
Di kamar, Abi duduk di ranjangnya dengan wajah yang masih dipenuhi kekesalan. Hana yang melihat suaminya seperti enggan diajak berbicara pun hanya ikut diam, memandang suaminya dari tempatnya duduk saat ini.
"Lo gak ada gitu inisiatif buat ngobatin luka-luka gw gitu?" Tanya masih dengan memejamkan matanya.
"Emang boleh?" Hana malah balik bertanya.
"Emang lo tega ngelihat keadaan gw begini?" Kesal Abi melihat ke arah Hana.
"Enggak sih, tapi Hana takut salah aja. Kotak obatnya di mana?" Tanya Hana beranjak dari duduknya.
Abi pun menunjuk laci salah satu meja di kamarnya, Hana kemudian mengambilnya dan menghampiri Abi.
"Jangan bawel nanya-nanya kenapa, cukup fokus obatin luka gw aja!" Perintah Abi saat Hana sudah duduk di depannya, Hana pun mengangguk.
Hana kemudian mulai membersihkan dan mengobati beberapa luka di wajah dan tangan Abi. Sudut bibir Abi sedikit mengeluarkan darah, ada beberapa lebam di wajah dan tangannya.
"Lo pake pelet apa sih?" Tanya Abi tiba-tiba.
"Hah?" Hana yang terkejut pun menghentikan pekerjaannya.
"Gw heran kok tiap cowok yang ngelihat lo langsung jatuh cinta sama lo?" Selidik Abi.
"Fitnah yang kejam" cibir Hana, kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Coba lihat, dari sisi mana juga lo gak ada menarik-menariknya. Kok bisa orang ngeliat lo langsung suka sih, pasti lo pake ajian pengasih kan?" Tanya Abi lagi makin ngaco.
"Amit-amit deh Ka aku pake gitu-gituan. Coba nih perhatiin aku baik-baik, muka aku mulus gini, cantik gini wajarlah kalo banyak yang jatuh cinta sama aku. Ka Abi aja yang gak pernah perhatiin betapa cantiknya istri kamu ini!" Narsis Hana membuat Abi berdecih kesal namun tak dipungkiri ia pun gemas dengan kelakuan istrinya itu.
"Emang sih muka lo cantik, mulus. Tapi lihat dong body lo gak banget!" Ledek Abi.
"Emang body aku kenapa? Bagus gini!" Sahut Hana yang langsung berdiri dan memutar-mutar tubuhnya.
"Cih, bagus apa? Bogel gitu!" Hina Abi membuat Hana kesal.
"Biar bogel tapi montok!" Sahut Hana membusungkan dadanya, membuat Abi langsung terbahak-bahak karena ia langsung teringat saat ia menjelajah pegunungan milik Hana waktu itu.
"Buka dong, biar gw bisa pastiin. Siapa tau isinya sumpelan doang!" Abi makin gencar menggoda istrinya itu, karena menurutnya itu menjadi hiburannya.
"Idih ngelunjak, emang lupa waktu itu Ka Abi udah ngeremes dada Hana! Mesum!" Lagi Hana dibuat kesal karena kembali teringat kejadian waktu itu.
"Masa sih? Kapan? Gw lupa tuh!".
"Udah ah, Hana mau ganti baju. Mau tidur!" Hana kemudian merapikan kotak obatnya dan beranjak untuk mengganti pakaiannya dengan piyama tidur.
Selesai berganti pakaian, Hana kemudian naik ke atas tempat tidur. Dan lagi Hana membuat pembatas antara dirinya dan Abi dengan guling.
"Yaelah, pake dibatesin segala. Ujung-ujungnya lo ngeringkuk meluk-meluk gw juga!" Ledek Abi tapi tak ditanggapi apapun oleh Hana.
"Tidur Ka udah malem!" Perintah Hana kemudian membelakangi Abi.
Abi memilih untuk memainkan ponselnya, membuka pesan yang dikirim kekasihnya. Ia pun asyik berbalas pesan dengan Raya. Saat Abi melirik Hana, ia mendengar dengkuran halus yang menandakan bahwa Hana sudah benar-benar terlelap dalam tidurnya.
Fokus mata Abi tiba-tiba mengarah ke leher Hana yang terekspos. Fikirannya pun langsung kemana-mana.
"Berat ujiannya tong, udah dibayar tunai gak bisa dinikmatin!" Keluh Abi lirih.
Abi kemudian mendekati wajahnya ke sela leher Hana, menghirup aroma tubuh istrinya. Melihat Hana tak terganggu dengan kelakuannya, Abi memberanikan diri untuk mengecup pelan istrinya. Hana menggeliat terusik dengan apa yang dilakukan suaminya itu. Ia pun membalikan tubuhnya mengahadap suaminya.
__ADS_1
Abi pun mensejajarkan wajahnya dengan wajah Hana. Ia membelai lembut pipi Hana, tanpa sadar sebenarnya Abi mengagumi kecantikan Hana.
"Bener kata Juna, lo terlalu baik buat gw. Gw gak pantes ngedapetin perempuan sebaik lo. Maafin gw Han, gw egois!" Ucap Abi lirih kemudian mengecup pelan dahi dan bibir Hana.
Ia kemudian menyingkirkan guling pembatas mereka. Menarik Hana dalam pelukannya.
Ada rasa bersalah di hati Abi, tapi dia sendiri tak bisa untuk melepas Raya.
***
Pagi hari Hana sudah rapi dengan pakaian putih abu-abunya. Ia memang tak ingin banyak membolos. Ia menuruni tangga untuk menuju dapur, ia yakin Ibu dan Mamah mertuanya pasti sedang asyik di dapur.
Benar saja, Hana melihat kedua Ibunya sedang asyik membuat sarapan.
"Assalamualaikum, selamat pagi Ibu, Mamah" sapa Han ceria, kemudian mencium tangan mereka.
"Lho kamu udah masuk sekolah?" Tanya Kinan.
"Iya Mah, Hana gak mau banyak bolos sekolah. Bentar lagi kan mau ujian kelulusan, Hana gak mau ketinggalan banyak pelajaran. Emh.. Ada yang bisa Hana bantu gak?".
"Enggak usah, mending kamu sarapan sana. Udah ada nasi goreng sama roti, terserah deh pilih yang mana, yang penting sarapan jangan sampe perut kamu kosong!" Sahut Kinan.
"Ya udah aku sarapan duluan ya Mah, Bu..!" Hana kemudian meninggalkan kedua wanita yang masih cantik di usia yang sudah tidak muda lagi.
"Good morning barbie hidup!" Sapa Juna saat Hana sedang menikmati roti selai cokelatnya.
"Morning, sini Juna sarapan bareng aku!" Sahut Hana senang.
"Mau sekolah?" Juna pun mengambil sehelai roti tawar dan mengolesinya dengan selai cokelat.
"Dianter Mas Abi?" Tanya Juna lagi.
"Enggak, paling dianter pak supir. Ka Abi mah susah bangunnya!" Hana menatap wajah Juna dengan seksama.
"Parah juga ya muka kamu, pasti sakit banget. Kamu sama Ka Abi emang gak akur ya?".
Juna hanya menaikan bahunya sambil terus menikmati sarapannya.
"Emhh, semalem kalian berantem gara-gara apa sih?" Hana yang penasaran tak mau lagi berbasa-basi.
"Emang lo gak tanya sama Mas Abi?"
"Aku gak berani, belum tanya aja dia udah ngelarang aku nanya-nanya!" Keluh Hana membuat Juna tersenyum.
"Udah gak usah dipikirin, gw sama Mas Abi udah biasa begini kok. Lo nya jangan kaget, anggap aja ini cara kita mempererat hubungan persaudaraan!".
"Cihh.. bisa gitu??".
"Ya udah gw anter aja yuk!" Ajak Juna menggandeng tangan Hana.
"Ehh, gak usah. Kamu kan baru dari perjalanan jauh, pasti capek. Istirahat aja di rumah. Apalagi semalem abis smack down-smack down an sama Kaka kamu, pasti badan kamu sakit!" Tolak Hana.
"Kalo gak dibuat bergerak malah berasa sakit. Gw selama di Jakarta gak ada kegiatan apa-apa, kalo cuma nganter jemput lo mah gw bisa. Ayo, ntar telat lho!" Ajak Juna lagi. Ia pun menarik tangan Hana agar tak lagi bisa menolak.
Di dalam mobil, Hana dan Juna begitu banyak berbagi cerita. Terkadang tawa mereka pun lepas oleh candaan mereka sendiri. Juna begitu menyukai kaka iparnya itu, ada rasa penasaran di hatinya tentang pernikahan antara Hana dan Abi. Tapi ia belum mau untuk menanyakan langsung pada Hana, ia tak mau membuat Kaka iparnya merasa tak nyaman dengannya.
"Nanti pulang jam berapa? Biar gw jemput!".
__ADS_1
"Kamu beneran mau jemput aku?" Hana mencoba untuk memastikan lagi.
"Iya, toh gw di rumah juga gak ada kegiatan apa-apa. Nanti kita jalan-jalan yaa!" Sahut Juna.
"Ya udah nanti aku kirim pesen ke kamu ya kalo aku udah pulang. Kalo gitu aku masuk, makasih Juna udah mau anterin aku!" Hana kemudian keluar dari mobil, ia melambaikan tangannya ke adik iparnya kemudian masuk ke dalam sekolahnya.
***
"Kamu dari mana Juna?" Tanya Kinan saat Juna baru saja tiba di rumahnya.
"Habis nganter Kaka Ipar ke sekolahnya Mah!" Jawab Juna sengaja memincingkan matanya ke arah Abi yang duduk di sebelah Kinan. Sedang Abi tak sedikit pun merespon ucapan adiknya.
"Juna ke kamar ya Mah, nanti Juna mau jemput Kaka ipar lagi!" Pamit Juna.
"Gak perlu, biar gw yang jemput dia nanti" sahut Abi tanpa melihat ke arah adiknya.
"Yaa terserah sih!" Juna pun melangkahkan kakinya ke kamar. Juna tau sebenarnya Abi ada rasa pada Hana, tapi sepertinya Abi belum atau menolak menyadarinya. Maka ia pun mencoba untuk menyadarkan perasaan Kaka nya itu jika ia sudah jatuh hati pada istrinya sendiri.
***
"Woi manten baru, udah masuk aja!" Tegur Hanum pada Hana yang baru saja sampai di kelasnya.
"Gak ada alesan buat ngebolos sekolah Num, emang gue kerja yang dapet cuti nikah!" Sahut Hana.
"Kok lo jalannya biasa aja sih Han?" Tanya Hanum heran ketika melihat Hana berjalan seperti biasa.
"Lah emang kenapa? Gw harus jalan kayak gimana?" Bingung Hana pun menatap ke wajah sahabatnya.
"Harusnya kan jalan agak-agak ngengkang gitu!" Ucap Hanum makin membuat Hana bingung.
"Lah kenapa harus begitu?".
"Ya iyalah harus begitu. Dimana-mana kalo lo baru pertama ngelakuinnya, pasti jalan lo aneh!" Jawab Hanum kesal.
"Ngelakuin apa sih?" Hana makin tidak mengerti arah omongan sahabatnya itu.
"Malam pertama! S*x! Atau jangan-jangan lo belum begituan ya?".
"Ya ampun Hanum, anak perawan kok ngerti-ngertinya sih, gw jadi meragukan legalisir keperawanan lo!" Ejek Hana.
"Idih sembarangan, gw bener- bener masih perawanlah. Gw tau begitu juga dari bacaan novel kok!" Elak Hanum.
"Ngeles aja lu!" Ledek Hana.
"Gimana Han rasanya malem pertama?" Hanum kini mendekatkan duduknya dengan Hana.
"Gw belum berani sampai tahap sana lah Num, Ka Abi kan belum ada perasaan sama gue. Mana mau gue begituan kalo dia gak cinta sama gue, rugi dong gue!" Jawab Hana dengan raut sedih.
"Dia masih suka berhubungan sama Raya?" Selidik Hanum yang dianggukan oleh Hana.
"Dia sering bales-balesan pesen sama Raya. Tapi gak pernah telpon-telponan sih mungkin karena masih tinggal di mansion Kakek dia gak berani!".
"Ckk.. Belum sadar aja dia ada bidadari di depan dia. Sabar aja Hana, masih banyak waktu buat ngeruntuhin hati Abi!" Hanum pun menyemangati sahabatnya yang mulai down kepercayaan dirinya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
...Dukung terus karya pertamaku yaaa 😘😘...
__ADS_1