Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 2 : BITTER SWEET ROMANCE Firasat


__ADS_3

Rain membereskan beberapa pakaian Akhtar ke dalam koper. Selama beberapa hari ke depan suaminya akan ada pekerjaan di luar negeri bersama Halbi, asisten Nino. Akhtar keluar dari kamar mandi dan melihat koper untuknya telah siap di pinggir kasur. Dia menghampiri Rain yang sedang merias wajahnya di depan meja rias.


“Udah beres mas mandinya? Itu pakaiannya udah aku siapin di atas kasur.”


“Pakein..”


Rain menghentikan pulasan bedak di wajahnya kemudian menatap Akhtar dari arah cermin. Wajah suaminya tampak memelas seperti anak kecil.


“Mas, jangan kaya anak kecil deh. Cepetan pake baju nanti kamu ketinggalan pesawat.”


“Masih lama sayang, pesawatnya berangkat jam sembilan, sekarang baru setengah tujuh.”


“Ya tapi kan mas mau nganter aku ke rumah papa dulu kan. Belum sarapan, cepetan sana pakai baju.”


“Makanya pakein biar cepat,” Akhtar kembali merajuk membuat Rain tak punya pilihan selain menuruti keinginan suaminya.


“Udah selesai, udah ganteng suamiku. Sekarang kita sarapan dulu ya.”


Rain menarik tangan Akhtar menuju ruang makan. Di sana sudah tersedia nasi goreng dan telor ceplok buatannya. Keduanya menikmati sarapan tanpa banyak bicara. Akhtar terus saja menggenggam tangan Rain selama makan.


Setelah memastikan semua sudah terkunci dan tak ada kompor atau air menyala, keduanya meninggalkan unit apartemen. Mobil yang dikendarai Akhtar kini melaju menuju kediaman Regan. Selama keluar negeri, dia bermaksud menitipkan istrinya di rumah sang mertua.


“Mas, padahal aku ngga apa-apa loh tinggal di apartemen sendirian.”


“Jangan sayang, mas ngga tenang ninggalin kamu di sana sendiri. Mas juga takut kalau Lissa nekad membalas kamu.”


“Mas terlalu khawatir, buktinya waktu itu aku baik-baik aja kan ketemu dia berdua aja.”


“Bisa jadi dia nekad nyuruh orang buat nyakitin kamu. Udah deh, nurut ya sayang,” Akhtar membelai puncak kepala istrinya.


Tak butuh waktu lama, keduanya telah sampai di kediaman Regan. Mobil yang biasa dikendarai Regan masih ada di tempatnya, pertanda sang mertua belum berangkat ke rumah sakit.


“Assalamu’alaiakum.”


“Waalaikumsalam, Rain. Tumben pagi-pagi ke sini.”


Sarah menyambut kedatangan anaknya dengan penuh suka cita,. Tak berapa lama Regan muncul dari arah belakang. Rain dan Akhtar segera mencium punggung tangannya.


“Begini ma, pa. Aku ke sini mau ngenterin Rain.”


“Nganterin Rain? Kamu udah ngga mampu membuat dia bahagia gitu? Kamu nyerah dan nganterin dia kembali ke orang tuanya?” cecar Regan yang membuat Akhtar gelagapan.


“Papa,” tegur Rain. Sarah yang gemas dengan kelakuan suaminya langsung mencubit pinggangnya dengan kesal.


“Bu.. bukan gitu pa. Aku ada pekerjaan ke Filipina buat lima hari ke depan, makanya aku mau nitipin Rain di sini. Takutnya kalau di apartemen dia kesepian ma, pa.”


“Oh kamu ada dinas keluar negeri. Ngga apa-apa, mama malah seneng ada temen di rumah. Ya kan pa?”


“Hmm.. sama siapa kamu ke Filipina?”


“Sama Halbi pa.”

__ADS_1


“Beneran sama Halbi bukan Lissa?”


Rain melotot mendengar pertanyaan sang papa tapi hanya ditanggapi dingin oleh dokter bedah itu. Sarah lagi-lagi harus mencubit pinggang suaminya karena sikapnya pada sang menantu sudah cukup keterlaluan.


“Mas, ngga usah aneh-aneh deh. Julid banget sih sama mantu sendiri,” bisik Sarah.


“Papa sih ngga keberatan kalau Rain tinggal di sini. Ngga usah balik lagi ke apartemen juga ngga apa-apa kok.”


“Mas, sekali lagi ngomong yang ngga penting, ngga ada jatah selama sebulan.”


Mendengar ancaman Sarah, Regan menutup mulutnya. Dia memilih mengalah dari pada harus kehilangan jatah selama sebulan. Rain yang tak sengaja mendengar ancaman sang mama hanya bisa tersenyum tipis. Berbeda dengan Akhtar yang perasaannya semakin tak menentu saja.


“Mas, berangkat jam berapa?”


“Nanti Halbi jemput ke sini.”


“Tunggu di teras aja yuk mas, takutnya kalau di dalam ngga kedengaran kalau Halbi datang.”


Akhtar hanya mengangguk. Rain menarik tangan Akhtar menuju teras. Regan yang hendak menyusul ditahan oleh Sarah. Namun tak berlangsung lama, karena ketakutan anaknya akan tersakitit lagi lebih mendominasi hingga menyusul keduanya. Langkahnya terhenti ketika mendengar percakapan anak dan menantunya.


“Sayang, lebih baik kamu ikut aja ya.”


“Aku maunya ikut tapi mas kan tahu, besok aku seminar UP. Jadi aku ngga bisa ikut.”


“Abis seminar kamu nyusul ya, nanti mas kirim tiketnya.”


“Mas kenapa sih? Kita kan udah bahas soal ini semalam. Aku udah nurut sama mas, tinggal di sini selama mas pergi. Bukannya aku ngga mau nemenin mas tapi L’amour juga punya banyak kerjaan mas. Aku kasihan sama om Damar kalau ngga dibantu, bisa keteteran dia. Lagian cuma aku yang bisa bantu, Gara mana bisa.”


“Mas, percaya sama aku. Aku akan baik-baik saja. Lagian di sini ada papa sama Rey yang bakalan jaga aku. Mas tuh yang harus hati-hati, siapa tahu klien cewek banyak yang naksir sama mas.”


“Kamu tuh bisa aja. Lagian selama ada Halbi di deket mas, ngga bakal ada yang berani deketin mas. Herder galak model dia, lihat tampangnya juga udah pada kabur kali.”


Rain tak bisa menahan tawanya. Memang benar wajah asisten Nino itu jauh dari kata ramah. Usianya sekitar tiga puluh tahunan dan memiliki aura yang cukup menyeramkan, jadi cocok sekali sebagai penjaga Akhtar.


Panjang umur, sosok yang baru saja dibicarakan tiba. Melihat Pajero hitam berhenti di depan rumahnya, Rain sudah bisa menebak kalau Halbi yang datang. Akhtar berdiri dan hendak berpamitan pada sang mertua, namun tak disangka kedua mertuanya sudah muncul lebih dulu.


“Pa, ma, aku pergi dulu. Aku titip Rain ya.”


Akhtar mencium punggung tangan Regan dan Sarah bergantian. Sarah memeluk Akhtar dan mendoakan keberhasilannya, berbeda dengan Regan yang tak berkomentar apapun. Kemudian Rain yang mencium punggung tangan suaminya.


“Jaga kesehatan ya, jangan tidur terlalu malam. Sukses buat seminar besok dan maaf mas ngga bisa mendampingimu.”


“Iya, mas juga jangan lupa makan, istirahat yang cukup, jaga kesehatan.”


Akhtar memeluk Rain cukup lama kemudian mengakhirinya dengan sebuah kecupan di kening. Akhtar membalikkan tubuhnya kemudian berjalan menuju Pajero hitam yang masih setia menanti. Namun belum juga sampai, Akhtar membalikkan tubuhnya kemudian berlari kembali menghampiri Rain dan menariknya dalam pelukannya.


“Mas.”


“Perasaan mas bener-bener ngga enak sayang.”


Rain membiarkan Akhtar memeluknya erat. Sebenarnya hatinya pun berat melepaskan kepergian sang suami. Jika boleh meminta, dia ingin Akhtar tak pergi kemana-mana, menemaninya menjalani seminar UP. Namun dia tak bisa bersikap egois, Nino dan perusahaan membutuhkan suaminya.

__ADS_1


“Bismillah mas, semuanya pasti akan baik-baik aja,” Rain menyentuh rahang suaminya.


Regan dan Sarah masih terpaku di tempatnya menyaksikan pasangan di depannya yang sulit sekali untuk berpisah.


“Aku mencintaimu Rain.”


“Aku juga mencintaimu mas.”


Akhtar menarik tengkuk Rain kemudian mencium bibirnya dengan lembut. Halbi yang hendak turun menggagalkan rencananya begitu melihat orang yang ditunggunya tengah asik berciuman. Sarah segera menarik Regan masuk ke dalam, dia malu sendiri melihat adegan mesra sang anak di depan mata. Reyhan yang sedang menuntun sepeda motor keluar dari garasi memilih kembali ke dalam melihat adegan sang kakak yang tak tahu tempat sambil menggerutu kesal.


Setelah puas ******* dan memagut bibir istrinya, Akhtar mengakhiri ciumannya. Dia menautkan kening keduanya.


“Mas akan secepat mungkin menyelesaikan pekerjaan di sana. Tunggu mas ya.”


“Iya mas.”


“Mas pergi dulu, assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. Hati-hati sayang.”


Akhtar mencium kening dan bibir Rain sekilas kemudian beranjak menuju mobil setengah berlari. Tanpa menunggu lama, Halbi segera melajukan kendaraannya. Waktu yang tersisa menuju bandara kurang dari satu jam, membuatnya harus bergegas.


Rain masuk ke dalam rumah ketika mobil yang ditumpangi Akhtar sudah tak terlihat lagi. sambil tersenyum dia memegangi bibirnya, hangat ciuman dari sang suami masih terasa. Di dalam Reyhan menyambutnya dengan tatapan sinis.


“Cih, segitu senengnya yang udah bikin adegan mesum pagi-pagi.”


“Sirik aja lo. Ngintip ya?”


“Kaga usah ngintip juga udah pasti keliatan. Yakin papa sama mama juga lihat adegan kalian barusan. Ngga tahu malu banget sih, sana di kamar kalau mau ciuman.”


“Ya mana gue tahu bakal dapet serangan dadakan. Makanya buruan cari calon biar ada lawannya wlee,” Rain menjulurkan lidahnya ke arah Reyhan.


“Rain, Akhtar tuh ngga tahu sikon ya. Harusnya dia lihat-lihat dong...”


CUP


Ucapan Regan terhenti ketika Rain mencium pipinya kanan dan kiri. Lalu mengalungkan kedua tangannya ke leher sang papa.


“Papa semenjak aku nikah bawaannya ngegas mulu. Sabar dong pa, jangan emosi terus. Ngga baik buat kesehatan papa. Emang papa ngga mau nimang cucu apa? Makanya jangan marah-marah terus, biar panjang umur dan makin disayang mama. Ok papaku tersayang.”


CUP


Lagi Rain mencium pipi Regan kemudian setengah berlari menuju kamarnya di lantai atas. Sarah hanya menggelengkan kepalanya melihat cara sang anak membujuk papanya yang memang belum menerima menantunya sepenuh hati.


🍁🍁🍁


**Dokter Regan lagi PMS ya sewot mulu bawaannya, sabar sok, orang sabar makin ganteng loh😉


Jangan lupa ya buat yg masih punya vote, kirimin ke sini dong. Juga like and commentnya atau mau kirim kopi buat mamake pasti diterima dgn senang hati karena mamake suka minum kopi apalagi sambil duduk di kursi pijat😁


Love you all😘😘😘**

__ADS_1


__ADS_2