
Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya 🙏🙏..
Happy Reading 😊😊
💕💕💕
Abi mendengus kesal, setibanya di kantor ia langsung mencoba menghubungi ponsel istrinya. Akan tetapi beberapa kali sudah ia mencoba menghubungi sang istri tak pernah diangkat.
"Dimana sih? Nanti kalo gak ditelpon marah-marah, ditelpon enggak diangkat-angkat" dengus Abi kesal meletakan secara kasar ponselnya.
Dia pun memutuskan untuk kembali menghubungi sang istri setengah jam lagi, dengan perasaan sedikit kesal dan lebih didominasi perasaan khawatir Abi mencoba mengalihkannya dengan mulai berkutat dengan pekerjaannya.
Dan setelah setengah jam, Abi mencoba kembali untuk menghubungi ponsel istrinya. Lagi-lagi Abi menggeram kesal karena setelah beberapa kali mencoba menghubungi istrinya, tak ada jawaban dari seberang sana.
Abi kemudian memutuskan untuk menghubungi Kinan guna mencari tahu keberadaan sang istri, beruntung tak butuh waktu lama sang Mamah mengangkat panggilan telponnya.
"Assalamualaikum Mah! Mah, Hana kemana kok aku telponin enggak diangkat-angkat?" Abi langsung mempertanyakan keberadaan istrinya.
"Wa'alayikumsalam, Hana ada kok lagi sama Kakek di belakang mansion. Mungkin ponselnya di kamar makanya enggak diangkat-angkat" jawab Kinan sedikit terkekeh mendengar nada kesal dan khawatir dari puteranya.
"Ngapain di sana?".
"Ngapain lagi, Kakek kan mau bikin mini Zoo buat menuhin ngidamnya istri kamu. Sekarang mereka lagi lihat tanah kosong di belakang mansion buat ngasih gambaran ke Hana yang mau ngedesain langsung mini zoo nya!" jawab Kinan.
"Seriusan?" sungguh Abi dibuat tak percaya jika Kakeknya benar-benar akan mengabulkan keinginan 'wah' sang istri.
"Ya kamu tau sendirilah Kakek gimana, selalu serius dengan ucapannya terlebih jika menyangkut Hana. Pasti langsung pengen direalisasikan!" Kinan tertawa renyah mengingat sifat Ayah mertuanya tersebut.
"Oohh, yaudah kalo gitu Mah. Nanti kalo udah selesai tolong bilangin ke Hana suruh telpon balik aku ya!" setelah mengucapkan salam, Abi pun memutus sambungan telponnya.
__ADS_1
Sedang di taman belakang mansion, tepatnya di gazebo taman. Hana dan Hafidz sedang asyik menggambar sketsa bentuk taman mini zoo sesuai dengan bentuk tanah yang tersisa di belakang mansion yang ternyata cukup luas.
"Kalo begini, bagus enggak Kek kira-kira?" tunjuk Hana pada gambar yang baru saja kalian selesaikan pada sang Kakek.
"Wahh, keren banget Sayang. Tapi kok enggak kamu pake semua tanah yang tersisa?" tanya Hafidz heran.
"Kebesaran Kek, orang aku juga cuma mau pelihara binatang yang lucu-lucu aja kok. Serem kalo pelihara binatang buas, Hana takut!" jawab Hana bergidik ngeri membayangkan di mansion tersebut terdapat beberapa binatang buas.
"Oohh yaudah kalo kamu maunya begitu, Kakek suka kok desain kamu ini. Emhh.. kira-kira tanah yang tersisa dibuat apa ya bagusnya?" Hafidz begitu detail mengamati gambar yang dibuat cucu menantunya itu, mengira-ngira sisa tanah yang terpakai bagusnya dibangun apa lagi agar kelak cicit-cicitnya betah bermain di mansion.
"Kakek..!" Gerutu Hana mencoba protes dengan gagasan sang Kakek, sedang Hafidz langsung tergelak melihat ekspresi menggemaskan Hana.
"Udah selesai?" sebuah suara lembut langsung mengalihkan mereka yang langsung menengok ke arah si pemilik suara.
"Udah Mah!" jawab Hana tersenyum lebar.
"Kalo udah lebih baik kamu telpon suami kamu sekarang Sayang, tadi dia nelpon Mamah uring-uringan gara-gara nelponin kamu enggak diangkat-angkat katanya!" titah Kinan lembut, tapi tetap membuat Hana berjengkit kaget karena bisa-bisanya ia melupakan suaminya.
"Sayang, jangan buru-buru gitu, hati-hati Nak takut jatuh kalo kamu jalan cepat-cepat gitu!".
Hana yang mendengar perintah Kinan dengan nada suara yang begitu mengkhawatirkannya langsung menengok lagi ke arah Kinan dan menggangguk, ia pun kemudian memelankan langkah kakinya dan lebih berhati-hati.
Sepeninggalan Hana, Hafidz langsung menunjukkan hasil sketsa gambar mini zoo buatan cucu menantunya itu dengan bangga.
Kinan pun tersenyum melihat karya menantu kesayangannya, tak pernah menyangka jika sang menantu memiliki bakat yang begitu luar biasa.
"Tapi dia tidak menggunakan seluruh tanah yang ada, hanya sebagian saja. Katanya terlalu besar jika harus memakai keseluruhan sisa tanah kosong di sana!" tunjuk Hafidz pada tanah yang akan dibuat mini zoo.
"Kira-kira selain kebun binatang mini yang membuat anak-anak kecil bakal betah, kita bangun apa lagi ya supaya mereka semakin betah lagi?" tanya Hafidz sungguh-sungguh membuat Kinan menggelengkan kepalanya sbol terus tersenyum.
__ADS_1
"Emmhhh, di sini kan taman bunga udah ada. Gimana kalo kita bangun taman bermain di sisi kebun binatang nanti. Yakin deh calon cucu-cicit kita betah tinggal di sini!" usul Kinan yang diangguki oleh Hafidz dengan senang hati.
"Kamu benar Sayang, kalo begitu fix akan kubanngun taman bermain di sisi kebun binatang nanti. Tapi ingat ya, jangan sampai Hana tau, bisa-bisa dia protes dan enggak setuju. Kamu tau kan sesungkan apa Hana itu!" perintah Hafidz yang diangguki oleh Kinan sambil terkekeh.
Sedang di kamar, Hana buru-buru menyambar ponselnya untuk menghubungi balik sang suami.
Hana dengan susah payah menelan salivanya saat melihat pemberitahuan dua puluh panggilan tak terjawab serta beberapa pesan yang masuk di layar ponselnya.
Tanpa membaca pesan-pesan sang suami yang sudah dipastikan berisi omelan-omelan untuk dirinya, Hana buru-buru melakukan panggilan video pada sang suami.
Tak butuh waktu lama, panggilan video mereka pun tersambung. Dengan cengiran khasnya yang tak merasa bersalah sama sekali Hana langsung menyapa sang suami dengan mengucapkan sebuah salam seperti biasa.
"Kamu kemana sih, hm?" tanya Abi sesudah membalas salam sang istri.
"Abis nganter kamu berangkat tadi aku langsung ke Kakek ehh keasyikan deh sama Kakek di taman belakang!" jawab Hana tersenyum lebar.
Namun melihat sang suami seperti masih merajuk membuat Hana menjelaskan lagi mengapa dirinya tak juga mengangkat telepon sang suami.
"Makanya ponsel tuh selalu dibawa, bikin khawatir aja! Nanti kalo enggak ditelpon marah, nuduh aku yang enggak-enggak, giliran ditelpon enggak dijawab!" rajuk Abi dengan wajah kesal namun terlihat menggemaskan untuk Hana.
"Iya maaf, besok-besok aku bawa terus deh ponsel aku. Udah jangan ngambek lagi Kak!" sahut Hana dengan wajah tak kalah menggemaskan.
"Jadi Kakek beneran jadi nih bangun mini zoo buat calon cicit-cicitnya?" tanya Abi mengalihkan topik pembicaraan.
"Iya Kak, padahal aku udah bilang enggak usah tapi Kakek tetep keukeh mau bikin. Biayanya pasti enggak sedikit Kak, aku enggak enak jadinya main nyeletuk aja!" jawab Hana mengeluh.
"Kamu mau bikin seratus mini zoo juga uang Kakek enggak bakal habis, pokoknya kamu siap-siap aja anak-anak kita bakal jadi bayi-bayi Sultan pokoknya!" pongah Abi tergelak membuat Hana berdecih.
"Berarti aku harus lebih berhati-hati kalo kepengen sesuatu, kalo Kakek denger pasti deh lebay kayak sekarang!" ucap Hana.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=