
Para suster yang bertugas di lantai enam, tepatnya di bagian persalinan, memandang iri pada Ayunda yang mendapat perhatian begitu besar dari Reyhan. Dokter bedah ganteng itu dengan setia menemani sang istri berjalan-jalan untuk mempercepat pembukaan dan melancarkan jalan lahir.
Sejak semalam Ayunda mengeluhkan sakit di perutnya. Sehabis shubuh Reyhan langsung membawa ke rumah sakit. Namun dia belum mengabari pada yang lain, masih menunggu perkembangan sang istri. Sampai siang tadi, Ayunda masih pembukaan enam.
“Adduuhh.. sakit mas.”
Ayunda mendudukkan di salah satu kursi. Reyhan berjongkok di depan istrinya. Tangannya mengusap perut buncit di depannya seraya berkata pelan.
“Assalamu’alaikum baby boy.. jangan menyusahkan mama ya sayang. Cepat keluar, papa udah ngga sabar ketemu kamu sayang.”
Reyhan mencium perut Ayunda beberapa kali. Sambil menahan sakit, Ayunda mengulumkan senyum. Diusapnya puncak kepala sang suami. Para suster yang melihat dari meja tugasnya hanya bisa menatap dengan pandangan iri.
Dokter Hana yang menangani Ayunda datang. dia meminta Ayunda masuk ke ruang pemeriksaan untuk mengecek pembukaan. Reyhan membimbing istrinya masuk ke ruang pemeriksaan. Bidan yang bertugas membantu juga ikut masuk. Dia yang akan mengecek pembukaan Ayunda.
“Sudah pembukaan delapan. Sepertinya sebentar lagi komplit.”
Dokter Hana mengangguk, dia lalu keluar untuk memberikan arahan pada suster. Reyhan mulai menghubungi semua keluarga. Ayunda mencengkeram tangan suaminya ketika kembali merasakan kontraksi.
Satu jam kemudian pembukaan Ayunda komplit sudah. Semua keluarga juga sudah datang dan menunggu di depan ruang bersalin. Reyhan tetap berada di ruang bersalin menemani sang istri.
Ayunda mengeluarkan segenap kekuatannya ketika bidan memberikan aba-aba padanya. Beberapa kali dia mengambil nafas untuk kembali mengejan. Tangannya menggenggam erat tangan Reyhan.
Lima belas menit berlalu, namun Ayunda masih belum bisa mengeluarkan sang bayi. Anaknya itu masih betah berada dalam rahimnya. Peluh bercucuran di dahinya, Reyhan dengan penuh kasih mengeringkannya dengan tisu.
“Mas..”
“Ya sayang..”
“Ayah.. aku mau ketemu ayah.”
“Sebentar.”
Reyhan keluar dari ruangan untuk memanggil Irzal. Tak lama dia masuk kembali bersama dengan sang mertua. Irzal mendekati anaknya yang sedang berbaring.
“Ayah...” rengek Ayunda.
“Kenapa nak?”
“Aku ngga sanggup.”
“Jangan begitu sayang. Ayo, kamu pasti bisa. Ada suamimu di sini yang menemami. Bunda, papa Regan dan mama Sarah juga ada di luar. Kamu pasti bisa, Bismillah nak..”
Irzal mendekatkan mulutnya ke wajah Ayunda lalu membisikkan doa ke telinga anaknya itu. Kemudian Irzal mengusap perut sang anak sambil terus membaca doa. Irzal mundur, memberikan ruang pada Reyhan. Pria itu langsung memegang tangan sang istri. Ayunda kembali merasakan kontraksi. Dia mulai mengejan, berhenti sebentar untuk mengambil nafas lalu kembali mengejan.
OEK
OEK
OEK
Reyhan dan Irzal mengucapkan hamdalah bersamaan ketika bayi mungil itu berhasil keluar dengan selamat. Ayunda terkulai lemah di atas meja partus, Reyhan mendaratkan kecupan bertubi-tubi di kening istrinya.
“Makasih sayang... anak kita selamat. Kamu hebat sayang, I love you.”
Irzal tersenyum lega melihat cucu keduanya lahir ke dunia dengan selamat. Dia segera keluar ruangan untuk memberikan kabar bahagia walau sudah pasti yang menunggu di luar sudah mendengar tangis kencang bayi mungil itu.
“Alhamdulilah Yunda dan bayinya selamat.”
“Alhamdulillah,” ucap yang lain.
Poppy menghambur ke dalam pelukannya. Saat yang bersamaan Elang, Azkia, Farel, Ara, Dimas dan Firly datang. Mereka turut gembira mendengar keponakannya telah lahir.
“Alhamdulillah keponakan aku nambah,” seru Ara.
“Selamat ya pa, cunakan-nya udah lahir,” ucap Farel pada Dimas.
__ADS_1
“Apa cunakan?”
“Cucu keponakan hahaha...”
Dimas menepuk belakang kepala Farel. Ara sontak mencubit pinggang sang papa yang langsung diledek oleh Dimas.
Reyhan keluar menggendong bayi mungilnya yang telah dibersihkan, diadzani dan inisiasi dini. Poppy dan Sarah bergegas mendekat. Sarah mengambil cucunya dari gendongan Reyhan. Akhirnya dia mempunyai cucu laki-laki. Karena anak kedua Rain perempuan lagi.
“Bagaimana keadaan Yunda?”
“Alhamdulillah baik. Yunda sedang dibersihkan oleh suster.”
Tak lama pintu ruang bersalin terbuka, Ayunda dibawa keluar oleh suster menggunakan kursi roda. Sarah menyerahkan bayi mungil di tangannya pada sang mama. Ayunda memandang takjub pada sang anak. Rasanya tak percaya kalau sekarang dia sudah menjadi ibu.
“Siapa namanya Rey?” tanya Regan.
“Rakan Aarav Vaughan.”
Mata Sarah berkaca-kaca mendengar Reyhan menamai anaknya seperti nama kakak pertamanya, Rakan. Begitu pula dengan Regan, dia seakan melihat Rakan hidup kembali dalam wujud sang cucu. Reyhan mengambil alih kursi roda lalu mendorongnya masuk ke dalam lift. Ayunda akan dipindahkan ke ruang perawatan VVIP yang berada di lantai 11.
🍁🍁🍁
Suasana riuh tercipta di ruang perawatan Ayunda ketika keluarga dan para sahabat datang menjenguk. Sarah terus saja menggendong Rakan setelah disusui oleh Ayunda. Walau wajah almarhum anaknya dengan sang cucu tidak sama, namun dia cukup senang mengetahui cucunya dinamai Rakan.
Reyhan tersenyum senang melihat mama dan papanya begitu bahagia. Dia dan Ayunda memang sudah berdiskusi dan memutuskan memakai nama Rakan untuk anak pertama mereka. Rain pun tak kalah senang mendapat seorang keponakan laki-laki. Sedari tadi dia tak henti memandangi wajah tampan Rakan.
“Yun.. anak kamu mirip banget sama kamu. Rey cuma dikasih hidung doang,” celetuk Gara.
“Iya dong, kan aku yang gembol dia kemana-mana selama sembilan bulan. Wajar kalau mirip aku.”
“Katanya kalau anak mirip banget salah satu pasangan, itu berarti pasangannya cinta banget. Nah di sini Rey yang cinta mati sama kamu,” ledek Gara kembali.
“Ya jelas dong. Masa cinta mati sama istri orang,” sahut Reyhan.
“Dasar bucin.”
“Dasar sableng,” gerutu Gara.
Nara mencubit pinggang suaminya untuk menghentikan perdebatan unfaedah mereka. Suasana semakin riuh ketika Azriel datang bersama dengan Yoshi. Kedatangan dua sejoli itu langsung disambut celetukan-celetukan usil dari yang ada di ruangan.
“Cieee... pasangan baru jadian. Kemana-mana gandengan mulu udah kaya truk gandeng,” Gara.
“Dunia serasa milik berdua. Yang lain ngekost,” Farel.
“Bilangnya ogah tapi diembat juga,” Virzha.
“Awas Ziel, mulut sama tangan dikondisikan jangan main gerayang dulu,” Elang.
“Pasti menang terus sekarang kalau tanding. Udah punya suporter pribadi gitu loh,” Akhtar.
“Gasskeun,” Zahran.
“Istri gue emang manjur sumpahnya,” Reyhan.
“Buruan halalin, jangan sampai ditikung orang,” Jayden.
“Banyak bacot lo bang. Sendirinya juga belum halal. Noh bawa kak Meta ke BPOM biar dikasih label halal.”
Jayden menoyor kepala Azriel yang mulutnya tak lebih bocor dari para pria di ruangan ini. Yoshi hanya bisa diam, malu rasanya jadi bulan-bulanan.
“Ternyata doyan juga ama kutil tyrex,” Firlan.
Yoshi yang sedari tadi hanya diam, mendadak kesal mendengar celetukan Firlan. Dia mendelik sebal ke arah Azriel. Dicubitnya lengan calon suaminya itu cukup kencang.
“Adaaww.. sakit beb.”
__ADS_1
“Rasain. Lagian seenaknya aja ngatain orang kutil tyrex. Dasar bisul tyrex!”
Semua tergelak melihat pertengkaran pasangan unyu-unyu ini. Sepertinya kali ini Azriel mendapatkan lawan yang sepadan.
“Ziel.. kapan kalian rencana nikah?” tanya Regan.
“In Syaa Allah tahun depan pa.”
“Ngga kelamaan?”
“Nih ngomong aja sama Yoshi. Permintaannya itu loh pa. Dia bilang mau nikah kalau aku udah beres ikut kejuaraan piala Thomas. Mana disuruh menang juga supaya piala Thomas bisa dibawa pulang dan dibuat replika. Kan dia pengen mas kawin replika piala Thomas.”
Yoshi menyembunyikan wajahnya di belakang punggung Azriel saat semua orang menatapnya. Dalam hatinya merutuki mulut ember sang kekasih yang seenak jidatnya membeberkan rahasia dapur hubungan mereka.
“Buruan nikah Ziel. Terus ngadon anak, gue request anak perempuan ya sama elo. Kan anak gue sama Nara laki-laki nih, jadi nanti anak kembar lo biar jadi jodoh anak kita.”
“Set dah emangnya bikin anak kaya bikin kue balok apa bisa dipesen.”
“Eh mulut gue ini manjur lo.”
“Manjur pala lo peyang.”
Sebuah tepakan mendarat di kepala Azriel. Sang pelaku tak lain adalah Reyhan. Yoshi rasanya ingin menghilang saja. Ternyata berada di tengah-tengah keluarga besar Ramadhan membuatnya mati kutu. Dari yang dingin seperti es balok sampai yang panas seperti kompor mledug ada semua. Tapi tak dapat dipungkiri, gadis itu merasa nyaman bersama mereka.
🍁🍁🍁
Keadaan ruang perawatan Ayunda kembali tenang saat malam hari. Semua yang menjenguk sudah pulang. Ayunda belum diperbolehkan pulang, dia harus menginap satu malam untuk memantau kondisinya juga Rakan.
Ayunda menepuk ruang kosong di sebelahnya ketika Reyhan menghampiri. Suaminya itu segera naik ke atas bed lalu membaringkan tubuhnya di sisi sang istri. Rakan sudah tertidur pulas di boksnya setelah kenyang menyusu.
“Aku masih belum percaya mas kalau sudah menjadi seorang ibu.”
“Hmm.. mas juga. Rasanya baru kemarin mas mengucap ijab kabul. Sekarang sudah ada Rakan di antara kita. Terima kasih sayang, sudah memberikan anak yang begitu tampan untukku.”
Reyhan menciumi wajah sang istri mulai dari kening, mata, hidung, pipi, bibir dan dagu. Sejak Rakan lahir, dia belum bisa menyentuh Ayunda. Istrinya itu disibukkan dengan Rakan dan juga keluarga serta para sahabat yang menjenguk.
“Mas mau punya anak berapa?”
“Sesanggupnya kamu aja sayang. Tapi jangan terlalu dekat ya jaraknya. Minimal Rakan umur dua tahun baru kita program anak kedua. Biar kamu ngga terlalu cape dan punya waktu buat mas juga.”
“Setelah melahirkan bentuk badanku berubah. Aku jadi gendut dan ngga menarik lagi. Mas jangan berpaling ya dariku.”
“Bentuk badanmu berubah karena kamu sudah melahirkan anak untuk mas, keturunan kita. Bagaimana mas bisa meninggalkanmu. Wanita di luar sana ngga lebih berharga darimu. Kamu berjuang mengandung dan melahirkan anak kita dengan selamat. Itu adalah anugerah yang harus mas syukuri. Jangan pernah berpikir macam-macam. Hati mas cuma untukmu seorang.”
Reyhan meraih tangan Ayunda lalu mengecup punggung tangannya dengan lembut. Matanya menatap penuh cinta ke dalam iris sang istri. Perlahan Reyhan mendekatkan wajahnya lalu membenamkan bibirnya di bibir Ayunda. Dengan lembut dia memberikan l**atan dan pagutan yang sarat akan cinta.
Suster Rika yang baru saja masuk langsung keluar lagi begitu melihat adegan mesra pasangan suami istri tersebut. Untuk kedua kalinya dia menyaksikan pertarungan bibir Reyhan dan Ayunda.
Astaga kejadian lagi. Ini anugerah apa musibah ya. Dokter Rey, teganya dirimu membuat mataku ternoda, mana jomblo lagi, asem dah.
Ciuman Reyhan terhenti ketika mendengar suara tangis Rakan. Papa muda itu turun dari bed lalu meraup Rakan dalam gendongannya. Ayunda mengambil alih Rakan kemudian menyusuinya. Reyhan kembali naik ke atas bed. Matanya terus melihat pada sang anak yang men**nyot bulatan kenyal miliknya. Sepertinya dalam dua tahun ke depan, bukit kembar itu akan menjadi milik Rakan.
“Enak banget ya jadi Rakan.”
“Apaan sih mas. Sebelum Rakan lahir kan mas juga sering ny*su. Masa ngiri sama anak sendiri.”
“Ngga apa-apa deh bagian atas dimonopoli Rakan. Mas mah bagian bawah aja.”
Ayunda mencubit lengan Reyhan yang bicara melantur. Suaminya itu malah tersenyum kemudian mendaratkan ciuman di kening Ayunda dan Rakan bergantian.
🍁🍁🍁
**Selamat ya Rey & Ay untuk kelahiran Rakan. Semoga menjadi anak yg Sholeh dan selalu membanggakan orang tua.
Sedikit lagi cerita ini akan sampai di ujungnya. Semakin berat juga mamake mengakhirinya🤧
__ADS_1
Selamat malam Minggu ya, jangan lupa dukungannya buat mamake😉**