
Suasana Minggu pagi ini cukup lengang, warga yang berada di wilayah Dago dan sekitarnya lebih senang menghabiskan akitivitas hari Minggu dengan berada di car free day atau berdesakan di gasibu. Melihat kondisi jalan yang lengang, Firlan memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Mengebut memang salah satu hobinya, baik dengan motor ataupun mobil.
Firlan terus tetap memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Di kursi belakang Azriel masih berbaring, bahkan kini matanya sudah terpejam. Tiba-tiba dari arah depan muncul seorang anak kecil hendak menyebrang. Firlan terkesiap, serta merta ditekannya pedal rem dalam-dalam. Ban kendaraan yang bergesekan dengan aspal menimbulkan bunyi berdecit.
CIIIIITTTTT
GUBRAK
Tubuh Azriel terjatuh dari jok, wajahnya sukses mencium lantai mobil. Sementara itu, anak kecil yang menyebrang tiba-tiba tidak mengalami apapun karena Firlan berhasil menghentikan mobilnya tepat waktu. Sambil bersungut-sungut Azriel bangun kemudian kembali ke kursi.
“Gila lo bang, mau bunuh gue ya!”
“Sorry bro, noh anak kecil nongol tiba-tiba,” Firlan hanya cengar-cengir melihat Azriel dari kaca spion.
“Makanya duduk yang bener Ziel!”
Azriel menuruti ucapan Firly. Dia duduk kemudian memasang seat belt, tak ingin kejadian tadi terulang lagi. Namun tetap saja mulutnya komat-kamit tak jelas seraya mengusap keningnya yang terasa berdenyut.
Perjalanan kembali berlanjut, Firlan sedikit menurunkan kecepatannya. Tapi itu tak berlangsung lama, begitu kendaraan memasuki jalan bebas hambatan dia kembali menambah kecepatan. Tunggangannya melesat membelah jalan tol yang masih lengang dari kepadatan kendaraan.
Berkat kemampuan menyetir Firlan yang seperti Michael Summacher, mereka sampai di Jakarta dalam waktu kurang dari dua jam. Firly mengarahkan saudara kembarnya menuju cafe yang disebutkan oleh Andra. Waktu menunjukkan pukul sembilan pagi, namun suasana cafe sudah cukup ramai. Maklum saja, cafe ini memang menyediakan menu breakfast, jadi sudah buka sejak jam tujuh pagi.
Setelah memarkirkan mobil, ketiganya masuk ke dalam cafe. Azriel dengan cuek berjalan mengekor di belakang kakak-kakaknya. Hampir semua pengunjung yang ada di cafe melihat ke arahnya, beberapa di antaranya ada yang terkikik geli. Firly yang merasa risih dengan pandangan orang melihat ke arah Azriel.
“Astaga Lan, noh lihat adek lo.”
Firlan melihat pada Azriel, sontak dia tergelak. Entah sadar atau tidak, Azriel hanya mengenakan koas kutung putih, celana pendek warna kuning, sendal jepit plus rambut acak-acakkan. Berbanding terbalik dengan kedua kakaknya yang rapi jali. Andra yang mendapat kabar dari keponakannya, bergegas menyambut kedatangan mereka. Keningnya berkerut melihat penampilan Azriel.
“Ziel, kamu belum mandi?”
“Hehehe.. belum om,” Azriel hanya cengengesan seraya mencium punggung tangan omnya.
Andra segera mengajak ketiganya ke ruang VIP yang telah disewanya. Berbagai hidangan sudah tersedia di meja. Dia sudah bisa menebak para keponakannya ini belum sempat sarapan.
Melihat banyaknya makanan yang telah tersedia, Azriel langsung duduk di salah satu kursi. Tanpa menunggu Andra mempersilahkan, dia segera menyantap makanan tersebut. Firly mendesis kesal melihat kelakuan adik bungsunya. Dia menarik kursi kemudian duduk di samping Azriel.
“Ada apa Ily mau ketemu om. Kayanya penting banget ya.”
Firly membuka tasnya kemudian menyerahkan sebuah amplop coklat padanya. Andra membuka amplop tersebut, keningnya berkerut setelah membaca lembaran kertas tersebut. Firlan semakin dibuat penasaran.
“Apa semua yang ada di sini benar Ly?”
“Iya om.”
“Tapi kenapa? Bukannya mami kamu tuh sayang banget sama Dimas?”
__ADS_1
“Tunggu.. tunggu ini sebenarnya ada apa sih? Ly jelasin, jangan bikin gue kaya orang bego gini,” pinta Firlan yang sudah tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.
“Mami Lan. Mami udah tega banget bikin cafe dan restonya om Dimas rugi. Mami mau ngerusak usahanya om Dimas, semua karena gue Lan,” wajah Firly tampak sendu.
“Maksudnya kamu apa Ly?”
“Mami begini karena marah om. Mami marah karena Ily sama om Dimas.”
“Kamu sama Dimas? Kenapa?”
“Kak Ily sama om Dimas pacaran om,” celetuk Azriel.
Mmmpprrtthh
Andra hampir saja menyemburkan kopi yang baru disesapnya. Dia melihat pada Firly untuk meminta penjelasan.
“Kenapa? Om ngga setuju?”
“Ngga.. ngga.. om kaget aja. Terus papi kamu gimana? Papi kamu pingsan ngga waktu tahu soal kamu sama Dimas?”
“Emang kenapa papi harus pingsan?”
“Hahahaha... papi kamu tuh dari dulu ngebet banget pengen besanan sama Irzal. Sekarang bakal terkabul tapi calon menantunya bukan Elang, malahan Dimas huahahahaha,” Andra tak dapat menyembunyikan kegeliannya. Beberapa kali dia menyusut sudut matanya yang berair karena tak berhenti tertawa.
“Iih om Andra udah dong ketawanya. Sekarang bantuin Ily. Ini gimana caranya nyadarin mami. Apa yang mami lakuin itu salah om. Apa om tahu siapa orang yang udah bantu mami?”
“Tamara Handoyo.”
Tawa Andra terhenti saat mendengar nama itu. Raut wajahnya kini sudah berubah serius. Masih terngiang-ngiang di telinganya sumpah serapah wanita itu dulu saat Andika lebih memilih Thalia, selingkuhannya dan menceraikan Tamara.
“Kamu yakin?”
“Yakin om, info yang aku terima itu valid dan bisa dipercaya. Semenjak mami bergaul sama dia dan gank sosialitanya mami tuh berubah. Mami jadi haus pujian, memandang orang berdasarkan status, bersikap otoriter sama anak-anaknya. Aku, Ilan sama Ziel harus selalu nurut apa yang mami bilang. Bahkan papi ngga bisa berbuat apa-apa dan selalu aja mengalah sama mami.”
“Sejak kapan mami kamu temenan sama tante Tamara? Setahu om dari dulu mereka itu ngga dekat.”
“Udah setahun om. Tante Tamara itu mantan istrinya om Andika kan om?”
“Iya.”
“Apa om tahu kalau dia sekarang jadi perempuan simpanan Thomas Yudhistira, CEO Yudhistira Group? Tante Tamara juga punya simpenan berondong. Ily takut om kalau tante Tamara bermaksud jahat sama mami.”
“Kamu dapet dari mana semua info ini?”
“Dari Elang om. Dia minta Jayden, anaknya om Bimo buat nyari tahu semua informasi tentang tante Tamara. Dia curiga dalang dari semua ini justru tante Tamara bukan mami.”
__ADS_1
“Bener-bener titisan Irzal Ramadhan tuh anak. Eh, kamu ngga kepincut gitu sama Elang? Udah ganteng, pinter, calon penerus usaha bapaknya.”
“Dih, bisa bengek Ily kalau sama dia om. Udah kalo ngomong to the point, sekalinya ngomong suka bikin kuping sakit, WTS juga.”
“Apaan WTS?”
“Wajah Tanpa Senyum.”
“Huahaha bisa ae kang cendol,” Firly mencebik kesal mendengar ledekan omnya.
“Jadi gimana nih om?”
“Ya udah lusa om ke Bandung, nanti om coba bicara sama mami kamu. Om juga mau cari tahu dulu soal Tamara. Kalau benar dia bermaksud ngga baik sama mami dan kalian, om ngga akan segan-segan menyingkirkan dia.”
“Makasih ya om. By the way om Andika masih di London?”
“Iya, om juga masih bujuk dia buat balik ke Indo. Om udah pusing ngehandle kerjaan dia. Semenjak menikah dengan tante Thalia dia berubah. Dia lebih senang menghabiskan waktu bersama istri dan anak-anaknya dan ngga seambisius dulu lagi. Di satu sisi perubahannya itu membawa kebaikan, tapi di sisi lain bikin pusing om.”
“Hahaha.. sabar aja om. Bentar lagi kan bang Narendra bisa bantuin om di kantor,” celetuk Azriel yang sedari tadi hanya menjadi pendengar saja.
“Eh anak kecil, kamu ngga malu apa ikut ke sini belum mandi. Kamu ngaca ngga sebelum ikut kakak kamu?”
“Emang kenapa?”
“Astaga!”
Andra menepuk keningnya. Dia berdiri kemudian menarik Azriel, membawanya ke dinding kaca yang menjadi penyekat ruangan itu. Azriel terkejut melihat pantulan dirinya di kaca. Walaupun tidak terlalu jelas, tapi dia bisa melihat bagaimana caranya berpakaian.
“Ya ampun, jadi dari tadi gue pake baju kaya gini?”
“Baru nyadar lo!” sembur Firly.
“Hancur pesona gue!!”
🍁🍁🍁
**Ziel.. Ziel.. makanya kalo mau ikut ngaca dulu jangan main asal naik ke mobil aja. Untung ngga ileran 🤣🤣🤣
Oh iya mamake baru buat GC nih, namanya Ichageul. Buat yg mau nambah teman dan menjalin tali silaturahmi silahkan bergabung. Klik aja profilku terus klik grup chatnya.
Babang Ri masih dikelonin ma NT nih, harap bersabar ya..
Like..
Comment..
__ADS_1
Vote..
Thank you😘😘😘**