Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 1 : DEAR UNCLE Duda Karatan


__ADS_3

Pagi harinya, selesai sarapan mereka menuju Galleria Vittorio Emanuelle II. Pusat perbelanjaan terbesar di Milan ini menjual berbagai kebutuhan, mulai dari makanan sampai barang-barang branded. Tidak hanya bergaya klasik, bangunan ini juga memiliki interior yang indah. Atapnya dipasangi kaca yang membuat pengunjung dapat melihat langit dan juga sinar matahari.


Kali ini, Ringgo, Sisil, Arini dan Jack juga ikut bersama. Jack adalah suami kedua Arini. Sebelumnya Arini menikah dengan ayah Sisil dan bercerai tak lama setelah melahirkan Sisil. Mereka baru menikah selama dua tahun dan Jack adalah orang yang bertanggung jawab dalam pembangunan restoran Dimas di Milan.


Sesampainya di dalam gedung, mereka berpencar dan sepakat bertemu di salah satu cafe. Dimas pergi bersama Firly, Arini pergi bersama Jack dan Sisil, namun karena tak ingin sendirian, Ringgo meminta Sisil menemaninya belanja oleh-oleh untuk istrinya. Sudah pasti Sisil tak menolak ajakan Ringgo. Dengan semangat dia menemani pria beristri itu berburu oleh-oleh.


Setelah membeli pesanan Alea, Firly mengajak Dimas membeli oleh-oleh untuk Ara dan yang lainnya. Firly sibuk memilih pakaian untuk calon anak tirinya itu, tak lupa dia juga memilihkan baju untuk Yunda, Elang, Firlan dan Azriel.


“Sudah om.”


“Kamu ngga beli baju?”


“Ngga usah, Ily udah dapet kado istimewa dari om,” Firly memegang liontin kalungnya.


“Ngga bisa, ayo beli baju buat kamu juga.”


Walaupun berkali-kali menolak, akhirnya Firly menyerah juga. Dia hanya mengambil sebuah dress berwarna maroon dengan model cold shoulder dan sepatu. Tak lupa dia juga memilihkan kemeja untuk Dimas, Irzal dan papinya.


Selesai di toko pakaian, Dimas mengajak Firly ke toko perhiasan. Dia membeli sebuah bros cantik yang terbuat dari emas putih dengan tiga buah berlian kecil di atasnya.


“Om cuma beli ini buat bunda Poppy?” Firly bingung Dimas hanya membelikan kakaknya sebuah bros yang harganya di bawah tas pesanan maminya.


“Hmm.. kalau om belikan yang lain, nanti beruang kutubnya ngamuk.”


“Beruang kutub? Siapa?”


“Siapa lagi kalau bukan ayah Irzal, suami posesif yang bucinnya tingkat dewa hahaha,” Firly tergelak mendengarnya. Kemudian ingatannya kembali melayang pada adegan pertautan dua bibir yang menggelora. Firly menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menepis ingatan mesum itu.


“Kenapa?”


“Ng.. ngga apa-apa. Kalau dengar ayah Irzal sama bunda Poppy jadi inget sesuatu aja hehehe.”


“Inget apa?”


“Ish om kepo deh, ada deh.”


Firly segera berlari meninggalkan Dimas. Tak mungkin dia menceritakan tentang peristiwa memalukan itu. Bisa-bisa dia dianggap ingin merasakan kembali ciuman panas mereka. Dimas bergegas menyusul Firly, takut gadis itu nyasar ke lain hati. Digenggamnya tangan Firly sesaat setelah berhasil menyusulnya. Hatinya panas ketika tak sengaja mendapati seorang pria muda tengah memperhatikan Firly.


Puas berburu oleh-oleh dan makan siang di restoran yang menyajikan makanan halal, mereka kembali ke hotel. Semuanya bersiap untuk kembali ke tanah air. Dua buah mobil yang akan mengantar ke bandara sudah menunggu di depan lobi.


Sepuluh menit sebelum take off mereka sudah duduk di dalam pesawat. Seperti biasa dalam setiap penerbangannya, Dimas selalu memilih kelas bisnis untuk kenyamanan perjalanannya. Lagi-lagi Sisil berteriak senang karena duduk bersebelahan dengan Ringgo. Dengan alasan memberikan waktu berdua untuk ibu dan ayah sambungnya.


Perjalanan panjang pun dimulai saat pesawat berhasil lepas landas meninggalkan bandara Malpensa. Firly duduk menyender di kursinya, sedari tadi Dimas tak melepaskan genggaman tangannya. Sepertinya pria itu sudah menunjukkan tanda-tanda kebucinan.


“Ly, kamu serius kan dengan hubungan kita?”


“Kenapa? Jangan bilang om berubah pikiran.”


“Ngga sayang. Om hanya ingin meyakinkan aja. Mungkin ke depannya akan sulit buat kita mendapat restu dari orang tuamu. Apa kamu siap dengan semua kemungkinan buruk yang akan terjadi? Kalau kamu tidak siap, kita akhiri aja semuanya di sini. Om ngga keberatan.”

__ADS_1


“Dari awal Ily udah bilang kalau Ily serius dengan perasaan Ily. Ily mencintai om dan menyayangi Ara. Ily ingin menghabiskan hidup bersama om, hanya om yang Ily inginkan menjadi pendamping hidup. Apapun yang terjadi nanti, kita akan hadapi bersama om.”


“Makasih sayang. Terima kasih sudah memilihku dari sekian banyaknya lelaki di dunia ini.”


“Terima kasih juga sudah membuka hati om untuk Ily. I love you om.”


“I love you too.”


Dimas mencium kening, kedua pipi dan mengecup bibir tipis Firly. Sejenak mata keduanya bersitatap dan saling mengunci. Firly mengusap pipi Dimas dengan ibu jarinya. Dimas menelusupkan tangannya ke belakang kepala Firly, kemudian menarik tengkuknya membuat wajah mereka tak berjarak. Dimas memagut bibir tipis yang sudah menjadi candunya. Firly melingkarkan tangannya di leher Dimas lalu menutup matanya, menikmati pagutan demi pagutan yang membuatnya melayang.


Ringgo keluar dari toilet setelah menuntaskan hajatnya. Tanpa sengaja matanya menangkap adegan yang membuatnya cukup panas dingin. Sialnya mata laknatnya terus melihat kebuasan Dimas melahap bibir kekasihnya. Dengan cepat dia kembali ke tempat duduknya.


Kampret lo Dim, dasar duda karatan. Dapet daun muda tuh bibir main nyosor aja ngga tau tempat. Hadeuh.. bikin gue mau aja.


Ringgo menghempaskan tubuhnya ke kursi dengan kesal. Otaknya sedikit terkontaminasi gara-gara melihat adegan mesum sahabat sekaligus atasannya itu. Diliriknya gadis di sebelahnya yang sedang terpejam. Bibir merah muda itu mulai menggoda imannya, entah sejak kapan gadis di sampingnya ini berhasil mencuri perhatiannya. Ringgo melihat sekilas ke kursi Arini dan Jack, terlihat keduanya sedang tertidur. Dengan cepat dia mengecup bibir Sisil kemudian kembali duduk di kursinya seperti tak terjadi apa-apa. Senyum tipis menghiasi bibirnya, manis, batinnya.


Dimas masih belum mengakhiri ciumannya. Firly pun masih menikmati permainan bibir pria dewasa ini. Kini lidah Dimas sudah memasuki rongga mulut Firly dan mengabsen semua isi di dalamnya. Ciuman keduanya semakin dalam dan menuntut. Beruntung hanya mereka berenam yang ada di kelas bisnis ini. Keduanya mengakhiri ciuman saat mulai kehabisan oksigen. Dimas mengusap saliva yang menempel di bibir Firly.


“Maaf sayang, maaf kalau om ngga bisa menahan diri.”


“It’s ok uncle D,” Firly terkikik mendengar ucapannya sendiri.


“Uncle D?” Dimas mengernyitkan keningnya.


“Uncle D, panggilan sayang Ily buat om.”


“Hmm.. bolehlah dari pada om Imas,” keduanya tergelak, Dimas mengacak-acak rambut Firly membuat gadis itu mencebikkan bibirnya.


“Ok uncle D,” Firly mencium pipi Dimas kemudian mengambil posisi berbaring setelah merubah posisi kursinya. Dimas menyelimuti tubuh Firly dengan selimut. Tak lama dia juga ikut berbaring.


🍁🍁🍁


Setibanya di Bandung, Dimas langsung mengantarkan Firly pulang ke rumah. Kedatangan mereka disambut hangat semua keluarga yang telah kembali dari urusannya masing-masing. Alea sangat senang mendapatkan tas yang sangat diinginkannya.


“Akhirnya tas ini jadi milik mami juga.”


“Mami harus bilang makasih sama om Dimas. Om yang bayarin tas itu.”


“Oh ya? Makasih ya Dim, kamu emang adik yang paling baik,” Dimas hanya tersenyum.


“Kamu beli apa Ly?” tanya Ega.


“Ily cuma beli dress sama sepatu aja, ngga enak om Dimas udah keluar uang banyak buat beliin mami tas.”


“Loh kamu kan bawa kartu papi.”


“Disita sama om Dimas, ngga boleh pake itu katanya,” Dimas tergelak. Dia mengambil dompetnya kemudian mengeluarkan black card milik Ega dan mengembalikan pada pemilik aslinya.


“Aku sengaja sita bang, takutnya dia khilaf beli semua barang di Galleria Vittorio hahaha.” Ega ikut tertawa, Firly yang jadi bahan tertawaan hanya cemberut saja.

__ADS_1


“Aku pamit ya bang.”


“Iya, sekali lagi makasih ya Dim.”


“Sama-sama bang.”


Dimas berdiri kemudian berjalan keluar diikuti Firly dan Ega dari belakang. Sebelum pergi, Dimas mengusap puncak kepala Firly dengan lembut. Firly melepas kepulangan Dimas dengan pandangan yang sulit diartikan. Sekilas Ega menangkap kejanggalan dari kedua orang di depannya namun dia berusaha menepisnya.


Dimas bergegas menuju rumah Irzal yang bersebelahan dengan rumah Ega. Kedatangannya langsung disambut sukacita oleh Ara yang memang sudah merindukannya. Dia meloncat dalam gendongan papanya. Dimas menggendong Ara menuju ruang tengah, di mana semua anggota keluarga sedang berkumpul.


Tanpa menunggu aba-aba, Yunda langsung menyambar paper bag yang berisi oleh-oleh. Bersama Ara, dia membuka dan memberikan pada yang lainnya. Poppy tersenyum mendapat sebuah bros cantik yang berhiaskan berlian.


“Cantik Dim, kamu pinter deh milih modelnya.”


“Please teh, jangan muji berlebihan. Aku ngga mau dapet amukan dari beruang kutubmu,” Dimas melirik pada Irzal yang langsung dibalas dengan tatapan tajam.


“Aku langsung pulang ya teh, cape banget.”


“Iya, istirahat yang cukup. Besok ngga usah ngantor dulu.”


Dimas hanya mengangguk pelan kemudian mengajak anaknya pulang. Setelah berpamitan dengan yang lain, Ara menyusul papanya yang sudah berada di teras bersama Irzal.


“Gimana hubungan kamu dengan Ily?”


“Alhamdulillah baik kak.”


“Kapan kamu rencana bicara dengan Ega dan Alea?”


“In Sya Allah setelah pengumuman kelulusan Ily.”


“Hmm baguslah. Ingat jangan berbuat macam-macam, kalian belum muhrim.”


“I.. iya kak.”


Mampus deh kalau kak Irzal tahu aku udah cium Firly. Bisa dijadiin daging cincang.


🍁🍁🍁


**Ayah Irzal, om Dimas nakal tuh cium2 Ily, hot banget malah🙈


Kira2 Ega sama Alea bakalan setuju ngga ya dengan hubungan om Dimas sama Ily??


Jangan lupa ya ritualnya habis baca cerita ini


Like..


Comment..


Vote..

__ADS_1


Grazie😘😘😘**


__ADS_2