
Abi melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, setelah menerima amarah dari keluarganya. Yang ia inginkan kini hanya berdekatan dengan istrinya karena seburuk apapun suasana hatinya, dengan berada di dekat sang istri ia akan merasakan sebuah ketenangan.
Sesampainya di kamar rawat sang istri, pemandangan pertama yang ia tangkap adalah Ibu Mertuanya yang sudah tertidur di atas kursi roda sambil terus menggenggam tangan Hana dan suster pribadi sang Ibu Mertua yang juga tengah terlelap di salah satu sofa.
Irma yang menyadari kehadiran Abi pun langsung terbangun, ia menatap wajah menantunya penuh lebam dan memar.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Irma tanpa bisa menutupi rasa khawatirnya.
"Iya Bu saya baik-baik saja. Emh.. lebih baik Ibu tidur di tempatku, lebih nyaman!" Usul Abi menunjuk tempat tidur yang biasa ia tiduri selama tinggal di ruangan Hana.
"Tidak apa-apa. Ibu akan pulang saja, tidak baik banyak orang yang tinggal di ruangan ICU, Hana harus steril!" Tolak Irma.
"Sudah malam Bu, biar nanti saya tidur di luar!" Usul Abi lagi karena tidak tega membiarkan mertuanya pulang di malam hari.
"Tak apa kami diantar mobil, lebih baik kamu obati luka kamu itu dan jaga Hana! Ajak dia bicara terus, stimulasi terus Hana agar lekas sadar. Kami permisi, Wassalamualaikum..!" Pamit Irma kemudian membangunkan susternya kemudian beranjak meninggalkan Abi dan Hana.
"Wa'alaikumsalam..!" Sahut Abi lirih.
__ADS_1
Selepas kepergian Irma, Abi langsung menghampiri ranjang sang istri, menatap lekat wajah damai istrinya.
"Semua sayang kamu Hana, Papa sampai begitu marah sama aku, memukuliku seakan ingin membunuhku. Bahkan kamu tau enggak? Juna sama Nara gak mau ngelihat aku sama sekali!" Ucap Abi sambil terus membelai kepala istrinya.
"Mamah sama Kakek juga sama sekali enggak ngomong sama aku, Mereka bener-bener marah, bener-bener benci sama aku Sayang. Wajar sih, aku aja benci sama diri aku sendiri!" Lanjut Abi dengan senyum getirnya.
"Bangun Sayang terlalu banyak orang yang aku lukai dan cuma kamu yang bisa nyembuhinnya. Aku janji jika emang kamu udah gak mau lagi kita sama-sama aku bakal ngelepas kamu Sayang, meskipun berat. Tapi aku sadar kesalahan aku terlalu besar sama kamu, aku gak pantes dimaafkan Sayang. Lekas bangun, lekas sehat, kembalilah menjadi Hana yang ceria, yang bahagia, menjadi Hana yang pertama kali aku lihat tanpa malu-malu ngungkapin rasa dan selalu tersenyum. Bukan Hana yang penuh kecewa, sakit hati, dan kesedihan seperti awal kita menikah!" Suara Abi semakin tecekat mengatakan semuanya.
Ingatan Abi tiba-tiba membawanya ketika ia dan Hana pertama kali dipertemukan. Gadis belia yang begitu aktif, ceria, sedikit genit yang datang saat di meet and greet nya dulu.
Mau ditanda tangani dimana?", tanyanya ramah. Hana hanya menunjukkan cover note book berisikan foto-foto dirinya tanpa sedikit pun matanya lepas dari sosok tampannya.
"Teruntuk cinta masa depanku Hana Almaira Putri dari Ka Abi", jawab Hana gamblang tanpa rasa malu sedikit pun.
Abi terkekeh ketika mengingat kepolosan Hana pada waktu itu, meskipun kemudian ia tak sanggup lagi menahan isakkannya.
Sambil menggenggam erat telapak tangan istrinya, Abi menumpahkan tangisannya dengan wajah yang tertunduk di sisi ranjang sang istri.
__ADS_1
"Ya Hana Sayang, ucapan kamu benar kamu benar-benar menjadi cinta masa depanku. Sampai kapan pun bahkan jika kamu memutuskan kita berpisah kamu akan tetap menjadi cintaku, gak akan pernah ada yang bisa menggantikan posisi kamu Sayang, gak akan pernah ada" ucap Abi semakin terisak dan menggenggam erat telapak tangan istrinya. Bahkan Abi tidak menyadari jika selama ia berbicara, Hana juga meneteskan air matanya.
Entah berapa lama Abi menangis dengan posisi tertunduk di sisi ranjang sang istri sambil terus menggenggam telapak tangan sang istri, hingga rasa kantuk dan lelah membuatnya tertidur lelap dengan posisi tersebut.
***
Pagi hari, Juna dan Hanum datang untuk gantian menemani Hana selama ia bekerja. Seperti biasa Juna tetap memandang penuh amarah ke arahnya dan enggan bertegur sapa dengannya.
Berbeda dengan Hanum yang masih mau menyapanya meski dengan nada bicara yang sedikit kaku tak seperti biasanya.
"Kak Abi konsen aja di kantor, biar aku sama Kak Juna yang jagain Hana di sini. Nanti kalo ada apa-apa kami hubungi Kakak!" Ucap Hanum saat melihat Abi tengah sibuk merapikan berkas-berkasnya.
"Iya, saya titip Hana sama kalian selama saya bekerja ya. Jangan ragu menghubungi saya kalo ada apa-apa sama Hana, ponsel saya selalu aktif!" Sahut Abi ramah.
Setelah dirasa tak ada yang tertinggal dan sekali lagi Abi mematutkan diri di cermin untuk menyakinkan dirinya jika sudah rapi Abi langsung menghampiri ranjang istrinya, memberikan kecupan-kecupan di wajah sang istri serta membisikan doa dan kata cinta juga kata-kata penyemangat untuk istrinya seperti biasa.
"Aku tinggal kerja dulu ya, ada Hanum dan Juna yang jagain kamu. Bangun gih, kalian kan hobi ghibahin aku mumpung ada kesempatan ngumpul nih. Eh iya, kurang satu ya anggota kalian, si Nara. Kamu telfon gih, suruh dateng biar personilnya lengkap buat ghibahin aku!" Goda Abi pada istrinya berharap dengan candaannya Hana bisa menunjukan respon, sedang Juna terlihat jengah dan Hanum salah tingkah mendengar selorohan suami sahabatnya itu.
__ADS_1
"Saya titip Hana ya!" Ucap Abi sekali lagi pada Hanum, yang langsung diangguki oleh Hanum. Hanum bisa melihat kesedihan di wajah Abi, serta mata yang berkaca-kaca selama Abi berbicara pada Hana.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=