Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 3 : YOU ARE MY DESTINY Sandra


__ADS_3

Seorang ibu hamil yang perutnya sudah membuncit memasuki lobi Humanity Corp. Tangan kanannya menggandengan seorang anak lelaki berusia tiga tahun. Di sebelah kanan anak itu, nampak sang ayah juga tengah menggandeng tangannya. Ketiganya masuk ke dalam lift khusus petinggi dan langsung menuju lantai sebelas.


Kedatangan Dimas, Firly dan Gema langsung disambut oleh Virza. Dengan sigap dia membukakan pintu ruangan Elang. Melihat kedatangan om beserta keluarga kecilnya, Elang beranjak dari kursi kebesarannya. Diraihnya tangan Dimas lalu mencium punggung tangannya. Firly menyodorkan tangannya ke Elang yang langsung ditepis oleh pemuda.


“Dasar ponakan durhaka,” sembur Firly.


Elang tak mempedulikan omelan ibu hamil itu. Pandangannya langsung tertuju pada Gemma. Anak lelaki itu juga melakukan hal seperti tadi pada Elang, mencium punggung tangan pemuda itu. Elang membalasnya dengan menggendong Gemma dan menghadiahi ciuman di pipinya yang gembul.


“Gimana rasanya jadi wakil CEO El?” tanya Dimas seraya mendudukkan diri di sofa.


“Ya gitu deh om, puyeng.”


Dimas terkekeh, dibantunya Firly yang hendak duduk di sampingnya. Sedang Gemma duduk tenang di pangkuan Elang.


“Lo bawa apaan buat gue?” Elang menunjuk pada paper bag di atas meja yang dibawa Firly tadi.


“Geer. Itu baju muslim buat Sisil.”


“Ya kali lo mau kasih gue kado.”


“Harusnya elo kasih gue kado. Gue belum ngerasain gaji lo sebagai wakil CEO.”


“Minta sama suami elo, dia lebih tajir dari gue.”


“Suami gue tuh om elo monyong. Jadi ponakan kaga ada sopan-sopannya.”


“Astaghfirullah, nih emak mulutnya ngga disaring,” Elang menutup telinga Gemma.


Dimas hanya menggelengkan kepalanya melihat Elang dan Firly yang sudah seperti kucing dan anjing jika bertemu. Gemma melihat bergantian ke arah kakak sepupu dan mamanya.


“Tumben om ke sini ngga kasih tahu dulu. Ada apa?”


“Begini, ada yang mau invest buat buka cabang Archipelago di Paris. Tapi dia mau ketemu sama kamu El. Kira-kira kapan kamu ada waktu buat ke sana?”


“Duh kapan ya om. Aku lagi sibuk cari investor buat proyek terbaruku. Aku cuma dikasih waktu sebulan sama ayah. Kalau gagal, aku bakalan dipecat.”


“Hahaha.. gue doain lo dipecat terus lo kerja sama gue, jadi asisten gue. Mau?”


“Najis..”


Firly kembali tergelak, entah mengapa di hamil anak kedua ini dia senang sekali menjahili Elang. Melihat wajah kesal sahabat sekaligus keponakannya itu merupakan hiburan tersendiri untuknya.


“El, gue ngga disuguhin apa gitu? Laper gue, pesenin makanan kek dari Premium. Kaga peka banget sih, tahu tantenya lagi hamil. Ini juga udah jam makan siang.”


“Jangan kebanyakan makan. Ngaca sana, badan lo udah bulet kaya bola gitu.”

__ADS_1


“Eeeeellll...”


Elang bangun dari duduknya. Sambil menggendong Gemma, dia menelpon ke Premium restoran. Memesan makanan untuk sahabatnya. Kemudian dia kembali ke tempat duduknya semula melanjutkan perbincangan dengan Dimas.


Di tempat lain, tepatnya di EDR, para karyawan sudah mulai berdatangan untuk mengisi perut mereka. Menu yang disajikan kali ini pun lumayan menggugah selera. Azkia memasuki EDR seteleah sebelumnya menunaikan ibadah shalat dzuhur dulu.


Dengan sabar dia menunggu giliran untuk mengambil makanan. Ayam mentega, capcay, perkedel jagung dan kerupuk udang sudah masuk ke dalam nampannya. Tak lupa dia juga mengambil jus jeruk sebagai minumannya. Kaki Azkia melangkah menuju meja yang ditempati oleh Tina.


Ketika dia melintasi meja yang diisi oleh Sandra dan tiga orang pemagang lainnya, dengan sengaja Sandra menjulurkan kakinya. Tak sadar dengan niat jahat temannya itu, Azkia terus berjalan tanpa melihat ke bawah. Dan ketika kakinya terbentur kaki Sandra, serta merta nampan yang dibawanya terjatuh ke lantai. Makanan yang tadi diambilnya berserakan di lantai. Kejadian tersebut otomatis menarik perhatian orang-orang.


“Oopss.. sorry.”


Sandra berucap tanpa merasa bersalah. Azkia hanya menghela nafasnya lalu mengambil nampan dan gelas yang terjatuh. Baru saja dia menegakkan tubuhnya. Dengan sengaja Sandra menumpahkan minuman ke pakaian dan hijab Azkia.


“Oopss.. sorry again.”


“Kamu sengaja kan?” Azkia sudah tidak bisa menahan diri lagi.


“Kalau iya kenapa? Itu tuh pantes buat tukang tikung kaya elo.”


“Tukang tikung? Apa maskud kamu?”


“Ngga sadar? Lo tuh udah ngerebut posisi gue di lantai sebelas. Harusnya gue yang ada di sana bukan elo.”


“Lo pikir lo lebih baik dari gue hah?? Lo bisa bertahan karena lo ngerayu pak Elang! Kepala aja yang lo tutupin tapi kelakuan lo murahan!!”


Sandra mendorong tubuh Azkia. Gadis itu cukup percaya diri melakukan hal tersebut, karena hampir semua karyawan tahu kalau dia anak seorang anggota DPRD yang cukup berpengaruh. Kemudian dia mengambil nampan makanannya dan melemparkannya ke arah Azkia, sisa makanan menempel di baju serta hijabnya.


Tak berhenti di situ, Sandra mengambil gelas sisa minumannya. Saat akan mengguyurkan pada Azkia, gadis itu menepisnya hingga gelas mengenai tubuh Sandra dan membasahi pakaiannya. Ruang EDR seketika ricuh, Pras yang melihat kedua anak magangnya bersitegang segera menghampiri mereka.


“Punya nyali juga lo ngelawan gue. Ngerasa didukung pak Elang lo!”


“Jangan fitnah ya San.”


“Gue lihat pake mata kepala sendiri lo beberapa kali diantar pak Elang. Masih mau ngelak lo? Ngga usah sok suci! Dasar perempuan murahan.”


Kesal mendengar tuduhan Sandra, Azkia mengangkat tangannya. Hampir saja tangan Azkia mendarat di pipi mulus Sandra. Namun Pras bergerak cepat dan menahan tangan gadis itu. Hal ini tidak disia-siakan Sandra.


PLAKK!!


Tangan Sandra mendarat kencang di pipi Azkia hingga menimbulkan suara yang cukup keras. Pras cukup terkejut dengan aksi Sandra, spontan dia melepas tangan Azkia. Emosi Azkia sudah tak terbendung, dia merangsek maju dan menarik kemeja Sandra.


“Lepas Kia!!”


Hardik Pras, namun tak didengarnya. Dengan paksa Pras melepaskan cengkeraman Azkia lalu mendorong tubuh gadis itu dengan kuat. Hampir saja Azkia terjatuh jika Jayden tak menahannya.

__ADS_1


“Ada apa ini??!!”


Pras langsung terdiam ketika melihat Virza datang ke arahnya. Sandra merapihkan kemejanya yang kusut akibat ulah Sandra.


“Dia yang mulai pak! Dia nyerang saya duluan, saya cuma membela diri,” Sandra menunjuk ke arah Azkia.


“Benar pak, Azkia yang memulai lebih dulu. Saya hanya mencoba melerai,” sambung Pras.


“Cih, maling teriak maling.”


Azkia yang muak melihat kedua orang di depannya segera pergi seraya melayangkan pandangan sinis. Tak dipedulikannya panggilan Virza padanya.


“Azkia!! Saya bilang berhenti!!”


Azkia menulikan telinganya, dia terus saja berjalan keluar dari EDR. Jayden membalikkan tubuhnya ke arah Virza lalu berbisik pelan pada pemuda berwajah dingin itu.


“Jangan cari gara-gara sama Azkia kalau ngga mau digorok sama Elang.”


Jayden menepuk pelan pundak Virza lalu beranjak pergi untuk menyusul Azkia. Sambil berjalan, dia mengakses rekaman cctv melalui ponselnya. Jayden tersenyum tipis ketika melihat rekaman tersebut. Dikirimkan file tersebut ke ponsel Elang.


Azkia memutuskan kembali ke lantai sebelas. Sesampainya di sana dia langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Baju dan hijabnya sudah basah dan kotor akibat terkena siraman jus jeruk dan sisa makanan. Baunya pun sudah tak karuan. Dengan kesal Azkia melempar tisu ke dalam tempat sampah.


Azkia membasuh wajahnya dengan air beberapa kali. Cukup lama Azkia memandangi pipinya yang bengkak dari pantulan cermin. Dia cukup terkejut dengan keberaniannya melawan Sandra tadi. Setelah terkena gangguan panik, Azkia kerap ketakutan ketika mendengar teriakan atau mendapat perlakuan kasar. Tapi tidak kali ini.


Ya Allah apa yang terjadi pada diriku? Kekuatan dari mana tadi hingga aku bisa melawan Sandra?


Selesai membersihkan diri, Azkia kembali ke ruangannya. Dia duduk termenung di kursi kerjanya. Terdengar nyanyian dari perutnya. Pagi tadi gadis itu tak sempat sarapan karena bangun terlambat. Kini makan siang pun harus terlewat gara-gara ulah Sandra. Azkia memegangi perutnya yang terasa perih.


Lamunan Azkia buyar ketika pintu ruangan terbuka. Jayden menyembulkan kepalanya dari sela-sela pintu yang terbuka.


“Kamu.. jangan kemana-mana, tunggu di sini oke.”


Jayden kembali menutup pintu kemudian bergegas menuju ruangan Elang. Jayden mengetuk asal pintu lalu langsung masuk ke dalam, mengejutkan semua yang ada di sana.


“Maaf pak.. itu saya kirim file ke hp, tolong dicek.”


Elang mengambil ponselnya yang tergeletak di meja kerja. Segera diputarnya file video yang dikirimkan oleh Jayden.


🍁🍁🍁


**Kira² apa ya reaksi mas El lihat video itu?


Eh udah hari Senin aja nih. Waktunya vote, kasih vote - nya buat mamake ya😉 Jangan lupa ya untuk nge-like and kasih comment juga nya gaesss..


Mudah²an nanti sore mamake bisa up lagi**.

__ADS_1


__ADS_2