
Regan mengangguk. Setelah mengambil nafas panjang Regan mulai menceritakan maksud dan tujuan mereka datang ke sini. Kecurigaannya pada Vanya sebagai dalang yang mencoba merusak rumah tangga anaknya. Dokter Rais menghela nafas panjang. Sebelumnya dia sudah bisa menduga kalau Vanya akan berbuat nekad mengingat kebencian sekaligus rasa cintanya pada Regan.
“Saya ingin bertemu dengannya dok. Sepertinya urusan kami di masa lalu masih belum selesai. Saya harus menyelesaikannya hari ini juga. Saya tidak ingin dia terus menerus mengganggu ketentaraman keluarga saya.”
“Baiklah, saya akan menemani. Saya khawatir dia akan histeris dan berbuat nekad.”
Ketiganya berdiri kemudian keluar dari ruangan. Dokter Rais meminta dua orang perawat pria untuk mengikutinya lengkap dengan membawa suntikan yang berisi obat bius. Takut jika Vanya mengamuk. Ketiganya menuju lantai lima, tempat para pasien berkumpul untuk bersantai.
Vanya baru saja keluar dari toilet ketika menangkap sosok Regan memasuki ruangan tempat pasien menonton televisi. Saat yang bersamaan Regan pun melihat ke arahnya. Menyadari Regan telah melihatnya, Vanya berlari menghindar.
“Vanya!”
Vanya tak mempedulikan teriakan Regan, dia segera berlari menuju tangga darurat. Regan, Akhtar, dokter Rais dan kedua perawat segera mengejarnya. Vanya terus berlari menaiki tangga. Kelima pria di belakangnya terus mengejarnya.
Vanya tiba di roof top, sudah tak ada tempat untuk menghindar lagi. Dia berjalan mundur ke arah pembatas roof top.
“Vanya stop,” ucap dokter Rais.
“Dokter ternyata mendukungnya. Kupikir selama ini dokter mengerti diriku, penderitaanku. Tapi ternyata dokter memihaknya.”
“Bukan Vanya, bukan seperti itu. Dokter Regan hanya menanyakan keadaanmu.”
“Vanya, kenapa kamu tidak berhenti mengganggu kehidupanku,” geram Regan.
Vanya melihat ke arah Regan. Pria yang begitu dicintainya dari dulu hingga sekarang. Pria yang selalu membuatnya berada dalam dilema, antara cinta juga benci. Dia menatap sinis ke arah Regan. Lalu pandangannya tertuju pada Akhtar. Seringaian muncul di wajahnya.
__ADS_1
“Bagaimana rasanya mas melihat anakmu terluka? Bagaimana rasanya melihat anakmu mengandung tanpa didampingi suaminya? Hahahaha... aku yakin saat ini Sarah pasti sedang menangis, meratapi nasib anaknya.”
“Dasar wanita iblis!” teriak Akhtar.
“Hahahaha... kalau aku wanita iblis maka kamu adalah pria bodoh yang lebih mempercayai hasil pemeriksaan dibanding istrimu sendiri. Kamu yang menuduh istrimu, kamu yang membuatnya pergi bukan aku!”
Akhtar geram mendengar ucapan Vanya. Dia merangsek maju tapi segera ditahan oleh dokter Rais. Dokter Rais berjalan perlahan menuju Vanya.
“Stop dokter! Maju selangkah lagi maka aku akan terjun dari sini.”
Mendengar ancaman Vanya, dokter Rais menghentikan langkahnya. Tubuh Vanya sudah merapat pada pembatas roof top yang tingginya hanya sebatas lututnya saja.
“Mas, apa benar tidak ada sedikit pun rasa cinta untukku? Kamu tahu sampai sekarang aku masih sangat mencintaimu. Tinggalkan Sarah dan hiduplah denganku.”
“Dari dulu hingga sekarang aku tidak pernah mencintaimu. Harusnya kamu bisa menerima kenyataan ini. Berhentilah dengan obsesimu Vanya. Kita sudah tidak muda lagi sekarang. Berdamailah dengan masa lalu, hiduplah dengan baik.”
“Dasar wanita gila!”
“Hahahaha... aku memang gila dan mertuamu yang sudah membuatku gila!!”
Vanya menunjuk pada Regan dengan mata berapi-api. Tapi sesaat kemudian pandangannya berubah menjadi sayu. Matanya berkaca-kaca, tak lama buliran bening mengalir membasahi pipinya.
“Aku sangat mencintaimu mas... seumur hidupku hanya ada namamu dalam hatiku. Sampai saat ini pun hanya kamu yang bertahta di sini,” Vanya menunjuk dadanya.
“Aku ingin kamu mengingat momen ini mas, ingatlah momen ini sampai sisa umurmu.”
__ADS_1
Selesai berkata, dengan cepat Vanya berbalik. Dia menaiki pembatas roof top lalu terjun ke bawah. Dua perawat yang berlari ke arahnya hanya dapat menggapai angin karena tubuh Vanya sudah lebih dulu meluncur ke bawah. Terdengar bunyi alarm mobil dari arah bawah. Semua yang ada di sana melihat ke arah bawah. Tubuh Vanya jatuh di atas sebuah mobil dengan kepala bersimbah darah. Terdengar jeritan orang-orang yang melihat peristiwa tersebut.
Melihat kondisi Vanya, kelima pria tersebut bergegas turun ke bawah. Sementara itu, perawat, pasien serta beberapa karyawan yang berada di lokasi jatuhnya Vanya segera mengelilinginya. Tak lama dokter Rais tiba. Dia menyeruak di antara kerumunan untuk melihat keadaan Vanya. Tubuhnya terkulai lemas saat mendapati Vanya sudah tak bernyawa.
Regan terhenyak melihat pemandangan di depannya. Kata-kata terakhir Vanya kembali terngiang di telinganya. Tubuhnya limbung, hampir saja dia terjatuh kalau Akhtar tak segera menangkapnya.
Suasana panti seketika kacau. Jasad Vanya tetap dibiarkan seperti itu sampai pihak berwajib datang. Dua puluh menit kemudian polisi datang dan mengamankan lokasi. Jenazah Vanya segera dibawa ke rumah sakit terdekat. Dokter Rais, Regan, Akhtar, dua perawat serta resepsionis yang menerima kedatangan Regan diminta ikut ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.
Setelah melalui interogasi hampir lima jam lamanya, akhirnya polisi membebaskan semuanya. Mereka menutup kasus ini sebagai kasus bunuh diri, berdasarkan keterangan para saksi. Jasad Vanya tidak diautopsi, dan akan dimakamkan di dekat panti.
Sarah yang mendengar kabar tentang Vanya dari Akhtar segera menyusul ke kantor polisi. Setengah berlari dia memasuki kantor pelindung dan pengayom masyarakat tersebut. Didapati Regan tengah duduk tertunduk di salah satu bangku. Sarah menghambur ke arah Regan dan langsung memeluknya.
“Vanya... dia...”
“Ssssttt... aku sudah tahu semuanya mas. Itu bukan salahmu, itu pillihannya. Kamu tidak ada hubungannya dengan ini semua.”
“Kalau mas tidak datang ke sini, mungkin dia masih hidup.”
“Dan menyakiti keluarga kita terus? Kamu sudah melakukan yang benar mas. Mas hanya ingin melindungi keluarga kita. Jangan terpengaruh dengan ucapannya.”
Sarah menangkupkan kedua tangan ke wajah suaminya. Dikecupnya kening Regan dengan lembut. Regan memeluk pinggang Sarah dengan erat, mencoba mendapatkan kekuatan dari sang istri. Akhtar melihat pemandangan di depannya dengan tatapan haru. Mertuanya tetap saling mengasihi dan menguatkan di saat terburuknya. Sedangkan dirinya, Akhtar mengesah panjang. Ingatannya kembali melayang pada sang istri. Berjuta penyesalan memenuhi rongga hatinya.
🍁🍁🍁
**Met siang readers tercinta, maaf ya mamake baru bisa up karena pagi2 ada acara keluarga.
__ADS_1
Akhirnya Vanya game over juga. Buat yg udah baca CLBK pasti gemes ya si ulet keket ngga ada matinya😁
Sekarang hari Senin ya, ngga bosen2 mamake ingetin buat kasih vote ke karya ini, berserta like dan commentnya juga. Makasih all😘😘😘**