Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 1 : DEAR UNCLE Jailangkung


__ADS_3

Jam sebelas Radja sudah berada di rumah Firly. Dia benar-benar menjalankan rencananya pergi berdua dengan Firly. Kedatangannya disambut sumringah oleh Alea. Dia bergegas memanggil Firly. Dengan malas gadis itu menuruni anak tangga. Radja tak melepaskan pandangannya dari Firly. Walau hanya terbalut kaos dan jeans serta make up tipis, namun penampilan Firly sungguh mempesona. Keduanya berpamitan pada Alea lalu pergi menggunakan mobil Radja.


“Kita mau kemana Ly?”


“Nonton aja gimana? Tapi sebelumnya makan dulu ya, aku laper.”


Radja hanya mengangguk, dia mengarahkan kendaraannya menuju mall The Ocean. Lima belas menit kemudian mereka sampai. Firly mengajak Radja makan di cafe langganannya. Tanpa lama Firly langsung memesan makanan favoritnya begitu pula dengan Radja. Saat sedang menunggu pesanan, dua orang yang Firly kenal masuk ke dalam cafe.


“Wah ada pengacau,” gumam Firly pelan namun masih bisa didengar oleh Radja.


“Siapa Ly?” Radja mengikuti arah pandangan Firly. Nampak dua orang seumurannya masuk ke dalam cafe.


“Temen gue, mudah-mudahan aja mereka ngga lihat,” Firly berusaha menutupi wajahnya dengan buku menu namun naas kedua orang tersebut terlebih dulu melihatnya.


“Ily!”


Firly hanya nyengir kuda melihat ke arah dua orang yang dihindarinya itu. Mereka yang tak lain adalah Rain dan Gara segera menghampiri Firly.


“Lo ngapain di sini Ly?” tanya Gara.


“Boker,” jawab Firly asal yang langsung mendapat toyoran dari Gara. Kemudian dia melirik pada Radja.


“Pacar lo Ly?”


“Bukan.”


“Yang bener?” Gara menatap Radja penuh selidik. Karena tak enak hati, Radja langsung memperkenalkan diri.


“Gue Radja, temennya Firly.”


“Gara, dan ini Rain,” Gara ikut memperkenalkan diri. Kemudian tanpa ijin dia menarik kursi di samping Radja.


“Kita ikutan makan di sini ya. Pamali kalau kalian berduaan, nanti ada setan.”


“Iya, elo setannya!”


Gara tergelak, tak mempedulikan tatapan horor Firly. Dia melambaikan tangannya pada waiter untuk memesan makanan. Sambil menunggu makanan, Gara yang sok akrab langsung saja memulai pembicaraan dengan Radja. Bahkan dia tak sungkan-sungkan membuka aib Firly di depan Radja.


“Sumpah ya Gar, mulut lo pengen gue sumpel pake kain pel ya!”


“Hahaha.. biasa aja kali Ly. Dja, lo yang sabar ya ngadepin cewe sengklek kaya dia. Yang udah-udah cowo yang kuat jalan sama dia ngga lebih dari seminggu hahaha.”


“Dasar teman durjana!”

__ADS_1


Radja tak bisa menahan tawanya, walaupun dia kesal momen berduaannya terganggu tapi di sisi lain dia senang bisa tahu lebih banyak tentang gadis yang disukainya itu. Pelayan datang membawakan pesanan, membuat pembicaraan mereka terjeda. Setelah semua pesanan tersaji di meja, pelayan itu segera pergi. Keempat orang itu segera melahap makanannya dengan diselingi pembicaraan tentunya.


Setelah puas mempermalukannya di hadapan Radja, dengan tidak tahu malunya Gara meminta Radja membayarkan makanannya juga Rain. Firly melarangnya namun karena gengsi Radja yang tinggi dia mengiyakan saja permintaan Gara. Beruntung setelah makan Gara dan Rain tak mengikutinya ke bioskop. Mereka berpisah sekeluarnya dari cafe.


“Dja, sorry ya temen gue emang rese. Nanti gue ganti deh uangnya.”


“Ya ampun Ly biasa aja kali. Lagian harga yang gue bayar ngga seberapa kok.”


Sombong, itulah yang ada dalam bayangan Firly tentang lelaki di sebelahnya. Tagihan yang harus dia bayar tadi hampir tujuh ratus ribu. Gara dan Rain memesan makanan yang paling mahal di cafe itu, ditambah pesanan untuk dibawa pulang.


“Beneran gue jadi ngga enak.”


“Dibuat enak aja Ly. Lagian gue suka kok sama temen lo itu.”


Radja memamerkan senyum manisnya membuat Firly ingin muntah. Mereka akhirnya tiba di bioskop. Suasana siang ini cukup ramai, Firly melihat-lihat poster film yang terpajang, menimbang-nimbang film apa yang akan ditontonnya. Tiba-tiba ada tepukan di bahunya, Firly menoleh.


“Lo ngapain di sini? Bukannya lagi latihan?” mata Firly membulat melihat Azriel berada di depannya sambil cengar-cengir. Di belakangnya berdiri dua sahabatnya, Yunda dan Nara.


“Gue kabur dari mami tadi hehehe.. jangan bilang-bilang sama mami ya.”


“Kabur aja sempet-sempetnya bawa gank,” Firly menunjuk Yunda dan Nara.


“Kak Radja mau nonton sama kak Ily?”


“Iya.”


“Ngga ada! Sana balik lo, atau jalan-jalan aja yang penting ngga gangguin gue!” sentak Firly. Tapi bukan Azriel namanya kalau menyerah, dia terus merengek pada Radja. Dan Radja pun tak kuasa menolak permintaan Azriel. Mana berani dia menolak calon adik iparnya itu.


Trio ubur-ubur bersorak senang saat Radja mengiyakan, bersama Azriel dia membeli tiket setelah sepakat akan judul film yang akan ditonton. Setelah membeli tiket, Azriel meminta Radja membelikan camilan juga minuman. Lagi-lagi Radja tak menolaknya, trio ubur-ubur dengan senang hati memborong beberapa camilan untuk teman menonton. Firly mengeluarkan kartunya untuk membayar jajanan adiknya tapi dilarang oleh Radja. Dengan cepat lelaki itu menyerahkan kartu debitnya.


Terdengar panggilan untuk para penonton yang mengingatkan kalau pertunjukkan akan segera dimulai. Firly, Radja plus trio ubur-ubur bergegas masuk ke dalam bioskop. Mereka berjalan menuju kursi yang sesuai dengan tiketnya. Tanpa rasa bersalah Azriel segera duduk di antara Firly juga Radja.


“Ziel, pindah ngga?”


“Ngga! Inget kata papi, lo belum boleh berduaan dulu sama cowo.”


“Ck.. yaelah papi ngga di sini!”


“Mau gue bilangin? Atau gue perlu video call sama papi?”


Sambil mendengus kesal, Firly duduk di samping Ziel, begitu pula dengan Radja. Sepertinya pemuda itu harus banyak bersabar, hari ini momen berduanya dengan Firly harus berantakan karena kedatangan para jailangkung.


Sesekali Radja melihat ke arah Firly. Nampak gadis itu berteriak ketakutan saat melihat adegan menyeramkan di film. Dia memeluk lengan Azriel dan menyembunyikan wajahnya di bahu bocah tengil itu. Radja menghembuskan nafas kasar, seharusnya dia yang menerima pelukan itu, bukan Azriel. Saat Firly memilih genre horor, Radja bersorak senang dalam hatinya berharap bisa mencuri kesempatan untuk menyentuh gadis itu. Namun kenyataan lain dari harapan. Kini Radja hanya bisa menelan ludahnya, semua gara-gara bocah tengil yang sialnya adalah adik dari Firly.

__ADS_1


Pertunjukan film pun usai. Bersama penonton lain mereka keluar dari bioskop. Setelah mengucapkan terima kasih pada Radja, trio ubur-ubur langsung pamit mundur. Mereka bermaksud melanjutkan acara hang out mereka.


“Sekarang kita mau kemana lagi Ly?”


“Pulang aja, bete gue. Gue takut ada pengganggu lagi.”


Walaupun tak rela Radja menuruti saja kemauan Firly untuk pulang. Kini mereka sudah berada di mobilnya menuju arah pulang. Firly melihat pada Radja sekilas, lelaki itu menatap lurus ke depan namun wajahnya menunjukkan kekesalan.


“Hmm.. Dja, sorry ya acara nonton kita kacau gara-gara Ziel.”


“Ngga apa-apa kok, tenang aja.”


“Gimana kalau sabtu ini kita dinner? Gue yang traktir deh, anggap aja permintaan maaf gue udah bikin acara kita kacau hari ini.”


“Dinner nya boleh tapi aku yang bayarin.”


“No.. no.. no.. gue yang bayar, please....”


“Ya udah deh terserah kamu aja. Kita dinner di mana?”


“Di La Premiere gimana? Tapi jangan bilang sama mama kamu. Takutnya mama kamu bilang ke mami aku, terus mami heboh dan ujung-ujungnya si biang kerok tahu rencana kita dan bikin kacau lagi.”


“Ok, aku jemput jam berapa?”


“Jangan jemput, kita ketemu aja di sana. Kalau jemput ke rumah nanti si Ziel tahu.”


“Oh bener juga. Kita ketemu di sana jam tujuh.”


“Ok.”


Firly tersenyum senang, begitu pula dengan Radja. Tanpa pemuda itu tahu, semua yang terjadi pada hari ini adalah rencana Firly dengan para sahabatnya.


🍁🍁🍁


**Itu namanya buaya dikadalin😂


Semangat ya Ily, ayo buat ilfill Radja biar kamu bisa sama om Dimas.


Jangan lupa ya ritualnya gaaesss


Like..


Comment..

__ADS_1


Vote..


Luv you😍**


__ADS_2