
Regan menggeret koper milik Rain lalu memasukkannya ke dalam mobil. Setelah mendapat kabar dari Irzal, keesokan harinya Regan segera membawa Rain ke London. Di sana Rain akan menginap di unit Diandra, anak Bayu yang tengah menyelesaikan studi S2 nya di sana. Diandra dan Elang berada di apartemen yang sama, bahkan unit mereka bersebelahan.
Mendengar papanya akan mengajaknya ke London, Rain menjadi bersemangat. Dia juga sudah merindukan sahabat yang sudah dianggapnya sebagai kakak. Senyum Rain terus mengembang membayangkan pertemuannya dengan Elang. Regan melirik anaknya yang terlihat lebih ceria. Sepertinya keputusan untuk mengirim Rain ke London adalah keputusan tepat.
Setelah menempuh perjalanan lebih dari enam belas jam. Akhirnya jet pribadi yang ditumpangi Regan dan Rain mendarat di bandara Heathrow London. Seorang supir sudah menunggu kedatangan mereka. Tak lama mereka pun meluncur menuju gedung apartemen tempat Elang tinggal.
Kedatangan Rain disambut oleh Diandra. Dia langsung menunjukkan kamar untuk Rain. Setelah menempuh perjalanan jauh pastinya Rain akan merasa lelah, terlebih kondisinya sedang hamil muda. Setelah memastikan Rain beristirahat, Regan menemui Elang. Pemuda itu baru saja pulang dari kampusnya.
“Apa kabar pa,” Elang mencium punggung tangan Regan lalu mempersilahkannya duduk.
“Alhamdulillah baik. Mana Farel?”
“Bang Farel lagi di restoran pa. Hari ini giliran dia in charge.”
Regan hanya manggut-manggut saja. Dipandanginya pemuda yang duduk berhadapan dengannya. Elang terlihat lebih dewasa sekarang. Siapa pun yang menjadikannya menantu pasti akan sangat bangga padanya.
“Rain mana pa?” suara Elang membuyarkan lamunan Regan.
“Sedang istirahat di tempat Diandra. Kamu tahu sendiri Rain sedang hamil muda, jadi kondisinya cepat lelah.”
Elang tersenyum simpul. Ada sedikit nyeri di hatinya mendengar Rain sedang mengandung buah hatinya bersama Akhtar. Tak dapat dipungkiri perasaannya untuk Rain masih belum sepenuhnya hilang.
“Papa mau minta tolong sama kamu selama di sini tolong jaga Rain. Apa ayahmu sudah menceritakan apa yang terjadi dengan Rain?”
“Iya pa. Aku turut prihatin ya pa.”
“Terima kasih El. Papa mungkin akan langsung kembali ke Bandung. Sepertinya ada yang mencurigakan dengan masalah mereka. Papa akan menyelidikinya sekaligus mau menemui Akhtar.”
“Papa tenang aja, In Syaa Allah Rain akan baik-baik aja. Aku akan jaga Rain selama di sini.”
“Jangan lupa ingatkan dia untuk makan. Maaf kalau papa merepotkanmu.”
“Ngga apa-apa pa. Lebih baik papa istirahat dulu. Papa bisa pakai kamarku.”
“Terima kasih El.”
Elang berdiri lalu memandu Regan menuju kamarnya. Tubuh Regan memang cukup letih setelah menempuh perjalanan panjang. Elang menutup pintu kamar, membiarkan ayah dari sahabatnya itu beristirahat. Elang menuju dapur, mengambil minuman dingin dari dalam kulkas. Dia duduk di kursi makan sambil meneguk minumannya. Pikirannya masih tertuju pada pembicaraan Irzal dengannya. Alasan mengapa Regan hendak menitipkan Rain padanya.
🍁🍁🍁
Rain bangun dari tidurnya. Dia mengucek matanya sebentar kemudian melihat sekeliling. Ingatannya baru saja terkumpul kalau saat ini dia sedang berada di unit apartemen Diandra. Rain beranjak dari ranjang lalu keluar dari kamar. Telinganya menangkap dua orang yang sedang bercakap-cakap. Gegas Rain menuju sumber suara karena mengenali suara yang di dengarnya.
Elang yang sedang berbicara dengan Farel terkejut dengan kedatangan Rain. Untuk sesaat pandangan mereka bertemu, namun Elang memutuskan pandangan dengan mengalihkannya pada gelas di depannya. Dadanya bergemuruh hebat melihat wajah yang begitu dirindukannya, wanita yang dicintainya diam-diam. Perlahan Rain mendekat padanya.
“Eh putri tidur udah bangun?” ledek Elang untuk mengalihkan rasa groginya.
Rain tak menjawab, dia melirik buku yang tergeletak di meja makan. Dengan cepat diambilnya buku itu lalu dengan sekuat tenaga dipukulkannya buku tersebut ke pundak Elang, hingga pemuda itu mengaduh kesakitan.
__ADS_1
“Tega lo ya El, pulang ke Bandung ngga nemuin gue. Tega lo!”
BUGH
BUGH
“Aduh sakit Rain. Ya ampun nih bumil sadis amat sih.”
Elang merebut buku dari tangan Rain kemudian mengusap pundaknya yang terasa panas. Farel tak dapat menahan tawanya. Rain menarik kursi di samping Elang lalu duduk. Dia menyambar gelas berisi jus jeruk milik Elang lalu meneguknya sampai habis.
“Haus bu,” ledek Farel.
“Papa mana?”
“Papa udah pulang. Ada urusan katanya. Lo makan dulu Rain, kata Di lo belum makan. Pas dateng lo langsung tidur.”
“Gue ngga nafsu makan. Mual terus bawaannya.”
“Diminum dulu obat mualnya baru makan. Lo ngga boleh egois, sekarang ada nyawa lain dalam perut elo. Dia butuh makanan Rain,” Elang menunjuk perut Rain.
“Gue ngga bisa makan kalau ngga disuapin mas Akhtar.”
“Cih, tau gitu kenapa pake kabur segala,” ledek Elang walau hatinya mencelos mendengarnya.
Pembicaraan mereka terhenti ketika Diandra bergabung. Gadis itu sudah siap dengan dressnya. Wajahnya juga sudah dipoles make up tipis.
“Mau ultah temen. Rain, aku tinggal dulu ngga apa-apa kan?”
“Iya ngga apa-apa kak Di, santai aja.”
“Kalau si George macem-macem lagi bilang aja, biar gue jadiin perkedel tuh orang.”
Diandra tersenyum mendengar ucapan Farel. George adalah teman sekelasnya. Dia memang pernah berusaha berbuat tak senonoh padanya. Beruntung saat itu Farel datang menyelamatkannya. Habis wajah George dibuat babak belur oleh Farel.
“Tenang aja, dia udah ngga berani deketin gue lagi. Gue cabut dulu, dah bumil.”
“Mending nunggu si Di pulang di unit kita aja. Di sini juga ngga ada makanan berat,” ajak Elang.
Rain mengangguk lalu masuk ke kamar untuk mengambil obat dan vitaminnya. Tak lama ketiganya meninggalkan unit Diandra dan masuk ke unit sebelah. Rain berdecak melihat banyaknya makanan yang tersaji di meja makan. Ada kue, salad buah, puding, buah-buahan sampai susu hamil. Dia menarik kursi makan lalu duduk dengan santainya.
“Nih udah gue siapin cemilan buat elo. Minum dulu obat mualnya,” Rain tak menjawab hanya menatap makanan di depannya.
“Kenapa? Pengen disuapin suami lo? Tenang aja, nanti biar bang Farel pake topeng bang Akhtar terus suapin elo.”
“Dih elo aja, napa jadi gue,” protes Farel.
“Ngga bisa bang. Wajah gue lebih ganteng dari bang Akhtar, jadi ngga rela gue pake topeng mukanya dia,” Elang terkekeh.
__ADS_1
“Narsis,” desis Rain dan Farel bersamaan, semakin membuat Elang tergelak.
Elang menarik kursi di samping Rain, kemudian tangannya menarik box plastik berisi salad buah dan menyodorkannya pada Rain.
“Makan nih. Abis makan salad, makan yang berat ya. Lo mau makan apa?”
Rain berpikir sejenak. Lalu sebuah menu makanan terlintas di benaknya, membuat air liurnya hampir menetes. Dia melihat ke arah Elang lalu tersenyum, senyum yang sulit diartikan. Elang menatap curiga padanya.
“Gue pengen makan nasi goreng tapi elo yang masak ya El.”
“Ngga Ily, ngga elo kalo hamil nyusahin gue mulu,” dengus Elang.
“Anak gue pengen ngerasain makanan buatan omnya,” Rain mengusap perutnya.
Elang berjalan menuju dapur. Untung saja tadi Farel sempat memasak nasi. Elang mengeluarkan semua bahan dari dalam kulkas. Hidup mandiri di negeri orang membuat Elang dan Farel belajar memasak. Walaupun mereka bisa saja makan di restoran Dimas.
Dengan cepat Elang meracik semua bahan lalu memasaknya. Rain memperhatikan dari meja makan. Dia membayangkan Akhtar yang melakukan itu semua. Rain menghapus sudut matanya yang basah. Kerinduan pada suaminya menyeruak begitu saja. Senyum dan perlakuan manis Akhtar selalu terbayang di pelupuk matanya.
Elang meletakkan sepiring nasi goreng di hadapan Rain. Menarik kesadaran ibu hamil itu yang tengah melanglang buana. Beberapa kali dia mengambil nafas untuk menyingkirkan rasa mualnya.
“Cepetan makan,” titah Elang.
Rain menyendok nasi kemudian memasukkannya ke dalam mulut. Rasa mual menderanya, tapi ditahannya. Sebisa mungkin dia mengunyah dan menelan makanan yang telah dibuat oleh sahabatnya itu. Melihat Rain yang tampak kesulitan makan, Elang mengambil piring tersebut.
“Bayangin aja yang nyuapin elo bang Akhtar.”
Elang menyodorkan sesendok nasi goreng. Rain menatap sejenak lalu membuka mulutnya. Dia memejamkan mata dan membayangkan kalau yang menyuapinya tadi adalah Akhtar. Sepertinya cara itu cukup berhasil. Rain terus membuka mulutnya menerima suapan demi suapan dari Elang sampai nasi di piring tersebut habis. Senyum tersungging di bibir Elang.
“Thanks ya El,” ucap Rain seraya meneguk air putih.
Apa aja gue lakuin buat elo Rain. Asal bisa lihat lo tersenyum, gue udah bahagia. Walaupun dalam pikiran lo, bukan gue yang lo lihat.
“Sekarang mending lo istirahat lagi. Lo tidur di kamar gue aja, sambil nunggu Di pulang.”
Elang mengantar Rain masuk ke dalam kamarnya lalu keluar dan menutup pintu kamar. Rain memandang sekeliling kamar. Untuk ukuran laki-laki, kamar Elang terbilang rapih. Tak banyak barang dalam kamar yang dominan dengan warna abu itu. Rain merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tubuhnya memang masih terasa lelah. Perlahan matanya mulai memberat, tak lama kemudian dia jatuh tertidur.
🍁🍁🍁
**Banyak banget yang ngarep Rain pisah sama Akhtar dan nikah sama Elang. Kok kalian jahat banget sih ma Akhtar??🤭
Jangan lupa tinggalin jejak kalian
Like..
Comment..
Vote..😉**
__ADS_1