
Jantung Ayunda berdegup kencang ketika kakinya memasuki lobi Gala Corp. Sejatinya ini bukan pertama kali baginya datang ke kantor Ega. Tapi perasaan yang dimilikinya pada Firlan yang membuat debaran di dadanya tak berhenti bertalu. Setelah berbicara dengan resepsionis dan memperoleh name tag, Ayunda segera menuju lift.
Lift yang dinaiki Ayunda berhenti di lantai 8, divisi tempatnya magang. Selama magang, Ayunda akan membantu di divisi Public Relations, sesuai dengan jurusan kuliah yang diambilnya. Sudah ada tiga anak magang lainnya yang tiba lebih dulu darinya. Dua perempuan dan satu laki-laki. Ayunda melemparkan senyum ke arah ketiganya lalu bergabung bersama mereka.
Lima menit kemudian, pak Syamsir, sang manager humas, meminta keempat pemagang masuk ke ruangannya. Usia Syamsir belum terlalu tua, baru menjelang tiga puluh, ditambah wajah tampannya membuat dua pemagang perempuan tak henti memandang wajahnya.
Syamsir menjelaskan apa saja yang harus dilakukan oleh para pemagang. Masing-masing anak magang akan didampingi satu supervisor yang akan mengevaluasi dan memberi penilaian harian. Jika kinerja mereka bagus, bukan tidak mungkin perusahaan akan merekrut mereka. Setelah selesai menyampaikan pengarahan, Syamsir meminta mereka menuju tempat masing-masing kecuali Ayunda.
Ayunda memandangi ketiga teman magangnya meninggalkan ruangan satu per satu. Setelah ketiganya pergi, Syamsir mengarahkan pandangannya pada Ayunda. Gadis yang ada di hadapannya ini memang cantik. Hati Syamsir berdesir ketika beradu pandang dengan gadis itu. Tapi begitu mengingat jati diri Ayunda, Syamsir berusaha menahan diri.
Gara sudah memberitahu secara detil siapa Ayunda sebenarnya. Mengetahui kalau Ayunda adalah adik dari Elang, membuat Syamsir memilih mencari aman. Dia pun harus ekstra ketat menjaga gadis ini dari godaan pegawai laki-laki di divisinya. Jika tidak, bukan hanya Elang, Gara bahkan Firlan bisa menghabisinya.
“Ayunda, kamu akan bertugas di bagian promosi. Kamu akan membantu tim 2 merancang promosi untuk resort terbaru kita di daerah Lembang. Nanti Safira yang akan membimbing kamu. Tapi nantinya semua hasil evaluasi dan penilaian kamu akan dinilai sendiri oleh pak Anggara. Tim dua akan lebih banyak berhubungan langsung dengan wakil CEO, pak Firlan. Jadi, saya harap kinerja kamu memuaskan.”
“Saya akan berusaha semampu saya pak.”
“Ok, sekarang kamu ke lantai enam belas. Pak Anggara sudah menunggumu di ruangannya.”
“Baik pak, saya permisi.”
Ayunda segera keluar dari ruangan kemudian menuju lantai enam belas. Bunyi suara berdenting disusul pintu terbuka, menandakan kotak besi itu sudah sampai di lantai enam belas. Ayunda keluar lalu menuju ruangan Gara. Dia sudah hafal di mana letak ruang kerja tunangan sepupunya itu. Siska yang juga mengenali Ayunda segera mempersilahkan gadis itu masuk ke ruangan atasannya.
“Selamat pagi pak Anggara,” sapa Ayunda ketika membuka pintu. Gara mendongakkan kepalanya begitu mendengar suara menyapanya. Ayunda duduk di depan meja kerja Gara.
“Gimana? Udah siap magang?”
“In Syaa Allah pak.”
“Dih gatel kuping aku dipanggil bapak.”
Ayunda tertawa kecil. Sejenak Gara memperhatikan Ayunda, penampilan Ayunda yang sekarang sudah terbalut hijab membuatnya bertambah cantik. Sejak setahun lalu Ayunda memang sudah menutupi kepalanya dengan hijab, sesuai janjinya pada sang ayah. Dia tidak mau digunduli oleh Irzal karena tahu ancaman ayahnya tidak main-main.
“Kata pak Syamsir, nanti yang evaluasi sama nilai kinerjaku itu bang Gara?”
“Iya. Gimana pak Syamsir? Dia baik kan? Ngga macem-macem sama kamu?”
“Pak Syamsir baik kok. Jangan-jangan dia tahu soal aku ya?”
“Ya iyalah. Kamu pikir tuh raja hutan bisa dengan gampang ngelepas kamu magang di sini? Jaminannya nyawaku Yun.”
“Lebay.”
“Tadi pagi aku juga kena omel Ilan.”
“Kenapa?”
“Dia marah gara-gara ngga ngasih tahu soal kamu magang di sini.”
__ADS_1
“Emang bang Ilan ngga tau?”
“Ngga lah, biar surprise tadinya. Eh btw dia sekarang rapih loh, tuh jenggot sama kumis udah dicukur. Kayanya gara-gara dia tahu soal magangnya kamu.”
“Ish.. bang Gara jangan bikin aku geer.”
“Ini feeling aku. Aku tuh udah lama kenal Ilan. Kayanya dia tahu deh kamu suka sama dia.”
“Masa? Ya ampun mau taruh di mana muka aku,” Ayunda menutup wajah dengan kedua tangannya. Gara terkekeh melihat wajah panik Ayunda.
“Jangan-jangan si Ziel yang bocorin.”
“Ngga mungkin Ziel. Kalau dia mau, dari dulu dia udah bocorin. Kayanya Ily deh. Dia beberapa kali ngeluh soal Ilan. Semenjak putus sama si geblek Salsa, Ilan tuh kacau banget. Mudah-mudahan kamu bisa mengembalikannya ke jalan yang benar ya Yun.”
“Emangnya Yunda GPS.”
“Hahaha.. ayo kita ke ruangan Ilan. Dari tadi dia mondar-mandir mulu kaya setrikaan. Kayanya ngga sabar pengen ketemu sama kamu. Padahal rumah juga sebelahan, lebay banget tuh orang.”
Gara terus nyerocos sepanjang perjalanan menuju ruangan Ilan yang jaraknya hanya beberapa meter saja tanpa mempedulikan wajah Ayunda yang sudah memerah. Sesampainya di depan pintu, Gara mengetuk sebentar lalu membuka pintu. Dada Ayunda berdegup kencang ketika kakinya melangkah masuk mengikuti Gara.
“Pak, ini anak magang yang gabung di tim 2 udah dateng. Ayunda, kenalkan ini pak Firlan. Beliau nanti yang akan bertanggung jawab terhadap kinerja tim 2, tempat kamu magang.”
“Selamat pagi pak, kenalkan saya Ayunda Chana. Mulai hari ini saya bertugas di divisi humas, untuk diperbantukan di tim 2.”
“Ramadhannya mana?” bisik Gara.
Gara tergelak mendengar jawaban absurd gadis itu. Ayunda memang sengaja menanggalkan kata Ramadhan di belakang namanya selama magang. Firlan pun ikutan tersenyum mendengarnya. Matanya menatap lurus ke arah Ayunda. Dapat dirasakan dadanya berdesir ketika beradu pandang dengan gadis itu. Sejak Firly mengatakan Ayunda memiliki rasa padanya. Perasaan Firlan pun turut berubah.
“Ngga usah terlalu formal Yun. Kalau di ruangan ini, panggil seperti biasa aja. Lagian semua yang ada di lantai ini juga udah tahu kamu.”
“Siap.”
“Sekarang kamu kembali ke ruangan aja. Tapi nanti makan siang di sini ya, bareng abang.”
“EHEM!!”
Gara berdehem kencang, membuat pipi Ayunda merona. Firlan pun jadi sedikit salah tingkah. Buru-buru Ayunda pamit pergi. Gara memandangi sahabatnya yang wajahnya jauh lebih cerah setelah bertemu Ayunda.
“Roman-romannya ada yang siap move on nih.”
“Paan sih.”
“Gue dukung elo bro. Udah saatnya lo lupain si Salsa. Yunda itu gadis yang baik. Terus kalau lo jadi sama dia, cita-cita papi yang pengen besanan sama ayah Irzal bakal terkabul hahaha..”
“Rese lo! Sana balik kerja.”
Firlan mendorong tubuh Gara keluar dari ruangannya. Gara masih belum bisa menghentikan tawanya. Sudut hatinya berdoa semoga saja sahabatnya itu berjodoh dengan Ayunda. Sudah terlalu lama Firlan tersakiti hatinya oleh sikap egois Salsa.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Tak terasa sudah lima hari lamanya Ayunda magang di kantor Firlan. Setiap harinya Firlan mengajak gadis itu makan siang di ruangannya. Perasaan Ayunda tentu saja semakin subur berkembang melihat sikap Firlan padanya. Perjuangan yang dikiranya akan terasa sulit dan melelahkan ternyata jauh lebih mudah. Sepertinya dia harus berterima kasih pada sang tante, alias Firly.
Seusai shalat Jum’at, Firlan kembali ke ruangannya bersama dengan Gara. Sahabatnya itu memang kerap menjadi obat nyamuk di antara Firlan dan Ayunda. Semua itu dilakukannya lagi-lagi atas perintah sang raja hutan. Elang tak ingin adiknya hanya berduaan saja dengan Firlan di dalam ruangan.
Sesampainya di ruangan, mereka melihat Ayunda sudah berada di sana. Meja sofa pun sudah disulap menjadi meja makan. Beberapa masakan tersedia di atasnya, salah satunya makanan kesukaan Firlan, iga asam manis.
“Widih menunya asoy geboy nih. Kamu pesan di mana?”
“Enak aja, Yunda bikin sendiri tahu. Demi kesejahteraan perut kalian berdua, Yunda bela-belain bangun jam empat pagi terus masak ini semua.”
“Ini iga asam manis juga buatan kamu Yun?” tanya Firlan.
“Iya bang. Aku nanya resepnya sama om Dimas. Tapi jangan diledek ya kalau hasilnya ngga seenak masakan om Dimas.”
Firlan tersenyum senang. Dia menggulung lengan kemeja sampai ke siku lalu menuju wastafel untuk mencuci tangan. Ayunda dengan sigap mengambilkan nasi beserta lauknya untuk Firlan.
“Makasih,” Firlan mendudukkan dirinya di samping Ayunda.
Tanpa dipersilahkan, Gara langsung mengambil makanan untuknya. Dia berkhayal kalau Nara yang menyiapkan ini semua untuknya. Firlan mulai memakan iga asam manis kesukaannya, walau rasa masakannya masih kalah enak dari Salsa, tapi mengingat bagaimana gadis itu berusaha keras memasak untuk dirinya membuat hatinya menghangat.
Sambil makan, Firlan memperhatikan Ayunda dari arah samping. Ayunda memang cantik, seiring bertambahnya usia, kecantikan Ayunda semakin terlihat. Bahkan Firlan mengakui kalau Salsa kalah jauh dibanding gadis itu. Firlan menyesal kenapa selama itu tenggelam dalam kesedihan hingga tak melihat berlian yang berkilauan di dekatnya.
“Yun, sabtu besok kamu ada acara ngga? Kita nonton yuk.”
“Hmm.. aku harus jadi baby sitter-nya Aslan. Ngga sendirian sih, kak Rey janji mau nemenin juga.”
“Ya udah bang Ilan temenin juga. Kita ajak Aslan ke tempat bermain aja, gimana?”
“Hmm.. boleh-boleh. Apalagi kalau sekalian ajak Gavin, pasti tambah seru.”
“Besok om Dimas sekeluarga mau liburan di vila katanya.”
“Yaah.. ajak Nanaz aja gimana?”
“Kamu bilang aja sama Rey nanti.”
“Iya deh.”
Mata Ayunda nampak berbinar, membayangkan mengasuh keponakannya bersama dengan pria yang dicintainya pasti akan sangat menyenangkan. Belum lagi ada Reyhan yang cekatan dalam mengurus anak kecil. Aslan juga sangat dekat dengannya. Akhir pekan ini sepertinya akan mengasikkan.
🍁🍁🍁
**Ilan gercep juga nih, ayo Rey jangan jalan di tempat aja, buruan gerak...
Kalian juga buruan gerak buat tinggalin jejaknya, like, comment, vote😉**
__ADS_1