
Irzal tercenung setelah mendapat telepon dari Elang. Anaknya itu menceritakan kondisi Ayunda saat ini. Pantas saja beberapa hari lalu Ayunda menelponnya namun tak mengatakan apapun. Anak itu hanya menangis dan memintanya cepat pulang.
Irzal menghempaskan tubuhnya ke sofa seraya memijat pelipisnya pelan. Poppy tak menceritakan apapun padanya, padahal mereka setiap hari berkomunikasi. Irzal mengambil ponselnya kemudian menghubungi Andri. Tak berapa lama asistennya itu datang ke kamar hotelnya.
“Dri, tolong siapkan pesawat. Saya akan kembali ke Bandung sekarang. Tolong urus sisa urusan di sini.”
“Baik pak.”
Andri mengambil ponselnya kemudian menghubungi salah satu crew pesawat. Setelah berbicara sebentar, dia pun mengakhiri panggilannya.
“Satu jam lagi pesawatnya siap pak.”
“Baiklah.”
Irzal bergerak menuju lemari, kemudian memasukkan semua pakaiannya ke dalam koper. Tak lupa dia mengabarkan Elang juga Farel tentang kepulangannya. Mau tidak mau dia harus turun tangan menyelesaikan masalah Ayunda. Ini menyangkut kebahagiaan putri semata wayangnya.
🍁🍁🍁
Pak Amin mengambil koper milik Reyhan kemudian memasukkannya ke dalam bagasi. Reyhan menghampiri Regan dan Sarah yang duduk di ruang tengah. Kesedihan menggelayut di wajah Sarah. Rasanya tak rela melepas anaknya pergi jauh.
“Kenapa harus berangkat sekarang Rey? Perkuliahan baru dimulai tiga bulan lagi.”
“Aku menerima tawaran bekerja di Saint Peter Hospital pa.”
“Rumah sakitmu sekarang juga membutuhkan tenagamu Rey,” Regan masih mencoba mengubah keputusan sang anak berangkat ke Munich.
“Apa kamu ngga mau menunggu sampai pernikahan Yunda?”
“Aku ngga bisa ma. Mana sanggup aku melihat perempuan yang kucintai mengikat janji dengan laki-laki lain. Aku ngga sekuat itu ma.”
Sarah menarik Reyhan dalam pelukannya. Airmatanya mengalir, ikut merasakan kesedihan anaknya. Regan menarik nafas panjang, seandainya saja Reyhan memintanya untuk melamar Ayunda, dia akan melakukannya meski harus melanggar norma sekalipun. Tetapi sepertinya sang anak masih bisa berpikir jernih, walau harus mengorbankan perasaannya.
“Apa kamu sudah berpamitan pada Yunda?”
“Belum ma. Aku ngga sanggup kalau berpamitan langsung. Mungkin nanti aku kirim pesan padanya. Aku pergi ma, pa.”
Reyhan mencium punggung tangan Sarah dan Regan kemudian keluar rumah diikuti oleh Regan dan Sarah. Pak Amin membukakan pintu untuknya, setelahnya pria paruh baya itu duduk di belakang kemudi. Reyhan melambaikan tangan pada kedua orang tuanya saat mobil mulai bergerak maju.
Pandangan Reyhan terus mengarah pada kediaman Irzal. Matanya menatap balkon kamar Ayunda, berharap bisa menemukan keberadaan gadis itu di sana. Namun sia-sia, tak ada Ayunda di sana.
__ADS_1
Reyhan mengambil ponselnya, melihat gambar dirinya dengan Ayunda yang mereka ambil beberapa waktu lalu. Kemudian jarinya mengetuk aplikasi whats app, ibu jarinya mulai mengetikkan sesuatu di layar.
🍁🍁🍁
“Anak itu ya bener-bener,” gerutu Alea.
“Kenapa mi?”
Gerutuan Alea terdengar oleh Ayunda. Gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah calon mertuanya. Saat ini dia sedang berada di butik Alea untuk fitting baju. Alea menghampiri Ayunda.
“Kamu fitting baju duluan aja. Ilan masih ada meeting katanya. Ngga apa-apa kan sayang?”
“Iya ngga apa-apa mi. Bang Ilan lagi sibuk kali.”
Ayunda melangkahkan kakinya menuju ruang ganti yang ada di sudut kanan. Lama dia memandangi gaun putih panjang yang disiapkan Alea untuk acara resepsinya nanti. Gaun yang sangat cantik. Seandainya saja Ayunda memakainya untuk bersanding bersama Reyhan, pasti akan sangat bahagia.
TING
Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponselnya. Ayunda urung membuka pakaiannya. Dia lebih dulu membuka ponselnya. Matanya berbinar ketika melihat sebuah pesan masuk dari Reyhan.
From Kak Rey :
Separuh nyawa Ayunda seakan melayang begitu membaca pesan dari Reyhan. Matanya mulai berkabut. Hatinya menjerit memohon agar pria itu tak pergi dari sisinya. Ayunda mengurungkan niatnya mencoba gaun pernikahan. Dengan berlari dia keluar dari ruang ganti, mengejutkan Alea yang ada di luar.
“Loh Yun mau kemana? Yunda!”
Ayunda tak mempedulikan teriakan Alea. Dia terus berlari keluar dari butik calon mertuanya itu. Alea bergegas menyusul, namun terlambat. Ayunda sudah melesat dengan mobilnya.
Sambil menyetir Ayunda terus menghubungi Reyhan, namun panggilannya selalu terhubung pada kotak suara. Ayunda mencoba menghubungi Sarah. Tak lama terdengar suara wanita itu dari seberang.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam. Ma.. kak Rey mana ma? Aku mau bicara sama kak Rey.”
“Rey sudah berangkat sayang. Dia sudah ke bandara satu jam yang lalu.”
“Kenapa kak Rey pergi ma?” Ayunda mulai menangis.
“Dia mungkin masih ada di bandara sayang, susullah. Dia mengambil penerbangan ke Singapura dulu. Bawa dia kembali Yun, mama juga ngga rela dia pergi,” terdengar isak tangis Sarah.
__ADS_1
“Iya ma.”
Ayunda mengakhiri panggilan kemudian menekan pedal gas dalam-dalam. Tak dipedulikannya bunyi klakson kendaraan lain yang protes dengan aksi mengemudinya yang ugal-ugalan. Yang ada di pikirannya hanya sampai di bandara sebelum pesawat take off.
Ayunda memarkirkan mobilnya asal, kemudian keluar dari dalamnya dan lari sekencangnya memasuki bandara. Matanya langsung memandang ke arah papan pengumuman. Lututnya lemas begitu mengetahui pesawat tujuan Singapura telah boarding. Bergegas dia menghampiri meja informasi.
“Mba pesawat ke Singapura apa sudah berangkat?”
“Sudah mba.. sudah take off lima belas menit yang lalu.”
Tubuh Ayunda terhuyung ke belakang lalu luruh ke lantai. Tangisnya seketika pecah. Petugas informasi terkejut melihat reaksi Ayunda. Bergegas dia menghampiri gadis itu. Dibantunya Ayunda berdiri kemudian dipapah menuju salah satu kursi. Ayunda terus saja menangis tanpa mempedulikan tatapan orang-orang yang melintas di depannya.
“Mba diminum dulu.”
Petugas informasi itu menyodorkan segelas air mineral pada Ayunda namun ditolak oleh gadis itu. Dengan langkah gontai, Ayunda berjalan keluar bandara. Ayunda masuk ke dalam mobil, membenamkan wajahnya di atas kemudi lalu menangis sekencangnya. Tak dipedulikannya ponsel yang terus berdering.
Kak Rey jahat... kenapa pergi??? Kalau memang kakak mau pergi, seharusnya bawa aku pergi juga...
Cukup lama Ayunda menangis di dalam mobilnya, menumpahkan semua kesedihannya. Ponselnya kembali berdering, panggilan dari Alea, Poppy, Firlan bertubi-tubi masuk ke ponselnya. Ayunda mematikan ponselnya kemudian membuangnya asal ke jok belakang. Tangannya bergerak menekan tombol start, seketika mesin mobilnya menyala. Tak lama kemudian kereta besi itu bergerak maju.
Ayunda menatap kosong jalanan di depannya. Dia mengendarakan mobilnya dengan kecepatan sedang. Harusnya Ayunda kembali ke butik, tapi entah mengapa gadis itu malah mengarahkan mobilnya menuju rumah sakit Ibnu Sina.
Tiba-tiba Ayunda merasakan sakit yang teramat sangat di bagian perutnya. Semakin lama, rasa sakit itu semakin menusuknya hingga dirinya kehilangan keseimbangan saat menyetir. Sebelah tangan Ayunda memegangi perutnya, sebelahnya lagi mencoba mempertahankan keseimbangan kemudi.
Saat roda kendaraannya melewati jalanan yang berlubang, mobilnya sedikit oleng. Tanpa dapat ditahan, ban mobil terus meluncur ke arah kanan hingga akhirnya menabrak pohon yang ada di trotoar.
BRUK!!
🍁🍁🍁
😱😱😱 **Ayunda kecelakaan???
Kak Rey tolongin Ayunda...
Ayah Irzal cepet pulang, ayo selamatkan anak kita dari kegalauannya. Mamake berasa jadi bunda Poppy🤭
Sesuai anjuran dokter Rey, sehari 3x aja up nya kalau kebanyakan takut over dosis🤪
Like, comment and vote please😉**
__ADS_1