
“Kia.”
Azkia yang sedang menunggu di depan lift menoleh ketika Vira memanggilnya. Wanita itu berjalan mendekati Azkia. Mereka menunggu lift yang masih bergerak turun.
“Gimana rasanya bekerja di lantai sebelas?”
“Nano-nano bu.”
“Kamu harus beruntung Kia, dari sekian pemagang di perusahaan ini cuma kamu loh yang bisa bergabung di timnya pak Elang. Ya emang sih butuh effort lebih kerja sama dia. Tapi kalau kamu kerjanya bagus kan jadi keuntungan sendiri buat kamu. Selain itu juga bisa nambah pengalaman kerja kamu. Karena walaupun masih muda tapi kinerja pak Elang itu sudah tidak diragukan lagi. Dia sama bapaknya tuh sama-sama pekerja keras.”
“Iya bu, tapi aku juga ngga enak sama Sandra. Awalnya kan dia yang dipilih tapi jadi aku yang gantiin dia.”
“Salahnya dia ngga teliti waktu kerja. Dan aku pikir kamu lebih layak berada di sana ketimbang Sandra. Terbukti sampai sekarang kamu baik-baik aja kan.”
Vira terdiam ketika melihat orang yang dibicarakan berjalan ke arahnya. Elang beserta Farel sedang menuju ke lift khusus petinggi yang letaknya bersebelahan dengan lift yang ditunggu oleh Azkia. Pandangannya lurus ke depan, tak sekali pun dia melirik ke arah Azkia. Selama di kantor mereka memang sepakat untuk bersikap profesional. Terlebih jika di hadapan karyawan lain, Elang tak pernah memperlihatkan kedekatannya dengan gadis itu. Bahkan tak jarang pemuda itu menegur Azkia jika melakukan kesalahan.
Kedua pintu lift terbuka bersamaan. Baik Elang maupun Azkia sama-sama memasuki kotak besi yang berbeda. Elang tiba lebih dulu karena lift langsung membawanya naik ke lantai sebelas. Sedangkan lift yang dinaiki Azkia harus berhenti di beberapa lantai sebelum akhirnya sampai di lantai sebelas.
Di minggu terakhirnya magang, pekerjaan di lantai sebelas sudah tak sesibuk di awal. Karena proyek yang mereka tangani sudah dalam tahap pengerjaan. Anggota tim pun akan berganti wajah seiring dengan proyek baru yang akan dikerjakan. Namun Azkia tetap dipertahankan di sana sampai masa magangnya berakhir.
“Kia tolong berkas ini diantar ke pak Elang ya.”
Kia mengambil berkas dari tangan Bachtiar lalu segera menuju ruangan Elang. Azkia menganggukkan kepalanya pada Virza sebelum masuk ke dalam ruangan. Melihat kedatangan Azkia, Elang memilih menghampirinya lalu duduk bersama di sofa. Elang mempelajari berkas yang diterimanya. Dia meminta Azkia untuk merevisi beberapa bagian. Dengan cepat Azkia mencatat apa saja yang harus direvisi.
Azkia memperhatikan raut wajah Elang yang terlihat lelah. Maklum saja seminggu ini Elang selalu lembur di kantor sampai tengah malam demi mengejar tenggat proyek. Azkia pernah menawarkan diri untuk membantu namun ditolaknya.
“Pak, saya punya tebakan. Kalau bapak ngga bisa nebak bapak harus traktir saya makan enak.”
“Kalau saya bisa?”
“Bapak boleh minta apa aja sama saya.”
“Ok, apa tebakannya?”
“Berapa kali tokek menyebutkan kata tokek?”
Elang nampak berpikir sejenak. Azkia senyum-senyum melihat Elang yang masih tampak berpikir.
“Times up. Apa jawabannya pak?”
“Empat kali.”
“Salah.”
“Berapa yang bener?”
“Lima sampai delapan kali. Rata-rata tokek menyebut kata ***** lima atau enam kali.”
“Masa? Tahu dari mana? Emang kamu udah penelitian?”
“Di sekitar rumah saya ada tokek. Setiap dia bunyi saya selalu hitung, dan dari hasil penelitian, tokek menyebut kata tokek itu lima sampai delapan kali.”
“Kerajinan amat ngitungin tokek. Kurang kerjaan ya?”
“Emang.”
Keduanya tergelak sampai tidak mendengar ketukan di pintu. Kehadiran Azkia mampu mengubah mood Elang yang sedikit menurun pagi ini. Farel masuk ke dalam ruangan, tawa Elang dan Azkia langsung terhenti.
“Ada apa nih? Bahagia banget kayanya.”
“Az, coba kamu kasih tebakan tadi ke dia.”
“Tebakan apa?”
“Berapa kali tokek menyebutkan kata tokek?”
“Kalo abang bisa jawab, gue kasih cuti dua hari.”
Mendengar penawaran Elang, Farel jadi semangat empat lima. Dia nampak berpikir keras. Beberapa kali dia menggerakkan jarinya, mengira-ngira berapa kali tokek mengucapkan kata tokek.
“Empat,” jawabnya mantap.
“Salah,” seru Azkia dan Elang berbarengan.
“Emang berapa kali?”
__ADS_1
“Lima sampai delapan kali.”
“Yang bener? Tahu dari mana?”
“Dia kan pawangnya tokek.”
Elang menunjuk pada Azkia lalu tertawa keras. Farel menatap wajah adiknya yang terlihat bahagia. Sangat berbeda mood-nya saat datang tadi. Kemudian Farel beralih pada Azkia. Dia cukup penasaran dengan gadis ini, menurutnya wajah Azkia tidak asing.
“Bentar-bentar, kok saya ngerasa wajah kamu tuh ngga asing. Apa sebelumnya kita pernah ketemu?”
“Iya pak. Kita pernah ketemu waktu pernikahan pak Dimas dan bu Firly.”
“Oh bener,” Farel menjetikkan jarinya.
“Kamu kan yang nganterin seragam buat Elang. Bener?” imbuhnya lagi.
“Iya pak.”
“Masa sih? Kapan?”
“Itu waktu baju lo ketumpahan minuman. Dia yang nganterin baju dari Rain. Waktu itu kan gue pernah bilang yang anterin bajunya cantik.”
“Tapi gue ngga lihat dia.”
“Ya emang lo ngga lihat. Orang pas dia dateng lo baru keluar kamar mandi, pake acara telanjang dada ya dia langsung ngacir lah.”
Wajah Azkia langsung memerah mendengar ucapan Farel yang tanpa filter. Saat Elang melihat ke arahnya, buru-buru dia menundukkan pandangannya. Azkia bergegas bangun dari duduknya.
“Maaf pak, saya permisi dulu.”
Tanpa menunggu jawaban, Azkia segera keluar dari ruangan tersebut. Farel tidak dapat menahan tawanya melihat Azkia yang salah tingkah merupakan hiburan sendiri untuknya di tengah kepenatan kerja.
“Ngaku lo, pasti ada sesuatu kan sama dia,” Farel beralih pada Elang seraya menaik turunkan alisnya.
“Kepo banget. Mending lo pikirin kapan mau ngenalin calon istri sama bunda. Kalau lo ngga juga bawa calon istri, bunda bakalan jodohin elo bang.”
“Mana ada, orang gue udah bilang ama bunda, gue bakalan nikah kalau lo udah nikah hahaha...”
“Dasar kadal buluk!”
“Buruan, meeting mau dimulai.”
Farel keluar dari ruangan Elang. Tak lama pemuda itu berdiri lalu menyusul sang kakak. Di depan ruangan Virza juga sudah siap untuk mengikuti meeting. Ketika Elang memasuki ruang meeting, semua yang terlibat sudah siap menunggu sang wakil CEO untuk memulai meeting dadakan mereka.
Setelah bertemu Azkia tadi, mood Elang sedikit membaik hingga berpengaruh pada jalannya meeting. Seluruh anggota tim bisa sedikit berlega hati karena Elang tak seganas biasanya. Walaupun ada ketidakpuasan atas proposal yang mereka buat, namun emosi Elang masih lancar terkendali.
“Saya mau sore ini proposal sudah siap. Apa kalian sanggup?”
“Sanggup pak.”
“Pak Farel dan Virza akan membantu kalian menyelesaikan proposal. Dan Azkia, kamu ikut saya bertemu dengan calon investor.”
“Baik pak.”
“Modus,” gumam Farel pelan.
Menjelang jam makan siang, Elang dan Azkia meninggalkan kantor. Mereka menuju sebuah restoran, tempat pertemuan akan dilakukan. Seorang pelayan langsung memandu mereka sesampainya di restoran bintang lima tersebut. Keduanya dibawa menuju private room yang sudah disiapkan sang investor.
Begitu pintu terbuka, nampak dua orang pria berusia sekitar tiga puluhan sudah duduk menunggu. Elang dan Azkia segera bergabung. Keduanya memilih duduk berhadapan dengan sang calon investor.
“Selamat datang pak Elang. Perkenalkan ini bapak Pandu Wirayudha.”
Elang menjabat tangan Pandu berikut Sam, asistennya. Sedang Azkia hanya menangkupkan kedua tangannya. Tanpa membuang waktu, mereka langsung berbicara tentang maksud pertemuan kali ini.
Elang membaca dengan seksama butir-butir perjanjian yang diberikan oleh Sam. Azkia lebih banyak diam dan menundukkan pandangannya. Sedari tadi Pandu tak henti memperhatikannya. Elang bukan tak menyadarinya, namun dia masih berusaha menahan diri.
“Pak Elang, apa ini sekretaris bapak?” Pandu mulai membuka pertanyaan.
“Saat ini, iya dia sekretaris saya. Apa ada masalah?”
“Tidak. Pak Elang pintar memilih sekretaris, cantik.”
Elang meletakkan dokumen di atas meja dengan gerakan kuat hingga menimbulkan suara yang cukup keras.
“Ada beberapa butir dalam kesepakatan kerja sama yang tidak sesuai dengan kesepakatan kita. Terutama di poin 3, 5 dan 6.”
__ADS_1
“Maaf sebelumnya, kami memang mengganti sedikit dari kesepakatan awal. Jujur saja, penawaran yang pak Elang tawarkan sebelumnya itu terlalu kecil keuntungannya. Dengan adanya revisi dari pihak kami, sudah jelas akan memberikan keuntungan yang besar untuk kita berdua pastinya,” Sam menanggapi ucapan Elang.
“Sejak awal sudah saya tekankan kalau proyek ini memang ditujukkan untuk kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu saya mencari investor yang benar-benar mendukung kami. Tujuan utama proyek ini adalah pengembangan potensi daerah, jika hal ini terwujud maka pemerataan tingkat kesejahteraan akan terjadi sekaligus menekan urbanisasi.”
Pandu mengangkat tangannya, meminta Sam untuk tidak melanjutkan perkataannya. Dipandanginya Elang dengan seksama, dalam hatinya bersyukur Humanity mengirimkan Elang untuk bertemu dengannya, bukan Irzal sendiri yang datang.
“Kami butuh keuntungan juga pak Elang demi kelangsungan perusahaan. Tapi jika pak Elang bersikeras tidak merubah poin seperti keinginan kalian, saya bisa menyujuinya dengan syarat berikan sekretaris pak Elang untuk saya.”
Azkia langsung mengangkat kepalanya ketika namanya disebut. Namun ketika melihat pandangan Pandu menatapnya penuh *****, Azkia langsung menundukkan kepalanya. Jarinya saling meremas, nafasnya l tersengal, pikirannya mulai berhamburan kemana-mana. Ketakutan seketika menyergapnya.
“Saya pikir anda adalah pengusaha profesional, tapi ternyata tak lebih dari bajingan tengik.”
Elang berdiri, kalau tidak memikirkan nama baik perusahaan dan ayahnya mungkin dia sudah membuat pria di hadapannya babak belur.
“Kerjasama kita batal. Saya tidak sudi bekerja sama dengan anda dan saya juga tidak butuh uang anda untuk menjalankan proyek ini. dengan atau tanpa dukungan ini, saya pastikan proyek ini akan terus berjalan. Az, ayo bangun.”
Azkia bangun dan mengikuti Elang. Pandu yang tak terima menerima perlakuan Elang, ikut berdiri. Harga dirinya seperti terinjak dihina oleh seorang anak bau kencur.
“Saya juga akan pastikan tidak akan ada satu investor pun yang akan bergabung dengan kalian!”
“Lakukan apapun yang anda mau. Kita lihat siapa yang akan tersenyum di akhir,” gertak Elang tak mau kalah.
Saat Azkia hampir mencapai pintu, Pandu bergerak hendak menariknya namun Elang lebih dulu mencekal tangannya.
“Jangan berani menyentuhnya! Atau saya tidak akan segan-segan mematahkan tangan anda!”
Elang terus mencekal tangan Pandu sampai Azkia berhasil keluar dari ruangan. Setelah itu dihempaskannya tangan pria tersebut. Sam hanya mampu berdiri melihat semua kejadian di hadapannya. Melawan Elang pun dia tak punya nyali karena sudah mendengar desas-desus tentang pemuda itu.
Azkia berpegangan pada tangga saat kakinya menuruni anak tangga. Tubuhnya serasa lemas, kejadian tadi berhasil memicu serangan paniknya. Elang menarik sebuah kursi lalu meminta gadis itu duduk. Dia juga memanggil pelayan untuk membawakan minum. Tangan Azkia tampak bergetar ketika memegang gelas.
“Az...”
“Az...”
“Az...”
Pada panggilan ketiga, Azkia baru meresponnya. Elang menghela nafasnya melihat wajah Azkia yang tampak pucat.
“Jangan takut, ada aku hmm? Aku tidak akan membiarkan dia menyentuhmu sedikit pun. Kamu percaya padaku kan?”
Azkia mengangguk, dia masih belum mempunyai tenaga untuk berbicara. Melihat keadaan Azkia, Elang memilih untuk mengantarkannya pulang. Elang mengantarkan Azkia sampai ke depan pintu rumahnya.
“Mas, lebih baik aku kembali ke kantor.”
“Ngga, kamu istirahat aja.”
“Maaf mas kalau aku merepotkan.”
“Masuklah, kalau kamu butuh sesuatu, hubungi aku.”
Elang membalikkan badannya lalu melangkah pergi. Selama perjalanan menuju kantor, dia tak henti memikirkan tentang Azkia. Ini kali kedua melihat Azkia bersikap seperti tadi. Pertama saat reuni, ketika Gara tiba-tiba duduk di samping gadis itu. Elang menepikan kendaraannya lalu mengambil ponselnya.
“Halo bos.”
“Jay, tolong lo cari tahu semua tentang Azkia.”
“Azkia yang anak magang itu?”
“Hmm.. ngga pake lama.”
“Siap bos.”
Elang mengakhiri panggilannya lalu menjalankan lagi kendaraannya. Sesampainya di kantor nanti dia pasti akan diminta pertanggung jawaban karena sudah membatalkan kerjasama dengan sepihak.
🍁🍁🍁
**Akhirnya di tengah keriweuhan, mamake bisa up juga. Mas El, aku padamu😍
Jangan lupa dukungannya ya gaaaeesss, like, comment and vote😉
Mas El lagi pusing, kerjaannya ngga kelar²**
Mood mas El langsung naik begitu lihat senyum manisnya neng Az
__ADS_1