
Sebelum makan Hana dan Tante Kinan menyempatkan diri untuk menunaikan shalat ashar. Selesai Shalat mereka pun bergegas menuju kantin rumah sakit untuk mengisi perut mereka yang memang sudah lapar.
Setelah memesan makanan, mereka pun mancari tempat duduk dan menunggu makanan yang mereka pesan diantarkan. Hana dan Tante Kinan duduk berseberangan untuk saling berhadapan.
"Makasih ya Tante, hari ini Hana banyak ngerepotin Tante, banyak nyusahin Tante", ucap Hana merasa tak enak hati.
"Iya Sayang, Tante seneng kok bisa bantuin kamu. Jadi jangan sungkan lagi ya sama Tante, kalo butuh apa-apa bilang aja sama Tante, Insya Allah Tante pasti bantu", sahut Tante Kinan penuh kasih sayang.
Tante Kinan menatap Hana dengan sangat dalam, dia sangat ingin tau perihal trauma yang dikatakan Ibu Irma tadi. Sedikit ragu Tante Kinan akhirnya memberanikan diri untuk bertanya pada Hana.
"Hana Sayang, apa boleh Tante tau tentang diri kamu, tentang trauma yang tadi Ibu kamu bilang. Maaf jika Tante lancang ya sayang, hanya saja Tante benar-benar penasaran tentang kamu?", tanya Tante Kinan pada Hana. Hana pun tersenyum mendapat pertanyaan dari Tante Kinan.
"Hana sebenernya punya saudara kembar Tante, namanya Hani. Kami kembar identik, Hani itu adik Hana beda beberapa menit. Dari dulu keluarga Hana memang hidup sederhana tapi kami tidak pernah kekurangan, Ayah bekerja sangat keras untuk menghidupi kami dengan layak, kami sayang banget sama Ayah. Ibu bilang Ayah dan Ibu sama-sama anak tunggal, jadi pas tau Ibu hamil anak kembar ayah dan ibu tuh senang banget. Kehidupan kami biasa saja Tante, layaknya kehidupan keluarga sederhana lainnya. Sampai Ayah naik jabatan dan dapat berbagai fasilitas dari kantor seperti mobil dan rumah yang sekarang Hana tempati Tante..". Hana sempat berhenti bercerita, pandangannya terlihat mulai sendu, dia sejenak tersenyum menatap Tante dengan pandangan yang terlihat menyimpan luka. Mengambil nafas dalam dan menghembuskannya perlahan kemudian melanjutkan ceritanya.
"Beberapa bulan kami merasakan kebahagiaan, hingga suatu hari semua berubah Tante, takdir benar-benar merenggut kebahagiaan keluarga Hana hari itu. Hari dimana kecelakaan itu terjadi, hari itu Ayah mengajak kami jalan-jalan menghabiskan hari libur, kami senang sekali saat itu karena semenjak Ayah naik jabatan kami jarang sekali menghabiskan waktu bersama, kami pergi ke berbagai tempat wisata. Hana sempat dengar Ayah berkata pada Ibu jika kami seperti sedang diawasi seseorang, kemudian Ayah mengajak kami untuk pulang ke rumah, meski Ayah tidak memperlihatkan kekhawatirannya tetapi Hana tau Ayah begitu khawatir, ada rasa takut yang Hana lihat dari wajah Ayah saat itu. Benar saja Tante saat Ayah sedang mengemudikan mobilnya Hana sempat melihat ke belakang jika ada dua mobil yang sedang mengikuti kami, Hana pun berkali- kali melihat Ayah dari kaca di atas kemudi Ayah jika Ayah pun sering menengok ke arah belakang melalui kaca depan. Ayah mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, Hana dan Hani yang duduk di belakang begitu takut. Saat Ayah menambah kecepatannya kedua mobil itu pun juga menambah kecepatannya. Saat itu kondisi gerimis Tante, Ayah mulai tidak bisa mengendalikan mobilnya. Kejadiaannya begitu cepat Tante, Hana gak ngerti gimana kejadiannya yang jelas waktu itu mobil udah terbalik, Hana lihat Ayah, Ibu, Hani udah pingsan , Hana nyium bau darah. Hana juga sempet lihat 2 mobil tadi berhenti, Hana baca salah satu plat mobilnya. Setelah itu Hana enggak inget lagi Tante". cerita Hana dengan intonasi yang begitu menyedihkan, air mata pun tidak bisa Hana tahan lagi.
__ADS_1
Tante Kinan begitu terenyuh mendengar cerita Hana, Ia menatap sedih ke arah Hana, merasakan apa yang Hana rasakan. Dia membiarkan Hana menangis, namun Tante Hana tidak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Hana, dia berharap Hana dapat merasakan bahwa semua sudah baik- baik saja.
"Maaf Tante..", ucap Hana disela tangisnya yang sebenarnya berusaha dia tahan, Tante Kinan hanya menanggapinya dengan senyum penuh sayang, dia sangat mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Hana saat ini.
"Butuh waktu hampir satu tahun lebih untuk Hana sembuh dari kecelakaan itu Tante, luka fisik yang cukup parah dan mental Hana yang begitu trauma dengan kecelakaan itu membuat Hana lama dirawat di rumah sakit. Bahkan saat Ibu sudah lebih dulu sembuh secara fisik Hana masih tetap harus menjalani serangkaian perawatan. Hana pun tidak tau jika saat kecelakaan itu Ayah dan Hani tidak terselamatkan. Dulu Ibu sempat bercerita saat Hana belum sadar beberapa kali Hana mengucapkan rangkaian huruf dan angka seperti plat mobil maka dari itu polisi berinisiatif menyelidiki meski kemungkinannya kecil untuk kasus itu terkuak. Tapi Allah Maha Baik, ternyata apa yang Hana ucapkan adalah petunjuk untuk menangkap dalang dibalik kecelakaan keluarga Hana. Ya Tante dia adalah teman kerja Ayah yang cemburu dengan keberhasilan Ayah, dia tidak terima dengan apa yang perusahaan Ayah berikan atas kerja keras, tanggung jawab dan kejujuran Ayah selama bekerja. Maka dari itu Hana trauma dengan kendaraan yang melaju cepat dan juga rumah sakit Tante, bahkan Hana masih takut dengan bau darah", lanjut Hana dengan senyum yang begitu dipaksakan.
Makanan yang mereka pesan pun datang, Tante Kinan pun langsung mengajak Hana untuk menyantapnya. Sejenak Tante Kinan menceritakan hal lucu agar dapat merubah suasana yang menyedihkan itu agar menjadi lebih santai.
"Jadi rumah yang sekarang kamu tempati itu sudah jadi hak milik kamu ya?", tanya Tante Kinan disela-sela menikmati makanannya.
"Lalu setelah Ibu kamu nanti keluar rumah sakit apa akan langsung berjualan lagi?", tanya Tante Kinan lagi.
"Entahlah Tante, Hana sih inginnya Ibu istirahat tapi keadaan belum mengizinkannya karena untuk menggantikan Ibu mencari uang pun Hana belum bisa karena Hana masih sekolah. Mungkin liburan ini Hana pakai buat bantuin Ibu buat kue dan jaga toko jadi Ibu bisa sedikit beristirahat", jawab Hana.
"Emmmhh.. Oh iya Hana, Tante kan lagi buat satu produk shampoo. Udah ready sih produknya tinggal diiklanin dan dipasarin saja. Emhh.. gimana kalo kamu jadi bintang iklan produk shampoo Tante, rambut kamu kan bagus banget sayang, mau yaa bantuin Tante", pinta Tante Kinan bersemangat.
__ADS_1
"Beneran Tante? Emang Hana pantes Tante jadi bintang iklan?", ucap Hana yang awalnya bersemangat namun kemudian sedikit ragu karena merasa kurang percaya diri.
"Kenapa gak pantes? Kamu cantik, kecantikan kamu natural bahkan tanpa make up. Kamu pasti bisa jadi sukses, Tante yakin banget", sahut Tante menyakinkan Hana.
"Hana mau coba Tante, tapi nanti pasti enggak dibolehin sama Ibu. Ibu paling enggak mau Hana kerja kalo Hana belum lulus sekolah. Hana enggak mau ngecewain Ibu Tan, tapi Hana juga mau bantu Tante. Hana berharap dari tawaran Tante ini menjadi jalan buat Hana meraih mimpi Hana", ucap Hana masih dengan keraguannya.
"Ya udah nanti Tante coba bantu kamu buat minta izin sama Ibu kamu, nanti biar Tante jelasin kalo Tante yang akan bertanggung jawab nyusun jadwal syuting kamu biar gak ganggu sekolah dan belajar kamu. Toh ini syutingnya gak lama dan kamu juga libur sekolah ya kan?", sahut Tante menyakinkan Hana.
Hana yang mendengar ucapan Tante tentu mangangguk semangat, dia begitu senang dengan semua yang dikatakan Tante Kinan. Tante Kinan pun ikut senang melihat Hana mulai ceria lagi.
Tante Kinan pun meminta kepada Hana untuk lekas menghabiskan makanannya dan kembali ke ruangan Ibunya dirawat, Hana pun mengangguk mengiyakan ajakan Hana. Hana terus memasang senyumnya, begitu pula dengan Tante Kinan. Mereka pun melanjutkan makannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Terima kasih untuk terus membaca karyaku, jangan lupa like, comment dan vote nya ya biar aku makin semangat nulisnya. Sekali lagi juga aku minta maaf kalo masih banyak kekurangannya 🙏🙏😘😘
__ADS_1