
Rencana tinggallah rencana. Niat Rain menghubungi Elang nyatanya masih belum terlaksana. Berat rasanya jari Rain menekan tombol panggilan pada nomor sahabatnya itu, hingga akhirnya gadis itu jatuh tertidur.
Selepas shalat shubuh barulah Rain memantapkan hatinya menghubungi sahabatnya. Rain meraih ponselnya lalu mencari nomor kontak sang sahabat. Setelah mengucap basmallah dalam hati, dia mulai mengetuk ikon panggilan.
Calling The Lion
Elang baru saja selesai makan malam ketika poselnya bergetar. Diraihnya benda pipih itu dari atas nakas. Senyumnya mengembang ketika melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
Engeng Calling
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.. El..”
“Hmm..”
Elang berjalan menuju arah balkon. Dibukanya pintu yang membatasi ruangan dengan balkon lalu duduk di kursi. Pandangannya tertuju pada pemandangan malam hari kota London.
“El...”
“Kenapa?”
“El.. gue... gue mau ngabarin kalau lusa gue akan nikah dengan kak Akhtar.”
Elang membeku mendengar ucapan sahabatnya barusan. Hampir saja ponsel di tangannya terlepas. Rasa sesak seketika menyergapnya.
“El.. sorry kalau gue baru kasih kabar sama elo. Jujur, gue takut El.. Gue takut lo marah dengan keputusan gue.”
“Ehem! Kok bisa lo nikah sama bang Akhtar.”
Rain menarik nafas panjang sejenak barulah kemudian dia menceritakan bagaimana pernikahan itu terjadi. Kalimat demi kalimat yang meluncur dari bibir sahabatnya itu seperti ribuan jarum yang menusuk hatinya. Tangannya mengepal kencang, menahan gejolak perasaannya.
“El, lo ngga marah kan?” pertanyaan Rain terlontar begitu saja setelah dia mengakhiri ceritanya.
“Kenapa gue harus marah? Itu hidup lo Rain, lo berhak melakukan apa aja. Tapi ingat, bertanggung jawablah dengan keputusan lo ini. Kalau lo merasa yakin bisa membuat bang Akhtar mencintai lo, lakukan aja. Gue sebagai sahabat sekaligus kakak lo cuma bisa mendoakan. Setelah menikah nanti, maka prioritas lo adalah suami lo. Ridho Allah akan berpindah pada ridho suami. So, jadilah istri yang baik. Jangan pernah menentang perintah suami selama itu dalam hal kebaikan. Dan ingatkan dia kalau berbuat salah.”
Airmata Rain bercucuran seiring dengan kalimat-kalimat nasehat yang meluncur dari sahabatnya. Entah mengapa Rain merasakan kesedihan dalam nada bicara Elang.
“Lo kenapa nangis?”
“Hiks.. hiks... setelah nikah nanti gue ngga akan denger nasehat lo lagi. Gue bakal kangen momen-momen seperti ini.”
“Emangnya setelah nikah gue bukan sobat lo lagi apa?”
“Lo masih sobat gue tapi lo bukan kakak gue lagi. Kan lo pernah bilang, kalau gue udah menemukan pasangan hidup lo akan berhenti jadi kakak gue,” Rain menyedot cairan dari hidungnya membuat Elang terkekeh dari seberang sana.
“Bersihin dulu ingus lo, dasar jorok.”
__ADS_1
“El.. lo tuh masih aja ngeselin tau ngga.”
Namun tak ayal Rain tersenyum juga mendengar ledekan sahabatnya. Diraihnya tisu kemudian terdengar suara dari hidungnya yang tengah mengeluarkan cairan. Elang semakin tergelak.
“Udah ketawanya? Puas banget lo ya ngetawain gue.”
“Puas pake banget,” kekeh Elang.
Pemuda itu langsung membayangkan Rain mengerucutkan bibirnya begitu mendengar ledekannya. Dan itulah yang dilakukan gadis ini, mengerucutkan bibirnya. Aah.. betapa Elang sangat hafal tingkah laku sang sahabat.
“Tenang aja Rain, sampai saat ini gue masih tetap kakak lo. Sampai gue lihat dengan mata kepala sendiri bang Akhtar udah buat lo bahagia. Baru gue akan melepas status itu.”
“Janji ya.”
“In Syaa Allah. Tapi gue minta lo harus jadi perempuan yang kuat. Perjalanan lo ngga mudah Rain, dan lo tahu itu. Just be strong, gue akan selalu mendoakan yang terbaik buat elo.”
“Thank you El, you really my best friend and brother i ever have.”
“You too Rain. Take care of your self. Sorry gue ngga bisa dateng ke nikahan elo.”
“Ngga apa-apa El. Doain gue aja dari sana.”
“Itu pasti.”
“Gue tutup ya. Jangan tidur terlalu malam, jaga kesehatan El. Assalamu’alaikum.”
Pembicaraan dua orang sahabat yang terpisah jarak dan waktu itu pun berakhir. Elang menggenggam erat ponselnya. Sebenarnya bisa saja dia datang ke pernikahan Rain. Elang hanya perlu meminjam jet pribadi ayahnya untuk kembali. Tapi dia tak punya keberanian untuk datang menyaksikan wanita yang dicintainya diam-diam menikah dengan pria lain.
Farel yang sedari tadi memperhatikan mulai mendekati Elang. Dengan pelan ditepuknya bahu adiknya itu. Menarik kesadaran Elang yang entah berhamburan kemana. Farel mendudukkan diri di kursi kosong sebelah Elang.
“Lo udah tahu bang soal Rain?”
“Hmm..”
“Lucu ya bang. Setiap Rain ada masalah, gue orang pertama yang dia cari. Tapi saat dia akan menikah, gue orang terakhir yang tahu,” Elang tersenyum getir.
“Sejak kapan El?”
“Apa?”
“Sejak kapan lo suka sama Rain?”
Elang menoleh pada sang kakak kemudian menghadapkan pandangannya lagi ke arah depan. Mencoba mengingat kapan hatinya mulai berubah.
“Mungkin semenjak gue berjanji jadi pengganti bang Rakan buat dia. Sejak saat itu hubungan kita bertambah dekat. Dari hal penting sampe hal receh selalu dia ceritain ke gue. Dari situ gue mulai terbiasa dengar celotehannya. Rasanya kangen ngga denger mulut comelnya sehari aja. Tanpa gue sadari perasaan ini mulai berubah, dari kepedulian seorang sahabat jadi rasa suka bahkan mungkin cinta.”
“Lalu waktu dia memilih untuk melupakan Akhtar, lo malah nyodorin Gara ke dia. Kenapa lo ngga tunjukkin perasaan lo yang sebenarnya ke dia? Kalau dia tahu, gue ngga yakin dia akan terus mempertahankan perasaannya sama Akhtar.”
__ADS_1
“Gue tahu Gara udah suka Rain dari kecil bang. Dan gue ngga yakin aja kalau rasa cinta gue lebih besar dari Gara. Gue juga ngga mau membuat hubungan yang rumit di antara kita bertiga. Sejak kecil kita selalu main bersama, gue ngga bisa ngehancurin hati Gara.”
“Dan ternyata bukan lo atau Gara yang dapetin dia, tapi bang Akhtar,” Farel terkekeh.
“Jodoh bang. Kita ngga akan pernah tahu siapa jodoh kita dan kapan akan bertemu dengannya. Selama ini gue hanya berusaha menjadi orang yang baik karena gue yakin nantinya Allah akan memberikan gue jodoh yang baik juga. Tapi ternyata Rain bukan jodoh gue, mungkin gue bukan yang terbaik buat dia.”
“Bisa jadi dia belum menjadi yang terbaik buat elo, El. Gue percaya Allah udah nyiapin jodoh yang lebih baik dari Rain. Lo hanya perlu bersabar.”
“Hmm.. ngga usah ngurusin gue bang. Lo dulu aja kali.”
“Ck.. ngomong sama elo ujung-ujungnya ngeselin ya.”
Elang terkekeh seraya mengangkat tubuhnya dari kursi. Pembicaraan dengan Farel sedikit membuat perasaannya membaik. Kini dia hanya perlu menenangkan diri saja. Dengan gerakan pelan dibukanya pintu kamar. Elang melihat gitar yang teronggok di sudut ruangan. Diraihnya gitar tersebut lalu mendudukkan dirinya di atas kasur dengan punggung menyandar di head board. Tak lama berselang petikan gitar mulai terdengar memenuhi seisi ruangan. Suara merdunya terdengar menyanyikan lagu yang populer pada masanya.
Never mind I’ll find someone like you
I wish nothing but the best for you, too
“Don’t forget me,” I beg
I remember you said
“Sometimes it’s lasts in love, but somentimes it’s hurts instead”
“Sometimes it’s lasts in love, but somentimes it’s hurts instead”
Bait-bait lagu milik Adele meluncur dari bibirnya. Arti lagu ini sesuai dengan keadaannya sekarang. Merelakan orang yang dicintainya berbahagia bersama orang lain. Elang kini harus merelakan Rain, wanita yang berhasil bertahta di hatinya setelah bunda dan Yunda menjemput kebahagiaannya bersama pria yang dicintainya.
I love you Rain. And I still wish all the best for you. Aku berharap kamu bisa berbahagia Rain, walau bukan aku yang ada di sampingmu. Melihatmu tersenyum bahagia sudah cukup bagiku. Doakan aku menemukan wanita indah seperti dirimu.
🍁🍁🍁
**Ya ampun mamake khilaf, udah up 3 bab masih aja up🤭
Ngetik part El ama Rain telponan baper, ngetik part El nyanyi nyesek🤧
Buat tim Rain-Elang peace ah✌️
Mamake mau bocan ya, jangan marah kabooorrr🏃🏃🏃🏃🏃
Eits tapi jangan lupa ya
Like..
Comment..
Vote**..
__ADS_1