
Tak berapa jauh dari kedai sate padang uda Chaniago, di sebuah perempatan nampak seorang perempuan muda tengah berlari menghindari kejaran beberapa orang. Kemeja yang dikenakannya sudah tak berbentuk lagi, robek di sana sini. Kakinya pun sudah tak beralas. Dengan sisa-sisa tenaganya, gadis itu berlari menyusuri jalanan yang gelap dan sepi. Waktu memang sudah menunjukkan pukul 22.30.
Gadis yang tengah berlari sambil berurai airmata adalah Azkia. Dia yang pernah menjadi pagar ayu di pernikahan Dimas dan Firly. Karena ulah bapaknya yang senang berjudi dan terlibat hutang besar, dia dijadikan tumbal untuk membayar hutang sang bapak pada seorang rentenir. Hampir saja gadis itu kehilangan miliknya yang berharga di tangan sang rentenir. Lewat tindakan nekadnya memukul kepala pria itu dengan botol kosong, dia berhasil melarikan diri. Namun kini anak buah rentenir tersebut sedang mengejarnya.
Beberapa kali kepala Azkia menoleh ke belakang untuk melihat para pengejarnya. Karena kurang berhati-hati, kakinya tersandung polisi tidur. Tak ayal tubuhnya langsung jatuh terguling. Dengan terseok-seok Azkia berusaha bangun dan meneruskan larinya. Malang, salah seorang pengejarnya berhasil menangkapnya. Sebisa mungkin Azkia memberontak, digigitnya pergelangan tangan pria yang menangkapnya hingga menjerit kesakitan dan melepaskan pegangannya.
Azkia kembali berlari, namun tangan itu berhasil menarik rambutnya. Dia memekik kesakitan lalu tubuhnya terdorong ke trotoar. Telapak tangannya terluka setelah bergesekan dengan paving block. Lelaki yang mengejarnya mendekat lalu mencengkeram rahangnya dengan kuat.
“Gadis tidak tahu diri, berani-beraninya kamu melukai bos kami. Rasakan ini!!”
Lelaki itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Azkia memejamkan matanya, pasrah saja apa yang akan menimpa dirinya.
BUGH
Azkia merasakan cengkeraman di tangannya terlepas diiringi suara terjatuh. Perlahan dia membuka matanya. Tampak lelaki tadi sudah jatuh tersungkur tak jauh darinya. Temannya yang lain juga sudah terkapar tak berdaya. Lelaki itu mencoba bangun tapi sebuah tendangan keras kembali mendarat di tubuhnya membuatnya pingsan seketika.
Azkia memandangi orang yang telah menolongnya. Cahaya temaram di tempat itu membuatnya kesulitan melihat wajah dewa penolongnya. Tampak pemuda itu mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang, kemudian melangkah ke arahnya. Pemuda itu berjongkok tepat di depan Azkia. Dia melepas jaketnya lalu memakaikannya ke tubuh Azkia.
Azkia tertegun melihat dewa penolongnya. Dia adalah Elang, pemuda tampan yang dilihatnya di pesta pernikahan Dimas dan Firly.
“Kamu ngga apa-apa?” suara baritonnya menyadarkan lamunan Azkia, namun gadis itu hanya diam membeku.
Sebuah cahaya lampu menyorot pada mereka ketika sebuah mobil berhenti tak jauh darinya. Beberapa orang keluar dari dalamnya lalu berjalan mendekati Elang. Azkia nampak ketakutan, wajahnya begitu pucat.
“Jangan takut, mereka bukan orang jahat,” Elang menenangkan.
“Mas El ngga apa-apa?” tanya seorang pria yang datang. Dia adalah salah satu anak buah Bara, orang kepercayaan Irzal.
“Aku ngga apa-apa. Tolong bawa dua orang itu ke kantor polisi dan pastikan dia buka mulut soal siapa yang menyuruhnya, seret juga dalangnya ke penjara.”
“Baik mas.”
Dua orang yang terkapar itu segera dibawa masuk ke dalam mobil. Setelah mereka pergi, Elang kembali menghampiri Azkia yang masih terduduk di atas trotoar.
“Ayo aku antar pulang.”
Perlahan Azkia berusaha bangun. Namun karena peristiwa mengejutkan yang baru saja terjadi, dia seperti kehilangan tenaga. Tubuhnya terhuyung seperti akan terjatuh, refleks Elang memegang bahu gadis itu untuk menjaga keseimbangannya. Dada Elang berdesir saat tangannya menyentuh bahu yang tertutup jaket itu. Itu adalah sentuhan pertamanya pada lawan jenis yang bukan muhrimnya. Dengan cepat dia melepaskan pegangannya.
__ADS_1
“Ayo.”
Elang berjalan menuju mobilnya diikuti Azkia. Dia membukakan pintu untuk Azkia lalu memutari badan mobil dan duduk di belakang kemudi. Azkia mendesis ketika menarik tali sabuk pengaman karena luka di telapak tangannya bergesekan dengan tali tersebut. Elang membantu memakaikan seat belt ke tubuh Azkia, membuat posisi mereka kembali berdekatan. Jantung Azkia seakan berhenti berdetak, berbeda dengan Elang yang berdebar-debar.
“Tangan kamu terluka?”
Elang menanyakan perihal tangan Azkia yang sebenarnya tanpa bertanya dapat dilihat kalau terluka. Hal itu hanya untuk menghilangkan kegugupannya.
“Cuma luka sedikit.”
Elang tak berbicara lagi, dia mengambil kotak P3K yang berada di laci dashboard lalu memberikan kapas dan alkohol pada Azkia.
“Bersihkan dulu lukamu.”
Azkia melakukan apa yang dikatakan Elang. Sambil menahan nyeri dia membersihkan luka di telapak tangannya. Kemudian Elang mengambil band aid dan menempelkannya pada bagian yang terluka dengan hati-hati agar kulit mereka tidak bersentuhan.
“Terima kasih.”
“Hmm.. rumahmu di mana?” Elang meletakkan kembali kotak P3K ke tempat semula.
“Di dekat pasar Ancol.”
“Tolong berhenti di depan sana,” Azkia menunjuk jalan di depan sebuah gang. Elang pun menghentikan kendaraannya.
“Rumahmu yang mana?”
“Masuk ke dalam gang. Terima kasih kak, kalau tidak ada kakak entah bagaimana nasib saya,” Azkia hendak melepaskan jaket Elang.
“Pakai saja jaket itu, jangan dilepas. Apa rumahmu jauh dari mulut gang?”
“Lumayan, sekitar 300 meter.”
“Aku antar.”
Elang segera turun dari mobil disusul oleh Azkia. Berdua mereka menyusuri jalanan gang yang sudah sepi. Tak ada pembicaraan di antara keduanya, hanya sibuk dengan pikirannya masing-masing. Langkah Azkia terhenti di sebuah rumah kecil tak berpagar. Kondisi rumah sudah temaram, pertanda semua penghuni rumah sudah tertidur.
“Sudah sampai kak. Sekali lagi terima kasih. Jaketnya...”
__ADS_1
“Untukmu saja. Masuklah, aku pulang. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Elang beranjak pergi meninggalkan Azkia yang masih terpaku memandangi kepergian pemuda itu sampai hilang di ujung jalan. Tanpa Elang sadari, dia telah membawa hati gadis itu pergi bersamanya.
Tepat pukul setengah dua belas malam Elang sampai di kediaman Dimas. Di teras Firly yang sudah terbayang sate padang favoritnya tengah menunggunya ditemani sang suami. Dengan wajah cemberut dia menyambut kedatangan Elang.
“Biasa aja tuh muka jangan dibikin jelek gitu,” Elang menyerahkan dua bungkus sate padang pada Firly.
“Lama banget sih, lo belinya di planet pluto ya,” sembur Firly.
“Pluto bukan planet pea!”
“Bodo!! Ngga sopan lo sama tante sendiri!”
“Bodo!!”
“Udah sayang. Yang penting satenya udah dapet kan. Makasih ya El, maaf om ngerepotin kamu malem-malem,” Dimas segera melerai perdebatan unfaedah kedua orang tersebut.
“Iya ngga apa-apa om. Aku pulang dulu, assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Elang kembali ke mobilnya lalu meluncur pergi. Dimas merangkul Firly masuk ke dalam rumah. Tanpa berlama-lama, Firly segera memindahkan sate berbumbu kuning itu ke dalam piring lalu menyantapnya dengan lahap.
🍁🍁🍁
**Hmmm... ternyata Azkia perempuan pertama yang disentuh El. Berarti Elang masih Gress bin volos ya, belum terkontaminasi dan masih terjaga kemurniannya😂
Ily jangan ngegas mulu Ama Elang, makasih kek udah dibeliin sate Padang😊
Ayo ritualnya jangan lupa ya. Ritual kalian itu dukungan buat mamake biar tambah semangat buat up tiap hari😉
Like..
Comment..
__ADS_1
Vote..
See you next chapter😎**