Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 3 : YOU ARE MY DESTINY My Angel


__ADS_3

Azkia merangsek maju, dengan sepenuh tenaga dia melayangkan pukulan ke tubuh Fandy. Gadis itu sudah seperti orang kesurupan, Fandy cukup terkejut dengan reaksi Azkia. Gadis itu terus saja melayangkan pukulan dan tendangan. Hampir saja aset berharganya terkena tendangan. Dengan kesal Fandy menarik tangan Azkia tapi gadis itu menggigit tangannya dengan kuat.


“Aaaagghhhh..... brengsek!”


PLAKK!!


Fandy menampar pipi Azkia hingga gadis itu terhuyung ke belakang. Dengan penuh amarah Fandy merangsek mendekati Azkia. Namun tiba-tiba seseorang menghalangi jalannya. Seorang pemuda berdiri di antara Azkia dan Fandy.


“Siapa lo?!! Minggir!!”


“Kalau gue ngga mau?”


“Mas El,” gumam Azkia.


“Cari mati lo!!”


Fandy yang sudah dirundung amarah segera maju dan melayangkan tinjunya ke wajah Elang. Tubuh pemuda itu terhuyung ke belakang. Belum sempat Elang berdiri tegak, Fandy menendangnya. Azkia memekik kencang melihat Elang jatuh tersungkur ke tanah.


“Mas El!!”


“Masih berani lo? Maju lo!! Sekalian gue kirim ke akherat lo!!”


Elang berdiri lalu menepuk-nepuk tangan yang terkena tanah. Disekanya darah yang keluar dari sudut bibirnya.


“Lo nyerang gue duluan, jadi apa yang gue lakuin setelah ini adalah pembelaan diri.”


“Banyak bacot lo!!”


“Az... tutup mata kamu,” Elang menatap Azkia. Gadis itu menuruti perkataan Elang. Dia segera menutup matanya.


Fandy kembali menyerang Elang tapi pemuda itu berhasil mengelak. Jika tadi Elang yang terkena pukulan dan tendangannya, tidak kali ini. Elang balas menghajar Fandy, bahkan lelaki itu menjadi bulan-bulanannya. Pukulan dan tendangan bertubi-tubi mendarat di tubuhnya. Wajah Fandy sudah tak berbentuk lagi namun Elang masih belum puas menghajarnya.


Fandy berusaha bangun setelah jatuh tersungkur. Tubuhnya tak mampu berdiri tegak. Elang loncat lalu memberikan tendangan salto padanya. Tak ayal tubuh Fandy terhempas, punggungnya membentur pohon di belakangnya. Terdengar erangan dari mulutnya. elang mendekat lalu menarik tangannya dan


KREK


“Aaaaagggghhhh....”


Fandy menjerit kesakitan ketika Elang memutar tangan kanannya hingga terdengar bunyi patahan tulang. Doni, orang yang diminta Elang menjaga Azkia saat dirinya pergi segera menghampiri untuk menghentikan tuannya itu. Elang yang masih belum puas, meraih tangan kiri Fandy, saat akan mematahkannya Doni datang.


“Mas Elang sudah mas..”


Doni menarik Elang menjauh dari Fandy. Elang melepaskan diri. Hampir saja dia akan melayangkan pukulan jika tak langsung mengenali kalau pria tersebut adalah Doni.


“Bawa dia ke rumah sakit.”


“Baik mas.”


Doni memapah Fandy yang sudah tak berdaya. Darah bercucuran dari hidung dan mulutnya. Elang melangkah mendekati Azkia yang masih memejamkan matanya.


“Az.. buka mata kamu.”


Mendengar suara Elang, Azkia membuka matanya. Netra keduanya saling bertubrukan. Melihat wajah pucat dan tubuh gemetar gadis itu, ingin rasanya Elang menarik Azkia dalam pelukannya.


“Kamu ngga apa-apa?”


“Mas El ngga apa-apa?” keduanya berbicara bersamaan.

__ADS_1


“Aku ngga apa-apa.”


“Fandy.. di mana dia?”


“Dia sudah dibawa ke rumah sakit. Ayo aku antar kamu pulang.”


Azkia mengikuti langkah Elang menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari taman. Sementara dibalik sebuah pohon sedari tadi seorang pria mengamati semua kejadian yang berlangsung. Pria itu adalah orang suruhan Irzal yang diminta mengawasi Elang. Semua kejadian di taman sudah direkam dan kirim pada Irzal. Tak lama ponsel pria itu berdering.


“Halo pak.”


“Di mana Elang sekarang?”


“Sepertinya mengantarkan Azkia pak.”


“Terus ikuti mereka dan minta salah seorang temanmu untuk mengecek keadaan Fandy ke rumah sakit. Laporkan pada saya langsung jika terjadi sesuatu.”


“Baik pak.”


Selesai menerima panggilan, pria berkepala plontos itu bergegas menuju motornya. Matanya masih bisa menangkap mobil yang dikendarai Elang baru saja keluar dari kompleks perumahan.


Mobil Elang melaju dengan kecepatan sedang. Baik Elang maupun Azkia masih sama-sama terdiam. Elang belum mau banyak bertanya karena takut gadis itu masih shock.


“Mas, makasih udah nolong aku. Tapi bagaimana mas tahu aku ada di sana?”


“Selama aku pergi, aku meminta seseorang untuk mengawasi dan menjagamu.”


Azkia menoleh pada Elang, menatapnya penuh haru. Hampir saja airmatanya menetes karena bahagia dan haru yang bercampur jadi satu. Azkia memalingkan wajahnya dan mengusap sudut matanya.


“Maaf kalau seminggu ini aku tidak mengabarimu. Aku cukup sibuk mengejar Mr. Miller. Dia itu seperti belut yang susah ditangkap. Aku kejar ke Singapura, ternyata dia sudah pergi ke Filipina. Aku susul ke sana, dia sudah pergi lagi. Akhirnya aku bisa ketemu juga sama dia di Paris.”


“Apa dia mau jadi investor mas?”


“Alhamdulillah.”


Ponsel Elang berdering, sekilas Elang melihat pada layar ponsel, tertera nama Doni di sana. Elang menepikan mobilnya baru kemudian menjawab panggilan.


“Halo.”


“Halo mas. Fandy sudah ditangani oleh dokter. Tapi orang tuanya sudah kemari dan ngamuk-ngamuk. Saya akan ikut mereka ke kantor polisi.”


“Ngapain kamu ikut ke kantor polisi? Yang bikin dia seperti itu saya. Suruh orang tuanya menunggu, saya akan ke rumah sakit.”


“Baik mas.”


Panggilan pun berakhir. Elang kembali melanjutkan perjalanan. Mendengar kata polisi, Azkia mulai cemas. Dia takut Elang akan berurusan dengan pihak berwajib gara-gara dirinya.


“Mas mau ke rumah sakit?”


“Iya, tapi aku anterin kamu dulu.”


“Aku mau ikut mas.”


“Kamu yakin?”


“Iya.”


Elang menuruti keinginan Azkia. Dia segera melajukan kendaraannya menuju rumah sakit. Elang sengaja menambah kecepatan mobilnya karena khawatir orang tua Fandy akan membawa Doni ke kantor polisi.

__ADS_1


Sesampainya di rumah sakit, Elang langsung menemui Doni yang masih berada di UGD. Melihat Elang, Doni segera menghampiri. Reyhan yang tadi ikut menangani Fandy menyusul Doni menemui Elang.


“Bagaimana keadaannya?” tanya Elang pada Doni.


“Buruk. Empat tulang rusuknya patah, pergelangan tangan kanan dan hidungnya juga patah. Belum lagi luka memar di sekujur tubuh dan wajah. Bibirnya sobek dan dua giginya terlepas. Itu hasil karyamu mas?” bukan Doni tapi Reyhan yang menjawabnya.


Azkia ternganga mendengar penuturan Reyhan sedangkan Elang terlihat santai saja. Dia menjawab pertanyaan Reyhan hanya dengan gendikan di bahunya. Reyhan menepuk keningnya lalu meninggalkan ketiga orang tersebut.


“Mas, keadaannya parah banget.”


“Itu ngga sebanding dengan apa yang udah dia lakuin sama kamu.”


“Kenapa mas matahin tangannya?”


“Karena tangan itu udah berani nampar kamu.”


Entah apa yang harus Azkia rasakan sekarang. Melihat bagaimana Elang membalas Fandy atas perbuatannya membuat gadis itu bergidik. Tapi ada kepuasan tersendiri dalam hatinya melihat keadaan Fandy yang seperti itu.


“Siapa orang yang sudah membuat anak saya terluka?” seorang pria paruh baya datang mengahampiri Doni dan Elang juga Azkia.


“Saya,” jawab Elang tenang.


“Kamu... bukannya kamu anak Irzal Ramadhan? Ada masalah apa kamu sama anak saya sampai kamu melukai seperti itu?”


“Dia sudah melakukan banyak kesalahan.”


“Cih.. jangan karena kamu anak Irzal, saya akan melepaskanmu. Saya akan membuatmu mendekam dalam penjara, ingat itu!! Ma, hubungi pengacara kita. Dan kamu!!! Jangan berpikir untuk pergi!!”


“Saya akan tunggu.”


Ayah Fandy nampak geram, terlebih tak ada kata maaf atau raut penyesalan dari Elang. Pemuda itu nampak santai, dia mengajak Azkia duduk di salah satu bangku. Azkia mulai merasa gelisah, ancaman ayah Fandy benar-benar membuatnya takut.


Azkia bangun dari duduknya lalu menuju toilet. Dibasuhnya tangan serta wajahnya. Tangannya sedikit bergetar, beberapa kali gadis itu menarik nafas panjang untuk menenangkan dirinya. Setelah merasa sedikit baikan, Azkia keluar dari toilet. Tak sengaja dia mendengar ayah Fandy sedang melakukan panggilan pada beberapa orang. Azkia berdiri tak jauh darinya untuk menguping pembicaraan.


Dada Azkia berdegup kencang saat mengetahui ayah Fandy melakukan panggilan pada orang-orang penting di jajaran kepolisan dan kejaksaan, meminta mereka untuk menjebloskan Elang ke penjara. Tak ingin sesuatu terjadi pada Elang, Azkia memberanikan diri menghampiri ayah Fandy.


“Maaf pak.”


“Ada apa?”


“Semua yang terjadi pada Fandy karena saya. Mas Elang tidak bersalah, dia melakukannya untuk menolong saya. Anak bapak sudah melecehkan saya tiga tahun yang lalu dan tadi dia juga akan melakukan hal yang sama pada saya. Kalau bapak berniat melaporkan mas Elang ke polisi, maka saya juga akan melaporkan Fandy atas pelecehan seksual.”


“Kamu mengancam saya? Dasar anak bau kencur. Kejadian pelecehan itu sudah tiga tahun berlalu dan tidak ada bukti atau saksi akan itu.”


“Bagaimana kalau saya punya buktinya? Bukti dia melakukan pelecehan seksual terekam jelas, baik Fandy atau saya memiliki rekaman videonya. Itu adalah bukti kuat untuk menjebloskan Fandy ke dalam penjara.”


“Baik lakukan saja, saya akan membela anak saya bagaimana pun caranya. Tapi kamu, apa kamu sanggup jika video itu diputar di ruang persidangan?”


“Hidup saya sudah hancur karena anak bapak. Mengalami kehancuran sekali lagi tidak ada bedanya untuk saya. Asalkan bisa menyeretnya ke penjara, apapun akan saya lakukan.”


Azkia sudah tidak bisa berpikir jernih, ketakutannya akan kebebasan Elang membuatnya nekad melakukan itu semua.


🍁🍁🍁


**Ampun mas El, itu si Fandy udah kaya perkedel😂


Gimana kalian puas dengan pembalasan mas El untuk Fandy? Komennya ya gaaaeesss

__ADS_1


Jangan lupa juga buat like dan kirim votenya kalau belum terpakai😉


Selamat beraktivitas😎**


__ADS_2