
“Kak, sini aku aja yang nyetir. Pasti kak Rey cape kan.”
Reyhan bergeming, Ayunda segera mengambil kunci mobil dari tangan Reyhan lalu membuka pintu mobil. Dia langsung saja duduk di kursi kemudi. Reyhan tak punya pilihan selain mengikuti keinginan gadis itu. Tubuhnya memang cukup lelah.
Reyhan memundurkan sandaran jok mobilnya kemudian menyandarkan punggungnya. Matanya terus menatap Ayunda yang sedang fokus menyetir di sampingnya. Merasa diperhatikan, Ayunda menoleh ke arah Reyhan.
“Lihatin apa kak?”
“Lihatin kamu. Ternyata bidadari bukan cuma bisa mandi di air terjun aja ya, tapi juga bisa nyetir mobil.”
Ayunda terbahak mendengar gombalan receh Reyhan. Gadis itu menghentikan kendaraannya ketika lampu lalu lintas berubah merah. Dia lalu menoleh ke arah Reyhan yang masih terus memandanginya.
“Ay.. tadi si ibu nanya apa? Kok dia bisa doain kita nikah sih.”
“Dia tadi nanya aku pacarnya kak Rey bukan. Nah pas si ibu nanya ada yang jatuh dari atas, aku otomatis lihat ke bawah disangkanya ngangguk deh.”
Ayunda terkikik dalam hati. Bisa-bisanya dia memberikan jawaban absurd seperti itu demi menutupi rasa malunya. Mau taruh di mana mukanya kalau Reyhan tahu dia ngaku-ngaku pacar Reyhan. Padahal jelas-jelas dia sudah menolak pria itu.
“Ya aku sih seneng aja kalau doa ibu tadi jadi kenyataan. Eh.. apa aku nikung kamu aja di sepertiga malam?”
Otak Reyhan mulai oleng. Dia pun mengucapkan kalimat yang tak kalah absurdnya dengan Ayunda. Membuat gadis itu memalingkan wajah saking malunya. Padahal dalam hati dia bersorak gembira.
“Kak Rey katanya tadi berantem ya di rumah sakit?” Ayunda mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Kamu tahu dari mana?”
“Ck... ditanya malah balik nanya. Bener ngga? Sama siapa? Kenapa berantem? Terus kak Rey kena tegur ngga?”
Reyhan bukannya menjawab malah terus menatap Ayunda dengan intens.
“Kak Rey ish.. ditanya bukannya jawab.”
“Jawab yang mana Ay..ang? Kamu nanyanya borongan gitu.”
Ayunda memalingkan wajahnya lagi, panggilan Ayang sukses membuat pipinya merona. Semenjak acara resepsi pernikahan Gara, Reyhan memang sudah bertekad tidak akan menutupi perasaannya lagi dari semua orang. Sebisa mungkin dia ingin menghabiskan waktu bersama Ayunda, memberikan perhatian dan menunjukkan rasa cintanya sebelum gadis itu menjadi milik Firlan selamanya.
Ayunda kembali melajukan kendaraannya begitu lampu berganti hijau. Kondisi jalanan yang cukup lengang membuat perjalanan mereka tidak memakan waktu lama. Kini kendaraan sudah memasuki daerah Dago.
“Ay.. jalan-jalan dulu yuk, jangan langsung pulang.”
“Kemana kak?”
“Ke dago atas aja. Ke tempat yang waktu itu.”
__ADS_1
“Ok bos.”
Ayunda mengarahkan mobil menuju daerah Dago atas. Dia membelokkan kendaraan ke arah kiri. Deretan perumahan terlihat ketika mereka melintasi jalan yang menuju lokasi tempat mereka dulu menikmati pemandangan kota Bandung di malam hari. Ayunda memarkirkan mobil di tempat yang agak jauh dari pedagang kaki lima yang mangkal di tempat tersebut.
Udara dingin langsung terasa ketika mereka turun dari mobil. Reyhan mengajak Ayunda menuju deretan pedagang kaki lima. Dia memesan dua mangkok sekoteng untuk menghangatkan tubuh. Kemudian berjalan menuju salah satu kursi yang menghadap ke arah city light.
Sambil menikmati sekoteng mereka asik berbincang. Reyhan menceritakan pertengkarannya dengan Sammy yang berujung dengan pemukulan. Ayunda meletakkan mangkok sekoteng yang telah tandas di bawah kursi kemudian menarik tangan Reyhan, meneliti apakah ada luka di punggung tangannya.
“Tangan kak Rey ngga apa-apa kan?”
“Kamu mau lihat tanganku terluka atau modus pengen pegang tangan aku?”
Ayunda melotot pada Reyhan lalu melepaskan tangan pria itu. Tapi kini gantian Reyhan yang menggenggam tangan Ayunda. Menggenggam tangan mungil itu dengan kedua tangannya. Alih-alih menariknya, Ayunda membiarkan saja tangannya digenggam oleh Reyhan. Ada kehangatan dari tangan pria itu sekaligus rasa nyaman.
“Sebelum kamu menjadi milik orang lain, bolehkan aku menikmati waktu bersamamu? Aku ingin menciptakan kenangan bersamamu. Kenangan yang akan aku ingat seumur hidupku, kalau wanita terindah ini pernah menjadi bagian diriku walau cuma sebentar.”
Ayunda menatap Reyhan nanar. Perlahan dia melepaskan genggaman tangan Reyhan lalu pergi meninggalkannya. Reyhan yang hendak menyusul Ayunda tertahan oleh tukang sekoteng yang sedang mengambil mangkok. Setelah membayar sekoteng, Reyhan bergegas menyusul Ayunda. Gadis itu tadi berjalan menuju mobilnya yang terparkir.
Reyhan sampai di dekat mobilnya kemudian mengitari badan mobil. Terlihat Ayunda sedang duduk di aspal sambil menyender pada badan mobil. Dia membenamkan wajah di lututnya yang tertekuk. Punggungnya tampak bergetar, sepertinya gadis itu tengah menangis. Reyhan menghampiri lalu duduk di sampingnya.
“Ay.. maaf.. kalau aku sudah lancang padamu. Lupakan saja apa yang kukatakan tadi.”
Suasana hening sejenak, terdengar isak tangis Ayunda walau pelan. Tak lama Ayunda mengangkat kepalanya, menghapus airmatanya dengan kasar lalu menatap Reyhan dengan tatapan sendu.
“Kamu ngga perlu minta maaf. Aku yang meminta terlalu banyak padamu.”
Ayunda menggelengkan kepalanya. Dia mencoba menenangkan dirinya sejenak.
“Maaf kalau aku terlambat mengatakannya. Aku.... a..ku ka...lah kak.”
“Kalah apa?”
“Aku kalah darimu. Sejak aku mengatakan berhenti memberikanmu kesempatan, sebenarnya aku sudah kalah, karena saat itu aku sudah jatuh cinta padamu. Aku yang bodoh tidak menyadarinya dengan cepat.”
Ayunda kembali menangis. Reyhan tergugu mendengar itu semua. Otaknya seakan masih mencerna apa yang barusan gadis itu katakan.
“Aku mencintaimu kak.”
Ucap Ayunda di sela-sela tangisnya sukses menghentak kesadaran Reyhan. Tangan Reyhan terulur kemudian menghapus buliran air yang berjatuhan di pipi Ayunda.
“Aku mencintaimu kak Rey,” lirih Ayunda.
Reyhan menarik tubuh Ayunda ke dalam pelukannya. Tangan Ayunda terulur memeluk pinggang Reyhan. Tangisnya kembali tumpah dalam dekapan pria itu. Reyhan memejamkan matanya, rasanya masih belum percaya kalau gadis itu membalas cintanya. Tapi kemudian dia tersadar kalau Ayunda sudah menerima lamaran lelaki lain. Perlahan dilepas pelukannya itu.
__ADS_1
“Maaf kak.. maaf kalau aku terlambat menyadarinya. Aku harus bagaimana? Aku sudah menerima lamaran bang Ilan, tapi hatiku menginginkanmu. Apa ada jalan untuk kita bersama?”
“Aku ngga tahu Ay... aku juga ingin bersamamu tapi semua tak semudah yang dibayangkan. Kamu pasti mengerti terlarang bagiku melamar dirimu yang sudah dilamar oleh bang Ilan.”
Ayunda kembali menangis, dengan frustrasi dia mencengkeram kaos Reyhan. Menundukkan kepalanya hingga menyentuh kedua tangannya yang berada di dada Reyhan.
“Jangan menangis Ay..”
“Aku tidak ingin menikah dengan bang Ilan.. aku harus bagaimana?”
“Tenanglah.. kita akan mencari solusinya bersama. Jangan menangis lagi hmm.. sekarang kita pulang, sudah malam. Bunda pasti mengkhawatirkanmu.”
Reyhan membantu Ayunda berdiri kemudian membawanya masuk ke dalam mobil. Kali ini Reyhan yang mengemudikan kendaraan. Kereta besi itu mulai bergerak maju. Sepanjang jalan hanya keheningan yang ada, namun Reyhan tak melepaskan genggamannya dari Ayunda.
Sepuluh menit kemudian mereka sudah sampai di kediaman Irzal. Ayunda masih terdiam di tempatnya. Tak ada keinginan untuk turun. Reyhan mengusap punggung tangan Ayunda dengan ibu jarinya.
“Ay.. ayo turun.”
Ayunda bergeming, Reyhan melepaskan genggamannya lalu turun dari mobil. Dia membukakan pintu untuk Ayunda, membantu gadis itu membuka seat beltnya kemudian menuntunnya turun dari mobil. Dengan langkah pelan, Ayunda ditemani Reyhan memasuki halaman rumah. Suasana rumah sudah tampak sepi. Ayunda memilih masuk melalui pintu samping.
Ayunda berdiam membelakangi pintu. Matanya terus menatap ke arah Reyhan, seakan tidak ingin berpisah dengan pria itu.
“Masuklah,” Reyhan membelai puncak kepala Ayunda.
“Aku masih ingin bersama kak Rey.”
“Besok kita bisa bertemu lagi. Kita makan siang bersama, mau?”
Ayunda mengangguk. Reyhan mendekatkan tubuhnya, dengan sedikit menunduk dia melihat ke arah Ayunda. Kemudian dengan suara pelan berbisik di dekat telinga gadis itu.
“Masuklah sayang.. aku mencintaimu.”
“Aku juga mencintaimu.”
Reyhan membukakan pintu, sambil berjalan mundur Ayunda masuk ke dalam rumah. Reyhan melambaikan tangannya ke arah Ayunda kemudian berbalik dan berjalan kembali ke mobilnya. Ayunda terus menatap Reyhan sampai masuk ke dalam mobil baru dia menutup pintu. Perasaannya sedikit lega karena sudah mengakui perasaannya pada Reyhan walaupun masa depan hubungan mereka masih belum jelas.
🍁🍁🍁
**Uuuhhh co cweet😍
Neng Ay berdoa aja ya semoga bang Ilan mau melepasmu dengan ikhlas.
Happy weekend semuanya, jangan lupa loh jejaknya, like, comment, vote..😉**
__ADS_1