Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 4 : BIZZARE LOVE TRIANGLE Terpergok


__ADS_3

Menjelang hari pernikahannya dengan Firlan, Ayunda sering bolak-balik ke kantor L’amour. Sebenarnya dia malas, tapi Bilqis begitu cerewet memintanya datang untuk mendiskusikan konsep yang mereka pilih.


Di sinilah gadis itu sekarang, berhadapan dengan Bilqis. Tapi ada yang berbeda dengan Ayunda hari ini. Biasanya Ayunda hanya diam mendengarkan tapi hari ini dia terlihat bersemangat bahkan ikut mengomentari atau memberikan masukan.


Sepertinya Ayunda tersugesti dengan ucapan ibu Danu tempo hari yang mendoakannya dengan Reyhan menikah. Parahnya gadis itu kini sedang membayangkan kalau sedang membahas rencana resepsi dirinya bersama dengan Reyhan.


Rain masuk membawa contoh kartu undangan di tangannya. Dia memberikannya kepada Ayunda, kemudian ikut duduk di samping Bilqis.


“Ini contoh kartu undangannya. Gimana? Suka ngga?”


Ayunda tertegun memandang kartu di tangannya. Kesadarannya terketuk begitu membaca nama mempelai yang tertera, Ayunda dan Firlan. Seketika semangatnya surut. Diletakkannya kartu tersebut di atas meja.


“Tanya aja deh ke bang Ilan. Aku pulang dulu ya.”


“Eh jangan dulu Yun, belum beres ini,” protes Bilqis.


“Aku cape kak.”


Tanpa mempedulikan Bilqis, Ayunda menyambar tasnya kemudian bergegas pergi. Rain dan Bilqis hanya saling memandang saja. Tak mengerti dengan tingkah calon pengantin itu yang mood-nya naik turun.


Ayunda menuruni anak tangga, matanya melihat ke arah jam tangan di pergelangan tangannya. Sudah hampir masuk jam makan siang. Dia pun memutuskan untuk menemui Reyhan. Sudah dua hari berturut-turut mereka selalu makan siang bersama. Dia juga sengaja tidak membawa kendaraan karena memilih pulang bersama Reyhan nantinya.


Ayunda berdiri di depan gedung L’amour menunggu ojek atau taksi. Tanpa menunggu lama, pengendara ojek online menghampirinya. Ternyata itu ojeg yang sama yang pernah mengantar Ayunda ke rumah sakit.


“Ojeg neng, ke rumah sakit Ibnu Sina?”


“Iya pak, kok tau? Eh bapak yang waktu itu nganter saya ya?”


“Iya neng, ayo naik, tarifnya sama kaya kemarin kan neng?”


“Ish si bapak bisa bangkrut saya kalau tiap naik ojeg bayarnya segitu.”


“Ya udah deh diskon 50% neng. Bapak belum dapet tarikan dari pagi.”


“Hayulah gasskeun pak.”


Ayunda menerima helm dari pengojek tersebut kemudian duduk di belakangnya sambil memakai helm. Begitu Ayunda sudah siap, bapak itu segera tancap gas.


“Berangkat.”


Honda Vario itu segera melesat membelah jalanan kota Bandung. Kalau kemarin si bapak menggunakan gaya Marc Marques, ngepot ke kanan dan kiri. Kini dia berganti gaya ala Valentino Rossi. Tubuhnya dicondongkan ke depan, dengan serius mengendari motornya sambil menyalip kendaraan di depannya.


Lima belas menit kemudian mereka tiba di depan lobi rumah sakit. Seturunnya dari motor, Ayunda langsung mengembalikan helm, takut diteriaki lagi. Kemudian dia menyerahkan uang seratus ribuan pada bapak itu.


“Waduh ngga ada kembalian neng. Kan bapak belum dapet tarikan dari pagi.”


“Ya udah deh kembaliannya pake doa aja pak.”


“Boleh neng doa apa? Doa mau makan? Mau tidur? Atau mau masuk WC? Cuma itu aja doa yang bapak hafal.”


“Ish si bapak, bukan doa itu. Doain aku supaya berjodoh sama calon imam aku.”


“Oh boleh neng. Siapa nama calonnya?”


“Dokter Reyhan.”

__ADS_1


Bapak itu mengangguk. Diletakkannya dulu helm yang dipakai Ayunda di stang motor. Kemudian dia mengangkat kedua tangan layaknya orang yang tengah berdoa.


“Ya Allah semoga dokter Reyhan bisa berjodoh dengan neng... neng siapa namanya teh?”


“Ayunda.”


“Ya Allah semoga dokter Reyhan berjodoh dengan neng Ayunda.”


“Ulang pak, namanya harus lengkap biar ngga ketuker nanti pas malaikat nyatet namanya. Inget ya pak namanya dokter Reyhan Fatansyah Vaughan, berjodoh sama Ayunda Chana Ramadhan.”


“Ya Allah semoga dokter Reyhan Fatansyah Pau.. Pau.. Pau apa neng?”


“Vaughan bapak, Vaughan pake V bukan P. Pau.. pau.. emangnya bapau.”


“Susah neng namanya.”


Ayunda menepuk keningnya. Dia mengambil selembar kertas dan ballpoin dari dalam tasnya lalu menuliskan namanya juga Reyhan di kertas tersebut. Bapak ojeg mengambil kertas dari tangan Ayunda. Diletakkannya kertas tersebut di atas speedometer kemudian kembali mengangkat tangannya untuk berdoa.


“Ya Allah semoga dokter Reyhan Fatansyah Vaughan berjodoh dengan neng Ayunda Chana Ramadhan. Dimudahkan sampai ke jenjang pernikahan, sukses dengan ijab kabulnya, dan dikaruniai anak-anak yang soleh dan solehah aamiiin..”


Bapak ojeg itu sengaja menambahkan doa biar tidak ada protes dari gadis yang berdiri di sampingnya yang juga ikut mengangkat kedua tangannya dan mengamini doanya. Dalam hati si bapak menjerit Ya Allah nyari duit tambahan gini amat ya.


Puas dengan doa si bapak, Yunda pun mengucapkan terima kasih kemudian masuk ke dalam lobi. Di lobi, Ayunda berpapasan dengan Sammy. Melihat kecantikan Ayunda, jiwa playboy Sammy meronta. Dia yang baru saja akan pulang, memutar balik tubuhnya kemudian menyusul gadis cantik itu.


“Hai.. ada yang bisa dibantu?”


Langkah Ayunda terhenti ketika melihat Sammy menghalangi jalannya. Dia mulai memasang wajah jutek pada Sammy. Tapi bukan Sammy namanya kalau gentar melihat tatapan Ayunda. Dia yang terkenal sebagai penakluk wanita tetap bergeming di depan Ayunda. Dokter bedah itu cukup pede dengan wajah tampannya yang blasteran Jawa-Jepang.


“Mau berobat atau mau menengok yang sakit?”


“Mau ketemu calon suami saya.”


“Oh mau ketemu calon suami. Calon suaminya lagi berobat jalan? Rawat inap? Pegawai rumah sakit atau apa?”


“Calon suami saya dokter bedah di sini.”


“Saya juga dokter bedah. Siapa nama calon kamu?”


Baru saja Ayunda membuka mulutnya, namun orang yang ingin ditemuinya sudah muncul. Ayunda memang mengiriminya pesan tadi untuk menjemputnya di lobi. Dengan langkah panjang Ayunda menghampiri Reyhan.


“Sayang..”


Panggil Ayunda pada Reyhan, membuat pria itu cukup terkejut. Rasa terkejut Reyhan masih berlanjut ketika Ayunda tiba-tiba memeluk lengannya. Lalu kepalanya disenderkan manja ke lengannya. Ayunda menarik Reyhan ke depan Sammy yang mulai bemuka masam bin kecut.


“Kenalin ini calon suami saya. Sayang, katanya dia dokter bedah juga, mas kenal ngga?”


Reyhan seperti mendapat paket kejutan combo, sudah dipanggil sayang, dipeluk lengannya, panggilan kakak berganti dengan mas lalu dikenalkan sebagai calon suami. Jantung Reyhan seperti hendak meloncat keluar saking senangnya.


“Kenapa Yang? Apa dia mengganggumu?” Reyhan mencoba bertanya dengan nada suara yang dibuat setenang mungkin, namun dengan sorot mata tajam menatap Sammy.


“Bukan mengganggu dok. Saya cuma ingin membantu saja, dia seperti kebingungan tadi,” elak Sammy.


“Kalau gitu saya permisi,” sambungnya.


Sammy bergegas pergi meninggalkan kedua orang di depannya. Hatinya merutuki tindakannya tadi yang mencoba mengganggu calon istri orang. Terlebih dia adalah calon dari Reyhan.

__ADS_1


Ayunda melepaskan pelukan di lengan Reyhan begitu Sammy sudah menghilang. Wajahnya merona karena Reyhan terus saja menatapnya. Beberapa kali dia berdehem untuk menghilangkan kegugupannya.


“Kak Rey udah bisa istirahat kan?”


“Kok kak lagi, kenapa ngga diterusin manggil mas-nya,” goda Reyhan.


“Ish kak Rey apaan sih. Ayo makan, aku udah laper nih.”


Reyhan segera mengajak Ayunda menuju tempat mobilnya terparkir. Tangannya menggenggam tangan gadis itu dengan erat. Ayunda tersenyum melihat tangan mereka yang saling menaut.


🍁🍁🍁


Suasana cafe tempat makan siang kedua insan yang dimabuk cinta itu terasa begitu syahdu dengan iringan lagu bertema cinta milik Celine Dion. Reyhan dan Ayunda mengambil meja yang berada di sudut supaya tidak terganggu dengan lalu lalang pengunjung.


Seorang pelayan menata pesanan di meja kemudian berlalu. Reyhan memotong-motong steak pesanannya kemudian menukarnya dengan milik Ayunda. Gadis itu tersenyum senang mendapat perlakuan yang begitu manis dari dokter bedah ganteng tersebut. Mereka menikmati makanan sambil berpegangan tangan. Tangan Reyhan bergerak menyusut saos yang tertinggal di sudut bibir Ayunda kemudian menjilatnya. Hati Ayunda semakin dibuat meleleh.


Pesanan terakhir datang, dua porsi creme brulee yang dipilih sebagai menu penutup. Ayunda mulai menyendokkan makanan manis tersebut kemudian memasukkan ke dalam mulutnya.


“Yun...”


Ayunda hampir saja tersedak mendengar suara di sebelahnya. Tak disangka Firlan sudah berdiri di sampingnya. Untung saja mereka sedang tidak melakukan adegan berpegangan tangan. Reyhan pun tak kalah terkejut. Dia seperti terpergok selingkuh dengan istri orang.


“Bang.. Ilan.. ngapain di sini?”


“Aku habis pertemuan di sini.”


Ayunda merutuk dalam hati. Dari sekian banyak cafe di Bandung, kenapa Firlan memilih cafe ini. Firlan menatap curiga pada Ayunda dan Reyhan yang terlihat gugup. Tanpa bertanya, dia langsung menarik kursi di samping Ayunda lalu mendudukkan dirinya di sana.


“Kalian sengaja makan siang bareng?” Firlan mulai menginterogasi.


“Ng...”


“Iya bang, aku yang ajak Ayunda makan siang. Sebagai ucapan terima kasih karena udah nemenin aku ke Jatinangor nganterin pasien aku.”


“Ooh..”


Hanya itu saja jawaban yang keluar dari mulut Firlan. Lelaki itu berusaha meredam gejolak di dadanya. Salahkah bila dia cemburu? Ya.. Firlan cemburu mendapati calon istrinya makan siang dengan pria lain. Terlebih Ayunda terlihat begitu bahagia. Selama bersamanya belum pernah dia melihat wajah Ayunda seceria ini. Reyhan yang tak enak hati bergegas undur diri.


“Aku duluan ya.”


Reyhan berdiri dari duduknya kemudian menuju meja kasir untuk membayar tagihan. Dari sudut matanya dia melihat Ayunda dan Firlan pun beranjak pergi. Dada Reyhan bergemuruh ketika melihat Firlan merangkul bahu Ayunda menuju mobilnya yang terparkir di depan cafe.


Reyhan masuk ke dalam mobil. Dengan kesal dipukulnya setir mobil beberapa kali. Dulu dia masih bisa menahan diri melihat Ayunda bersama Firlan. Tapi begitu mengetahui gadis itu juga mencintainya, rasanya tak rela melihat Ayunda berduaan dengan Firlan.


Ingat Rey.. dia itu calon istrinya bang Ilan. Sebentar lagi mereka akan nikah.


🍁🍁🍁


**Mamake ngakak mulu pas bikin part mamang ojeg😂


Waduh aroma persaingan sudah mulai tercium, dua²nya sama² cemburu, pegimana ini?


Irzal, ayo cepat pulang tolong anakmu ini.


Mamake tuh lagi semangat nulis apalagi kalau lihat komen kalian, seakan jadi mood booster buatku😘😘😘

__ADS_1


Jadi please jangan males komen ya...


Like and vote nya juga😉**


__ADS_2