
Tanpa mengetuk terlebih dahulu, Abi langsung membuka pintu ruangan yang selama empat bulan ini ditempati dirinya dan sang istri.
Pemandangan menakjubkan langsung tersaji di depan matanya ketika mata Hana menatap dirinya.
Yaa, mata teduh yang selama ini terpejam telah terbuka.
Abi menghampiri Hana dengan langkah perlahan, ia tengah berjudi dengan keadaan takut jika kedatangannya justru kembali memperburuk keadaan Hana lagi, mengingat hal buruk yang ia lakukan pada sang istri, tetapi rasa rindu dan syukur yang teramat sangat membuatnya ingin mendekati dan memeluk istrinya.
Namun sepertinya Hana tidak menunjukan keadaan tak nyaman denhan kedatangan Abi, bahkan semakin Abi mendekati, Hana semakin menatap intens suaminya.
"Sudah bangun puteri tidur, hmm?" Tanya Abi lirih mensejajarkan wajahnya dengan wajah Hana.
Sejak melihat Hana yang telah membuka matanya, tangisan haru Abi sama sekali tak bisa dibendung.
"Terima kasih untuk sudah kembali Sayang, maafin aku __!" Irma langsung menyentuh lengan Abi ketika Abi terlihat ingin mengungkit kejadian memilukan empat bulan lalu.
Abi yang mengerti langsung menengok ke arah Ibu Mertuanya dan menganggukan kepalanya. Ia pun memilih menciumi wajah istrinya dan ia patut bersyukur Hana sama sekali tak menolak sentuhan lembutnya itu. Meskipun Abi juga bisa menangkap ekspresi bingung istrinya.
Setengah jam sudah Abi berada di sisi sang istri, memperhatikan istrinya yang menelisik ruang perawatannya juga sesekali melihat ke arah sang suami yang tak pernah lepas dari senyuman ketika mata mereka saling bertemu.
"Hana bisa denger kan Bu?" Tanya Abi ketika Hana sudah terlelap dalam tidurnya.
"Iya, cuma untuk bicara Hana belum bisa. Masih butuh dilatih. Dulu waktu Hana koma pertama kali juga seperti ini, dia tidak langsung bisa bericara!" Jawab Irma.
"Setelah ini bagaimana Bu?" Tanya Abi lagi karena sungguh ia tak mengerti apapun.
"Dokter Leonard bilang, Hana kemungkinan besok keluar dari ICU dan menempati kamar perawatan. Dokter Leonard juga yang lainnya akan melakukan pemeriksaan menyeluruh pada tubuh Hana, setelahnya menjadwalkan perawatan-perawatan yang dibutuhkan Hana pasca koma!" Jawab Irma membuat Abi mengangguk mengerti.
Dua jam sudah Abi menunggui Hana yang masih terlelap, membuatnya mulai ketakutan. Takut jika Hana kembali tidur panjang lagi, Irma yang menangkap kegelisahan menantunya berusaha untuk menenangkan sang menantu.
__ADS_1
"Hana hanya tidur, kamu gak perlu khawatir!" Ucap Irma.
"Sudah dua jam lho Bu, tapi Hana belum bangun juga. Aku takut..!" Lirih Abi membelai lembut wajah istrinya.
"Nanti juga bangun, kamu jangan khawatir!" Ucap Irma lagi, membuat Abi mengangguk meskipun tak bisa dipungkiri jika ia tetap merasa takut.
"Hari ini tak apa kan Ibu tidur di sini?" Izin Irma.
"Iya Bu, boleh. Saat ini Hana pasti akan terus mencari-cari Ibu!" Sahut Abi tersenyum, ia yakin istrinya saat ini lebih membutuhkan Ibunya dibanding dirinya. Karena Abi bisa melihat bagaimana tadi Hana terus menerus menatap sang Ibu dan akan terlihat senyum tipis dan singkat Hana ketika Irma mendekatinya.
Berbeda dengan dirinya, Abi merasa jika Hana selalu menampakan raut wajah kebingungan ketika dirinya mengajak Hana berbicara atau pun saling menatap satu sama lain.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, Abi masih saja setia duduk di sebelah ranjang istrinya sedang Irma sudah terlelap di ranjang yang biasanya ia tempati.
Perasaan Abi semakin diliputi kegelisahan dan rasa takut yang teramat sangat melihat Hana yang masih lelap dalam tidurnya, ia takut jika mata teduh itu kembali terpejam untuk waktu yang lama.
"Sudah bangun Sayang?" Tanya Abi ketika mata Hana telah terbuka sempurna. Dan lagi Abi dihadapi ekspresi Hana yang kebingungan ketika Hana melihat dirinya.
"Butuh sesuatu?" Tanya Abi tanpa mau ambil pusing ekspresi yang ditunjukkan istrinya.
"Uu..!" Hana berusaha keras mengatakan apa yang ia inginkan.
"Hana mau Ibu?" Tebak Abi yang diangguki oleh Hana.
"Ibu baru aja tidur, tuh! Kamu bisa bilang ke aku kalo kamu mau sesuatu atau butuh sesuatu!" Tawar Abi, namun Hana menggelengkan kepalanya lemah.
Melihat sang istri yang terus memandanginya, Abi hanya membalasnya dengan senyuman, telapak tangannya pun menyusuri rambut dan wajah sang istri dengan sangat lembut.
"Terima kasih sudah mau bangun Sayang, terima kasih sudah kembali lagi! Aku bersyukur banget Allah udah ngasih kekuatan buat kamu bertahan sampai sekarang. Semoga cepat sehat lagi ya Sayang, cepat pulih lagi. Kita mulai semuanya dari awal, memulai semua lebih baik lagi. Aku janji aku akan berubah, aku akan menjadi suami suami yang lebih baik lagi!" Lirih Abi di depan wajah Hana, namun lagi-lagi Hana hanya menampilkan ekspresi wajah kebingunan bahkan terlihat semakin bingung mendengar ucapan Abi.
__ADS_1
"Kamu udah lama tidur kan? Pasti kamu gak bisa tidur lagi kan? Aku temani begadang ya! Mau nonton tv?" Tawar Abi, tetapi Hana hanya bergeming dan terus memandang Abi.
"Enggak mau?" Tebak Abi dan Hana tetap bergeming.
"Mau aku bacakan cerita?" Tawar Abi lagi tetapi Hana masih tetap bergeming.
"Mau lihat foto-foto kita?" Kali ini Abi mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan ke Hana. Hana menatap sekilas ponsel Abi, kemudian menatap ke Abi.
Melihat tingkah Hana yang seperti itu, Abi berinisiatif membuka galeri ponselnya, menunjukkan foto-foto yanh tersimpan di sana.
Satu per satu Abi menggeser foto-foto tersebut sambil menceritakan kisah dibalik foto yang ia tunjukan, sedang Hana hanya memperhatikan tiap foto yang ditunjukkan oleh suaminya.
"Ini waktu kita lamaran, kamu cantik banget waktu itu. Inget gak waktu kita konfrensi pers setelah lamaran, kamu mencak-mencak ke salah satu wartawan yang bilang kalo kamu hamil duluan makanya masih SMA mau aku nikahin!" Abi tertawa mengingat kejadian waktu itu.
"Cantik kan?" Tanya Abi yang terus menggeser layar ponselnya untuk menunjukkan foto-foto Hana.
"Nah ini waktu kita nikah, asli waktu itu aku terpesona banget sama kamu sampe-sampe aku harus ngucapin kalimat ijab kabul diulang dan baru pas ketiga kalinya aku berhasil!" Ucap Abi terkekeh mengingat kejadian yang menggelitik dirinya itu.
Abi terus menunjukan foto-foto mereka, namun hanya ekspresi kebingan yang ditunjukkan istrinya. Tapi tidak jika ia menunjukkan foto Ibu atau anggota keluarga lainnya, bahkan sahabatnya Hana terlihat tersenyum memandanginya.
Berbeda jika ia menunjukkan foto kebersamaan antara dirinya dan Hana, Hana terlihat bingung dan mengernyitkan dahinya seakan sedang mengingat-ingat sesuatu.
Meskipun begitu Abi tak ambil pusing, mungkin karena terlalu lama tak sadarkan diri membuat Hana sedikit ngeblank.
Dirasa Hana jenuh dengan melihat-lihat foto di ponsel, Abi pun bercerita tentang masa-masa indah mereka, sambil terus membelai lembut rambut dan wajah cantik istrinya.
Hingga tak terasa jam sudah menunjukkan pukul satu malam dan Hana telah kembali terlelap, Abi yang merasa mengantuk pun meletakkan kepalanya di sisi sang istri kemudian memejamkan matanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1