Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON1 : DEAR UNCLE Adik Durhakim


__ADS_3

“Ziel.”


Firly membuka pintu kamar adiknya. Dilihatnya Azriel sedang menata kembali barang-barangnya yang sempat porak poranda dua hari lalu. Firly masuk kemudian duduk di tepi ranjang memperhatikan Azriel yang memajang trophy miliknya.


“Ziel,” Azriel menoleh lalu ikut duduk di samping Firly.


“Ziel, gue minta maaf ya. Waktu itu gue emosi gara-gara mami. Please jangan masukin ke hati omongan gue. Lo ngga salah Ziel, lo ngga ada hubungannya dengan masalah gue dan mami.”


“Iya kak santai aja kali,” Azriel memamerkan senyumannya. Hati Firly miris, dia tahu Azriel sudah terluka karena ucapannya.


“Jangan berhenti ya Ziel please... jangan berhenti karena gue hiks.. hiks..”


Azriel menarik Firly dalam pelukannya. Sejuta penyesalan dirasakan Firly setelah memaki adiknya. Teguran Firlan padanya dan keputusan Azriel untuk berhenti bermain bulu tangkis menyadarkannya kalau telah melampiaskan kekesalan pada orang yang salah. Belum lagi nasehat panjang lebar yang diberikan Dimas padanya semakin membuat gadis itu merasa bersalah.


Firlan yang sedang melintas di depan Azriel memilih untuk masuk melihat keadaan adik-adiknya. Dia ikut duduk di samping Firly. Azriel mengurai pelukannya, bersama Firlan dia menghapus airmata yang membasahi pipi Firly.


“Udah kak jangan nangis lagi. Muka lo kan pas-pasan, kalau nangis tambah jelek tuh muka. Bisa-bisa om Dimas kabur.”


“Dasar adek durhakim,” Firly menoyor kepala Azriel, sang korban hanya cengar-cengir.


“Pokoknya lo ngga boleh berhenti. Lo harus jadi tunggal putra nomer satu. Gue kan pengen juga diwawancara kalau lo udah terkenal.”


“Dih norak banget. Kalo nanti lo nikah sama om Dimas juga bakal diwawancara, malah lo bakal jadi trending topic. Dijulidin sama fansnya om Dimas hahaha aaaawwwww,” Azriel mengusap telinganya yang sakit habis kena jeweran Firly.


“Ly, lo jadi mau ketemuan sama om Dimas nanti sore?” tanya Firlan.


“Jadi, gue janjian sama Sisil. Kita mau nonton bareng. Cuma itu dedemitnya mami pasti ngikutin gue. Gue kan udah ngga boleh jalan sama Sisil. Gimana dong.”


“Tenang aja kak, soal dedemit mami biar gue yang beresin.”


“Gimana caranya?”


“Ngga usah kepo. Mending lo dandan aja yang cantik, terus buruan keluar mumpung mami lagi ngga di rumah.”


“Lo beneran bisa nanganin dedemitnya mami?”


“Tenang aja. Lo sendiri mau kemana?”


“Gue mau ke rumah El.”


“Ya udah sana. Urusan kak Ily biar gue yang handle.”


Firlan mengacungkan jempolnya pada Azriel kemudian keluar dari kamarnya. Setelah memastikan Firlan sudah keluar rumah, Azriel bergegas ke kamar Firlan lalu mengambil kunci motornya.


Sorry ya bang, gue pinjem dulu motor lo. Hari ini gue pengen ngerasain jadi Marc Marquez.


Setengah jam berlalu, kini Firly telah siap untuk kencan rahasianya dengan Dimas. Dengan langkah riang dia berlari kecil menuruni tangga. Mini Cooper pinknya sudah menunggu di depan rumah. Saat dia akan memasuki mobil, Azriel datang sambil menenteng helm.


“Ziel, lo mau kemana?”

__ADS_1


“Mau bantuin lo kabur,” Azriel berjalan menuju CBR 250 milik Firlan yang terparkir tak jauh dari mobil Firly.


“Eh jangan gila ya Ziel. Nanti kalau bang Ilan tahu bisa ngamuk dia.”


“Makanya lo jangan kasih tahu. Udah buruan pergi.”


“Emangnya lo bisa bawanya?”


“Bawel, ya bisalah. Masa iya gue mau dorong nih motor, berat tau.”


Azriel memberi isyarat pada Firly untuk segera pergi. Firly menurut, dia segera masuk ke dalam mobil. Tak lama roda kendaraannya mulai bergulir. Azriel mengenakan helmnya lalu naik ke tunggangan kakaknya itu. Sebuah Avanza hitam meluncur setelah mobil Firly berlalu. Setelah itu Azriel mulai memacu kendaraannya mengejar mobil yang membuntuti Firly.


Azriel menjaga jarak aman dengan mobil di depannya. Namun ketika hampir mendekati perempatan dia menambah kecepatan motornya. Kini posisinya sejajar dengan mobil yang dikejarnya. Begitu melihat Firly sudah melewati lampu merah, Azriel mulai mengebut hingga melewati Avanza hitam tersebut. Ketika jaraknya dengan mobil tersebut dirasa cukup jauh, secara tiba-tiba Azriel memutar kendaraannya dan berhenti di tengah jalan. Pengendara Avanza hitam itu seketika menghentikan kendaraannya.


CIIIITTT


Beberapa kali orang dibalik kemudi membunyikan klakson meminta Azriel meminggirkan motornya tapi tak dipedulikannya. Sang supir memundurkan mobilnya perlahan untuk mengambil jalan ke sisi motor. Azriel bergerak cepat turun dari motor menuju mobil kemudian menancapkan sebuah paku ke salah satu ban mobil tersebut. Setelah misinya selesai dia kembali ke motornya dan kembali menuju rumah.


🍁🍁🍁


Senyum Sisil merekah saat melihat Firly muncul dari eskalator. Tanpa banyak bicara dia segera menarik tangan Firly masuk ke dalam studio. Film yang akan mereka tonton sebentar lagi akan diputar. Baru saja mereka duduk, lampu studio sudah padam. Firly melihat sekeliling yang sudah gelap mencari keberadaan Dimas. Namun sosok yang ditunggunya tak kunjung datang.


“Sil, om Dimas mana?”


“Tungguin aja, bentar lagi juga dateng kok.”


“Om ngagetin aja.”


“Maaf sayang,” Dimas mengecup punggung tangan Firly. Senyum mengembang di wajahnya mendapat perlakuan manis dari kekasihnya.


“Kamu tuh penakut tapi senengnya nonton film horor.”


“Biarin. Biar bisa peluk om,” Dimas mengacak-acak rambut Firly dengan gemas membuat gadis itu mencebikkan bibirnya. Di kursi sebelah hati Ringgo berbunga-bunga bisa berkencan dengan Sisil. Diraihnya tangan Sisil kemudian digenggamnya erat. Sisil merasa banyak kupu-kupu berterbangan di hatinya.


Niat hati ingin menonton film dengan suasana romantis. Apa daya adegan yang disuguhkan film bergenre horor itu benar-benar mencekam. Beberapa kali Firly dan Sisil berteriak ketakutan. Tangan Ringgo sampai memerah karena dipegang Sisil terlalu kencang. Begitu pula dengan Firly yang berulang kali menyembunyikan wajahnya dibalik bahu Dimas bahkan sampai menggigitnya. Karena kesal Dimas menarik Firly keluar dari studio sebelum pertunjukkan usai.


“Ih om kenapa keluar? Kan filmnya belum beres.”


“Percuma nonton juga, kamunya malah ngumpet terus. Pake gigit-gigit om segala, emangnya bahu om itu teether apa?”


“Ya maaf,” Firly mengerucutkan bibirnya.


“Itu bibirnya biasa aja jangan digitu-gitu.”


“Emangnya kenapa?”


“Om jadi pengen cium kamu.”


BLUSH

__ADS_1


Wajah Firly merona. Dengan cepat tangannya menutupi wajahnya, membuat Dimas semakin gemas saja. Ditariknya tangan Firly keluar dari bioskop kemudian menuju salah satu cafe miliknya yang ada di mall ini.


“Selamat sore pak Dimas,” sambut sang manager cafe. Dia cukup terkejut mendapat kunjungan dari Dimas secara mendadak.


“Sore. Saya bisa pinjam ruanganmu?”


“Bisa pak, silahkan.”


Sang manager memandu Dimas menuju ruangannya. Setelah Dimas dan Firly memasuki ruangan, manager tersebut kembali ke area cafe. Firly baru saja akan duduk saat Dimas menariknya dalam pelukannya.


“Om kangen.”


“Ily juga,” Firly membalas pelukan Dimas. Tangannya melingkari punggung kekar lelaki di hadapannya. Dimas mengurai pelukannya kemudian membawa Firly duduk di sofa. Dipandangi wajah cantik yang sangat dirindukannya. Tangannya memainkan rambut Firly kemudian menyelipkannya ke belakang telinga.


“Seminggu ini kamu ngapain aja?”


“Cuma diem aja di rumah.”


“Ziel baik-baik aja?”


“Iya.”


“Kamu udah minta maaf sama dia?”


“Udah.”


“Jangan diulangi yang kemarin. Jangan menyalahkan siapa pun lagi. Ini sudah menjadi bagian hidup yang harus kita jalani.”


“Iya om. Tapi sampai kapan kita seperti ini om?”


“Kamu sabar ya. Om masih terus berusaha. Om akan temui papimu lagi, begitu juga dengan mami. Om akan berjuang sekuat tenaga untuk hubungan kita.”


“Bagaimana kalau mereka tetap ngga merestui kita?”


“Hey, jangan pesimis dong sayang. Perjuangan kita baru dimulai, jangan menyerah ya.”


“Ily ngga menyerah om. Ily cuma cape menghadapi sikap mami. Mami berubah om, Ily udah ngga ngenalin mami yang sekarang. Mami udah ngga sehangat dulu, mami jadi otoriter. Mami ngelarang Ily, Ilan dan Ziel berhubungan dengan semua orang yang berkaitan dengan om Dimas. Bahkan untuk main ke rumah El atau Rain, Ily sama Ilan harus kucing-kucingan sama mami. Dan yang bikin Ily kecewa, papi mendiamkan semua tingkah laku mami, seakan papi mendukung apa yang dilakukan mami. Ily ngga betah di rumah om. Rumah serasa seperti neraka, kalau kita kumpul yang ada perdebatan dan pertengkaran.”


“Sabar sayang. Nanti om coba bicara sama papi.”


Firly menyurukkan kepalanya di dada bidang Dimas. Ada ketenangan yang dirasakan saat menghirup aroma maskulin dari tubuh pria di sampingnya. Aroma yang biasa Firly hirup sedari dia kecil. Aroma yang selalu bisa menenangkannya. Untuk beberapa saat mereka hanya terdiam dengan posisi duduk saling memeluk.


🍁🍁🍁


**Syukur ya Ily dan Ziel sudah berdamai. Kasihan Ziel jadi pelampiasan kekesalan Ily. Keep on fighting ya Ily dan om Dimas. Yaah walaupun mamake masih bingung mau mempersatukan mereka apa ngga😁✌️


Kalau readers jangan bingung ya, cukup mamake aja yang bingung. Kalian hanya perlu like, comment n votenya aja kok😉


Met malming😘😘**

__ADS_1


__ADS_2