
Akhtar duduk di sisi ranjang, memandangi Rain yang masih terpejam. Selimut menutupi tubuh istrinya sampai ke batas dada. Diusapnya pipi mulus itu dengan punggung tangannya. Perlahan Rain membuka matanya.
“Mas udah mau berangkat kerja?”
“Iya sayang.”
“Tapi mas belum sarapan. Aku buatin sarapan dulu,” Rain hendak bangun tapi ditahan oleh Akhtar.
“Ngga usah biar mas sarapan di kantor aja. Kepala kamu masih pusing?”
“Iya mas. Badanku juga rasanya lemes banget.”
“Kamu istirahat aja jangan kemana-mana. Atau mau ke dokter sekarang?”
“Ngga mas, aku istirahat aja. Mungkin kecapean gara-gara nikahan kemarin.”
Akhtar mengusap puncak kepala istrinya dengan lembut. Rain bangun lalu memeluk Akhtar. Dia menghidu aroma suaminya dalam-dalam. Rasa mual yang sedari tadi dirasakannya hilang begitu saja.
“Mas, bisa ngga berangkat kerjanya agak siangan?”
“Kenapa?”
“Ngga tau, aku lagi pengen tidur ditemenin mas aja.”
“Sebentar ya.”
Akhtar mengambil ponselnya lalu menghubungi Halbi. Sebenarnya pagi ini ada rapat penting, tapi melihat wajah pucat istrinya, Akhtar tak tega menolak keinginannya. Setelah meminta Halbi menggantikan dirinya, Akhtar memutuskan panggilan. Dia merangkak naik ke atas kasur. Meraih tubuh Rain ke dalam pelukannya. Rain menelusupkan kepalanya ke dada sang suami. Aroma tubuh serta parfum yang menguar membuatnya merasa tenang. Dia melingkarkan tangan ke pinggang suaminya lalu memejamkan matanya.
🍁🍁🍁
Rain membuka matanya, Akhtar sudah tak ada di sampingnya. Dilihatnya jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas. Rain melirik nakas di samping ranjang. Di sana sudah tersedia makanan untuknya serta sebuah note.
Jangan lupa dimakan ya sayang. Kalau nanti sore kamu masih belum baikan kita ke dokter. Love you sweet heart.
Rain tersenyum membaca tulisan tangan suaminya. Dilihatnya makanan yang sudah disiapkan sang suami. Rupanya Akhtar memesan makanan via online. Menu ayam bakar kesukaan Rain telah disiapkan untuknya. Rain meraih kotak makanan, baru saja dia membuka kotak namun aroma makanan membuat perutnya bergejolak. Rain meletakkan kembali kotak ke nakas lalu buru-buru ke kamar mandi.
HOEK..
HOEK..
Hanya air yang keluar dari mulutnya karena sedari pagi belum masuk makanan apapun ke dalam perutnya. Dengan langkah terhuyung Rain kembali ke ranjang. Dia duduk menyender ke head board, memijit kepalanya yang terasa pening. Tiba-tiba ponselnya berdering, Akhtar melakukan panggilan video.
“Assalamu’alaikum sayang,” wajah Akhtar langsung terpampang di layar ponsel.
“Waalaikumsalam.”
“Sudah makan?”
“Belum.”
“Kenapa? Sekarang udah mau jam makan siang loh. Mas sengaja pesanin makanan kesukaan kamu.”
“Mau disuapin mas makannya.”
Terdengar tawa kecil Akhtar dari sebrang. Sudah beberapa hari ini istrinya memang manja sekali padanya. Mandi minta dimandikan, makan minta disuapi, tidur minta dikeloni.
__ADS_1
“Kamu pasti belum mandi juga kan?”
“Iya, orang baru bangun tidur.”
“Ya udah mas pulang sekarang. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Senyum merekah di wajah Rain. Mendengar suaminya akan pulang membangkitkan semangatnya. Dia bangun lalu menuju kamar mandi. Lima belas menit kemudian dia keluar. Cukup lama Rain memilih pakaian yang akan dikenakannya. Dia ingin terlihat cantik di hadapan sang suami. Selesai berpakaian dan memoles wajahnya dengan make up tipis, Rain kembali naik ke kasur.
Terdengar pintu dibuka, tak lama Akhtar masuk ke dalam kamar. Rain langsung merentangkan tangannya. Akhtar mempercepat langkahnya, duduk di sisi ranjang lalu memeluk istrinya.
“Kenapa belum makan hmm?”
“Mual mas.”
“Itu karena dari pagi belum ada makanan yang masuk. Sekarang makan ya.”
Akhtar bangun lalu menuju kamar mandi untuk mencuci tangannya. Kemudian kembali duduk di dekat Rain. Diambilnya kotak makanan di nakas, dia mulai menyuapi Rain. Awalnya Rain merasa takut kalau akan kembali muntah. Tapi makan dari tangan suaminya ternyata cukup ampuh, dia tidak merasakan mual sama sekali. Dengan lahap dia memakan makanan itu sampai tandas. Akhtar memberikan minum padanya.
“Mas ngga makan?”
“Udah tadi di kantor, sarapan sekalian makan siang,” Akhtar tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya.
“Maaf mas, aku akhir-akhir ini manja banget sama mas.”
“Ngapain minta maaf. Mas malah seneng, kamu gemesin tahu ngga kalo lagi manja kaya gini. Rasanya mas mau makan kamu.”
Rain tersenyum seraya berpindah duduk di pangkuan Akhtar. Direbahkan kepalanya di dada bidang yang menjadi favoritnya. Dia benar-benar merindukan aroma sang suami. Akhtar mengusap punggung Rain dengan lembut. Mata Rain mulai memberat, dia kembali jatuh tertidur. Akhtar menggelengkan kepalanya melihat sang istri yang sudah tertidur.
“Dasar putri tidur,” gumam Akhtar pelan.
“I love you,” bisik Akhtar di telinga Rain.
🍁🍁🍁
Rain mondar-mandir di kamarnya, tampak sedang memikirkan sesuatu. Dia sedikit curiga dengan kondisinya akhir-akhir ini. Disambarnya kalender duduk yang berada di nakas. Dia mulai menghitung waktu datang bulannya. Sudah terlambat dua minggu dari jadwalnya. Tubuh Rain menegang, dadanya berdebar apakah kecurigaannya benar adanya.
Rain bangun lalu mengambil dompet. Dengan langkah cepat dia keluar dari apartemen menuju apotik yang ada di seberang gedung. Dia ingin membuktikan apakah dirinya hamil atau tidak. Dari ciri-ciri yang dibaca di internet, sepertinya dirinya tengah hamil.
Lima belas menit kemudian Rain sudah kembali ke unitnya. Langsung saja dia masuk ke kamar mandi untuk mengetes. Rain duduk di atas kloset menunggu hasil testpack. Dengan tangan bergetar Rain mengambil testpack. Setelah mengambil nafas panjang dilihatnya hasil pemeriksaan u*i*e-nya.
Mata Rain membulat ketika melihat tanda positif di sana. Tak percaya dengan hasilnya, Rain kembali melakukan tes. Dia memang membeli beberapa alat tes kehamilan dengan berbagai merk.
Rain terdiam memandang beberapa tespack yang terjajar di atas kasur. Semuanya menunjukkan hasil positif. Rasa bahagia langsung menyeruak ke dalam hatinya. Ucapan syukur tak henti-hentinya keluar dari mulutnya. Rasanya dia ingin cepat-cepat menyampaikan kabar bahagia ini pada suaminya.
Waktu serasa berputar begitu lambat. Entah sudah berapa kali Rain melihat jam di dinding, berharap jarum segera bergerak menuju waktu kepulangan Akhtar. Menjelang kepulangan Akhtar, Rain bersiap-siap. Tubuhnya sudah segar dan terbalut dress cantik. Makanan juga sudah tersedia di meja walaupun harus memesan online karena dia tak tahan kalau harus memasak.
Akhirnya orang yang ditunggunya pulang juga. Nampak wajah lelah Akhtar terlihat begitu dirinya masuk. Rain menyambutnya dengan senyum sumringah. Dibantunya Akhtar untuk meletakkan tas.
“Mandi dulu mas.”
“Iya sayang.”
Akhtar menyempatkan mencium Rain sebelum masuk ke kamar mandi. Rain memasukkan semua testpack ke dalam kotak. Dia akan memperlihatkannya setelah makan malam.
__ADS_1
Rain mengajak Akhtar ke kamar seusai makan malam. Didudukkannya Akhtar di sisi ranjang. Kemudian Rain mengambil kotak yang sudah disediakan dari dalam lemari. Diberikannya kotak tersebut pada Akhtar.
“Ini apa?”
“Buka aja mas. Ini kado buat mas.”
Akhtar membuka kotak di tangannya. Dia tercenung melihat sepuluh buat testpack di dalamnya. Diambilnya satu per satu tespack yang sudah terpakai itu. Kesemuanya menunjukkan hasil yang positif.
“Aku hamil mas. Kamu ngga mandul mas, kita akan punya seorang anak.”
Tak ada reaksi dari Akhtar. Pria itu masih diam termangu, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Perkataan dokter Trevor dan dokter Pramana kembali terngiang-ngiang di telinga. Ditariknya tangan yang digenggam oleh Rain lalu dilemparkan kotak ke atas kasur. Akhtar memandang Rain dengan tatapan tajam.
“Aku mandul Rain. Aku sudah periksa dua kali ke dokter yang berbeda dan dua-duanya mengatakan hal yang sama, aku mandul. Kamu jangan main-main.”
“Aku serius mas. Aku curiga dengan kondisiku akhir-akhir ini, makanya aku putusin beli testpack. Seperti mas lihat semua hasilnya positif.”
Akhtar bangun dari duduknya lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Bermacam perasaan berkecamuk dalam dadanya. Namun rasa curiga lebih dominan. Bagaimana mungkin orang yang sudah divonis mandul bisa membuat istrinya hamil.
“Apa kamu yakin anak yang ada di perutmu itu anakku.”
Senyum Rain langsung hilang mendengar perkataan suaminya. Dia berdiri berhadapan dengan Akhtar. Matanya tak kalah tajam melihat ke arahnya.
“Apa maksud kamu mas?”
“Apa kamu yakin itu anakku? Aku mandul Rain, aku tidak bisa membuahimu lalu bagaimana kamu bisa hamil?!!”“Astagfirullah mas. Ini anak kamu! Bisa jadi hasil pemeriksaanmu yang salah atau tertukar dengan orang lain.”
“Kamu ngga usah main drama Rain. Aku sudah periksa ke dua dokter dan hasilnya sama. Lalu sekarang kamu bilang kamu hamil. Apa kamu pikir aku akan percaya begitu saja kalau anak dalam kandunganmu adalah anakku?”
“Kamu gila mas. Kamu nuduh aku selingkuh?”
“Aku ngga tahu Rain. Kamu yang harus menjawabnya. Aku tahu kamu sangat menginginkan seorang anak tapi aku tidak bisa memenuhi keingianmu. Bisa jadi kamu melakukannya bersama dengan orang lain dan mengatakan itu anakku.”
“Mas!!”
“Aku mandul Rain! Mandul!! Bagaimana mungkin seorang pria mandul bisa membuat istrinya hamil?!! Sekarang jawab dengan jujur, anak siapa itu?”
“Kamu keterlaluan mas.”
“Jawab saja Rain anak siapa itu?!! Jordy? Elang? Kudengar beberapa waktu lalu Elang pulang ke Bandung. Apa itu anak Elang?”
PLAK!!
Sebuah tamparan mendarat di wajah Akhtar. Rain memandangi suaminya dengan pandangan penuh kekecewaan. Tangannya bergetar setelah menampar pipi suaminya.
“Aku bukan Lissa yang dengan mudahnya menyerahkan tubuhnya ke lelaki lain. Haram bagiku disentuh lelaki lain selain suamiku. Bisa-bisanya mas berkata seperti itu.”
Airmata Rain luruh, hatinya sakit mendengar tuduhan sang suami. Terlebih saat kondisinya yang tengah hamil muda. Perasaannya yang sensitif menambah kesedihannya. Rain membuka lemari mengambil tas dan juga kunci mobilnya. Kebahagiaan yang diharapkan saat memberitahukan kabar kehamilannya ternyata hanya kekecewaan dan sakit hati yang dirasakannya.
“Aku masih bisa terima mas berselingkuh di belakangku dengan Lissa. Aku masih bisa terima kalau dalam hati mas masih ada nama Lissa. Tapi aku ngga terima kalau anak di perutku ini dituduh bukan anakmu. Kamu mau percaya atau tidak aku ngga peduli mas. Aku lelah, aku lelah denganmu. Kalau kamu tidak percaya dan tidak mau bertanggung jawab atas anak ini, lebih baik kita berpisah.”
Rain segera keluar dari kamar. Tak ada pergerakan dari Akhtar untuk menghentikannya. Rain bertambah kecewa, bergegas dia keluar dari apartemen. Akhtar berteriak keras begitu Rain pergi. Dilemparkan barang-barang yang ada di sekelilingnya. Dirinya sama kecewanya. Hatinya ingin mengakui anak yang dikandung Rain namun akal sehatnya menyangkal mengingat hasil pemeriksaannya.
🍁🍁🍁
**Hai readers sekarang hari Senin nih. Udah waktunya kasih vote. Jangan lupa ya buat yang suka cerita ini lempar vote kalian ke sini. Like dan comment nya juga jangan lupa ya😉
__ADS_1
Dukungan dari kalian adalah penyemangat mamake untuk terus berkarya dan up setiap harinya.
Thank you all, love you😍😍**