Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 3 : YOU ARE MY DESTINY Lamaran Adi


__ADS_3

“Saya akan berikan itu untuk bapak. Tolong jangan sakiti Azkia, ibu atau Hanin.”


“Kang...”


Azkia terhenyak mendengar penuturan Adi. Lelaki itu ternyata mengikutinya pulang ke rumah. Azkia memang langsung pulang meninggalkan acara reuni yang belum usai setelah mendapat telepon dari sang adik. Dan Adi mendengar semua pertengkaran keluarga kecil itu. Saat Agus, ayah Azkia hendak memukul gadis itu, Adi muncul dan mengatakan hal yang membuat Azkia terkejut.


“Berapa yang bisa kamu beri untuk saya?”


“Berapa yang bapak butuhkan?”


“Saya butuh dua juta malam ini.”


“Baik, saya akan bawakan sekarang juga.”


“Kang jangan...”


Adi memberi isyarat pada Azkia untuk diam. Kemudian pemuda itu keluar dari rumah mungil tersebut. Beberapa tetangga yang mendengar pertengkaran mereka berkerumun di dekat rumah Azkia.


“Ada apa dengan ibu Daniar?” tanya salah seorang warga begitu melihat Adi.


“Cuma masalah keluarga aja pak.”


“Apa perlu saya panggilkan pak RT?”


“Tidak usah pak, masalahnya sudah selesai. Saya permisi dulu pak.”


Adi bergegas menuju motornya yang terparkir depan rumah. Dia harus segera menuju ATM. Para tetangga yang berkumpul pun memutuskan untuk kembali ke rumahnya masing-masing setelah mendengar penjelasan Adi.


Adi memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Jika terlalu lama pergi, dia takut Agus akan berbuat nekad dan menyakiti Azkia. Sejak pertama kali mengenalnya Adi memang sudah jatuh hati pada gadis itu. Dia bahkan sudah mengutarakan niatnya untuk menikahi Azkia pada umminya.


Keluarga Adi termasuk salah satu keluarga terpandang di Bandung Selatan, tepatnya di daerah Ciwidey. Ayahnya adalah pemilik pondok pesantren Ulul Ilmi. Rencananya setelah sidang skripsi, Adi berniat melamar Azkia. Dan sang ayah pun telah menyetujuinya.


Adi masuk ke salah satu mini market lalu menuju mesin anjungan tunai mandiri yang terletak di sudut ruangan. Dengan cepat dia menarik uang sejumlah yang diinginkan Agus. Kemudian dengan cepat keluar, menunggangi motornya untuk kembali ke kediaman Azkia.


Agus menyeringai senang ketika menerima uang yang diberikan oleh Adi. Dihitungnya uang tersebut, takut-takut tak sesuai dengan permintaannya. Pria paruh baya itu lalu menatap pada Adi yang duduk di hadapannya.


“Kenapa kamu mau memberikan uang ini? Apa kamu menyukai Azkia?”


“Iya, saya mencintai anak bapak dan secepatnya saya akan melamarnya kalau bapak tidak keberatan.”


Mata Azkia membulat mendengar pernyataan cinta Adi. Daniar dan Hanin juga cukup terkejut, berbeda dengan Agus yang terlihat senang karena seperti baru saja mendapatkan ladang uang untuknya. Dia yakin sekali pemuda di hadapannya akan melakukan apapun demi anaknya itu.


“Kalau kamu ingin menikahi Kia, kamu harus menyiapkan uang yang banyak untuk maharnya. Apa kamu sanggup?”


“Apapun permintaan bapak, saya akan berusaha memenuhinya.”


Terdengar tawa Agus membahana di seluruh ruangan. Dia bangun dari duduknya lalu melenggang pergi.


“Maaf kang sudah merepotkan, tapi aku akan mengembalikan uang akang secepatnya.”


“Ngga usah Kia, In Sya Allah saya ikhlas.”


“Tapi kang..”


“Apa yang aku katakan pada bapakmu tadi adalah kenyataannya. Ibu, saya harap ibu mau menerimaku. Secepatnya saya akan membawa orang tua saya untuk melamar Azkia secara resmi.”


“Kang.. bisa kita bicara berdua?”


Daniar yang memahami maksud anaknya segera undur diri. Dia juga mengajak Hanin untuk pergi. Keduanya masuk ke dalam kamar masing-masing. Namun Hanin membuka sedikit pintu kamarnya. Jiwa keponya meronta ingin mendengar apa yang akan dikatakan sang kakak.


Suasana hening sejenak. Azkia meremas tangannya beberapa kali. Rasa gugup langsung melandanya. Jujur saja pernyataan Adi yang hendak melamarnya benar-benar membuatnya terkejut. Azkia mengakui kalau Adi adalah pemuda yang baik. Sudah sering kali Adi membantunya, namun dia tak dapat membohongi perasaannya kalau tak ada cinta untuk seniornya itu.


“Kang, sebelumnya aku ucapkan terima kasih atas bantuan akang malam ini. Seperti yang aku bilang tadi, secepatnya aku akan mengembalikan uang itu. Dan soal lamaran akang, maaf kang untuk saat ini saya belum kepikiran untuk menikah.”

__ADS_1


“Kenapa? Bukankah nikah itu adalah ibadah? Dengan menikah, kita sudah menyempurnakan setengah perjalanan ibadah kita.”


“Aku tahu kang. Tapi masih banyak hal yang ingin kulakukan. Aku ingin menyelesaikan kuliahku dulu. Kondisi ibu juga sedang tidak sehat, Hanin masih membutuhkan biaya untuk sekolah. Aku tidak ingin menjadi beban untukmu.”


“Aku tidak merasa terbebani. Bukankah lebih baik kita bisa berbagi beban bersama?”


“Maaf kang. Untuk saat ini aku belum bisa.”


“Baiklah, aku tidak akan memaksa. Aku akan menunggu sampai kamu siap. Aku pulang dulu, jika membutuhkan sesuatu katakan saja jangan sungkan. Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Adi keluar dari rumah Azkia. Ada sedikit perasaan kecewa karena Azkia menolaknya. Dia sudah berharap banyak pada gadis itu. Mengingat hanya dirinyalah lelaki yang bisa bergaul akrab dengan Azkia, membuat kepercayaan dirinya begitu tinggi. Tapi jawaban Azkia seperti menghempaskannya jatuh ke bumi setelah melambung tinggi.


Sepulangnya Adi, Azkia masih termenung di ruang tamu. Bukan lamaran Adi yang dipikirkannya, tetapi bagaimana mengganti uang pemuda itu. Uang di tabungannya sudah dialokasikan untuk sekolah Hanin dan biaya berobat Daniar. Jika dia menggunakan uang itu, lalu bagaimana jika sewaktu-waktu penyakit Daniar kambuh.


Apa aku pinjam ke mba Rayna aja ya, aku bisa minta potong gaji untuk menggantinya. Tapi... aku sudah terlalu sering merepotkan mba Rayna.


Azkia menggelengkan kepalanya seraya menghela nafas panjang. Tubuh dan pikirannya begitu letih, dia memutuskan untuk pergi tidur. Hanin berpura-pura sudah tertidur ketika kakaknya masuk ke dalam kamar. Dia membuka sedikit matanya, melihat sang kakak yang sedang berganti pakaian. Rasa sedih seketika menjalari hatinya, melihat Azkia yang berjuang seorang diri demi memenuhi kebutuhan keluarga. Airmata Hanin menggenang.


🍁🍁🍁


Sudah seminggu ini Azkia berangkat shubuh dan pulang malam. Dia sengaja memanfaatkan waktu luangnya untuk mengambil pekerjaan tambahan. Sehabis shubuh dia mengantar pesanan kue salah satu tetangganya yang membuka usaha kue rumahan. Malam harinya sepulang kerja di mini market, Azkia memberikan pelajaran tambahan pada salah satu murid mengajinya.


Azkia tak mempedulikan tubuhnya yang cukup lelah, karena harus membagi waktu antara kuliah, bekerja dan mencari uang tambahan. Yang ada di pikirannya bagaimana mengembalikan uang Adi secepatnya. Sudah seminggu pula Azkia menghindari pemuda itu. Semenjak Adi mengutarakan perasaannya, Azkia sedikit canggung untuk bertemu dengannya.


Sementara itu Elang juga tengah dilanda gegana. Sejak malam reuni, dia belum melihat Azkia lagi. terlebih gadis itu meninggalkan acara tergesa-gesa dengan raut wajah penuh kepanikan. Elang takut terjadi sesuatu pada gadis itu. Beberapa kali dia menyempatkan diri mampir ke mini market namun tak menemukannya di sana. Ingin rasanya bertanya pada Rain, tapi sungkan. Mulut ember sahabatnya itu pasti akan melontarkan berbagai pertanyaan yang justru akan membuatnya bertambah pusing.


Sore ini Elang sedang berbaring di ranjangnya. Jam satu tadi, dia baru saja pulang dari Kuningan, meninjau proyek pembangunan koperasi di sana. Selama dua hari dia berada di kota yang terkenal dengan peuyeumnya tersebut. Ayunda masuk ke dalam kamar Elang yang memang tidak tertutup. Dia mendudukkan diri di sisi ranjang.


“Mas, anterin Yunda dong.”


“Males, mas cape. Kamu pergi aja sendiri.”


“Motor yang biasa dipake mba Sari lagi diservis. Ayo dong mas anterin, urgent nih.”


Dengan wajah cemberut Ayunda keluar dari kamarnya. Bukan tanpa alasan dia meminta Elang mengantarnya. Ada teman sekelasnya yang terus mengejarnya walaupun ditolak berkali-kali. Diketahui temannya itu sering nongkrong di mini market milik Akhtar. Kalau mengajak Elang, dia bisa bebas memeluk kakaknya supaya pemuda itu menyangka Elang adalah pacarnya. Tapi jika dengan Farel, Ayunda tidak bisa melakukannya. Ada batasan fisik antara dirinya dengan kakak angkatnya itu.


“Kamu kenapa dek, tuh pipi udah kaya ikan buntal.”


Farel yang baru saja keluar dari kamar menegur Ayunda yang tampak kesal keluar dari kamar Elang.


“Bete, mas El ngga asik. Yunda minta anter sebentar doang ngga mau.”


“Emang kamu mau kemana? Abang yang anter aja.”


“Ke mini market depan kompleks. Yunda mau beli pembalut, udah abis stoknya.”


Elang yang mendengar Ayunda hendak ke mini market segera bangun dari tidurnya. Dengan cepat dihampiri adiknya itu yang sedang berbicara dengan Farel di depan kamarnya.


“Ayo mas anter.”


“Ngga usah, tadi katanya cape. Yunda sama bang Farel aja,” Ayunda masih dalam mode ngambeknya.


“Capenya udah hilang, ayo.”


Elang segera merangkul Ayunda lalu mengajaknya pergi. Diam-diam Ayunda tersenyum. Dia berharap temannya itu ada di sana dan melihat kebersamaannya dengan Elang. Hatinya semakin bersorak ketika Elang mengeluarkan motor ninja miliknya. Sempurna, batinnya.


Elang memarkirkan motornya di depan mini market. Tampak beberapa pemuda sudah berkumpul. Saat week end, tempat ini memang selalu ramai. Terlebih di hari Sabtu seperti ini. Mata Ayunda melirik ke arah kumpulan pemuda itu dan benar saja, temannya ada di sana. Dengan cepat Ayunda melingkarkan tangannya ke lengan Elang dan bergelayut manja. Elang sendiri tak menaruh curiga karena Ayunda memang sering bersikap seperti itu padanya.


Keduanya masuk ke dalam mini market. Ayunda berjalan menuju rak yang memajang perlengkapan yang dibutuhkan wanita saat datang bulan. Sementara mata Elang berkeliling mencari sosok Azkia. Di belakang meja kasir hanya ada Arul yang berdiri.


“Yuk mas.”

__ADS_1


“Cepet amat.”


“Kan Yunda bilang cuma mau beli pembalut aja.”


“Kamu ngga mau beli yang lain gitu,” mata Elang masih mencari-cari gadis yang telah membuatnya gegana.


“Pesen roti bakar sana.”


“Rasa apa?”


“Terserah.”


Ayunda berjalan menuju stand roti bakar dan memesan roti bakar double cheese kesukaannya. Elang berkeliling mini market sambil sesekali matanya menatap pintu yang mengarah ke ruang istirahat pegawai. Kemudian sudut matanya menangkap Azkia keluar dari pintu samping. Dengan cepat Elang berlari keluar mini market, namun terlambat, Azkia sudah menaiki ojek online pesanannya. Elang memandangi motor yang membawa gadis itu pergi.


Elang kembali ke dalam lalu menghampiri meja kasir. Dia memilih-milih camilan yang terpajang di sana lalu meletakkannya di meja kasir.


“Ini aja mas?”


“Masih ada yang lain, sebentar ya.”


Arul mengangguk, dia menghitung belanjaan pengunjung yang ada di belakang Elang terlebih dulu. Elang masih berdiri di dekat kasir sambil menunggu Ayunda.


“Mau dihitung sekarang mas?”


“Ya boleh.”


“Hmm.. kalau Azkia besok masuk kerja?”


“Harusnya sih libur mas, tapi katanya besok mau masuk, hitung-hitung lembur katanya.”


“Besok dia masuk shift apa?”


“Pagi mas.”


“Kalau shift pagi selesainya jam berapa?”


“Jam tiga mas.”


Percakapan keduanya terhenti ketika Ayunda datang membawa roti bakar dan pembalut. Arul segera menghitung belanjaan tersebut. Elang membayar belanjaan secara tunai lalu beranjak pergi. Lagi-lagi Ayunda memeluk lengannya. Saat melewati kumpulan pemuda yang sedang nongkrong di depan mini market, Ayunda semakin mengeratkan pelukannya.


“Kamu kenapa sih dek?”


“Ngga apa-apa.”


Elang menoleh ke arah kumpulan pemuda. Ada salah satu yang terus melihat ke arahnya dan Ayunda.


“Tuh cowok naksir kamu ya. Kamu lagi manas-manasin dia kan?”


“Ng.. ngga gitu. Dia nembak Yunda, udah ditolak berkali-kali masih keukeuh aja. Makanya Yunda ajak mas El, biar dia nyangka mas pacar Yunda.”


“Dasar ababil. Awas kalau kamu berani pacaran, mas botakin kamu.”


“Dih siapa juga yang mau pacaran.”


“Cepetan naik.”


Ayunda memegang pundak Elang sebagai tumpuan, lalu naik ke atas motor. Tangannya melingkar di pinggang sang kakak, dan kepalanya menyender di punggungnya. Elang hanya menggelengkan kepala dengan tingkah konyol adiknya.


🍁🍁🍁


**Mas El galak bener beud. Kasihan Ayunda kalau dibotakin😂


Malam gaeeesss, mamake Dateng lagi nih. Eh iya ada yang komen kenapa di 4 season visualnya bule sedangkan di CLBK visualnya Korean. Jawabannya karena mamake lagi cari suasana baru aja. Biar ngga bosen Koreaan Mulu, namanya dunia halu mah bebas aja ya🤭

__ADS_1


Nanti mamake kasih deh bapaknya yg versi bule🤭


Jangan lupa ya like, comment n vote nya. Mamake akan selalu menanti😘😘😘**


__ADS_2