
Rain berjalan mondar-mandir untuk memastikan persiapan acara akad nikah berjalan dengan lancar. Dia dipercaya untuk memantau semua hal yang berkaitan dengan pernikahan Firly. Saat sedang mengecek run down acara resepsi nanti, dua orang perempuan menghampirinya.
“Rain, semua pagar ayu sudah siap. Sekarang sedang briefing di ruangan.”
“Ok, makasih mba Lita.”
“Oh iya kenalin ini Azkia, dia yang bakal gantiin Bella. Bella lagi sakit katanya.”
Gadis yang bernama Azkia itu menyalami Rain seraya menyebutkan namanya. Rain memperhatikan Azkia sejenak. Cantik, batinnya.
“Ya udah langsung gabung sama yang lainnya. Nanti mba Lita yang akan jelasin tugas kamu apa.”
“Iya kak.”
Azkia dan Lita segera pergi menuju ruangan yang digunakan para pagar ayu mendapatkan briefing. L’amour memang mempunyai beberapa pekerja part time yang ditugaskan sebagai pagar ayu jika klien mereka ingin menggunakan jasa pagar ayu.
Acara akad nikah akan segera dimulai, penghulu, wali nikah, para saksi berikut pengantin pria sudah duduk di depan meja akad. Dimas terlihat sedikit gugup, beberapa kali dia menarik nafas panjang untuk menghilangkan kegugupannya.
Setelah selesai memeriksa kelengkapan dokumen, sang penghulu mempersilahkan Ega untuk memulai prosesi ijab kabul. Adit yang bertindak sebagai saksi dari pihak Ega juga sudah siap. Demikian juga dengan Regan, sebagai saksi dari pihak Dimas. Ega menggenggam tangan Dimas.
“Bismillahirrahmanirrahiim. Ananda Dimas Saputra, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak saya yang bernama Firly Shaki Prakarsa binti Graha Prakarsa dengan mas kawin satu set perhiasan dibayar tunai!”
“Saya terima nikah dan kawinnya Firly Sakhi Prakarsa binti Graha Prakarsa dengan mas kawin tersebut tunai!”
“Bagaimana para saksi? Apakah sah?”
“SAH!” jawab Adit dan Regan bersamaan.
Semua mengangkat tangannya berdoa untuk pasangan pengantin. Dimas mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya tanda syukur. Hatinya sungguh bahagia, hari ini dia telah sah menjadi suami Firly. Penghulu menunggu kedatangan pengantin wanita untuk penandatanganan dokumen pernikahan.
Pintu ruangan terbuka, semua mata langsung tertuju pada tiga wanita cantik yang masuk ke dalam ruangan. Firly didampingi Alea dan Sarah berjalan mendekati meja akad. Dimas menatap takjub pada Firly. Ini pertama kalinya dia melihat gadis yang telah menjadi istrinya itu dalam balutan make up. Dada Dimas berdesir ketika beradu pandang dengannya. Efek tidak bertemu sebulan lamanya sepertinya menambah sengatan listrik pada tubuh Dimas.
Dimas menyematkan cincin pernikahan di jari manis Firly. Begitu pula dengan Firly. Kemudian dia meraih tangan Dimas lalu mencium punggung tangannya dengan takzim. Dimas mencium kening Firly penuh kelembutan. Selanjutnya mereka menanda tangani dokumen pernikahan yang disambung dengan tausyiah singkat dari penghulu tentang hak dan kewajiban suami istri.
Rangkaian kalimat berisikan doa dan nasehat memasuki gendang telinga pasangan pengantin tersebut. Walaupun ini pernikahan keduanya, Dimas tetap mendapatkan banyak wejangan dari para kakaknya. Karena perbedaan usia yang jauh di antara pasangan itu, Dimas diminta untuk lebih bersabar dalam menghadapi Firly yang mungkin masih bersikap kekanakan.
Seusai akad nikah, pengantin diminta beristirahat untuk mempersiapkan diri saat resepsi nanti malam. Firly masuk ke kamar yang digunakan untuk merias dirinya. Di sana sudah menunggu orang yang membantunya berganti pakaian dan membersihkan sisa make up. Kebaya yang cukup membuat pergerakannya sulit sudah terlepas dari tubuhnya. Kini berganti dengan skinny jeans dan kaos longgar.
Pintu terketuk, Firly membukakan pintu, ternyata Dimas yang datang. Pria itu juga sudah berganti dengan pakaian santai. Penata rias yang tadi membantu Firly tadi memilih untuk keluar dari kamar. Dimas duduk di sofa, memperhatikan Firly yang sedang menyisir rambutnya.
Firly bertahan duduk di depan meja rias karena merasa gugup berada satu kamar hanya berdua dengan Dimas. Terlebih suaminya itu tak henti memandanginya sejak tadi. Jantung Firly berdetak kencang, matanya hanya tertuju ke arah cermin tanpa berani melihat ke arah Dimas.
“Ily,” jantung Firly kembali berdetak kencang ketika Dimas memanggilnya.
“I.. Iya om.”
“Sini sayang.”
Dimas menepuk ruang kosong di sebelahnya. Dengan langkah pelan Firly menghampiri suaminya lalu mendudukkan diri di sampingnya. Dimas menatap dalam ke netra istrinya membuat Firly menjadi semakin salah tingkah.
__ADS_1
Kemarin-kemarin gue ngebet banget pengen nikah. Giliran udah nikah kenapa grogi gini ya. Haiishh mana nih jantung rese banget, main drum band ngga tahu waktu. Kan malu kalau om Dimas sampai denger.
“Ily. Kamu mau bulan madu kemana sayang?”
Mamvus gue ditanya bulan madu. Duh kalau pengantin baru bulan madu ngapain aja ya.. ampuunn mamiii tolongin Ily.
“Ily, hey,” Dimas menjetikkan jarinya di depan wajah Firly, membuatnya tersadar dari lamunannya.
“Eh ehmm.. om nanya apa tadi?”
“Kamu mau bulan madu kemana sayang?”
“Hmm.. terserah om aja.”
“Kok terserah om. Kamu ngga mau kemana gitu?”
“Terserah om aja. Gantian, kemarin waktu persiapan nikah, om kalau ditanya jawabnya terserah Ily. Sekarang soal bulan madu om aja yang mikir, Ily terserah aja.”
Dimas tergelak mendengar jawaban sang istri. Firly mengerucutkan bibirnya, kesal malah ditertawakan. Dimas jadi gemas sendiri melihat tingkah Firly.
“Itu bibir jangan digituin, nanti om cium loh.”
“Cium aja udah halal ini.”
“Oh kamu nantangin om?”
“Siapa yang nantangin. Ily cuma mmmphhh...”
“I miss you,” bisik Dimas membuat tubuh Firly meremang.
Dimas kembali mendekatkan wajahnya kemudian memagut bibir tipis yang sangat dirindukannya. Firly memejamkan matanya menikmati ciuman yang juga sangat dirindukannya. Perlahan tangannya melingkari leher suaminya. Dimas menarik pinggang Firly hingga tubuh mereka tak berjarak.
Dimas mengangkat tubuh Firly kemudian mendudukkan di pangkuannya. Ciuman keduanya terus berlanjut bahkan semakin menuntut. Tangan Dimas menelusup masuk ke dalam kaos Firly. Meraba kulit mulus itu dengan telapak tangannya. Firly melepaskan pagutannya ketika merasakan rematan di bukit kembarnya yang masih terbungkus kain berenda. Sebuah desahan kecil keluar dari bibirnya. Dimas menyatukan kening mereka.
“Maaf kalau kemarin-kemarin aku sibuk.”
“Ngga apa-apa om.”
“Kita sudah menikah Ily. Apa kamu akan terus memanggilku dengan sebutan om?”
“Ily harus panggil apa?”
“Terserah kamu, yang membuat kamu nyaman asal bukan om.”
“Hmm.. mas...” wajah Firly merona saat mengucapkan tiga huruf itu. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain saking malunya.
“Aku suka panggilan itu. Coba panggil aku dengan sebutan itu.”
“Mas..” suara Firly hampir tak terdengar.
__ADS_1
“Lagi.”
“Mas..”
“Ya sayang.”
BLUSH
Wajah Firly sudah seperti udang rebus saja. Dia membenamkan wajahnya ke dada Dimas, tak sanggup bersitatap dengan netra suaminya. Dimas membingkai wajah Firly dengan tangannya lalu mengarahkan wajah itu melihat ke arahnya. Firly memejamkan matanya saat bibir Dimas kembali mendekat.
DING DONG
Terdengar suara bel membuyarkan momen romantis pasangan pengantin baru itu. Firly turun dari pangkuan Dimas untuk membukakan pintu. Nampak wajah Ara dari balik pintu lengkap dengan senyumnnya yang mengembang.
“Kak Ily, Ara boleh tidur di sini ya sama kak Ily?”
“Iya sayang. Ayo masuk.”
“Papa,” Ara loncat ke pangkuan papanya.
“Ara ngga tidur? Nanti ngantuk pas acara resepsi.”
“Ara mau tidur di sini sama kak Ily sama papa juga.”
“Manggilnya jangan kak Ily lagi sayang.”
“Hmm terus Ara harus panggil apa? Mama? Ibu? Mami? Bunda?”
“Terserah Ara, nyamannya panggil apa.”
“Panggil mama aja ya. Ayo mama Ily kita tidur.”
Ara turun dari pangkuan Dimas lalu menarik tangan Ily menuju ranjang. Keduanya merangkak naik ke kasur lalu merebahkan diri. Firly menempuk-nepuk pelan paha Ara. Beberapa kali Ara menguap hingga akhirnya jatuh tertidur. Melihat Ara sudah tertidur, Dimas naik ke atas kasur lalu berbaring di samping Firly yang membelakanginya.
Dimas melingkarkan tangannya ke perut Firly kemudian menyurukkan wajahnya ke ceruk leher istrinya. Firly memegang tangan Dimas yang ada di atas perutnya. Nyaman sekali rasanya berada dalam pelukan lelaki yang telah sah menjadi suaminya. Mata Firly mulai memberat, perlahan dia teridur menyusul Ara yang sudah dulu masuk ke alam mimpi.
🍁🍁🍁
**Yeaay mereka udah sah euy...
Siap2 yang mau ikut ke resepsi mereka tar malem, jangan lupa amplopnya ya..
Sebelum dandan yang cetar membahana, digerakin dulu jempolnya buat
Like..
Comment..
Vote..
__ADS_1
Yuk ah kita nyalon dulu💃💃💃**