
Akhtar sengaja mengambil penerbangan pagi menuju London menggunakan pesawat komersial. Regan menawarkannya menggunakan jet pribadi, tapi baru bisa berangkat sore hari. Akhtar menolaknya karena sudah tidak bisa menunggu lagi. Semalaman dia tak bisa memejamkan matanya. Pikirannya kalut, ketakutan Rain akan meninggalkannya dan lebih memilih bersama Elang begitu menghantuinya. Akhtar terus memandangi deretan awan dari balik kaca jendela.
Perjalanan panjang menuju London nyatanya tak membuat Akhtar bisa tidur dengan nyenyak. Beberapa kali dia terjaga, melihat jam tangannya, menghitung waktu untuk cepat sampai di negara ratu Elizabeth tersebut.
Pesawat yang ditumpangi Akhtar mendarat dengan mulus di bandara Heathrow London pada pukul empat sore. Dengan menggunakan taksi dia menuju apartemen Elang. Sesekali terdengar decakan kesal dari mulutnya ketika kendaraan yang ditumpanginya harus terhenti karena kemacetan.
Setelah menempuh penjalanan hampir satu jam lamanya, dia sampai di apartemen tempat Rain menenangkan diri selama ini. Dada Akhtar berdebar hebat, berbagai macam perasaan campur aduk dalam dirinya. Ketakutan, kecemasan, kerinduan bahkan kecemburuan melebur menjadi satu.
Hampir lima menit lamanya Akhtar berdiri di depan unit Diandra. Dia mencoba mengumpulkan segenap keberanian sebelum memencet bel yang terletak di samping pintu. Perlahan tangannya bergerak memencet tombol tersebut. Pintu terbuka tak lama setelah bel berbunyi, muncul Diandra dari baliknya. Gadis itu terkejut melihat kedatangan Akhtar.
“Hai Di... ada Rain?”
“Kak Akhtar... Rain lagi keluar, ke supermarket depan sana.”
“Sendiri?”
“Ngga, dianter Elang.”
Darah Akhtar mendidih mendengarnya. Tangannya mengepal kencang, rahangnya mengeras. Diandra cukup terkejut melihat reaksi Akhtar. Saat yang bersamaan Rain dan Elang baru saja tiba. Telinga Akhtar menangkap suara tawa Rain di lorong apartemen. Seketika dia menolehkan wajahnya. Terlihat Rain sedang berjalan bersama Elang. Senyum mengembang di wajahnya, membuat Akhtar semakin terbakar cemburu.
“Rain.”
Tawa Rain terhenti ketika mendengar suara yang begitu dikenalnya. Sesaat tubuhnya membeku, tak percaya lelaki yang begitu dirindukannya kini ada di hadapannya. Elang memperhatikan interaksi keduanya. Mereka saling memandang dengan sorot mata penuh kerinduan, hati Elang mencelos. Akhtar berjalan mendekati Rain.
“Kamu baik-baik saja sayang?” Akhtar mencoba menyingkirkan amarah dan cemburunya. Dia berbicara dengan nada lembut.
“Mas tahu dari mana aku di sini?”
“Dari papa. Bagaimana keadaan anak kita?”
“Anak kita? Sejak kapan mas mengakui anak ini adalah anakmu?” sinis Rain.
“Ehem! Sebaiknya kalian berbicara di dalam saja, ayo.”
Elang mengajak Rain dan Akhtar menuju unitnya. Ketiganya menuju ruang tamu. Farel yang sedang menonton televisi, memilih menyingkir dan diam di kamarnya. Akhtar menghembuskan nafas kesal melihat Rain yang memilih duduk di dekat Elang.
“Sayang...”
“Mas ngapain ke sini?”
__ADS_1
“Mas mau jemput kamu. Besok kita pulang ya.”
“Kenapa baru sekarang? Kemana aja mas selama ini?”
“Maaf sayang. Mas dan papa harus mencari dulu orang yang telah memberikan laporan palsu soal hasil pemeriksaan mas.”
Akhtar mulai menceritakan masalah yang sebenarnya. Keterlibatan orang-orang di dalamnya dan kematian Vanya. Dia berharap hati Rain sedikit melunak setelah mendengar ceritanya, namun nyatanya tidak. Rain masih bersikap dingin dan tampak tak peduli dengan ceritanya.
“Mas minta maaf kalau sudah menuduhmu yang bukan-bukan. Maafkan mas Rain.”
“Maaf? Mudah sekali mas mengatakan itu. Apa mas sadar apa yang sudah mas ucapkan waktu itu? Mas lebih percaya hasil pemeriksaan itu dari pada istri mas sendiri. Aku kecewa mas, secara tidak langsung mas sudah menganggapku sebagai wanita murahan!”
“Rain, rendahkan suaramu,” tegur Elang. Akhtar berdecih melihat Rain lebih menurut pada Elang. Emosi yang sedari tadi ditahannya pecah sudah.
“Bisa kita bicara berdua El?”
“Ok, Rain lo makan dulu gih. Salad buahnya udah gue simpen di kulkas.”
Rain bangun dari duduknya lalu berjalan menuju dapur. Lagi-lagi Akhtar dibuat jengah dengan interaksi keduanya. Dengan tatapan nyalang dia melihat ke arah Elang.
“Apa saja yang kamu katakan padanya sampai dia berubah seperti ini? Rain tidak pernah bersikap kasar sebelumnya.”
“Kenapa tanya aku bang? Abang yang sudah membuatnya berubah. Berulang kali abang menyakiti hatinya.”
“Kalau memang dia istrimu harusnya abang tidak menyakitinya. Aku merelakan dia denganmu karena aku tahu kalau dia mencintaimu. Tapi apa yang abang lakukan? Berulang kali abang menyakiti hatinya. Berani abang menyakitinya lagi, aku ngga akan tinggal diam.”
“Apa yang mau kamu lakukan hah?”
“Aku akan merebutnya darimu.”
“Brengsek!”
Emosi Akhtar kembali tersulut, tanpa terduga dia melayangkan tinjunya ke arah Elang. Akhtar menarik kaos Elang hingga posisinya menjadi berdiri. Saat akan melayangkan tinjunya kembali, Elang menahannya lalu balas memukul Akhtar hingga pria itu terjatuh.
Mendengar suara gaduh, Rain yang sedang berada di dapur bergegas menghampiri. Betapa terkejutnya dia melihat Elang dan Akhtar sedang baku hantam. Rain menjerit menyebut nama Elang dan Akhtar, meminta untuk berhenti namun mereka tak menghiraukannya.
Entah sudah berapa kali Elang mendaratkan pukulan di wajah Akhtar. Sudut bibir lelaki itu sudah mengeluarkan darah. Farel yang berada di kamar terkejut mendengar teriakan Rain, bergegas keluar.
“Elang! Akhtar!”
__ADS_1
Bergegas Farel melerai kedua pria yang tengah dibakar emosi. Farel memilih menenangkan Elang. Diseretnya tubuh Elang menjauh dari Akhtar yang terduduk menyandar di sofa dengan luka lebam di wajahnya.
“Sadar El! Istighfar!!”
Farel terus berusaha menenangkan Elang yang masih tampak emosi. Perlahan emosinya mereda. Elang terduduk di lantai seraya meremat rambutnya. Farel ikut duduk lalu merangkul adiknya ini.
Sementara itu Rain segera menghampiri Akhtar. Membantu suaminya duduk di atas sofa. Lalu dia bergegas mengambil kotak P3K. Akhtar meringis ketika Rain membersihkan lukanya dengan alkohol. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Rain. Akhtar memandangnya dengan tatapan sendu. Ditangkapnya tangan Rain yang hendak pergi setelah mengobati lukanya.
“Sayang please, kita bicara dulu sebentar.”
“Lebih baik mas istirahat. Perjalanan ke sini pasti melelahkan. Istirahatlah untuk memulihkan tenaga dan mendinginkan otak mas.”
Rain melepaskan tangannya dari Akhtar lalu meninggalkannya. Ketika melewati Elang, Farel mengisyaratkan Rain untuk tak mengganggunya. Rain pun memilih keluar dari unit Elang. Suasana mendadak hening. Ketiga lelaki yang berada di sana hanya diam membisu. Sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Setelah beberapa saat terdiam, Akhtar bangkit lalu berjalan menuju Elang yang masih duduk dengan posisi sama. Farel bersiaga jika baku hantam jilid dua terjadi. Akhtar duduk di sisi Elang.
“El, sorry tadi gue khilaf. Pikiran gue kacau akhir-akhir ini, sorry. Thanks lo udah jagain Rain selama di sini. Sebagai suaminya gue malu.”
“Gue juga minta maaf bang.”
Kedua pria yang kenyataannya bersahabat itu akhirnya saling berpelukan. Farel menghembuskan nafas lega. Elang tersenyum melihat hasil karyanya di wajah Akhtar. Sadar akan arti senyum sahabatnya, Akhtar meninju pelan lengan Elang.
“Gue harus gimana El? Sepertinya Rain bener-bener marah sama gue.”
“Masih untung Rain cuma marah. Kalau gue jadi Rain, udah gue jahit mulut lo bang,” timpal Farel sambil terkekeh.
“Lo harus sabar bang. Perasaan Rain sekarang lagi sensitif banget, perlu kesabaran ekstra buat menghadapinya,” tutur Elang.
“Bener bang. Kita aja nih ngga keitung berapa kali kena semprot tuh ibu hamil,” sela Farel.
“Abang harus berjuang untuk mendapatkan maafnya. Tunjukkan kalau abang menyesal. Sebenarnya Rain sangat merindukan abang, cuma dia gengsi aja mengakuinya ditambah amarahnya yang belum surut. Abang harus menyingkirkan jauh-jauh ego dan gengsi abang. Berjuanglah untuk meluluhkan hatinya, tunjukkan kalau abang benar-benar mencintainya.”
Bibir Elang begitu fasih mengeluarkan kalimat-kalimat positif pada sahabatnya ini. Namun di lubuk hatinya, perasaannya hancur lebur. Berulang kali Elang mengatakan pada dirinya sendiri, mencintai tak harus memiliki, melihatnya bahagia sudah membuatku bahagia.
Farel mengajak Akhtar beristirahat di kamarnya. Elang pun memilih masuk ke kamar, untuk menenangkan hati dan pikirannya. Tubuhnya terhempas begitu saja di atas kasur. Matanya memandang langit-langit kamar dengan tatapan kosong, pikirannya melanglang buana entah kemana. Yang pasti ada nyeri di sudut hatinya yang kembali berdenyut. Nyeri yang tak tahu kapan akan berakhir.
Di kamar sebelah, Akhtar pun mengalami hal yang sama. Otaknya sibuk memikirkan cara bagaimana meluluhkan hati sang istri. Terngiang kembali kata-kata Elang yang mengancam akan mengambil Rain darinya. Tanpa sadar Akhtar mengesah panjang. Farel menatap Akhtar sekilas, kepalanya menggeleng pelan. Dua pria dibuat gelisah, galau dan merana oleh seorang ibu hamil.
🍁🍁🍁
__ADS_1
**Pagiii readers tercinta.. gimana sehat semua kan? Terus jaga kesehatan ya, terus berbahagia biar imun kita naik terus😁
Jangan lupa ya kasih imun juga buat mamake biar semangat terus nulisnya. Like, comment dan vote nya kalau masih ada. Ditambah kopi atau bunga juga ngga akan nolak kok😁😉**