
"Ka..!" Ucap Hana saat mereka sudah berada di dalam kamar.
"Lo istirahat duluan ya, gue mau ke bawah dulu!" Sahut Abi setelah selesai mengganti pakaiannya, ia pun meninggalkan Hana seorang diri di kamar.
Ia memilih menyendiri di ruang kantornya, ditemani sebotol minuman alkohol yang ia sengaja simpan di ruangan itu.
Abi memang bukan seorang pecandu alkohol, tapi seperti anak muda dari kalangannya kebanyakan ia akan lari ke minuman laknat itu saat sedang frustasi.
Cerita Mike benar-benar mengacaukan suasana hatinya. Segala fikiran buruk berkecamuk di otaknya, ia benar-benar tak sanggup menerima kenyataan jika Raya mengkhianatinya.
Beberapa jam berdiam diri di dalam kantornya dan meneguk habis wine berkadar alkohol sedang. Abi memutuskan naik ke kamarnya, ia yakin saat ini Hana pasti sudah terlelap. Ia sengaja menunggu Hana terlelap karena tak ingin istrinya melihat dia saat sedang kacau seperti sekarang ini.
Benar saja, Hana sudah terlihat lelap dalam tidurnya sambil memeluk guling. Tak ada lagi pembatas yang ia buat membuat Abi sedikit tersenyum.
Abi pun mengambil ponselnya, ia melihat beberapa pesan dan panggilan telepon ataupun video call dari Raya.
Seperti biasa, Abi menuju balkonnya untuk melakukan panggilan video kepada kekasihnya. Abi memilih duduk di lantai dan menyandarkan punggungnya di pagar beton apartemennya.
Tak butuh waktu lama, panggilan video call pun sudah tersambung.
__ADS_1
"Hallo sayang, akhirnya setelah sekian lama kamu baru vicall an lagi!" Sapa Raya dengan ceria.
"Aku mau tanya sama kamu, kamu selama di sana tinggal sama siapa?" Abi langsung to the point tanpa mau berbasa basi.
"Tinggal sama Lina lah, kamu fikir aku tinggal sama siapa?" Jawab Raya lantang meskipun Abi bisa melihat kegugupan kekasihnya itu.
"Ray, aku gak tau kamu jujur atau bohong hanya aja aku cuma nekanin sekali lagi ke kamu, aku paling gak suka pengkhianatan. Sekarang aku mungkin gak punya bukti apa-apa sama kecurigaan aku, tapi aku akan cari!" Ancam Abi dengan mata memerah, terlihat jelas kilatan kemarahan dan kekecewaan.
"Maksud kamu apa sih?" Tanya Raya, ia memilih terlihat marah dengan tuduhan Abi untuk menyembunyikan kegugupannya.
"Jujur kamu tinggal sama siapa di sana hah!" Gertak Abi dengan suara sangat keras, bahkan suaranya membuat Hana yang terlelap pun berlonjak kaget.
"Jangan bohong terus kamu Ray!" Gertak Abi lagi dengan suara semakin kencang.
Hana memutuskan ke balkon menghampiri suaminya yang seperti sudah lepas kendali. Meskipun takut ia memutuskan untuk terus berjalan, ia ingin melihat kondisi Abi saat ini.
"Kamu apa-apaan sih bentak aku kayak gitu hah? Kamu nuduh aku yang enggak-enggak kamu fikir aku perempuan macam apa hah? Di sini aku selalu mikirin kamu Bi, ngebayangin kamu ngabisin hari-hari kamu dengan perempuan lain ngebuat aku sakit, aku gak tenang. Sedang kamu, sekalinya kamu ngehubungi aku malah nuduh aku macem-macem. Jahat banget kamu Bi, jahat.. Hiks.. Hiks..!" Isak Raya, kemudian mematikan sambungan mereka sepihak.
"ARKHHHH..!" Teriak Abi sambil menjenggut rambutnya kesal. Ia benar-benar bingung harus percaya dengan siapa saat ini. Hingga pandangannya teralihkan oleh sosok mungil yang menatap dirinya sedari tadi.
__ADS_1
"Kenapa bangun? Gue ganggu tidur lo ya?" Tanya Abi berusaha bangkit dari duduknya, ia kemudian menghampiri istrinya dengan langkah sempoyongan.
"Kaka gak apa-apa? Kaka mabuk ya?" Tanya Hana khawatir melihat kekacauan suaminya.
"Maaf ya..!" Hanya kata itu yang Abi ucapkan, ia kemudian memeluk tubuh kecil istrinya. Hana sedikit kesulitan menopang berat badan Abi yang seakan ia limpahkan seluruhnya pada tubuh kecil Hana.
"Berat Ka, kita istirahat aja yuk! Kita tidur!" Ajak Hana penuh kelembutan. Abi menurutinya, ia berjalan menuju tempat tidurnya.
Setelah merebahkan tubuh suaminya, Hana kemudian kembali ke arah balkon untuk mengambil ponsel Abi dan menutup pintu kaca balkon yang terbuka.
"Tidur yaa, besok Kaka coba tanya baik-baik lagi ke Mbak Raya. Omongin baik-baik masalah kalian dengan keadaan sadar!" Ucap Hana memeluk tubuh suaminya.
Jujur hatinya saat ini sakit, sesak saat melihat kekecewaan suaminya terhadap perempuan lain. Namun ia memilih untuk mengesampingkan rasa sakitnya dan menjadikan dirinya tempat yang nyaman untuk suaminya melepaskan kekecewaannya saat ini.
Bulir-bulir air mata pun tak tahan untuk luruh, ya Hana menangis saat ini. Rasa sesak hati memaksa air matanya keluar sebagai tanda bahwa hatinya terluka, namun ia tak mampu berbuat apa-apa.
Hana semakin mengeratkan pelukannya pada sang suami yang mulai memejamkan matanya.
Di dekat Hana memang Abi menemukan kedamaian, kenyamanan hingga tak butuh waktu lama untuk ia terlelap dalam pelukan istrinya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=