
Selesai membersihkan diri, Azkia kembali ke ruangannya. Dia duduk termenung di kursi kerjanya. Terdengar nyanyian dari perutnya. Pagi tadi gadis itu tak sempat sarapan karena bangun terlambat. Kini makan siang pun harus terlewat gara-gara ulah Sandra. Azkia memegangi perutnya yang terasa perih.
Lamunan Azkia buyar ketika pintu ruangan terbuka. Jayden menyembulkan kepalanya dari sela-sela pintu yang terbuka.
“Kamu.. jangan kemana-mana, tunggu di sini oke.”
Jayden kembali menutup pintu kemudian bergegas menuju ruangan Elang. Jayden mengetuk asal pintu lalu langsung masuk ke dalam, mengejutkan semua yang ada di sana.
“Maaf pak.. itu saya kirim file ke hp, tolong dicek.”
Elang mengambil ponselnya yang tergeletak di meja kerja. Segera diputarnya file video yang dikirimkan oleh Jayden. Rahang Elang mengeras melihat tayangan video tersebut. Dimas yang menyadari perubahan mood keponakannya, segera mengajak istri dan anaknya pergi.
“El, pembicaraan disambung nanti aja. Kayanya kamu ada urusan penting.”
“Tapi mas, makanan aku kan belum datang.”
“Nanti mas masakin di rumah. Ayo Gemma, salim dulu sama mas El.”
Gemma menghampiri Elang lalu mencium punggung tangannya. Mendengar suara Gemma saat pamit membuat emosi Elang sedikit mereda. Firly mengambil paper bag di atas meja, saat akan beranjak, Elang menahannya.
“Ly, itu baju buat gue aja ya.”
“Dih lo mau pake gamis kemana? Mau berubah haluan lo!”
“Ngga usah banyak tanya gue butuh baju itu sekarang. Gue gantiin nanti.”
“Kaga! Ini kado buat Sisil.”
“Kali-kali sebagai tante lo berbakti sama ponakan kenapa sih.”
“Somplak lo! Harusnya lo yang berbakti ama gue, dasar ponakan durjana.”
“Ily! Udah kasih aja itu buat El. Nanti mas belikan lagi yang baru.”
“Tapi mas...”
Dimas melayangkan tatapan tajam pada istrinya. Jika sudah begini, mau tak mau dia harus menuruti keinginan suaminya. Dengan berat hati ditinggalkannya paper bag di atas meja. Dimas menggandeng tangan istri dan anaknya keluar dari ruangan Elang.
“Di mana dia sekarang?”
“Ada di ruang meeting.”
Elang keluar seraya membawa paper bag yang tadi ditinggalkan Firly. Tanpa mengetuk pintu, dia masuk ke dalam ruangan meeting. Terlihat Azkia sedang merebahkan kepalanya di atas meja. Elang meletakkan paper bag di atas meja, mengejutkan Azkia yang tak menyadari kedatangannya.
“Ganti bajumu.”
Azkia masih terdiam, dipandanginya Elang dan paper bag di depannya bergantian. Elang mengetuk-ngetuk meja untuk menyadarkan gadis itu.
“Ganti bajumu lalu ke ruangangku, cepat.”
Elang berjalan keluar ruangan. Azkia mengambil paper bag kemudian menuju toilet. Sepuluh menit kemudian dia selesai berganti pakaian. Dipandanginya price tag yang berasal dari baju yang dipakainya. Baru kali ini dia memakai pakaian semahal ini. Azkia mematut dirinya sekali di cermin baru kemudian keluar dari toilet. Setelah menaruh pakaian kotornya di meja kerjanya, dia menuju ruangan Elang.
Azkia termenung melihat makanan yang sudah tersaji di atas meja. Elang menepuk ruang kosong di sebelahnya. Azkia mendekat lalu mendudukkan dirinya di sana. Elang menempelkan es batu yang terbungkus kain ke pipi Azkia. Gadis itu meringis menahan sakit.
“Sakit?”
Azkia hanya mengangguk. Elang terus mengompres pipi Azkia. Hatinya geram melihat perbuatan Sandra pada gadis itu.
“Sekarang makan dulu. Pelan-pelan makannya.”
Elang memotongkan steak yang tadi dipesan Firly lalu menyodorkan potongan steak itu. Azkia terdiam melihat potongan daging yang disodorkan Elang.
“Mas, yang sakit pipiku bukan tanganku.”
__ADS_1
“Ngga usah protes, aaa..”
Azkia membuka mulutnya namun tak bisa terbuka lebar karena rasa sakit yang dirasakan di pipi. Pelan-pelan dikunyahnya daging tersebut. Elang kembali menyuapkan potongan daging ke mulutnya. Begitu seterusnya sampai tandas.
“Mas ngga makan?”
“Nanti aja.”
Elang berdiri lalu berjalan menuju lemari, mengambil sesuatu dari dalamnya. Dia kembali duduk di dekat Azkia. Elang membuka bungkus obat lalu memberikannya pada Azkia.
“Ini.. minum dulu obat pereda nyerinya. Kalau masih sakit kita ke dokter.”
“Ngga usah mas.”
Azkia menerima obat dari tangan Elang kemudian meminumnya. Azkia membereskan kotak makanan di meja lalu membuangnya.
“Kamu istirahat di kamar sana,” Elang menunjuk ke ruangan pribadinya.
“Ngga usah mas. Aku masih ada kerjaan yang harus diberesin. Aku juga ngga enak sama karyawan lain.”
“Ya udah, tapi kalau kamu masih sakit lebih baik pulang aja.”
“iya mas.”
Azkia keluar dari ruangan Elang. Ketika dia masuk ke ruang meeting, semua yang ada di sana melihat padanya. Walaupun risih, Azkia tetap berusaha tenang. Dia langsung menuju mejanya dan menyelesaikan pekerjaannya.
“Kia, ada hubungan apa kamu sama pak Elang?” bisik Dita yang kepo parah.
“Ngga ada apa-apa bu. Kebetulan pak Elang itu alumni di kampus aku. Kemarin waktu ada acara di kampus, pak Elang jadi salah satu donaturnya. Cuma sebatas itu aja kok bu. Saya malah ngga tahu kalau pak Elang kerja di sini. Saya baru tahu pas dipindah ke sini.”
“Beneran cuma itu doang? Ngga ada manis-manisnya gitu?”
“Ish bu Dita apaan sih.”
Sejam berlalu, Azkia masih serius menyelesaikan pekerjaannya. Dita yang baru kembali dari ruangan Elang mengatakan kalau gadis itu diminta datang ke ruangan wakil CEO tersebut. Tak menunggu lama, Azkia segera menuju ruangan Elang.
Elang, Pras dan Sandra sudah menunggunya ketika Azkia masuk ke dalam ruangan. Dia segera bergabung dengan ketiganya. Wajah Elang tampak tak bersahabat. Divisi perencanaan memang dibawah wewenangnya. Jika ada masalah di divisi tersebut, maka akan langsung berhadapan dengannya.
“Jelaskan apa yang terjadi di EDR tadi.”
“Ehem.. begini pak. Tadi di EDR hanya terjadi kesalahpahaman saja. Memang ada pertengkaran antara Azkia dengan Sandra, tapi semuanya sudah terkendali.”
“Azkia yang memancing keributan dengan saya pak. Saya cuma membela diri saja. Semenjak bekerja di lantai ini, Azkia memang sering berulah pak. Khususnya pada kami sesama pemagang,” sambung Sandra.
Azkia memutar bola matanya, drama pasangan ini kembali terjadi. Dengan kompaknya mereka menyudutkan Azkia.
“Azkia.. apa penjelasanmu?”
“Anggap saja yang mereka katakan itu benar pak. Saya ngga mau memperpanjang masalah dan saya bersedia menerima hukuman kalau diperlukan.”
“Oke, kembali ke ruanganmu. Dan tunggu hukuman untukmu.”
Azkia bangkit dari duduknya. Sekilas dia bisa menangkap senyum licik Sandra. Azkia mencoba mengabaikannya lalu keluar dari ruangan. Suasana hening sejenak. Sandra yang merasa di atas angin sudah merasa tenang. Tapi tidak dengan Pras, pria itu tampak gelisah.
“Sekali lagi saya tanya apa yang sebenarnya terjadi di EDR. Ini adalah kesempatan kedua yang saya berikan,” nada Elang penuh dengan penekanan.
“Saya memang bertengkar dengan Azkia pak. Tapi itu karena saya membela diri. Dia duluan yang menghina saya.”
Elang memutar laptop di hadapannya ke arah Pras dan Sandra. Ditekannya tombol enter, seketika rekaman CCTV di EDR terlihat di layar. Sandra mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Semua tindakannya pada Azkia terekam jelas di sana. Begitu pula dengan Pras, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
“Apa begitu yang kamu bilang melerai? Sebagai seorang supervisor seharusnya kamu bisa bersikap adil. Tapi apa yang saya lihat tidak seperti itu. Dan Sandra, di mana letak membela dirinya? Saya lihat justru kamu yang memicu pertengkaran.”
“Semua ngga seperti yang terlihat di sana pak. Dia yang lebih dulu menghina saya saat mengambil makanan.”
__ADS_1
“Apa perlu saya putar semua rekaman CCTV selama jam makan siang? Atau saya panggil semua saksi di sana.”
“Maaf pak. Tolong maafkan Sandra. Dia masih labil, dia kesal karena Azkia menggantikannya di sini. Hanya itu pak, tolong jangan diperpanjang. Saya sebagai supervisornya meminta maaf. Ini kesalahan saya yang tidak bisa membimbingnya dengan baik.”
“Diam!!!”
Pras langsung terdiam. Sandra yang semula tenang mulai ketar-ketir melihat raut wajah Elang yang penuh amarag. Ditambah dengan intonasi suaranya yang sudah meninggi membuat suasana di dalam ruangan semakin mencekam.
“Saya sudah bilang kalau tadi adalah kesempatan terakhir tapi kalian masih saja tidak mau mengaku bersalah. Sandra, buka telingamu lebar-lebar. Alasan saya mengeluarkanmu dari tim karena kinerja kamu yang buruk!! Sebelum kamu menuding orang lain, lihat dirimu sendiri! Bukan hanya membuat kekacauan tapi kamu juga sudah melakukan tindakan kekerasan. Saya tidak mentolerir kekerasan di dalam perusahaan!! Sekarang bereskan barang-barangmu. Besok kamu tidak usah datang ke kantor lagi. Masa magang kamu selesai hari ini!!”
“Tapi pak, saya masih punya sisa waktu tiga hari lagi.”
“Saya tidak peduli. Bereskan barangmu dan pergi sekarang juga.”
“Tapi pak..”
“Pergi baik-baik atau saya perintahkan satpam untuk menyeretmu pergi.”
Sandra tak punya pilihan lain. Dengan langkah gontai dia berjalan keluar ruangan. Kini hanya tinggal Pras. Pria itu tak berani menatap Elang, kepalanya menunduk dalam.
“Mulai hari ini dan seterusnya kamu tidak akan bertanggung jawab lagi atas anak magang. Penilaian Sandra dan Azkia, saya sendiri yang akan memutuskannya. Mengerti?!!”
“I.. iya pak..”
“Kembali ke tempatmu.”
Pras bergegas keluar dari ruangan. Dia bersyukur Elang tak memberinya sangsi lain. Di depan ruang meeting dia bertemu dengan Azkia. Pras bermaksud mendekati gadis itu namun dari arah belakang terdengar deheman Elang. Pria itu mengurungkan niatnya dan terus berlalu melewati Azkia.
Elang menggerakkan jarinya meminta Azkia mendekat padanya. Gadis itu segera menghampiri Elang yang berdiri menunggunya di dekat pintu. Elang menyandarkan punggungnya ke daun pintu.
“Ada apa pak?”
“Kamu sudah siap dengan hukumanmu?”
“Hukuman? Saya beneran dihukum juga pak?”
“Iya. Karena kamu ikut andil membuat keributan di EDR.”
“Tapi pak...”
Elang mengangkat tangannya pertanda tak ingin dibantah. Azkia tak meneruskan perkataannya. Dia pasrah menunggu hukuman dari Elang.
“Dengar baik-baik. Hukuman kamu adalah membawakan sarapan untuk saya besok pagi.”
“Sarapan pak? Sarapan apa?”
“Apa aja, tapi aku mau masakan kamu.”
“Tumis tokek mau pak?”
“Boleh, asal kamu yang duluan makan.”
Azkia memberengut, Elang selalu saja bisa membalas perkataannya. Senyum Elang mengembang melihat wajah Azkia yang cemberut. Ingin rasanya mencubit pipi chubby itu. Elang memutar tubuhnya masuk ke dalam ruangan. Dia memilih meninggalkan Azkia sebelum kehilangan kendali menyentuh gadis itu.
🍁🍁🍁
Mamake Dateng lagi nih bareng mas El dan neneng Az...
Segini mah mas El masih baik ya kasih hukumannya.
**Kalau readers harus lebih baik lagi ya ke mamake. Jangan pelit² kasih like, jangan males buat komen dan jangan ragu buat kasih vote😉
Makasih semuanya, bye.. bye.. mamake mau kencan lagi sama mas El💃💃💃**
__ADS_1