
Sebelum baca please jangan lupa like, komen and votenya ya, supaya aku semangat terus ngelanjutin ceritanya 🙏🙏..
Happy Reading 😊😊
💕💕💕
Sore ini meskipun pekerjaannya telah selesai, Abi masih belum beranjak dari kursi kebesarannya. Selama bekerja pun fikirannya sama sekali tak bisa fokus dengan pekerjaannya, kata-kata sang istri subuh tadi benar-benar mengusik fikirannya.
Juga rasa rindu pada Hana yang benar-benar membuatnya gelisah menambah beban fikirannya. Biasanya selama bekerja ia akan beberapa kali bervideo call an dengan Hana namun seharian ini ia tak punya keberanian untuk menghubungi istrinya karena bisa dipastikan Hana akan histeris melihat atau pun mendengar suaranya.
Dan demi mengobati sedikit kerinduannya pada sang istri, Abi menelfon Imah yang saat ini sedang menunggui Hana di rumah sakit, namun sebelumnya ia mengirimkan pesan terlebih dahulu.
"Bi, saya video call ya tapi jangan sampai Hana tau, cukup Bibi arahkan saja kameranya ke istri saya!".
Setelah menerima balasan dari asisten rumah tangganya itu, Abi langsung menghubungi Imah via video call dan sesuai perintah majikan mudanya, Imah tak sama sekali bersuara dan langsung mengarahkan kameranya pada Hana.
Abi tersenyum getir ketika melihat sang istri menatap keluar jendela dengan tatapan sendu dan ia tau jika Hana selalu ingin berada di luar kamar perawatannya ketika sore menjelang, namun karena keadaan yang tak memungkinkan Dokter tak mengizinkan Hana untuk keluar kamar dahulu.
"Biasanya Hana boleh keluar kalo sore gini Bi, kok sekarang enggak dibolehin. Kenapa?" Tanya Hana menoleh ke arah Imah yang masih mengarahkan kameranya diam-diam.
"Nanti kalo Non Hana udah mendingan dibolehin lagi kok keluar kamar!" Jawab Imah sekenanya.
"Emang aku kenapa? Aku ngerasa sehat kok!" Tanya Hana dengan nada protes dan wajah cemberut membuat Abi yang sedang memperhatikannya mengulum senyum.
"Kan Non Hana suka pusing, jadi Dokter gak mau ambil resiko kalo kepala Non Hana sakit tapi lagi di luar kamar!" Jawab Imah sesuai dengan yang diajarkan Kinan tadi.
"Oohh gitu..!" Sahut Hana menganggukkan kepalanya membuat Abi semakin tersenyum lebar.
"Kak Abi belum pulang kerja ya Bi?" Pertanyaan Hana sontak membuat Abi memusatkan penuh perhatiannya pada sang istri.
__ADS_1
"Kenapa? Non Hana kangen sama Den Abi?" Tanya Imah menggoda.
"Hana kangen, tapi Hana takut banget!" Jawab Hana tertunduk sedih.
"Den Abi udah banyak berubah Non, dia juga nyesel banget sama perbuatannya waktu itu. Dia sekarang udah jadi lelaki yang lebih sabar!" Ucap Imah hati-hati takut membuat mood Hana berubah.
"Makasih ya Bi waktu itu udah nolongin Hana!" Sahut Hana tersenyum tulus yang dibalas senyum tulus juga oleh asisten rumah tangganya itu.
"Mungkin kalo dulu Bibi gak nolongin Hana, Hana udah meninggal kali. Hahahha.. Padahal mah lebih baik begitu, daripada hidup tapi harus menderita. Iya kan Bi?" Hana mulai kembali ke mood dendamnya, sedangkan Imah hanya terdiam dan terus menatap penuh iba majikan kecilnya.
"Bibi tau enggak rasanya mencintai tanpa dicintai atau kalo enggak berjuang tanpa dihargai? Yaa kayak Hana ini, sakit hati, sesak, marah, benci!" Lanjut Hana menggebu-gebu.
"Siapa yang gak cinta sama Non Hana? Semua cinta kok sama Non Hana, termasuk Den Abi" Sahut Imah.
"Kenapa sih semua orang belain orang jahat itu? Emang luka-luka dibadan aku belum cukup membuktikan betapa jahatnya dia sama aku? Belum cukup membuktikan kalo dia gak pernah sayang sama aku! Bibi juga lihat sendiri kan betapa brutalnya dia nyiksa aku waktu itu, dimana letaknya dia sayang sama aku? Jangankan sayang, dia aja sama sekali gak ngerasa kasihan sama aku!" Geram Hana menatap tajam Imah, sedang Imah hanya mampu terdiam tanpa bisa menjawab apapun.
"Bibi bantu Hana naik ke atas ranjang!" Teriak Hana membuat Imah terpaksa meletakan sembarang ponselnya untuk kemudian membantu majikan kecilnya pindah ke atas ranjang.
***
"Maafin Hana!" Ucap Hana pada Kinan saat malam Kinan telah menggantikan Imah menjaga Hana.
"Maaf buat apa sayang?" Tanya Kinan bingung sambil terus menyisir rambut panjang Hana.
"Udah buat Mamah nangis tadi pagi!" Jawab Hana tertunduk malu.
"Enggak apa-apa Sayang, Mamah nangis bukan gara-gara kamu kok. Mamah cuma pengen Hana cepet sembuh, pulang ke mansion. Udah terlalu lama kan kita di rumah sakit, Hana pasti kangen sama Kakek dan Papa. Iya kan?" Ucap Kinan mencoba untuk menenangkan, namun Hana hanya terdiam.
"Hana juga takut sama Kakek dan Papa?" Tebak Kinan cemas, tapi Hana hanya menggelengkan kepalanya membuat Kinan bisa bernafas lega.
__ADS_1
"Kakek gak pernah lihat Hana? Kenapa? Kakek mulai gak suka ya sama Hana?" Hana benar-benar baru menyadari bahwa hanya Hafidz lah yang jarang ia temui selama di rumah sakit.
"Pernah kok, malah sering. Cuma gak tau kenapa selalu aja setiap Kakek dateng, kamu pasti pas benget udah tidur!" Jawab Kinan semasuk akal mungkin, karena kenyataannya memang Hafidz tak punya keberanian untuk melihat cucu menantunya tersebut.
Rasa bersalah yang menaungi Hafidz begitu besar hingga ia tak cukup punya keberanian menemui Hana.
"Hana kangen sama Kakek, Mah!" Ungkap Kasih benar-benar diliputi kerinduan.
"Iya nanti Mamah sampaikan ke Kakek, biar Kakek juga cari waktu bisa ketemu kamu ya sayang!" Hana menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Emmmhhh.. Mah?" panggil Hana ragu-ragu.
"Kenapa sayang?" Sahut Kinan.
"Kak Abi belum balik dari kantor?" Tanya Hana tanpa berani menatap Ibu mertuanya.
"Belum Sayang kayaknya dia lembur deh!" Jawab Kinan tersenyum melihat perubahan wajah Hana yang langsung kesal saat mendengar bahwa Abi belum kembali karena harus lembur.
"Kenapa? Hana kangen sama Kak Abi?" Tanya Kinan sedikit ragu takut jika Hana menjadi histeris.
"Iya Hana kangen, tapi Hana takut, Hana benci sama dia! Dia jahat, tapi Hana sayang. Hana bingung" racau Hana mulai terlihat panik.
"Iya Sayang tenang, sekarang Hana minum obatnya dan langsung tidur ya, istirahat. Besok pagi Mamah ajak kamu ke taman, tadi Mamah udah minta izin sama Dokter Leonard dan Dokter Diana, Alhamdulillahnya mereka mengizinkan!" Pinta Kinan diselipi rayuan.
Hana yang mendengar jika besok pagi akan diajak Kinan keluar dari ruangan perawatan langsung lupa dengan kegelisahan terhadap Abi dan berubah menjdi begitu bersemangat dan senang.
Ia pun dengan sangat menurut segera meminum obatnya kemudian memposisikan diri senyaman mungkin agar ia bisa tidur dengan nyenyak. Meski jujur hatinya saat ini begitu merindukan belaian Abi yang setiap malam akan membantunya terlelap dan berpetualang dalam mimpi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1