
Firlan bangun dari tidurnya kemudian keluar dari kamar untuk mengambil air minum. Setelah shalat shubuh, dia memang kembali tidur dan baru saja bangun lima belas menit yang lalu. Setelah membatalkan pernikahan, Firlan memilih bekerja lembur dan tinggal di apartemen. Semua dilakukan untuk mengalihkan rasa sakitnya.
Satu gelas air putih masuk ke kerongkongannya. Terdengar nyanyian dari dalam perutnya. Dibukanya kulkas, Alea sudah mengisi kulkas dengan berbagai bahan makanan. Sayannya Firlan tidak bisa masak, maka dia memilih menelpon kitchen hotel The Ocean. Dia meminta salah seorang staf dapur datang ke unit apartemennya dan memasak untuknya.
Farel menghempaskan tubuhnya di sofa. Diambilnya remote yang terletak di meja samping sofa. Tangannya bergerak memencet tombol pada remote. Seketika layar lebar di depannya menyala. Berita pertama yang dilihat adalah kemenangan sang adik. Azriel dikabarkan kembali menjuarai turnamen Denmark Open. Ini semakin mengukuhkan dirinya di posisi puncak, disusul pemain China, Korea, Denmark dan Jepang.
Firlan tersenyum melihat kesuksesan Azriel. Kerja keras Azriel semenjak di bangku SD berbuah manis saat ini. Firlan meraih ponselnya lalu mengirimkan ucapan selamat pada adiknya itu. Kemudian dia melihat pada pesan yang dikirimkan Gara. Sahabatnya itu mengabarkan kalau Reyhan sudah melamar Ayunda dan mereka akan menikah minggu depan.
Dada Firlan sedikit sesak membaca pesan tersebut. Namun dia berusaha mengikhlaskan dan menjalani hidup seperti biasa. Waktu akan menyembuhkan luka, itu hal yang diyakininya. Melihat Ayunda berbahagia dengan lelaki pilihan sudah cukup baginya. Bukankah cinta tidak harus memiliki. Firlan kembali melayangkan pandangannya ke televisi, menonton film kartun kesukaannya, Tom and Jerry.
🍁🍁🍁
Hanin memasuki lobi apartemen The Ocean, sous chef yang bertugas memintanya untuk datang ke apartemen unit 1205. Di hari liburnya, Hanin memang kerap bekerja sebagai DW (Daily Worker) di hotel ini, hitung-hitung cari pengalaman. Penghuni di sana minta dimasakan makanan langsung di tempat. Berhubung semua staf kitchen sedang sibuk, maka mereka hanya bisa mengirimkan Hanin.
TING
Pintu lift yang dinaiki Hanin terbuka. Gadis itu keluar dari lift kemudian berjalan perlahan mencari nomor unit yang dituju. Matanya terus memandangi nomor yang tertera di pintu. Sampai akhirnya dia berhenti di unit 1205. Hanin menarik nafas sejenak, sebelum memencet bel.
Hanin baru saja akan memencet bel lagi, ketika pintu terbuka. Matanya membelalak melihat sosok di depannya. Baik Hanin maupun Firlan nampak terkejut. Untuk sesaat keduanya terpaku.
“Hanin... ngapain ke sini?”
“Bang Ilan? Bentar deh.”
Hanin kembali melihat nomor yang tertera di pintu, takut salah. Keningnya berkerut setelah mengetahui telah sampai di unit yang benar.
“Bang Ilan tadi pesan koki kan ke sini?”
“Iya. Jangan bilang kamu yang dikirim?”
“Iya bang hehehe..”
“Ya udah masuk.”
Hanin masuk ke dalam unit. Matanya menatap kagum pada furniture yang tertata di dalamnya. Firlan membawanya ke dapur lalu membukakan pintu kulkas untuknya. Matanya memindai apa saja yang ada di dalamnya.
“Emang kamu bisa masak?”
“Bisa dong, kan aku kuliahnya ambil tata boga. Aku juga suka DW di The Ocean kalau libur kuliah. Tapi masakanku belum seenak om Dimas sih, hehehe. Bang Ilan mau dimasakin apa?”
“Apa aja, asal bisa dimakan dan rasanya ngga bikin lidah merana.”
__ADS_1
“Siap bos.”
“Aku tinggal ya.”
“Ok. Kalau udah mateng aku panggil.”
Firlan berjalan menuju kamarnya untuk mengambil laptop kemudian kembali ke ruang tengah. Sambil menunggu makanan matang, dia memilih merampungkan pekerjaannya yang belum selesai.
Hanin menguncir rambutnya, kemudian mengeluarkan ponsel dan speaker kecil dari tasnya. Jari Hanin bergerak mengetuk icon musik. Tak lama terdengar lagu untuk menemaninya memasak.
Lima belas menit berlalu, baik Hanin maupun Firlan tenggelam dengan aktivitasnya masing-masing. Firlan mengistirahatkan tubuhnya sejenak dengan bersandar pada sandaran sofa. Dari arah dapur sayup-sayup terdengar sebuah lagu milik Jamie Miller. Tanpa sadar, Firlan ikut bernyanyi.
Firlan meneruskan pekerjaannya, tapi kemudian jarinya berhenti mengetik ketika lagu yang diputar berganti dengan sebuah lagu milik salah satu boyband K-Pop yang terkenal disusul suara cempreng Hanin. Firlan hanya menggelengkan kepalanya saja.
Lagi-lagi Firlan dibuat terkejut, lagu kembali berubah genre. Kini musik dari negeri Shah Rukh Khan yang terdengar. Setelah itu disusul lagu dangdut, Sunda, religi bahkan lagu milik Rauf dan Faik juga turut diputar.
Firlan beranjak dari duduknya lalu melangkahkan kakinya menuju dapur. Terlihat Hanin sedang mencuci peralatan bekas masak. Di meja makan sudah tersedia tiga buah menu, cah brokoli, ayam mentega dan tahu cabe garam sudah tersedia di meja, lengkap dengan nasi putihnya.
“Udah mateng ternyata.”
“Astaghfirullah..”
“Kok satu? Kamu ngga ikut makan?”
“Ngga deh bang. Aku harus balik ke kitchen, menjelang makan siang soalnya.”
“Udah kamu di sini aja temenin abang makan. Tar abang telpon ke chef-nya.”
“Yah.. Hanin ngga bakalan dapet gaji dong hari ini.”
“Ck.. emangnya papa Adit ngga ngasih uang apa sama kamu?”
“Ngasih bang, lebih dari cukup malah. Tapi Hanin kan pengen ngerasain punya uang hasil kerja keras sendiri. Kaya dulu kak Kia.”
“Ya udah, gaji kamu hari ini abang yang kasih. Berapa bayaran DW kamu per hari?”
“150 ribu.”
“Abang bayar 250 ribu per hari. Tapi selama abang tinggal di sini, kamu harus masakin abang, gimana?”
“Deal!”
__ADS_1
Hanin menyodorkan tangannya pertanda kesepakatan. Firlan menyambut uluran tangan Hanin seraya tersenyum. Dia cukup kagum dengan kemandirian gadis di depannya ini.
“Ya udah, sekarang temenin abang makan.”
“Oke.”
Hanin mengambil piring, gelas dan sendok untuknya kemudian menarik kursi di depan Firlan. Hanin mengambilkan makanan untuk Firlan, membuat lelaki itu mengingat kenangan saat Ayunda melakukan itu untuknya.
“Nasinya segini bang?”
Pertanyaan Hanin sukses membuyarkan lamunannya. Dia hanya mengangguk pelan. Hanin menambahkan brokoli, ayam mentega dan tahu cabe garam ke dalam piring Firlan kemudian memberikannya pada lelaki itu.
“Hmm.. masakan kamu lumayan enak Han. Yang jadi suami kamu pasti seneng punya istri pinter masak kaya kamu.”
“Jauh banget bang ngomonginnya suami, pacar aja belum punya. Jangankan pacar, calon pacar alias kecengan aja belum ada. Aku nih jomblo sejak lahir. Hihihi.. jadi jomblo aja bangga ya.”
“Jangan mikirin pacaran, mending fokus sama kuliah kamu dulu.”
“Iya bang.”
“Hari ini kamu ada acara ngga?”
“Ngga, kenapa bang?”
“Abang lagi suntuk nih. Kita main yuk. Abang pengen main yang memacu adrenalin.”
“Hmm.. boleh bang.”
“Abis dzuhur ya.”
“Siap bang.”
Keduanya kembali melanjutkan makan. Rasa masakan Hanin benar-benar cocok di lidah Firlan. Pria ini menambah makanannya karena perutnya belum puas terisi. Ini pertama kalinya dia makan banyak setelah sebelumnya kehilangan ***** makan karena galau urusan cinta. Acara makan diselingi pembicaraan ringan dari keduanya.
Setelah makan, mereka meneruskan pembicaraan di ruang tengah. Hanin memang gadis yang supel, Firlan senang berbicara dengannya. Pantas saja setelah Adit dan Debby mengadopsi Hanin, Gara lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Hanin memang sosok yang menyenangkan dan enak diajak bicara. Ada saja bahan pembicaran yang keluar dari bibir tipisnya. Sekilas sikap Hanin mirip dengan Firly, kembarannya.
🍁🍁🍁
**Siapa yang setuju bang Ilan Ama Hanin?🙋
Jangan lupa like, comment and vote-nya**.
__ADS_1