
Seminggu sejak Azkia dinyatakan hamil, Elang cukup kerepotan menghadapi istrinya yang tiba-tiba sangat manja padanya. Hampir setiap hari dia berangkat ke kantor lebih lambat dan pulang di awal waktu. Tapi Elang justru menikmati momen-momen tersebut. Kemanjaan Azkia tidak sebanding dengan penderitaan calon ibu yang setiap hari pagi harus bergumul dengan morning sick-nya.
Tak jarang Elang harus membawa pulang pekerjaannya karena tak tahan mendengar rengekan Azkia yang selalu minta ditemani. Seperti hari ini, Zidan dan Zahran bersedia meeting di kediamannya demi calon ayah itu. Ketiganya sedang berbicara serius di ruang tengah. Azkia berada di kamarnya, dari pagi tubuhnya terasa lemas dan selalu mengantuk.
Azkia bangun dari tidurnya ketika merasakan perutnya mulai bergemuruh. Dipakainya hijab instan yang tersampir di kursi lalu keluar kamar. Nampak Elang, Zidan dan Zahran sedang serius membahas pekerjaan. Melihat kesibukan suaminya, Azkia mengurungkan niatnya. Saat akan kembali ke kamar, suara Elang menahannya.
“Kenapa sayang?” bergegas Elang menghampiri Azkia.
“Aku laper mas.”
“Mau makan sama apa?”
“Pengen telor ceplok pake kecap aja mas.”
“Ya udah, mas bikinin.”
“Aku maunya bang Deski yang bikin. Tapi bikinnya di sini.”
Baik Elang, Zidan dan Zahran terbengong mendengarnya. Apalagi baru saja pria itu mengabari kalau sedang ada meeting penting dengan salah satu koleganya jadi sedikit terlambat bergabung.
“Kayanya ngga bisa deh Yang. Barusan bang Deski kasih kabar lagi ada meeting penting, makanya agak telat ke sininya.”
Ada raut kekecewaan tersirat di wajah Azkia. Padahal dia sedang ingin makan telor ceplok buatan kakaknya. Karena tak tega, akhirnya Elang menghubungi sekretaris Deski. Menurut Tomi, atasannya itu sedang meeting dengan salah satu klien penting. Akhirnya Elang hanya menitipkan pesan pada Tomi.
“Bang Deskinya masih meeting sayang. Gimana dong, mas aja yang buat ya?”
Azkia hanya menggeleng pelan, selera makannya hilang sudah. Dengan langkah gontai dia kembali ke dalam kamar. Elang mengusap wajahnya kasar. Di satu sisi dia tak tega melihat sang istri tapi di sisi lain, harus menghormati Deski yang sedang bekerja. Tiba-tiba ponselnya berdering. Tertera nama Deski di sana.
“Halo El, ada apa?”
“Ini bang, Kia.”
“Kenapa Kia? Aku ke sana sekarang.”
Deski langsung memutuskan panggilan tanpa Elang sempat menjelaskan apa yang diinginkan istrinya. Kemudian Elang meminta ijin pada Zidan dan Zahran untuk menemui istrinya di kamarnya.
“Sayang.”
CUP
Elang mendaratkan ciuman di kening istrinya. Azkia membuka matanya. Elang duduk di sisi ranjang, tangannya mengusap puncak kepala istrinya dengan lembut.
“Bang Deski lagi ke sini.”
“Bener mas?”
Mata Azkia langsung berbinar. Bayang-bayang telor ceplok yang dikucuri kecap melintas di depan matanya. Azkia menelan air liurnya, seperti sudah tidak sabar untuk memakan makanan favorit kang Mus.
Azkia memutuskan menunggu di luar sambil melihat suaminya bekerja. Melihat Elang bekerja merupakan hobi barunya akhir-akhir ini. Menurutnya, Elang terlihat jauh lebih sexy saat bekerja.
Dalam waktu sepuluh menit Deski sudah sampai di kediaman Irzal. Buru-buru dia menuju ke lantai tiga. Setengah berlari dia keluar dari dalam lift langsung masuk ke dalam sambil berteriak mengejutkan semua yang ada.
__ADS_1
“Dek!”
“Wuih cepet banget sampenya, terbang lo?” sembur Zahran.
“Tadi El telpon. Ada apa sama Kia?”
Elang hanya nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sedang orang yang dikhawatirkan langsung berdiri menghampiri Deski dengan wajah senangnya.
“Bang, aku laper pengen makan.”
“Hah?? Laper?? Emangnya si El ngga bisa ngasih kamu makan apa?”
“Sembarangan. Dia maunya dibikinin bang Deski.”
“Emang kamu mau makan apa sih dek?”
“Pengen makan sama telor ceplok tapi abang yang goreng telornya.”
“Astaga.”
Deski menepuk keningnya. Dari kantor dia pontang-panting menuju rumah Elang. Meninggalkan klien pentingnya lalu mengebut di jalanan layaknya Lewis Hamilton hanya demi telor ceplok.
“Bang, cepet bikin. Aku udah laper.”
“Ya udah. Telor ceplok aja kan?”
“Iya tapi aku mau telor ceploknya jangan dibalik, jadi kuningnya masih setengah mateng gitu. Terus jangan sampai pecah kuningnya dan harus ngelirik ke kanan. Inget ya bang harus persis seperti aku bilang. Aku tunggu di kamar ya.”
“Good luck ya bang. Itu dapurnya, telornya ada di kulkas. Pan ada di lemari. Aku temenin Kia dulu.”
Elang masuk ke dalam kamar, karena sebelum pergi, Azkia sempat memberi kode untuk menyusul ke kamar. Deski berjalan menuju dapur, mengambil peralatan serta telor dari dalam kulkas. Chef dadakan itu memulai acara masaknya.
Ternyata membuat telor ceplok sesuai keinginan Azkia bukan hal yang mudah. Deski mengingat sebentar yang tadi dikatakan sang adik lalu mulai memasak. Percobaan pertama, begitu telor masuk ke dalam pan, kuning telornya hancur berantakan karena Deski terlalu keras menjatuhkan telor ke dalam pan. Usaha pertama gagal, telor masuk ke tempat sampah.
Percobaan kedua, Deski sukses memecahkan telor di pan dengan posisi kuning telor utuh. Tapi berhubung api kompor terlalu besar, bagian bawah telor gosong sedangkan bagian kuning belum matang. Usaha kedua kembali masuk tempat sampah.
Percobaan ketiga, hati-hati Deski memecahkan telor ke dalam pan. Api kompor pun dikecilkannya. Telor tampak cantik dan matang sempurna. Deski meletakkan telor ke dalam piring. Tapi kemudian dia ingat instruksi terakhir, kuning telor harus melirik ke kanan. Alhasil dia harus memasaknya lagi.
Percobaan keempat, telor sukses masuk ke pan dengan sempurna. Api kompor sudah dikecilkan. Deski bersorak dalam hati, pasti kini tidak akan gagal lagi. Deski menggoyangkan pan ke arah kanan agar kuning telor bergeser ke kanan, namun posisi telor off side dan pecah. Usaha keempat lagi-lagi masuk ke tempat sampah.
Zahran yang penasaran karena Deski tak kunjung selesai segera mendekat. Dia melihat ke tempat sampah, ada tiga telor yang sudah dibuang Deski. Kini pria itu bersiap melakukan percobaan yang kelima.
“Lama amat bikin telor ceplok doang. Itu kenapa sampe dibuang-buang?”
“Ngga denger apa tadi? Dia minta kuningnya utuh terus ngelirik ke kanan.”
“Gitu aja repot. Gue bantuin deh, cepetan pecahin telornya.”
Deski memecahkan telur ke dalam pan. Zahran mengambil alih pan lalu mulai menggerak-gerakkannya. Kuning telor perlahan bergulir, tapi sayangnya ke arah kiri. Setelah menunggu kuning telor agak matang, barulah dia mengangkat telor dan meletakkannya ke dalam piring.
“Ini ngeliriknya ke kiri Za, dia mintanya kanan.”
__ADS_1
“Ya ampun kenapa lo jadi oon gini.. Tinggal diputer aja piringnya susah bener. Kaya gini nih.”
Zahran memutar piring ke arah berlawanan, hingga kini posisi kuning telur terlihat melirik ke arah kanan. Deski hanya nyengir mengingat kebodohannya. Diambilnya piring tersebut lalu menuju kamar Elang.
Azkia dan Elang keluar dari kamar begitu terdengar ketukan. Azkia nampak senang melihat pesanannya sudah jadi. Segera diambilnya piring dari tangan Deski. Dia berjalan menuju meja makan, meletakkan sedikit nasi lalu mengucurinya dengan kecap.
Dengan semangat empat lima, disuapkan telor ke dalam mulutnya. Keningnya berkerut karena rasa telor tidak sesuai keinginannya. Dia melihat kesal ke arah Deski.
“Kenapa dek?”
“Telornya ngga enak. Pasti abang ngga kasih garem kan? Ish udah nunggu lama, ngga enak puls rasanya.”
“Iya abang lupa. Ya udah abang bikinin lagi deh.”
“Ngga usah. Mas El aja yang bikinin.”
“Ok, biar mas yang bikin. Itu kuning telornya mau ngelirik kemana sayang?”
“Ngga usah, ceplok biasa aja mas. Kan mau dimakan telornya bukan dipajang.”
Demi apapun, ingin rasanya Deski melemparkan sang adik ke kali Cikapundung. Perjuangannya membuat telor ceplok sesuai permintaan ibu hamil itu tidak dihargai sama sekali. Deski melihat sebal ke arah adiknya. Namun Azkia hanya memasang wajah tanpa dosa. Dengan cepat dia mengikuti Elang ke dapur.
“Untung sayang, kalau ngga udah gue ceburin ke kali,” gerutu Deski tapi sayang Azkia masih bisa mendengar gerutuannya walaupun samar.
“Abang bilang apa barusan?”
“El harus bikin telur ceplok yang enak buat adik tersayang.”
“Buatan mas El pasti lebih enak dari pada buatan abang tadi.”
Azkia menyebikkan bibirnya ke arah Deski kemudian melanjutkan langkahnya. Deski hanya menggelengkan kepalanya. Ternyata hormon ibu hamil benar-benar luar biasa dampaknya. Azkia yang biasanya terlihat takut dan jijik padanya, kini berubah menjadi penindas. Akhirnya Deski memilih duduk bersama dengan Zidan dan Zahran.
“Sabar Des, anggap aja ini latihan sebelum elo nikah,” hibur Zidan.
“Heran gue kenapa si Kia jadi berubah gitu. Emang kalo cewek hamil gitu ya. Dulu waktu Raisya hamil kaya gitu juga?”
“Banyak kebiasaan yang berubah ketika perempuan hamil. Dan yang pasti ada dua peraturan yang harus lo ingat kalau berhadapan dengan bumil.”
“Apaan?”
“Satu, bumil ngga pernah salah. Dua, kalau bumil salah kembali ke peraturan pertama,” Zidan terkekeh.
“Hadeuh amsyong gue.”
Zidan dan Zahran tergelak melihat ekspresi frustrasi Deski. Membayangkan selama delapan bulan ke depan Azkia merepotkannya sudah membuat Deski bergidik. Ternyata berhadapan dengan Azkia yang tengah berbadan dua lebih mengerikan dibanding menghadapi amukan Elang tempo hari.
🍁🍁🍁
**Bikin telor ceplok doang sampe abis setengah kilo, luar biasah😂
Udah ngga ada ketegangan lagi ya, sekarang tinggal yang manis²nya buat pasangan Az-El dan pahit buat Deski🤣
__ADS_1
Selalu tinggalin jejak ya buat mamake, like, comment and vote-nya ditunggu loh😉**