrinya yang sudah terlelap sejak selesai bercinta tadi, Hana masih setia dengan posisi yang membelakangi suaminya. Abi bisa melihat betapa lelah istrinya.
Ia pun meletakan ponselnya di atas nakas samping ranjangnya, dan mulai memeluk tubuh kecil istrinya. Namun perhatiannya kembali terfokus oleh bekas jahitan di punggung istrinya, karena ini kali kedua Abi sadar jika istrinya mempunyai bekas luka yang cukup panjang di tubuhnya, bahkan cukup banyak.
Karena saat tadi ia akan melakukan penyatuan, Abi bisa melihat kulit paha bagian dalam sebelah kiri istrinya juga terdapat bekas jahitan, betis sebelah kanan bahkan di lehernya ia bisa lihat bekas jahitan juga. Meskipun sudah mulai memudar.
"Separah apa kecelakaan yang pernah menimpa kamu sayang, hingga tiap jengkal tubuhmu terdapat bekas-bekas jahitan?" Batin Abi, ia langsung membalik tubuh istrinya agar mengahadap dirinya.
"Cantik..!" Pujinya kemudian memberi kecupan singkat di bibir Hana dan membawa tubuh yang kelelahan itu ke dalam dekapannya.
***
Bunyi suara ponsel Abi begitu mengganggu tidur Hana, dengan mata yang masih sangat berat dan tubuh yang dirasa luluh lantah ia berusaha untuk duduk.
Ia menatap ke arah jam yang tergantung di dinding kamar villa itu.
"Jam 1 malem, siapa yang heboh nelpon in terus?" Tanya Hana kemudian mencoba untuk menyingkirkan tangan Abi yang berada di atas perutnya. Ia langsung mengambil ponsel Abi untuk melihat siapa yang terus menerus menghubungi suaminya.
Terlihat 10 missed call dan 15 pesan whats up dari Raya, saat ingin membuka pesan tersebut, kembali nama Raya terpampang di layar ponsel suaminya.
__ADS_1
Ingin sekali rasanya Hana mengangkat panggilan itu tetapi ia ragu, hingga bunyi ponsel Abi akhirnya juga mengganggu sang pemilik.
"Siapa?" Tanya Abi dengan suara serak dan mata yang berusaha keras ia buka.
"Raya!" Jawab Hana singkat.
"Raya? Mau ngapain dia nelpon malem-malem?" Tanya Abi kemudian ikut duduk dihadapan istrinya.
"Mana aku tau, dari tadi bunyi terus. Ada 10 sama sekarang 11 missed call dan 15 pesan!" Hana terlihat tidak suka, ia sangat berharap agar Abi mengacuhkan panggilan dari mantan kekasih suaminya itu.
Abi seperti akan membuka pesan yang dikirimkan oleh Raya, namun belum sempat membukanya ponselnya kembali berdering. Hana menatap Abi penuh harap agar tak memperdulikan panggilan telepon, bahkan ia berharap Abi mau meng non aktifkan ponselnya.
"Aku angkat dulu ya sebentar?" Izin Abi.
"Jangan, aku gak mau Kaka angkat panggilan dia!" Sahut Hana kesal, ia mencekal tangan Abi ketika Abi akan beranjak dari tempat tidur mereka.
"Kaka masih peduli sama dia?" Sewot Hana.
"Bukan sayang, sebentar aja aku janji. Aku cuma penasaran mau apa dia" sahut Abi kemudian beranjak dari tempat tidur mereka.
Hana sudah tak lagi melarang suaminya, ia membiarkan Abi untuk mengangkat panggilan dari Raya meski dengan wajah yang sengaja ia perlihatkan ketidak sukaan.
"Bi ini gue Lina, Raya Bi Raya..!" Ucap Lina saat Abi mengangkat panggilannya.
"Raya kenapa?" Tanya Abi lebih ke penasaran, meski dari suara Lina terlihat sangat ketakutan.
__ADS_1
"Raya nyoba buat bunuh diri Bi, sekarang gue lagi di rumah sakit. Dia emang udah ditangani Dokter di sini Bi, tapi kondisinya kritis. Dia terus-terusan manggil nama lo. Dokter minta lo buat dateng, siapa tau keadaannya membaik. Tolong Bi sekali ini aja gue mohon lo temuin Raya, gue tau kalian udah pisah tapi Raya belum bisa nerima kenyataannya Bi. Tolong..!" Jawab Lina penuh isak dan kekhawatiran.
Kini Abi dibuat benar-benar dilema, ia yakin Hana pasti tak setuju jika ia harus ke Paris untuk menemui Raya, namun hatinya pun tak tega untuk tidak memperdulikan keadaan Raya saat ini. Apalagi keadaan Raya yang terpuruk akibat ulahnya.
"Raya depresi Bi, semenjak lo memutuskan hubungan kalian Raya seakan-akan enggak ada semangat hidup lagi. Bahkan dia selalu mengurung diri Bi, gak peduli apapun di sekitarnya. Gue enggak minta buat lo balikan lagi sama Raya, tapi gue cuma mau minta tolong sama lo buat bantuin dia bangkit Bi, lepas dia pelan-pelan jangan kayak gini. Beri dia waktu supaya dia ngerti kalo perpisahan kalian adalah yang terbaik, tapi bantu dia dulu Bi dari sakit mentalnya. Gue takut kalo lo terus maksain perpisahan kalian dia bakal nyoba buat bunuh diri lagi!" Merasa tak ada sahutan apapun dari Abi, Lina kembali mencoba menjelaskan keadaan Raya saat ini.
"Gue akan ke sana secepatnya!" Jawab Abi kemudian memutus sambungan telepon mereka. Abi membuka pesan yang dikirimkan Lina melalui ponsel Raya, ada foto saat Raya di kamar mandi dengan bersimbah darah, ia melihat pergelangan tangan yang disayat bemda tajam, juga foto saat Raya di ranjang rumah sakit setelah menerima pertolongan.
Dengan wajah frustasi, Abi kembali ke kamar. Ia melihat Hana masih setia menunggunya di atas tempat tidur. Entah harus bagaimana ia menjelaskan situasinya yang ia hadapi saat ini, dia benar-benar bingung.
"Ada apa?" Tanya Hana.
"Raya dirawat di rumah sakit. Ia nyoba buat bunuh diri!" Jawab Abi duduk di sebelah Hana.
"Terus apa yang dia mau dengan nelpon Kaka berkali-kali?" Tanya Hana dengan tatapan dingin.
"Tadi bukan Raya, tapi Lina manajernya yang nelpon aku. Lina minta tolong sama aku buat ke sana karena Raya terus menerus manggil-manggil nama aku, Raya kritis Han!" Abi berharap Hana dapat mengerti dengan menceritakan kondisi Raya saat ini.
"Kaka mau ke sana?" Tanya Hana lagi, hatinya terasa sesak tetapi ia mencoba untuk terlihat biasa saja.
"Aku janji, cuma sampai Raya membaik. Aku akan jelasin ke dia baik-baik, aku akan kasih pengertian ke dia kalo perpisahan aku sama dia memang udah seharusnya terjadi. Tapi buat sekarang ini kondisi mental dia gak memungkinkan buat aku ngejauhin dia Hana, dia depresi Hana. Dia bakal ngelakuin percobaan bunuh diri lagi, aku minta tolong sama kamu izinin aku buat memperbaiki keadaan!" Abi menjelaskan dengan penuh harapan agar istrinya mau mengerti.
"Kalo aku gak ngizinin Ka Abi ke sana apa Ka Abi tetap nekat berangkat?" Tanya Hana penuh penekanan.
Abi cukup terkesiap dengan pertanyaan Hana, ia melihat ada yang berbeda dari istrinya, apakah Hana yang biasanya mudah tersentuh akan tega membiarkan Raya dengan kondisinya?
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=