
Ayunda baru saja selesai makan dan meminum obatnya. Setelah dikunjungi Regan, suasana hatinya sedikit membaik. Kata-kata Regan yang lembut ketika memberi pengertian untuk menjaga kondisinya saat ini lebih mudah dicerna oleh gadis itu.
Reyhan masuk ke dalam kamar lalu menarik sebuah kursi ke dekat ranjang. Dia duduk di sana seraya memandangi Ayunda yang terus melihat ke arahnya. Mata gadis itu nampak memerah dan sedikit bengkak karena sedari tadi menangis.
“Kak Rey ngga ke rumah sakit?”
“Ngga. Hari ini aku ambil cuti, buat ngawasin pasien bandel kaya kamu.”
“Maafin Yunda kak. Yunda udah ngerepotin kakak. Kakak pergi aja ke rumah sakit, Yunda janji ngga akan kemana-mana.”
“Aku bakal terus di sini, karena kamu selalu saja membuatku khawatir. Lebih baik kamu tidur sekarang.”
“Kenapa kak Rey khawatir?”
“Karena aku sayang kamu Ay. Kamu tahu, kemarin mendengar kamu menangis menceritakan soal Aslan bikin jantungku hampir berhenti. Dan pagi ini begitu aku dengar kamu pergi kerja, aku benar-benar kesal. Berhentilah membuatku khawatir Ay. Kamu pikir aku bisa tenang kerja melihat kondisimu sekarang?”
“Sayang sebagai adik?”
“Bukan. Aku menyayangimu sebagai perempuan. Aku mencintaimu Ay..”
Reyhan menatap dalam netra Ayunda. Untuk sesaat gadis itu membeku mendengar pengakuan Reyhan. Dadanya berdegup tak karuan, pipinya merona. Karena tak sanggup terus diperhatikan Reyhan, dia segera membaringkan tubuhnya. Reyhan mendekat lalu menyelimuti tubuh gadis itu hingga sebatas dada. Lalu kembali ke tempatnya duduk.
🍁🍁🍁
Ayunda membuka matanya lalu melihat ke arah samping. Dia menghembuskan nafas lega melihat Reyhan sudah tak ada di tempat duduknya. Setelah pengakuan Reyhan yang mengejutkan, Ayunda memilih pura-pura tidur untuk menyembunyikan keterkejutannya, namun ternyata gadis itu benar tertidur.
Mengingat ucapan Reyhan tadi membuat dada Ayunda kembali berdesir. Diletakkan tangan ke dadanya, merasakan degup jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Lamunannya buyar ketika mendengar suara pintu terbuka. Ayunda kembali menutup matanya takut kalau Reyhan yang datang.
Ayunda membuka matanya sedikit kemudian mulai membuka lebar setelah mengetahui kakaknya yang baru saja masuk. Ayunda bangun lalu duduk bersandar di head board. Dia bergeser sedikit, memberi ruang untuk Elang duduk di sampingnya. Seperti biasa, Ayunda menyandarkan kepala di bahu sang kakak.
“Gimana keadaan kamu?”
“Baik mas. Cuma masih agak sakit kalau digerakin.”
“Makanya jangan banyak gerak. Istirahat aja biar cepat pulih dan ngga mau kena marah Rey lagi.”
“Kak Rey serem juga ya kalau udah marah.”
Elang terkekeh, pelan-pelan dia melingkarkan tangan di bahu sang adik. Ayunda menyurukkan kepala ke dada Elang.
“Mas.. hmm.. orang yang waktu mas El bilang itu kak Rey ya?”
“Rey udah bilang soal perasaannya sama kamu?”
“Huum.”
__ADS_1
“Gimana dia bilangnya? Sambil kasih bunga, coklat atau boneka?” goda Elang.
“Ish mas El. Dia bilangnya tuh abis marah-marah sama aku. Tiba-tiba juga, bikin aku kaget setengah mati. Ngga ada romantis-romantisnya kaya di drakor.”
Elang tergelak, membayangkan semua yang dikatakan Ayunda. Tangannya bergerak mengusap puncak kepala adiknya yang masih terbalut hijab instan.
“Terus gimana?”
“Apanya yang gimana?”
“Itu pernyataan cinta dokter Reyhan diterima ngga?”
Wajah Ayunda bersemu merah. Ditutupnya wajah cantik itu dengan kedua tangannya. membuat Elang semakin tergelak. Walaupun sudah berusia 21 tahun, adiknya ini masih terbilang polos. Laki-laki yang dikenalnya hanyalah kakak, Azriel dan sahabat-sahabat sang kakak. Belum pernah berpacaran apalagi bersentuhan dengan lawan jenis. Jika itu terjadi dipastikan riwayat lelaki yang berani menyentuhnya akan berakhir di IGD.
“Jangan terlalu cepat menerima atau menolak. Pikirkan dengan baik apa yang kamu rasakan. Ilan atau Rey sama-sama baik dan bisa menjagamu dengan baik. Pikirkan siapa di antara mereka yang membuatmu aman, nyaman dan bahagia. Siapa orang yang akan membuatmu takut kehilangan jika pergi dari sisimu. Dulu mas menyangka masih punya perasaan pada Rain. Tapi ketika Kia menghilang, mas sadar kalau perempuan yang mas cintai adalah Kia.”
“Yunda pengen punya pasangan kaya ayah atau mas El.”
“Jangan berharap melihat sosok lain pada pasangan kita, Yun. Belum tentu sosok ideal yang kita inginkan sebagai pasangan adalah orang yang tepat mendampingimu. Lihatlah apa yang ada pada dirinya, ketulusannya dan kelebihannya yang akan melengkapi kekuranganmu.”
Ayunda menganggukkan kepalanya. Seperti biasa, Elang selalu bisa menenangkan hatinya dengan kata-kata yang penuh nasehat. Dibalik sikap keras dan dinginnya, dia selalu bisa bersikap lembut pada orang-orang yang disayanginya. Terdengar suara ketukan di pintu, nampa Firlan berdiri di depan pintu. Mendengar kabar tentang Yunda, dia membatalkan janji makan malam dengan kliennya.
“Bagaimana kabar kamu Yun?”
“Baik bang.”
“Maaf ya bang. Kayanya pak Syamsir marah sama aku deh.”
“Ck.. kalau dia berani marah sama kamu, dia bakal berhadapan sama abang. Kamu ngga usah masuk sampai akhir minggu ini, ok.”
“Ok boss.”
KRIUK
Terdengar suara perut Ayunda menginterupsi pembicaraan mereka. Rasa malu langsung menderanya, karena perutnya tanpa permisi berbunyi di depan lelaki yang disukainya. Firlan hanya tertawa kecil.
“Kamu laper? Mas minta bi Neni antar makanan buat kamu ya.”
“Aku ngga mau makan nasi mas.”
“Terus maunya apa?”
“Aku pengen cemilan aja kaya risoles, donat, kroket kentang.. yang kaya gitu pokoknya.”
“Ya udah mas beliin deh.”
__ADS_1
TOK
TOK
TOK
Suara pintu diketuk kembali terdengar. Kali ini Reyhan yang datang membawa sebuah kotak dan gelas plastik berisi minuman dingin. Dia melangkah mendekati ranjang. Ayunda sedikit gugup namun berusaha untuk tetap tenang. Sekilas Firlan menangkap perubahan wajah Ayunda lalu melirik ke arah Reyhan. Dokter muda itu tampak biasa saja, seperti tak pernah terjadi sesuatu sebelumnya.
“Kamu bawa apa Rey?”
“Bawa cemilan buat Yunda. Dia kan kalau lagi sakit suka males makan nasi, pengennya ngemil kue basah atau jajanan pasar gitu.”
Ayunda melirik Reyhan dari sudut matanya. Hatinya terharu Reyhan mengingat semua kebiasaannya sejak kecil. Sebuah perasaan hangat menyusup dalam hatinya.
“Lan, ke ruang kerjaku. Ada yang mau aku obrolin soal proyek di Palangkaraya.”
Firlan mengangguk, dengan langkah pelan dia mengikuti Elang, walau hatinya tak rela meninggalkan Ayunda berdua saja dengan Reyhan. Reyhan mendorong kursi yang tadi diduduki Firlan lebih dekat ke ranjang lalu mendudukkan diri di sana. Minuman yang ada di tangannya diletakkan di atas nakas, kemudian tangannya membuka kotak yang sedari tadi dipegangnya.
Mata Ayunda berbinar melihat cemilan yang tadi disebutkan tersedia di sana. Bukan hanya donat, risoles dan kroket kentang. Tapi lemper dan kue lumpur kesukaannya juga ada. Reyhan menyodorkan kotak tersebut ke arah Ayunda.
“Makasih kak Rey,” Ayunda mengambil satu buah donat lalu menggigitnya.
“Anggap aja itu permintaan maafku karena udah marah-marah sama kamu tadi.”
“Kak Rey jangan marah-marah lagi, aku kan takut.”
“Iya, asal kamunya nurut.”
Ayunda mengangguk dengan cepat, senyuman mengembang di wajah Reyhan. Ayunda mengambil lemper lalu menyerahkan pada Reyhan. Dia tahu kalau adik dari Rain itu sangat menyukai lemper. Keduanya makan sambil bertukar cerita. Kecanggungan yang dirasakan Ayunda sudah memudar. Reyhan juga tak bermaksud menyinggung pernyataan cintanya tadi. Masih menunggu waktu yang tepat untuk membahasnya.
Sementara itu di ruang tengah, Irzal sedang berbincang dengan Adit tentang salah satu proyek yang akan mereka garap dengan PT. Adhijaya. Sambil berbicara, Adit mengawasi satu per satu lelaki yang datang mengunjungi Ayunda. Melihat gelagat Reyhan dan Firlan, dia sudah menebak kalau kedua pemuda itu menaruh hati pada anak tunggal Irzal Ramadhan.
“Zal, kayanya Ilan sama Rey lagi pedekate sama Yunda. Siapa nih yang bakal kamu pilih jadi calon mantu?”
“Ilan atau Rey sama-sama anak yang baik. Siapa pun yang dipilih Yunda, aku akan mendukung dan merestuinya.”
“Kalau sampai Yunda milih Ilan, aku yakin Ega bakal gelar pesta syukuran 7 hari 7 malem karena cita-citanya besanan sama kamu jadi kenyataan hahaha...”
Irzal tak dapat menahan senyumnya. Dia ingat bagaimana dulu Ega selalu membuatnya pusing dengan permintaan ingin menjodohkan anak-anak mereka. Dimulai dengan skenario Elang-Firly, Firlan-Ayunda sampai Azriel-Ayunda.
🍁🍁🍁
**Ya ampun Rey, ngga romantis banget sih nyatain perasaannya.
Ilan juga udah mulai serius nih kayanya Ama Yunda.
__ADS_1
Hayo Yunda, pilih sapa nih?
Hai readers semua, udah weekend aja nih. Selamat berakhir pekan ya. Jangan lupa habis baca tinggalin jejaknya, like, comment, vote**.