My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)

My SuperStar SuperArogan ( Hasrat Sang Superstar)
Menyamarkan


__ADS_3

Abi yang masih terlelap dikejutkan suara teriakan Hana dari kamar bawah, ia pun bangun dan langsung berlari turun ke kamar bawah. Di depan kamar Hana Abi ingin langsung membuka pintunya tapi sayang terkunci, ia pun mengetuk dan memanggil-manggil nama Hana berharap agar Hana mau membukakan pintunya.


Akhirnya pintu dibuka, Hana berdiri dengan masih mengenakan piyama mandi dan tangis sesegukkan.


"Lo kenapa Han?" tanya Abi khawatir.


"Ak.. akuu..aku tadi bangun mau shalat subuh. Aa..a..aku sempetin buat bercermin. Aku lihat banyak tanda merah di leher dan dada aku, aku.. aku u.. udah coba buat hilanginnya, aku gosok-gosok tapi gak hilang-hilang. Ak,, aku mandi, aku gosok pakai sabun dan spons tapi pas aku ngaca lagi, aku lihat tetep gak hilang. Aa, aaku jijik Ka ngelihatnya" jawab Hana sesegukan.


"Lo tenang iya, nanti itu hilang dengan sendirinya. Gak bisa lo gosok sekeras apapun, malah nanti jadi luka. Lo sabar ya, nanti lama-lama hilang gak akan berbekas" ucap Abi menenangkan.


"Tapi aku maunya ini semua hilang sekarang, aku jijik ngelihatnya Ka. Aku masih bisa ngerasain gimana baji*gan itu nyentuh aku, hiks. Bantu Hana Ka, bagaimana pun caranya aku mau hilangin ini semua, apa perlu aku kuliti aja semua tanda di badan aku gara-gara baji*gan itu?" sahut Hana emosi.


"Jangan begitu Hana, gak bisa begitu. Nanti gw cari cara buat nutupin semua bekas yang manusia si*lan itu tinggalin di badan lo. Lo ada make up kit kan?" tanya Abi, Hana pun menganguk.


"Coba sini gw lihat, gw boleh masuk kan!" izin Abi dan diangguki oleh Hana, Abi pun masuk. Hana membiarkan pintu kamarnya terbuka.


"Mana make up kit lo, coba gw lihat".


Hana kemudian membuka tasnya yang agak besar untuk mengambil tas make up nya. Semalam Abi sengaja membawa semua barang-barang Hana ke apartemennya, dan meletakkan nya di kamar yang ditempati Hana.


Hana memberikan tas make up nya kepada Abi. Abi pun membukanya untuk mencari sesuatu yang bisa menyamarkan tanda merah di tubuh Hana. Saat sudah menemukan beberapa make up yang diperlukan Abi meminta Hana untuk duduk.


"Sini biar gw akalin" perintah Abi menepuk sisi ranjang.


"Aku shalat dulu Ka sebentar" sahut Hana, Abi pun mengangguk mengiyakan.


Hana kemudian pergi ke kamar mandi untuk berwudhu, lalu kembali lagi ke kamar dan mengenakan mukenah yang memang selalu ia bawa. Hana mengarahkan sajadahnya ke arah kiblat dan memulai shalatnya dengan khusyu. Abi memperhatikan Hana tanpa menoleh ke arah lain sedetik pun.


Selama dua hari syuting, Abi memang sering melihat Hana tak pernah absen melaksanakan kewajiban shalat. Bahkan terkadang ia sering diingatkan untuk shalat oleh Hana.


Selesai raka'at terakhir Hana kemudian menadahkan tangannya berdoa, entah apa yang ia doakan karena Hana berdoa tanpa adanya suara. Tapi Abi tau jika Hana juga sedang menumpahkan kesusahannya pada Tuhan terlihat bagaimana tubuhnya yang bergetar dan laju air matanya yang tumpah.


"Ka Abi enggak shalat?" tanya Hana setelah menyelesaikan doanya dan melipat mukenahnya, Abi hanya tersenyum. Hana memang sering mengingatkannya untuk shalat tapi tak pernah memaksanya karena menurut Hana ia tak ada hak untuk memaksa seseorang melakukan ibadah.


Hana yang masih mengenakan piyama mandi kemudian duduk di sebelah Abi, ia kemudian menunjuk beberapa bagian yang akan Abi akali agar tak terlihat.

__ADS_1


Abi pun mulai mengerjakan tugasnya, pertama dia mengaplikasikan make up base di bagian yang berwarna merah sekitar ada empat tanda. Kedua Abi menggunakan colour corrector berwarna hijau untuk menyamarkan tanda kepemilikan di leher Hana karena warna yang dimiliki Hana merah-keunguan. Ketiga Abi menggunakan foundation dan concealer agar warnanya senada dengan kulit Hana, terakhir Abi membubuhkan bedak tabur untuk memberi kesan matte. Ia menekan-nekan bedak tabur itu agar menempel sempurna pada kulit Hana.


Kini tanda merah itu benar-benar hilang. Abi dan Hana sangat puas dengan hasilnya.


"Lihatkan, lo cuma perlu sedikit kreatifitas buat nyamarin bekas c*pangan bajin*an itu" ucap Abi bangga.


"Ka Abi hebat ya" puji Hana.


"Iya doang, gak sia-sia gw tiap kali merhatiin Raya make up buat ngilangin c*upangan yang gw bikin" sahut Abi keceplosan.


"Apa..?" tanya Hana terkejut.


"Bukan apa-apa. Sini mana lagi yang mau gw akalin?" tanya Abi mengalihkan perhatian Hana.


"Di dada, tapi aku aja kalo itu. Aku udah ngerti kok tadi ngelihatin Ka Abi. Makasih ya Ka, Ka Abi boleh keluar sekarang, biar aku selesaiin sekalian" jawab Hana.


"Gak sekalian aja" usul Abi menggoda Hana dengan kerlingan mata genitnya.


"Cab*l.." sahut Hana kesal membuat Abi tertawa terbahak-bahak kemudian keluar dari kamar Hana, Hana pun langsung mengunci pintu kamarnya.


Bi Imah, asisten yang biasa mengurusi apartemen Abi baru datang. Ia heran melihat majikannya sibuk menata sarapan di atas meja. Biasanya Abi meminta Imah tidak datang jika Raya berkunjung, tapi ini tak ada info apapun sehingga Imah tetap datang.


"Sibuk Den?" sapa Imah.


"Iya Bi, ada tamu" sahut Abi.


"Non Raya?" tanya Imah memastikan.


"Bukan, nanti saya kenalin" jawab Abi tersenyum senang. Imah memang sangat dekat dengan Abi karena dia bekerja di keluarga Raffan saat Abi berusia lima tahun sehingga Abi sudah nyaman diurusi oleh Imah.


Hana kemudian keluar dari kamarnya, ia melihat Abi dan seorang Ibu sedang mengobrol di meja makan pun menghampiri mereka.


"Nah ini dia tamu aku, namanya Hana" ucap Abi memperkenalkan Hana pada Imah.


"Hana ini Bi Imah yang ngurus gw dari kecil, bisa dibilang Beliau seperti Ibu kedua gw" ucap Abi pada Hana.

__ADS_1


Hana kemudian mengulurkan tangannya, mencium punggung tangan Bi Imah seraya memperkenalkan diri.


Imah begitu takjub dengan kesopanan Hana, berbeda dengan Raya yang menganggapnya sekedar asisten rumah saja sehingga Raya tak perlu bersikap sopan padanya, tetapi Hana dengan sangat rendah hati mau mencium punggung tangannya.


"Loh pipi Non Hana kenapa, kok bengkak?" tanya Imah kaget saat sadar jika pipi Hana memang memar dan bengkak.


"Ooh, itu kemarin ada kecelakaan kecil di lokasi syuting" jawab Abi mewakili Hana, Hana pun mengangguk mengiyakan ucapan Abi kemudian tersenyum ke arah Imah.


"Tapi tetep cantik kok" puji Imah menghibur Hana, Hana pun tersipu mendengar pujian yang dilontarkan Imah.


"Ya udah kalo gitu Bi Imah mau ke atas dulu mau rapiin kamar Den Abi. Non Hana sama Den Abi silahlan lanjut sarapan. Bi Imah permisi dulu ya!" ucap Imah kemudian naik ke atas.


"Duduk Han, ayo sarapan. Semoga lo suka" ajak Abi mempersilahkan Hana.


"Makasih ya Ka" sahut Hana, ia pun berdoa dan mulai memakan sarapan yang dibuat oleh Abi. Abi begitu senang melihat Hana tak semurung tadi malam.


"Tadi Bang Dedy nelfon gw, untuk sementara syuting distop dulu" ucap Abi.


"Kejadian semalem apa udah kesebar Ka?" tanya Hana khawatir.


"Iya, tapi semua pihak yang terlibat di film berusaha buat nutupin dari media. Bahaya kalo media sampai tau" jawab Abi kemudian meminum susu cokelatnya.


Saat mereka asyik mengobrol, terdengar bel pintu berbunyi. Abi merasa heran siapa pagi-pagi yang sudah bertamu.


Bi Imah yang membukakan pintu, langsung memberitau kan pada Abi jika ada seorang pria mencari dirinya.


"Den ada yang nyari Aden, katanya namanya Andi" ucap Imah memberitaukan.


Hana yang mendengar nama Andi langsung pucat pasi, ia kembali ketakutan. Imah yang melihat perubahan Hana langsung memeluk Hana menenangkannya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


......**Kira-kira apa yang membuat andi berani mendatangi apartemen Abi, dan bagaimana dengan Hana? Apakah Hana akan kembali mengalami trauma hebat saat melihat Andi di hadapannya?......


Ditunggu like, komen and vote nya ya Ka, biar aku terus semangat buat nulis. Terima kasih buat semua yang udah setia baca novel aku, semoga suka dengan alur ceritanya dan semoga gak mengecewakan 😚😚**

__ADS_1


__ADS_2