
Tepat jam tujuh malam acara resepsi dimulai. Acara dibuka dengan serangkaian upacara adat Sunda. Seorang pria berpakaian adat Sunda memasuki ruangan sambil menari. Dia daulat sebagai penjemput pengantin atau mapag pengantin. Di belakangnya Reyhan diapit oleh Sarah juga Regan berjalan pelan disusul beberapa penari.
Di depan panggung pelaminan, Ayunda dengan diapit Poppy dan Irzal berdiri menunggu kedatangan pengantin pria. Sesampainya di depan keluarga mempelai wanita, pria tersebut mempersilahkan Poppy menyambut menantunya. Poppy mengalungkan rangkaian bunga melati ke leher Reyhan sebagai tanda penyambutan. Kemudian kedua orang tua pengantin menuju pelaminan.
Sang pengantin masih berada di tempatnya. Keduanya menunggu para dancer melakukan tarian Sekar Pangbage. Para penari membimbing kedua mempelai duduk di kursi yang sudah disiapkan di depan panggung pelaminan. Mereka didudukkan di kursi kemudian muncul seorang pria membawa payung berwarna kuning lalu berdiri di belakang pengantin. Mereka akan memulai prosesi saweran.
Terdengar suara merdu sinden melantunkan kidung berbahasa Sunda. Isi kidung berupa nasehat untuk sang pengantin dalam menjalani bahtera rumah tangga. Menjelang akhir kidung, orang tua pengantin bersiap membawa bucket di tangannya. Keempat orang tersebut memulai saweran.
Para tamu undangan khususnya anak-anak mulai maju dan berebut saweran. Saweran berupa permen, coklat dan uang, mulai dari pecahan seribu rupiah sampai seratus ribu. Uang kertas dilipat kecil kemudian dibungkus plastik dan diberi pita agar berbentuk seperti permen. Suasana heboh pun langsung terjadi.
Ayunda dan Reyhan tertawa melihat anak-anak bahkan orang tua berebut saweran. Aslan, Nanaz, Gemma dan Gavin ikutan berebut. Hanin pun tak kalah heboh, bersama Ara dan Khayra, mereka sibuk memungut hasil saweran. Firlan menepuk keningnya melihat kelakuan Hanin. Dengan cepat dia menarik tangan Hanin.
“Apaan sih bang, ganggu aja deh.”
“Kamu tuh malu-maluin rebutan saweran sama anak kecil. Inget ya kamu tuh sekarang lagi jadi pasangan abang. Malu tahu, itu kolega abang udah pada dateng.”
“Ish abang mah ngga asik, seru tahu.”
“Diem di sini.”
Dengan perasaan dongkol Hanin menuruti perintah Firlan. Dibukanya permen yang didapatkan dari hasil nyawer kemudian memakannya.
Selesai dengan saweran, acara dilanjutkan dengan prosesi nincak endog. Reyhan berdiri di dekat perlengkapan yang sudah disiapkan. Sebuah telur yang dibungkus plastik kini berada di bawah kakinya. Kemudian dengan satu hentakan pelan dia menginjak telur tersebut hingga pecah. Ayunda berjongkok di dekatnya kemudian membasuh kaki Reyhan.
Reyhan membantu Ayunda berdiri. Kini keduanya diberi tujuh buah lidi yang dipegang bersama. Mereka akan melakukan prosesi meuleum harupat. Ayunda lebih dulu membakar lidi kemudian ditiup oleh Reyhan. Setelah itu berganti Reyhan yang membakar lidi dan Ayunda yang meniupnya.
Pengantin kembali dipersilahkan duduk. Para orang tua maju untuk melakukan huap lingkung. Sarah dan Poppy maju untuk menyuapkan makanan pada anak-anak mereka, disusul oleh Regan dan Irzal. Setelah itu Ayunda dan Reyhan saling menyuapi dengan posisi tangan melingkar di leher keduanya.
Terakhir mereka melakukan prosesi pabetot bakakak. Ayunda dan Reyhan memegang ayam bakar, setelah hitungan ketiga, keduanya berebut menarik. Reyhan mendapat potongan yang lebih besar membuat Ayunda mengerucutkan bibirnya.
Selesai sudah rangkaian upacara adat Sunda, kini pengantin sudah duduk di pelaminan beserta kedua orang tua. Mereka bersiap menerima ucapan selamat dari para tamu undangan. Deretan panjang para tamu sudah bersiap untuk naik ke pelaminan.
Fania yang baru saja datang cukup terkejut melihat pesta resepsi yang digelar sangat mewah. Dia tak pernah tahu kalau Ayunda adalah anak pengusaha sukses. Selama berteman dengannya, Ayunda tak pernah memamerkan kekayaan orang tuanya. Dengan wajah sumringah Fania naik ke atas pelaminan untuk memberikan ucapan selamat.
“Yundaaaa... selamat ya.”
“Makasih Nia.. gimana kabarnya nenek?”
“Alhamdulillah udah baikan.”
“Syukur deh.”
“Ya ampun Yunda, lo cantik banget. Gue pikir artis yang nangkring di sini.”
“Bisa aja lo.”
Setelah memberi selamat dan bercipika-cipiki dengan Ayunda, Fania memberikan ucapan selamat pada Reyhan. Setelah itu dia turun dari pelaminan. Mulai berburu makanan untuk mengisi perutnya yang kosong.
Para tamu undangan terus berdatangan. Dari atas pelaminan Ayunda melihat dokter Burhan beserta istrinya sedang berjalan menuju pelaminan. Dia mendekat pada Reyhan lalu berbisik di telinga suaminya.
“Tuh burung hantu diundang juga?”
“Siapa?”
“Burhan.”
“Iya Ayang. Dia kan koleganya papa, masa ngga diundang.”
“Ish aku ngga suka sama dia.”
Bisik-bisik pengantin terhenti ketika orang yang mereka gibahkan sudah naik ke pelaminan. Dokter Burhan memberikan ucapan selamat pada Ayunda juga Reyhan. Dia berbincang sebentar dengan Regan sebelum akhirnya turun dari pelaminan.
Selesai dengan Burhan, muncul Kumala dengan orang tuanya. Wajah Kumala terlihat dongkol. Ternyata Reyhan berbohong perihal statusnya dengan Ayunda. Dengan wajah masam dia naik ke pelaminan lalu memberikan ucapan selamat.
“Selamat ya dok. Ternyata dokter bohong sama saya. Dia baru calon istri belum jadi istri.”
“Saya ngga bohong. Dia memang istri saya, kami menikah agama dulu baru sekarang resepsinya,” ucap Reyhan asal.
Dia masih dongkol karena Kumala menghapus semua foto Ayunda di galerinya. Sebenarnya Reyhan tidak berbohong juga, akad nikah memang dilaksanakan tadi pagi. Jadi secara sistematis bahasa, apa yang dikatakan benar adanya.
__ADS_1
“Ooh..” hanya itu yang terucap dari bibir Kumala.
“Lain kali kalau menemukan ponsel seseorang langsung dikembalikan ya. Ngga sopan membuka apalagi menghapus data-data tanpa seijin pemiliknya,” ucap Reyhan dengan wajah datarnya. Kumala yang merasa malu langsung buru-buru turun dari pelaminan. Ayunda tersenyum puas melihat gadis itu mati kutu oleh sikap suaminya.
“Bisa judes juga ya yayangku ini,” goda Ayunda.
“Aku kesal, dia seenaknya hapus foto kamu. Aku jadi ngga punya stok foto kamu lagi.”
“Gampang. Kita bikin yang baru, yang lebih mesra.”
“Ide bagus. Lebih bagus kalau kamu ngga pakai apa-apa,” bisik Reyhan pelan membuat wajah Ayunda bersemu merah.
Satu jam berlalu, yang artinya masih dua jam lagi pasangan pengantin itu menerima ucapan selamat dari para tamu undangan. Di sebelah kiri pelaminan, tepatnya di atas panggung pengisi acara, Soul Castle sudah bersiap untuk tampil. Ayunda sudah memberikan catatan pada Elang lagu apa yang harus dilantunkan.
Dimas sedang asik bercengkerama dengan keluarga kecilnya ketika sepasang suami istri dan anaknya datang menghampiri. Dimas menyipitkan matanya ketika melihat Yama yang bersama pasangan suami istri itu.
“Pak Dimas apa kabar?”
“Baik pak Yoga.”
“Kenalkan ini istri saya, Diana dan anak saya Yama.”
Diana dan Yama bersalaman dengan Dimas. Yama melirik ke arah Ara yang berdiri di samping Dimas. Setelah berkenalan, Diana pamit hendak ke toilet. Di saat yang bersamaan Firly datang bersama dengan Gavin.
“Sayang, kenalkan ini pak Yoga. Beliau salah satu supplier di restoran kita.”
“Firly.”
Yoga menyambut uluran tangan Firly. Matanya tak lepas memandangi wajah Firly yang cantik. Genggaman tangannya juga belum terlepas, padahal Firly sudah beberapa kali menariknya. Terdengar deheman keras Dimas, membuat Yoga tersadar dan melepaskan genggamannya.
“Kata Yama, anak bapak satu kelas dengannya.”
“Oh ya? Saya baru tahu, Ara tidak pernah cerita. Maklumlah, terkadang dia jarang menceritakan sesuatu yang kurang penting pada saya.”
Yama langsung berwajah masam. Dimas benar-benar menunjukkan ketidak sukaan padanya. Sedangkan Ara hanya bisa menundukkan kepalanya. Antara kesal juga malu dengan sikap sang ayah. Tapi sepertinya Yoga tidak mempedulikan apa yang dikatakan Dimas. Sedari tadi dia hanya sibuk menatap Firly.
“Maaf pak Yoga, kami ke sana dulu ya.”
“Cih bapak sama anak sama mesumnya,” kelutus Firly.
“Ra, temenin aku makan yuk.”
Tak disangka Yama berani menyusul Ara. Gadis itu melihat ke arah Dimas sejenak. Dengan berat hati Dimas menganggukkan kepalanya. Senyum mengembang di wajah gadis itu, kemudian dia dan Yama segera berkeliling stall.
Farel baru saja turun dari panggung. Matanya langsung melihat ke arah Ara dan juga Yama yang sedang mengantri makanan di stall. Dia terus mengikuti pergerakan keduanya. Terlihat Yama mengajak Ara duduk di kursi paling sudut. Melihat itu Farel bergegas menghampiri. Dia berpapasan dengan Hanin yang membawa macaroni schotel untuk Firlan. Langsung diambilnya makanan tersebut dari tangan Hanin tanpa mempedulikan teriakan gadis itu.
“Bang Farel itu buat bang Ilan!”
Farel terus saja ngeloyor pergi. Hanin terpaksa harus mengantri lagi. Padahal butuh waktu cukup lama untuk mendapatkan makanan itu.
Ara dan Yama telah sampai di kursi paling sudut. Ara duduk di kursi dekat tembok. Saat Yama akan duduk di sebelahnya, Farel lebih dulu tiba dan duduk di samping Ara. Yama akhirnya duduk di samping Farel. Ara yang kesal melihat kelakuan Farel langsung memprotes.
“Bang Farel ngapain di sini?”
“Makan, kamu ngga lihat ini?” Farel memperlihatkan piring berisi macaroni schotel di tangannya.
“Maksudnya ngapain makan di sini kan tempat lain masih banyak yang kosong.”
“Sengaja biar kalian ngga berduaa. Inget, kalau dua orang bukan muhrim berduaan maka yang ketiganya setan.”
“Iya, bang Farel setannya.”
“Bodo amat.”
Farel tak mempedulikan protesan Ara. Dia dengan tenang menyantap makanannya. Dengan hati dongkol Ara juga menyantap makanannya. Yama langsung memutar otak bagaimana menjauhkan laki-laki ini dari kehidupan Ara.
Setelah mengantri sekitar lima menit Hanin berhasil mendapatkan macaroni schote lagi. Matanya berkeliling mencari keberadaan Firlan. Kemudian dia menangkap lelaki itu sedang berbicara dengan beberapa teman atau koleganya. Hanin melangkahkan kakinya ke sana.
“Lan, bukannya lo yang mau nikah sama Yunda? Kenapa jadi si Rey?”
__ADS_1
“Sebenernya itu keinginan bokap gue aja yang pengen besanan sama ayah Irzal. Awalnya kita nurut aja karena nganggap bokap cuma main-main. Eh ternyata serius dia, jadinya gue sama Yunda jujur kalau udah punya pilihan masing-masing.”
“Oh gitu. Gue kira lo ditikung si Rey,” terdengar gelak tawa dari teman-temannya.
“Terus calon lo mana?”
“Mana ya. Tadi dia lagi ambilin makanan buat gue.”
Mata Firlan berkeliling mencari keberadaan Hanin. Dalam hati dia merutuki Hanin yang tidak bisa diam di sampingnya. Tapi kemudian sosok yang dicarinya muncul dari arah kanannya.
“Sayang, kamu kemana aja sih.”
Hanin sempat terkejut ketika Firlan memanggilnya dengan sebutan sayang. Tapi begitu melihat teman-teman Firlan, dia tahu kalau pria itu sedang memulai dramanya.
“Habis ambilin makanan buat abang.”
Hanin memperlihatkan piring di tangannya sambil tersenyum manis. Sesampainya di dekat Firlan, tak disangka lelaki itu menarik pinggangnya hingga tubuh keduanya merapat. Jantung Hanin langsung berdegup kencang.
“Kenalin ini Hanin, calon gue.”
What?? Calon? Pekik Hanin dalam hati. Gadis itu segera mengenyahkan keterkejutannya kemudian mengembangkan senyuman manis seraya berkenalan dengan tiga pria di depannya.
“Cantik juga ya calon elo,” puji salah satu teman Firlan.
“Makasih kak. Namanya juga perempuan, pasti cantik, ngga mungkin ganteng kan.”
“Hahaha... bener-bener. Hanin.. gue suka gaya lo.”
Tak disangka Hanin bisa cepat akrab dengan teman-teman Firlan. Rasanya tak salah Firlan meminta Hanin sebagai pasangan palsunya malam ini. Bahkan Hanin tak segan-segan menyuapi Firlan di depan teman-temannya. Karuan saja ini mendapat sorakan juga ledekan dari mereka. Tapi Hanin dan Firlan tak peduli, keduanya sudah bertekad untuk menjadi pemeran wanita dan pria terbaik malam ini dalam drama Status Palsu.
Sementara itu di atas pelaminan, Ayunda kembali merajuk ketika melihat Helga juga datang ke acara pernikahan mereka. Entah mengapa gadis itu kerap merasa cemburu dan insecure terhadap Helga. Setelah Helga turun dari pelaminan, Ayunda langsung melancarkan protesnya.
“Mas Rey undang dia juga ternyata.”
“Dia yang minta diundang. Kan ngga enak kalau ngga diundang.”
“Niat banget ya jauh-jauh dari Jerman cuma buat ngehadirin pernikahan mas.”
Terdengar suara Ayunda berdecih. Reyhan paham sekali kalau istrinya ini tengah cemburu. Segera ditariknya pinggang Ayunda, ketika posisi mereka rapat Reyhan langsung mengecup bibir Ayunda. Diserang dadakan karuan Ayunda membelalakan matanya. Apalagi tamu undangan yang hendak memberikan ucapan selamat harus berhenti dulu karena melihat aksi pengantin pria.
“Mas Rey apaan sih, malu tahu.”
“Makanya berhenti ngomongin Helga. Kalau kamu masih aja cemburu sama dia, aku akan cium kamu di sini sampai kehabisan nafas.”
Ujar Reyhan dengan suara pelan namun masih bisa tertangkap oleh kedua orang tua yang duduk di samping kanan dan kirinya.
“Yunda tuh cemburunya sama kaya kamu Yang,” bisik Irzal.
“Biarin aja. Biar aku cemburuan, aa tetep cinta kan.”
“Itu tandanya kamu cinta mati sama aa.”
“Cih, sendirinya kaya ngga cemburuan aja.”
Irzal tergelak, mereka memang dua pasangan yang memiliki kadar cemburu tinggi. Di sisi lain Sarah hanya geleng-geleng melihat kelakuan anaknya. Dia mendekatkan wajahnya pada Regan.
“Anak kamu mas, persis banget sama kamu. Suka ngga lihat tempat kalau mau bermesraan.”
“Bagus itu. Dia mempertegas teritorinya dan menunjukkan sama semua orang kalau Yunda itu miliknya. Kamu mau aku cium juga sayang?”
“Ngga usah ngaco ya. Inget umur.”
Regan terkekeh geli melihat wajah panik sang istri. Diraihnya tangan Sarah kemudian mengecup punggung tangannya dengan mesra. Reyhan melirik romantisme kedua orang tuanya. Dalam hatinya berdoa semoga pesta ini cepat usai, hingga dia bisa cepat berduaan dengan sang istri.
🍁🍁🍁
**Kang dokter dah ngga sabar pengen belah duren ya, sama kaya readers🤭
Ilan Ama Hanin sa ae sandiwaranya😁
__ADS_1
Bang Farel Pepet terus Ara jangan kasih kendor, semangka💪
Readers juga jangan kasih kendor dukungannya, like, comment and vote mamake tunggu selalu. Komen yang banyak ya biar mamake semangat bikin part belah durennya🤭**