My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
Bersandar


__ADS_3

Abi menatap lekat wajah pulas Hana, seulas senyum terbesit di bibirnya ketika menyadari jika istrinya dikelilingi begitu banyak orang yang tulus menyayanginya.


Semua perkataan yang diucapkian Nugie tadi begitu membekas di fikirannya. Ya dia terlalu bodoh dengan prasangkanya terhadap Hana, perempuan polos yang tulus mencintainya tak mungkin melakukan perbuatan hina seperti apa yang dia sendiri lakukan.


Dan bagaimana bisa dia mengedepankan kemarahannya pada Hana ketika ia sendiri belum mengetahui kenyataan yang sebenarnya, sedangkan Hana yang jelas-jelas memergokinya bercinta dengan Raya hanya mengungkapkan kemarahannya dengan derai tangis yang memilukan dan mencoba menyakiti Abi dengan merangkai cerita bahwa dirinya pun bisa juga bersenang-senang dengan laki-laki lain yang malah justru semakin membuatnya tersakiti. Tak hanya perasaan, mental juga hati tetapi fisik.


"Kenapa belum mau bangun Sayang? Dokter bilang sama aku sebenernya kamu udah ngelewatin masa kritis kamu, tapi kamu belum juga mau bangun. Terlalu marah sama aku, hmm?" Abi memang tak pernah lelah mengajak istrinya berbicara, selarut apapun ia kembali dari pekerjaannya ia akan tetap menghabiskan waktu untuk berbicara dengan istrinya.


Apapun ia akan ceritakan, tentang pekerjaannya di kantor, tentang apa yang ia makan seharian ini, tentang rencana indah yang ia susun jika sang istri bangun dari tidur panjangnya dan mungkin memaafkannya, tentang kerinduannya dan tentu tentang penyesalan yang seakan tak berujung.


Dan tak lupa Abi selalu menghujani istrinya dengan ucapan permintaan maaf serta kecupan-kecupan di seluruh wajah sang istri. Meskipun ia sadar kesalahannya kali ini sungguh tak termaafkan.


"Lusa aku ada pekerjaan di luar, mungkin dalam beberapa hari aku gak bisa nemenin kamu di sini, maaf ya! Tapi secepatnya aku akan selesaikan pekerjaan aku terus nemenin kamu di sini lagi, bagus-bagus kalo aku datang nanti kamu udah bangun dan menatap aku penuh benci, meskipun rasanya pasti sangat menyakitkan buat ngelihat kebencian dari mata kamu!" Ucap Abi sendu.


Selama berbicara Abi tak berhenti menyentuh kepala, wajah, serta lengan istrinya yang masih tertidur dengan posisi miring mengingat luka punggungnya yang belum mengering.


Air matanya kembali luruh teringat betapa brutalnya ia menyiksa istrinya, jerit tangis kesakitan, permohonan-permohon sang istri agar dirinya menghentikan siksaannya kembali terniang di telinganya.


"Maaf, maafin aku. Aku berdosa besar padamu Sayang. Harusnya saat ini kita sedang sama-sama menikmati rumah baru kita, bukannya di sini di tempat yang paling kamu benci!" Isak Abi menciumi tangan sang istri.


***


Esoknya ..


"Gue ada pekerjaan penting, beberapa hari ini tolong handle kerjaan yang di kantor!" Ucap Abi saat baru saja menyelesaikan makan siangnya dengan Daniel.


"Pekerjaan? Pekerjaan apa?" Daniel mengernyitkan dahinya bingung karena semua jadwal pekerjaan Abi, Daniel memegangnya. Dan ia tahu betul jika atasannya tidak memiliki pekerjaan yang mengharuskannya meninggalkan kantor.

__ADS_1


"Ada, pekerjaan pribadi. Lo gak perlu tahu, yang penting setelah beberapa hari gue pasti balik lagi ke kantor!" Jawaban Abi jelas tak memuaskan Daniel.


"Pekerjaan apa yang gue enggak tahu? Lo udah enggak percaya sama gue?" Tanya Daniel mulai kecewa.


"Lo orang yang paling gue percaya, tapi pekerjaan yang gue lakuin ini udah dibantu sama orang yang lebih ahli, jadi lo tenang aja. Nanti kalo semua udah selesai gue bakal ceritain!" Jawab Abi masih sama sekali tidak memuaskan Daniel.


"Hari ini gue mau pulang cepet ya, gue mau nemenin Hana seharian penuh sebelum besok gue pergi!" Izin Abi kemudian meninggalkan Daniel.


***


Di kamar perawatan Hana, kini Abi yang telah berganti pakaian dengan pakaian yang lebih santai tengah memperhatikan beberapa perawat wanita yang sedang mengobati dan mengganti perban di tubuh istrinya.


Abi bisa melihat beberap luka masih basah, sedangkan beberapa lagi mulai mengering.


Ketika Abi diminta perawat untuk membantu mereka merubah posisi Hana Abi bisa melihat tangan Hana gemetar, hal biasa jika sang istri tengah merasakan sakit atau tidak nyaman.


Mendengar ucapan Abi para perawat tersebut mengulas senyum.


"Ayo dong Mbak Hana bangun, saya penggemar Mbak Hana lho. Udah kangen banget pengen lihat Mbak Hana di tv, Mbak enggak kangen nih sama kita penggemar mbak?" Goda salah satu perawat menyemangati.


"Ho oh aku juga nih pengen banget foto bareng sama Mbak cantik, tapi pengennya foto pas Mbak cantik bangun bukan tidur gini. Kalo tidur gini enggak asyik ahh. Ayo Mbak cantik, semangat bangun, semangat sembuh!" Sambung yang lain.


Abi yang melihat para perawat tak lelah menyemangati istrinya untuk bangun dari tidur panjangnya selalu merasa senang dan berterima kasih.


Setelah semua urusan membenahi sang istri selesai dan sedikit berbincang, para perawat pun keluar dari ruangan Hana.


"Penggemar kamu banyak juga ya sayang di sini, ini mending semua ramah biasanya ada juga lho yang ngeliat aku judes, benci banget gitu. Mungkin mereka itu fans garis keras kamu yang gak terima atas perbuatan aku ke kamu, lagian siapa sih yang terima idolanya disakitin!" Seloroh Abi dengan tawa getir.

__ADS_1


Tak lama setelah para perawat keluar, Kinan yang memang menunggui Hana dar pagi masuk sambil membawakan box makan siang dari sebuah restaurant.


"Kamu belum makan siang kan? Ini saya bawakan makan siang untuk kamu, kamu makan saja dulu!" Ucap Kinan dengan nada dingin dan kaku sambil menyodorkan box makan tersebut.


"Makasih Mah, tadi aku udah sempet makan siang sama Daniel sebelum ke sini. Tapi letakan aja di meja, nanti aku makan!" Sahut Abi.


"Besok aku ada kerjaan di luar, mungkin dalam beberapa hari aku gak bisa nemenin Hana di sini. Aku udah bilang sama Bi Imah dan Mbak Dewi untuk bergantian jaga Hana malam hari atau pas diperlukan yang lain untuk menjaga kapan pun. Jadi aku juga mau titip Hana ya Mah, kalo ada apa-apa tolon langsung hubungi aku!" Setelah sejenak diliputi keheningan akhirnya Abi memberanikan diri untuk berbicara dengan sang Mamah.


"Ya, kamu tenang aja. Banyak yang bakal jaga Hana di sini, yak perlu khawatir. Selesaikan pekerjaanmu sebaik mungkin!" Ucap Kinan, kemudian kembali fokus mengajak Hana berbicara sambil terus membelai lembut rambut sang menantu.


Kinan terus menerus memperhatikan Abi yang tak lepas dari ponsel dan laptopnya selama dia di sana. Sedikit bingung karena besok sebenarnya weekend namun seakan Abi seperti tak punya waktu lain dan terus saja berukutat dengan pekerjaannya.


"Kamu setiap hari seperti ini kalo lagi ngejaga Hana?" Merasa jengah Kinan pun mencoba menanyakannya.


"Oh.. ehh ini karena aku cuma mau mempersiapkan untuk besok Mah!" Jawab Abi gugup.


"Usahakan jika sedang dengan istrimu, fokuslah ke dia dulu. Sisihkan sedikit waktu saja untuk pekerjaan kamu, bukannya malah berjam-jam kamu asyik sama pekerjaan kamu, sedangkan Hana kamu diamkan!" Ketus Kinan.


Abi hanya mengangguk, kemudian menutup laptopnya. Ia pun tanpa aba-aba langsung menghampiri Kinan dan memeluknya.


"Maafin akuh Mah, tolong maafin aku!" Ucap Abi dengan suara serak.


"Aku tau aku keterlaluan, tak termaafkan dan aku gak akan membela diri, aku ngaku salah Mah. Aku mohon maafin aku!" Lanjutnya mulai terisak.


"Aku gak akan maksa Hana untuk bertahan sama aku lagi, jika memang Hana ingin perpisahan akan aku kabulkan dan disaat itu datang aku butuh Mamah, aku butuh seseorang buat aku bersandar karena masa-masa itu akan sangat berat buat aku Mah, aku butuh Mamah. Aku mohon maafin aku!" Abi semakin erat memeluk tubuh Kinan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2