
Hari terus berlalu, semenjak pembicaraannya dengan Elang, Firly mulai menata hati dan hidupnya kembali. Bisa dikatakan dia sudah kembali ke sosoknya yang dulu, ceria, supel dan super duper cerewet. Namun tanpa disadari orang-orang sekitarnya, Firly masih sering menangis walau secara sembunyi. Hanya pada Rain dan Sisil dia berani memperlihatkan sisi rapuhnya. Hubungannya dengan Sisil memang sudah kembali membaik. Bahkan tak jarang gadis itu memperlihatkan foto-foto Dimas dan Ara di Milan yang diperolehnya berkat bantuan papa tirinya.
“Ily.”
Firly menghentikan langkahnya saat akan menuju dapur. Melihat Alea melambai padanya, dia memutuskan untuk menghampiri sang mami terlebih dulu. Firly duduk di samping Alea.
“Ada apa mi?”
“Bagaimana hubunganmu dengan Radja sayang?” Alea membelai lembut rambut hitam Firly.
“Biasa aja mi. Kenapa emangnya?”
“Coba kamu lebih dekat lagi dengannya. Dia anak yang baik, sepertinya dia juga suka sama kamu. Setidaknya dia akan terus berada di sisimu bukan seperti seseorang yang sudah meninggalkanmu setelah memberi harapan palsu.”
Firly tersenyum getir. Setelah apa yang terjadi sepertinya tidak ada penyesalan dalam hati maminya. Bahkan kini dia berpura-pura tak tahu alasan kepergian Dimas. Sepertinya bakat akting Alea masih belum memudar.
“Dimas hanya menginginkanmu menjadi ibu sambung Ara saja. Dia ingin memanfaatkanmu sayang, melihat kedekatan Ara denganmu. Kamu pikir ngga aneh apa dia yang menutup diri setelah tante Sissy pergi tiba-tiba berubah dan bilang mencintai kamu. Itu semua karena dorongan kakaknya yang ingin melihat keponakannya mempunyai ibu sambung.”
“Cukup mi! Tolong jangan sebut-sebut lagi nama dia. Ily ngga mau denger lagi soal dia mi.”
Firly berlari naik ke kamarnya. Alea menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Firly membenci Dimas, berarti usahanya untuk memisahkan mereka berhasil. Dia mengambil ponselnya lalu menghubungi Radja.
Firly segera masuk ke kamar mandi. Dinyalakannya shower kemudian dirinya masuk ke dalam bath tub yang kosong. Firly menangis sepuasnya, meluapkan segala rasa sakit, kekecewaan, amarah dalam tangisannya. Inilah yang selalu dilakukannya, menangis di kamar mandi dan menyamarkan suara tangisnya dengan gemericik air.
Udah Ily berhenti nangis. Cukup sebentar aja kamu nangis. Jangan sampai semua orang melihat mata bengkakmu. Kamu harus kuat, demi om Dimas, demi Ara. Aku baik-baik aja. Aku percaya kesedihanku akan terbayar dengan kebahagiaan.
Sebisa mungkin Firly menghentikan tangisnya dengan terus menguatkan dan memotivasi dirinya sendiri. Firly keluar dari dalam bath tub, mematikan shower lalu menuju wastafel untuk mengompres matanya dengan lap yang sudah dibasahi air dingin. Setelah itu dia mengoleskan krim pada kedua matanya untuk mengurangi bengkak di matanya akibat menangis.
Firly merangkak naik ke atas ranjangnya. Diambilnya ponsel yang tergeletak di atas nakas. Jarinya bergerak membuka folder galeri. Dipandanginya foto Dimas dan Ara yang baru saja dikirimkan oleh Sisil. Foto Dimas sedang mengajak Ara bermain di sebuah taman.
“Om, Ily kangen sama om juga Ara. Om kangen ngga sama Ily?”
Cinta tak berbalas, cinta dalam diam, cinta terhalang restu orang tua adalah bentuk cinta yang menguras emosi. Maksud hati ingin menggapai sesuatu namun apa daya tangan tak sampai. Itulah yang kini Firly rasakan. Seberapa besar cintanya pada Dimas, tetap saja dia tak bisa menyentuhnya. Hanya bisa merindukannya dalam diam sambil menahan sesak di dada.
Firly membuka laci nakas di samping tempat tidurnya kemudian mengambil botol plastik kecil. Dia mengeluarkan sebuah tablet berwarna putih kemudian memasukkannya ke dalam mulut. Firly mendorong obat yang diminumnya dengan air putih yang terdapat di atas nakas. Kemudian berbaring seraya mendekap ponsel yang menampilkan wajah Dimas dan Ara. Tak berapa lama gadis itu jatuh tertidur.
🍁🍁🍁
Tiga bulan kemudian
Di sebuah rumah mungil, terlihat rutinitas di pagi hari yang kerap terjadi selama tiga bulan terakhir. Dimas tengah berkutat di dapur menyiapkan sarapan untuk Ara juga dirinya. Ara keluar dari kamarnya setelah selesai mandi dan berpakaian. Dia duduk menunggu sarapannya sambil melihat Dimas yang masih memasak. Ingatannya kembali pada ucapan sang papa saat menjejakkan kakinya pertama kali di rumah ini.
Ara.. , maafkan papa. Papa tidak bisa memenuhi janji papa menjadikan kak Ily bagian keluarga kita. Tapi papa akan berusaha melakukan yang terbaik untuk Ara. Papa akan berusaha membahagiakan Ara, membuat Ara tidak kekurangan kasih sayang sedikit pun. Papa juga akan berusaha meluangkan lebih banyak waktu bersama Ara.
Ketika memulai kehidupan baru di Milan, Dimas membuktikan semua janjinya pada anaknya. Dia sengaja mencari rumah yang letaknya tidak terlalu jauh dari restoran, sehingga bisa cepat pulang ke rumah atau mengecek keadaan Ara sewatu-waktu. Untuk menjaga Ara, Dimas dibantu oleh seorang pengasuh yang direkomendasikan oleh Jack. Setiap pagi sampai siang Ara mengikuti home schooling yang lagi-lagi hasil rekomendasi dari suami Arini itu.
__ADS_1
“Risotto ready.”
Suara Dimas membuyarkan lamunan Ara. nasi campur khas Italia itu sudah terhidang cantik di dalam mangkok. Dimas menaruh dua mangkok berisi Risotto ke atas meja. Kemudian dia duduk berhadapan dengan Ara. Ara menyendok nasi campur di hadapannya kemudian menyuapkan ke dalam mulut.
“Gimana belajarnya sama miss Elena? Ara suka?”
“Suka pa, miss Elena orangnya baik banget.”
“Syukurlah kalau Ara suka. Oh iya minggu depan papa mau ke London, mau lihat restoran di sana. Ara mau ikut?”
“Mau dong pa. Nanti kita jalan-jalan di sana ya pa.”
“Ok, kita pergi kemana Ara mau.”
Ara menyunggingkan senyumnya. Walau pun kecewa tidak bisa menjadikan Firly sebagai mama sambungnya, tapi dia tetap bersyukur sang papa sudah tidak sependiam dulu. Dimas sudah kembali seperti Dimas yang dulu kendati hatinya kembali menanggung luka perpisahan.
Tepat jam sembilan miss Elena datang ke rumah. Wanita berusia 45 tahun itu masih terlihat anggun di usianya yang sudah tidak muda lagi. Dia adalah keturunan Italia – Indonesia yang fasih berbahasa Indonesia. Ara jadi tidak kesulitan mencerna pelajaran yang diberikan olehnya.
Dimas bersiap berangkat ke restoran dengan mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru langit. Lengan kemejanya digulung hingga ke siku membuat penampilannya tidak terlalu formal. Dia melemparkan senyum saat bersitatap dengan Elena. Kebetulan suami Elena adalah salah satu suplier sayuran di restorannya. Jadi keduanya sudah saling kenal.
“Ara, papa kerja dulu. Yang rajin belajarnya ya sayang.”
“Iya pa,” Ara mencium punggung tangan Dimas yang dibalas dengan kecupan Dimas di pipinya. Elena tersenyum melihat interaksi ayah dan anak itu.
“Saya pergi dulu Lena. Titip Ara ya.”
Dimas mengambil tas kerjanya kemudian keluar dari rumah. Selama di Milan dia jarang menggunakan kendaraan. Karena jarak rumah dan restoran cukup dekat, Dimas memilih berjalan kaki setiap pergi dan pulang dari sana.
Setelah tiga jam belajar, miss Elena menyudahi pelajarannya. Dia mengajak Ara bermain di taman belakang. Hari ini pengasuh Ara tidak bisa datang karena ada acara keluarga. Elena memilih untuk menemani Ara di rumah. Udara dingin langsung menerpa permukaan kulit mereka. Sejak dua minggu lalu negara di bagian Eropa sudah mengalami musim gugur. Suhu saat ini mencapai 10 derajat celcius.
Tak seperti biasanya, kali ini angin bertiup cukup kencang. Ara bergidik kedinginan begitu angin yang membawa udara dingin kembali menerpa kulitnya. Elena yang melihat Ara kedinginan segera mengajaknya masuk. Dia membuatkan coklat hangat untuk menghangatkan tubuh anak itu.
“Makasih miss,” Ara menerima cangkir berisi coklat hangat dari Elena. Mereka kini pindah ke ruangan tengah menikmati minuman sambil menonton televisi. Tak berapa lama Ara mulai mengusap-usap tangan dan kakinya.
“Ara kenapa?”
“Ini miss, Ara gatel. Ini tangan Ara bentol-bentol.”
Elena memeriksa tangan dan kaki Ara. terdapat beberapa bentolan di tangan dan kakinya seperti digigit binatang. Dia terkejut melihat bibir Ara yang nampak menebal.
“Ya ampun Ra, kayanya kamu alergi dingin deh.”
Elena mengambil ponselnya kemudian menghubungi Dimas. Dia juga segera menghubungi dokter kenalannya untuk memeriksa keadaan Ara. Elena membawa Ara ke dalam kamarnya.
Mendapat telepon dari Elena, Dimas bergegas pulang ke rumah. Dia berlari kencang menuju rumahnya. Dengan nafas terengah Dimas masuk ke kamar Ara. Anaknya itu sedang tiduran di kasur ditemani Elena.
__ADS_1
“Ara kenapa?”
“Sepertinya Ara alergi dingin Dim. Tadi waktu aku bawa ke taman belakang, anginnya lagi kencang banget. Mungkin karena itu. Tapi aku sudah hubungi dokter Pablo. Sebentar lagi dia sampai.”
Baru saja Elena menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara bel. Dimas bergegas membukakan pintu. Seorang pria paruh baya menenteng tas medis berdiri di depan pintu. Dimas segera mempersilahkannya masuk kemudian memandunya ke kamar Ara. Dokter Pablo langsung memeriksa kondisi Ara. Dimas memperhatikan dengan perasaan cemas.
“Bagaimana dok?”
“Dia terkena alergi dingin. Ini saya resepkan obat alergi dan gel untuknya. Untuk sementara waktu jangan keluar atau terkena udara dingin dulu.”
“Baik, terima kasih dok.”
Dokter Pablo menyerahkan selembar resep pada Dimas kemudian permisi pulang. Elena mengantarkannya sampai ke depan pintu. Dimas duduk di sisi ranjang, memandangi Ara yang sedang berbaring sambil sesekali menggaruk tangannya.
“Jangan digaruk sayang, nanti lecet.”
“Gatel pa.”
“Sabar ya, papa ke apotik dulu beli obat buat Ara.”
“Biar aku aja Dim.”
Elena sudah berada lagi di kamar setelah mengantar dokter Pablo. Dimas memberikan lembaran resep pada Elena. Tanpa menunggu lama wanita itu bergegas menuju apotik yang letaknya agak jauh dari rumah Dimas.
🍁🍁🍁
Setelah meminum obat dan mengoleskan gel di kulitnya, keadaan Ara mulai membaik. Namun Dimas memutuskan mengambil cuti sampai kondisi Ara benar-benar pulih. Sehabis makan malam, Ara memilih berdiam diri di kamar. Malam ini entah kenapa dia sangat merindukan Firly. Dulu kalau dirinya sedang sakit, Firly selalu menemaninya sambil bercerita panjang lebar sampai dia tertidur. Ara mengambil ponselnya lalu membuka foto-foto Firly yang tersimpan di galerinya. Foto Firly sedang sendiri, saat berdua dengannya atau bersama dengan Dimas.
Jempol Ara berhenti mengusap layar ponsel di sebuah foto yang menjadi favoritnya. Fotonya bersama dengan Dimas juga Firly. Senyum kebahagiaan nampak terpancar dari ketiganya. Mereka layaknya seperti keluarga kecil yang bahagia. Senyum Ara tersungging ketika mengingat waktu saat foto itu diambil.
“Kak Ily lagi apa sekarang? Ara kangen kak Ily. Maaf kalau Ara pergi ngga pamit. Tapi Ara ngga mau papa dimarahin terus sama mami Alea.”
Mata Ara berkaca-kaca. Dia buru-buru menghapusnya, takut Dimas memergokinya tengah menangis. Ara mulai menguap, sepertinya obat yang diminumnya tadi sudah bekerja. Perlahan matanya menutup, namun tangannya masih menggenggam ponselnya.
Hari semakin larut. Dimas baru saja selesai membaca laporan perkembangan restoran yang kemarin terkena masalah yang dikirimkan Ringgo melalui e-mail. Sebelum masuk ke kamarnya, Dimas masuk ke kamar Ara untuk mengecek keadaannya. Dia membenarkan selimut Ara kemudian mengambil ponsel yang masih berada dalam genggaman anak itu. Dimas tertegun memandangi foto yang terpampang di layar ponsel.
Ternyata kamu juga merindukan Ily, nak. Maafkan papa, maaf karena papa, kamu harus mengalami ini semua.
Dimas mencium kening Ara setelah meletakkan ponsel di atas nakas, kemudian berjalan keluar kamar. Dengan gerakan pelan dia menutup pintu lalu masuk ke kamarnya. Dimas duduk menyandar di head board ranjang. Kini gilirannya yang menatapi foto-foto Firly yang dikirimkan Rain padanya.
Syukurlah kalau kamu bisa tersenyum lagi sayang. Om berharap kamu bahagia selamanya. Walaupun bukan om yang berada di sisimu, asal bisa melihatmu tersenyum sudah cukup buat om. Terima kasih karena kamu sudah memberi semangat baru dalam hidup om yang suram ini. I love you Ily.
🍁🍁🍁
**Yang kemarin nanyain om Dimas, udah nongol ya om Dimasnya. Episode kali ini masih termehek-mehek ya gaeeesss. Kalau kalian terhura dan ingin menangis, siapkan kain pel untuk menghapus air mata dan ingus kalian🏃🏃🏃🏃
__ADS_1
Jangan lupa like and comment-nya. Vote nya juga kalau belum terpakai dan kalau kesel sama mamake, lempar aja pake bunga, kopi, silet atau kursi ya. Pasti langsung mamake tangkap😁
Selamat beraktivitas, selamat berkumpul bersama keluarga, happy weekend dan buat yang masih jomblo semangat untuk mencari tulang rusuknya ya😎**