
Setelah beberapa hari Raya pun kembali ke Jakarta, dia langsung menuju ke apartemen Abi. Entah mengapa rasanya dia sangat ingin menemui lelakinya itu, mungkin karena rasa bersalahnya karena telah menghilangkan calon anak kekasihnya atau karena saat ini dia merasa bersalah karena menikmati perselingkuhannya, entahlah..
"Dari Bandung kamu jauh lebih fresh sekarang?", goda Abi yang melihat Raya lebih sehat dari sebelum dia berangkat.
"Masa sih??? Mungkin karena aku dapet partner kerja dan kerjaan yang sesuai kali makanya kelihatan seneng", sahut Raya bergelayut manja.
"Kamu masih suka muntah?".
"Enggak, udah enggak lagi. Di Bandung Nico juga ngajak aku buat ketemu seorang Dokter dan ternyata aku sembuh berkat dia. Kadang begitu ya Beb, berobat pun cocok-cocokan", jawab Raya tertawa.
"Syukur deh kalo gitu. Kapan-kapan aku mau ketemu sama Nico, mau ngucapin makasih karena udah bawa kamu ke dokter yang bagus, ngebuat kamu sehat lagi", ucap Abi kemudian menciumi wajah Raya.
"Ohhh ya Sayang, aku udah deal lho sama project film kita. Aku sih emang udah beberapa kali main film, tapi lawan main aku yang sekarang kan aktor hebat jadi, tolong bantu aku yaaa nanti".
"Tenang, chemestry kita pasti dapet kok. Kamu seneng enggak bisa kerja bareng sama aku?", tanya Abi.
"Seneng lah, kalo kamu sendiri?".
"Yaaa senenglah, mimpi aku ini"; jawab Abi meluapkan kegembiraannya dengan menciumi seluruh wajah Raya. Raya yang menerima ciuman bertubi-tubi begitu senang, ia tertawa dengan gembiranya.
"Aku kangen sama kamu", ucap Abi dengan kerlingan mata genitnya.
"Maaf Sayang gak bisa, aku haid lagi soalnya", sahut Raya yang mengerti arah pembicaraan Abi.
"Lagi..?", tanya Abi heran.
"Iya, aku tuh kalo kecapekan pasti keluar lagi. Di Bandung kemarin aku capek banget, jadi yaa haid lagi deh..", jawab Raya.
"Terus ngapain kamu dateng ke sini sih?", tanya Abi kecewa.
"Lah, emang gak boleh? Atau jangan-jangan kamu ngarepin kedatengan aku cuma buat make in love aja ya?", kesal Raya.
__ADS_1
"Enggak lah, gitu aja marah ahh", ledek Abi.
"Gak lucu! Ya udah aku mau pulang dulu, di sini nanti malah nyiksa kamu lagi ", ucap Raya kemudian memcium sekilas Abi dan beranjak pulang.
***
"Han, mulai besok udah mulai reading script. Persiapkan diri kamu!", perintah Angga ketika menjemput Hana dari sekolahnya.
"Pemeran cewek jadi Mas si Mbak Raya?", tanya Hana.
"Kayaknya sih iya, mungkin mulai syutingnya minggu depan. Kamu udah liburan semester kan?".
"Udah, ini juga masuk sekolah gak belajar. Udah mulai santai, aku deg-deg banget Mas Angga", ucap Hana mengatur nafasnya.
"Deg-deg an kenapa? Hasil ujian kamu?", tanya Angga tetap fokus dengan stir mobilnya.
"Salah satunya sih, tapi Insya Allah bisa lah aku ujian kemarin. Aku deg-deg an ini kan film pertama aku, ditambah lagi sama Ka Abi. Aduuuhhhh bisa gak yaaa??", jawab Hana gelisah.
"Gak bisa Mas Angga, aku tuh cintaaaa sama Ka Abi. Aduuuuhhh gimana kalo aku gak fokus nanti yaaa, Mbak Raya pasti ngomel-ngomel dah, hahaha..".
"Nah kamu kudunya khawatir deh tuh karena banyak adegan kamu sama Raya. Haaahahahahha.. ", gelak Angga. Hana yang mendengar ledekkan Angga langsung menekuk wajahnya.
"Udah dipastiin aku bakal dibully terus sama Mbak Raya, dia kan gak suka sama aku. Aduuuuuhhhh.. rasanya pengen banget gak jadi nerima tawaran film itu, tapi ada Ka Abi, sayang banget kalo gak diterima. Ahhhhh, kenapa dibalik kebahagiaan kudu masih ada engepnya sih", gerutu Hana.
"Berisik tau gak sih, udah fokus aja sama syutingnya. Gak usah pikirin Abi apalagi Raya, kamu harus banyak belajar biar karier kamu semakin bagus, semakin naik. Kalo nanti Raya ngebully kamu diemin aja, gak usah ambil hati, banyak-banyak menghindar aja", ucap Angga menasehati.
Film pertama Hana memang belum menjadi pemeran utamanya, hanya pemeran pembantu yang berperan menjadi sahabat Raya. Film bergenre romantis itu menceritakan tentang seorang pekerja magang di suatu firma hukum yang justru tersangkut masalah pembunuhan yang sebenarnya bukan si pekerja magang itu yang melakukannya.
Abi yang berperan sebagi seorang pengacara, pemimpin sekaligus pemilik firma hukum tersebut berusaha keras memecahkan kasus yang melibatkan pekerja magangnya. Hingga pada akhirnya si pekerja terbukti tidak bersalah, cerita berlanjut sampai pada pencarian pembunuh sebenarnya. Saat mereka bersama-sama mencari si pembunuh asli, mereka saling jatuh cinta. Beberapa adegan romantis, menegangkan dan komedia juga tersaji di film tersebut.
Hana yang walaupun tidak memiliki peran penting di film itu, tetap bersemangat ingin segera melakukan syuting. Itu semua bukan hanya karena ini film pertamanya, tetapi karena ada Abi yang selama ini ia kagumi, Hana merasa tidak sabar untuk melakukan syuting pertamanya.
__ADS_1
***
Sebelum syuting pertama dimulai Kinan mengundang Hana, Ibu dan Angga untuk berkunjung ke mansionnya. Undangan tersebut dimaksudkan untuk sebagai perayaan karena Hana dan Abi terlibat dalam satu film. Kinan juga mengundang Raya, selain untuk sama-sama merayakannya juga karena Kinan ingin meminta jawaban tentang apa keputusan Abi dan Raya tentang hubungan mereka.
Usai reading script mereka langsung menuju ke mansion Abi, Angga yang sebelumnya menjemput Irma kini bertiga berada dalam mobil menuju Mansion Abi untuk memenuhi undangan.
Mobil yang Hana beli memang tidak mewah, tapi cukup nyaman. Mobil itu sangat membantu Hana berpergian juga saat mengantar Irma untuk kemoterapi dan kontrol ke rumah sakit.
Hana yang memang belum bisa mengemudi, menyerahkan mobil itu pada Angga.
Setelah beberapa saat mereka telah sampai dan disambut hangat oleh keluarga Abi. Hana yang memang sudah sering berkunjung ke mansion Kinan, disambut lebih hangat dibandingkan Raya. Bahkan Hafidz tak segan untuk memeluk Hana selayaknya Kakek memeluk cucunya.
Raya yang melihat kedekatan Hana dan keluarga Abi merasa geram, meskipun sebenarnya keluarga kekasihnya juga menyambutnya dengan hangat namun Raya tetap merasa berbeda dengan cara mereka memperlakukan Hana.
Abi yang faham dengan suasana hati Raya berusaha mengalihkan perhatiannya agar tidak terus tertuju oleh Hana, Hana yang saat ini sedang begitu banyak menerima kehangatan keluarga Abi.
"Tau begini aku gak mau dateng, keluarga kamu kayaknya sengaja yaa bikin aku panas, sengaja mau nunjukin ke enggak sukaannya sama aku", bisik Raya kesal.
"Ya enggak lah sayang. Hana tuh setau aku emang sering main ke sini, jadi mungkin keluarga aku udah nganggep dia bagian dari keluarga", sahut Abi juga berbisik.
"Terus aku dianggap apa?", protes Raya.
"Mantu idaman", goda Abi.
"Mulai lagi", ucap Raya mendengus kesal.
Saat mereka asyik saling berbisik, Hafidz berdehem untuk menegur mereka berdua.
"Kalau lagi makan dan banyak orang, usahain untuk menghormati yang lain, jangan saling berbisik. Ohh ya setelah makan malam ada yang Kakek mau tanyakan ke kalian berdua".
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1