
“Om Ringgo!”
Ringgo menoleh tatkala mendengar sebuah suara yang sangat dikenalnya memanggil namanya. Sisil berdiri tak jauh di belakangnya, tubuh kurusnya terbalut kaos body fit lengkap dengan skinny jeans. Ada yang berbeda dengan penampilannya kali ini. Rambutnya yang panjang sepinggang kini hanya sebatas bahu saja.
“Sisil, kamu sama siapa ke sini?”
“Sama temen,” Sisil menunjuk seorang temannya yang sedang memilih barang di toko aksesoris dengan dagunya. Hari ini Ringgo dan Dimas memang sedang mengunjungi cafenya yang berada di salah satu mall.
“Mama ngga ikut om?”
“Ngga, mamamu jaga gawang hehehe. Eh abis potong rambut ya?”
“Iya om, kan bentar lagi jadi mahasiswa jadi pengen tampilan baru juga. Yaaa siapa tahu aja senior yang nyangkut,” Sisil terkikik mendengar ucapannya sendiri. Padahal dia mengatakan itu untuk memanasi pria matang di hadapannya ini.
“Ngapain pacaran sama mahasiswa yang masih minta uang sama orang tua. Mending sama pria yang udah mapan, bisa mencukupi kebutuhan kamu dan cepet ngehalalin kamu.”
“Wah boleh tuh om. Om punya stok buat dikenalin ke Sisil ngga?”
“Nah ini yang di depan kamu available loh,” goda Ringgo seraya mengedipkan matanya. Jantung Sisil langsung berdegup kencang, tanpa sadar pipinya merona.
“Ish si om bisa aja. Itu istrinya yang cantik jelita mau dikemanain?”
“Oh dia udah om packing terus dikirim ke Milan.”
“Haaahhh??”
Ringgo tergelak melihat ekspresi Sisil. Dia berjalan lebih mendekat kemudian menundukkan tubuhnya agar setara dengan gadis itu.
“Sekarang status om sama kaya om Dimas. Jadi kalau kamu berminat sama pria matang dan mapan, hubungi om kapan aja ya.”
Ringgo mengedipkan matanya kemudian mengusap puncak kepala Sisil. Setelah itu dia beranjak pergi menuju Dimas yang masih berada di dalam cafe menyelesaikan urusannya. Sisil memegangi jantungnya yang masih berdentum-dentum tak karuan. Dia berusaha mengingat kembali apa yang Ringgo ucapkan barusan. Segurat senyum tercetak di wajahnya. Sambil berlari kesenangan dia menghampiri temannya yang masih galau memilih aksesoris yang akan dibelinya.
Sementara itu di cafe, setelah mengecek langsung kondisi cafe Dimas mengakhiri sesi sidaknya. Dengan raut wajah kecewa dia keluar dari tempat yang sering dikunjungi kawula muda. Ringgo yang sudah didekatnya langsung memberondongnya dengan berbagai pertanyaan.
“Gimana? Udah ketemu siapa biang keroknya? Terus rencana lo apa selanjutnya?”
“Ck.. bisa ngga nanyanya satu-satu,” Ringgo hanya nyengir seraya menggaruk kepalanya. Dimas berjalan menuju pintu keluar disusul Ringgo dari belakang.
Mendekati pintu keluar, Dimas menangkap sosok Alea sedang berjalan ke arahnya. Di belakangnya tampak dua orang pria sedang membawa barang dengan jumlah cukup banyak dan tak sengaja menabrak Alea. Tubuh Alea terhuyung ke arah depan, saat tubuhnya akan menyentuh lantai, sebuah tangan kokoh menahan tubuhnya.
Alea mengangkat kepalanya, melihat pria yang telah menolongnya. Serta merta dia menghempaskan tangan itu saat mengetahui ternyata orang yang telah menolongnya adalah Dimas.
“Kakak ngga apa-apa?”
“Berhenti memanggilku kakak! Aku bukan kakakmu!” Alea melanjutkan langkahnya tanpa menoleh ke arah Dimas. Lelaki itu hanya menghembuskan nafas kasar melihat perlakuan Alea padanya.
“Itu kan emaknya Firly. Kok jutek gitu sama elo? Jangan-jangan....”
Ringgo tak meneruskan ucapannya karena yang diajak bicara langsung ngeloyor pergi meninggalkannya. Setengah berlari Ringgo menyusul sahabatnya itu. Tak lama keduanya sudah berada di dalam mobil dan kembali ke kantor.
Dimas menghempaskan tubuhnya di kursi kebesarannya setelah sampai di ruangannya. Tangannya memijat pelan pelipisnya. Sudah seminggu ini dia tak bertemu dengan Firly. Hubungannya dengan Ega juga Alea tak kunjung membaik. Dimas menghela nafas panjang.
Terdengar ketukan di pintu, lalu kedua sahabatnya yang merangkap sebagai bawahannya masuk ke dalam. Dimas bangun dari duduknya kemudian beralih duduk di sofa. Ringgo mulai memberikan laporan tentang perkembangan restoran dan cafe yang berada di bawah naungan Artha Boga.
__ADS_1
“Oh iya soal pembangunan sekolah khusus tata boga gimana bos?”
“So far so good lah. Ada dua investor yang serius garap proyek itu,” ada ketidak yakinan dalam nada Dimas ketika menjawabnya. Maklum saja, salah satu calon investor yang terlibat dalam proyek terbarunya adalah Gala Corp. Mengingat hubungannya dengan Ega saat ini, Dimas tak yakin akan terus berlanjut.
“Mudah-mudahan ngga ada hambatan ya bos. Kalau sampai berhenti di tengah jalan kita rugi besar. Tahu sendiri kan berapa banyak biaya yang udah kita keluarkan untuk proyek ini.”
Ringgo ikutan gamang. Setelah melihat reaksi Alea tadi, dia menangkap sesuatu yang tidak beres sudah terjadi di antara mereka. Namun dia buru-buru menepis kekhawatirannya itu. Ringgo percaya Ega adalah pengusaha yang mampu bersikap profesional, tak mencampuradukkan masalah pribadi dengan pekerjaan.
🍁🍁🍁
Tak terasa sebulan telah berlalu dari kunjungan Dimas ke kediaman Ega. Firly kesulitan untuk bertemu dengan Dimas atau Ara karena Alea mengirimkan mata-mata yang mengawasi gerak-geriknya. Sesekali mereka dapat bertemu berkat bantuan para sahabatnya, walaupun dengan durasi singkat.
Firly berbaring di kasurnya dengan kaki menjuntai ke bawah. Matanya menatap lurus ke arah langit-langit kamarnya. Hari ini adalah hari ulang tahunnya bersama Firlan namun tak ada yang spesial. Harapannya bisa menghabiskan waktu bersama Dimas di hari bahagianya ini hanya tinggal angan-angan. Sedari pagi Alea terus berada di rumah dan tak memberinya celah untuk pergi kemana pun.
Pintu kamarnya terbuka, Alea muncul dari baliknya. Dia menghampiri anaknya yang masih berbaring kemudian memberikan paper bag di tangannya.
“Pakai ini buat acara nanti malem.”
“Emangnya kita mau kemana?”
“Kita makan malam di luar merayakan ulang tahun kamu dan Ilan.”
“Ck.. males mi. Kita makan di rumah aja.”
“Mami ngga mau denger penolakan. Jam tujuh kamu harus udah siap,” Alea keluar dari kamar. Firly mengeluarkan gaun dari paper bag kemudian melemparnya asal ke kasur. Dia memejamkan matanya, memilih untuk tidur sejenak.
Jam tujuh malam semua anggota keluarga sudah bersiap di ruang tengah, hanya tinggal Firly yang masih belum kelihatan batang hidungnya. Alea meminta Azriel menyusul kakaknya. Dengan malas Azriel berjalan menuju tangga. Tapi kemudian langkahnya terhenti saat melihat Firly menuruni anak tangga. Dia tak memakai gaun yang diberikan Alea tadi. Melainkan memakai dress yang dibelikan Dimas saat di Milan lengkap dengan sepatunya.
“Kenapa ngga pake gaun yang mami kasih?”
“Sudah-sudah ayo berangkat,” Ega segera melerai ibu dan anak itu. Jika tidak entah berapa lama perdebatan itu akan berlangsung. Mereka segera menuju alphard hitam yang terparkir di depan rumah. Pak Eman sudah siap di belakang kemudi.
Dua puluh menit kemudian mereka telah tiba di tempat tujuan. Seorang pelayan memandu mereka menuju ruangan VIP yang telah dipesan sebelumnya. Belum lama mereka duduk, pintu kembali terbuka. Sepasang suami istri beserta anak lelaki seumuran Elang masuk ke dalam ruangan. Alea berdiri menyambut kedatangan mereka.
“Selamat datang bapak dan ibu Airlangga.”
Airlangga adalah salah satu kolega bisnis Ega. Melihat kedatangan koleganya Ega langsung berdiri menyambutnya. Perasaan Firly langsung tak tenang melihat kedatangan ketiga orang tersebut.
“Selamat ulang tahun Firlan dan Firly,” ibu Airlangga memberikan ucapan selamat seraya menyerahkan dua kotak hadiah pada saudara kembar itu.
“Makasih om, tante,” jawab Firlan dan Firly berbarengan.
“Oh iya, kenalkan ini Radja, anak tante.”
Pemuda yang bernama Radja itu mengulurkan tangannya ke arah Firlan dan Firly. Sebuah senyuman manis dia layangkan pada Firly namun tak digubris oleh gadis itu. Beberapa pelayan masuk membawa pesanan mereka.
“Terima kasih sudah menyempatkan datang di acara kami. Ayo silahkan dicicipi hidangannya.”
Acara makan malam pun dimulai. Terdengar pembicaraan Ega dengan Airlangga terkait proyek yang mereka kerjakan. Sesekali Alea atau istrinya ikut menimbrung pembicaraan para suami. Radja berkali-kali mencuri pandang pada Firly. Dia sudah mendengar cerita tentang gadis itu dari mamanya namun baru kali ini bertemu langsung dengannya. Tak dapat dipungkiri, ternyata Firly memang gadis yang cantik dan menarik.
“Ya ampun Radja dari tadi lirik-lirik Firly terus. Kenapa? Naksir ya?”
Radja hampir tersedak mendengar godaan dari sang mama. Firly memutar bola matanya, jengah dengan permainan ibu dan anak itu. Alea tersenyum pada Radja, kemudian melirik pada putrinya.
__ADS_1
“Kalau Radja tertarik, kenapa ngga kita jodohkan saja.”
Uhuk.. uhuk..
Firly tersedak mendengar ucapan sang mama. Firlan dengan cepat memberinya minum seraya menepuk pelan punggungnya.
“Kaya jaman Siti Nurbaya aja dijodoh-jodohin,” celetuk Azriel yang langsung disambut pelototan dari maminya. Tapi bukan Azriel namanya kalau peduli dengan itu semua. Dia santai saja menikmati makanannya.
“Gadis secantik Firly pasti sudah punya pacar tan.”
“No Radja, anak tante itu tidak pernah pacaran. Dia itu tidak mau pacaran, mau langsung nikah aja. Ya kan sayang?” Alea mengusap pelan tangan Firly.
“Wah bagus itu, dari pada pacaran buang waktu mending langsung nikah. Gimana Dja, kamu mau nikah sama Firly?”
“EHEM!!!”
Ega berdehem keras berusaha menghentikan pembicaraan yang tidak ada dalam agenda. Alea melihat sebal pada suaminya. Firly cukup merasa lega, dapat terselamatkan dari situasi yang dia yakini sudah direncanakan oleh maminya.
“Gimana kalau kalian berteman dulu aja,” usul Alea.
“Hmm.. boleh itu.”
“Ly, besok kamu ngga ada acara kan? Pergi jalan-jalan sana sama Radja dari pada diem terus di rumah. Kamu mau kan?” Alea memegang tangan Firly dan meremasnya pelan.
“Hmm..”
“Besok aku jemput ya Ly?” Radja tak melepaskan kesempatan yang ada.
“Hmm..”
Senang rencananya berhasil, para orang tua kembali melanjutkan perbincangan mereka. Radja masih terus mencuri pandang pada Firly. Sesekali dia melayangkan tatapan yang membuat Firly tak nyaman. Ingin rasanya dia mencolok mata lelaki itu.
Acara makan malam memuakkan itu akhirnya berakhir juga. Dengan sedikit paksaan Firly memberikan nomor teleponnya pada Radja. Setelah itu dia bergegas masuk ke dalam mobil disusul oleh Firlan juga Azriel.
“Beb, kamu mau jodohin Ily sama Radja?” tanya Ega begitu rekan bisnisnya itu berpamitan. Mereka belum masuk ke dalam mobil.
“Iya, lebih baik dia bersama dengan Radja. Usia mereka tak jauh beda. Dari pada bersama Dimas. Cih, anak itu tidak tahu diri sekali berani meminta Ily menjadi istrinya. Jangan bilang kamu mendukung hubungan Dimas dengan Ily!”
“Aku ngga mengijinkan Ily menikah dengan siapa pun. Dia itu masih muda!”
Ega bergegas naik ke dalam mobil. Tak lama Alea menyusulnya. Pak Eman segera menjalankan kendaraan meninggalkan area restoran. Suasana di dalam mobil hening. Tak ada satu pun yang berniat membuka pembicaraan.
🍁🍁🍁
**Buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya. Ternyata sikap Alea sekarang sama seperti mama Fanny dulu ya. Sabar aja Ily, kalau jodoh ngga akan kemana.
Jangan lupa ya
Like..
Comment..
Vote..
__ADS_1
Merci Beaucoup😘😘**