Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 3 : YOU ARE MY DESTINY Trying to Forgive


__ADS_3

Di dalam kamar ruang rawat VVIP, tiga orang pria tengah berbicara serius. Irzal, Iqbal dan Deski duduk bersama membicarakan perihal Azkia. Iqbal sengaja meminta Irzal datang ke rumah sakit untuk melihat sendiri bagaimana kondisi Erik saat ini. Pria itu terbaring lemah di atas bed dengan beberapa alat medis terpasang di tubuhnya.


Sehabis bertemu dengan Azkia, kondisi Erik drop. Dia mengalami serangan jantung dan dilarikan ke rumah sakit. Dokter sudah menyarankan untuk segera melakukan operasi pemasangan ring. Namun pria itu bersikukuh tidak akan melakukannya sebelum mendapatkan maaf dari Azkia.


“Kamu lihat sendiri Zal, bagaimana kondisi Erik. Aku mohon tolong bujuk Kia untuk bertemu dengan Erik. Aku harap dia mau memaafkan Erik.”


“Iya om, aku mohon tolong bujuk Kia. Aku ngga masalah kalau dia membenciku dan tak menganggapku kakak. Asalkan dia bisa memaafkan papa. Cuma papa yang aku miliki om, aku mohon bantu kami.”


“Aku mengerti yang kalian rasakan. Karena aku juga seorang ayah. Sakit rasanya kalau tidak diakui oleh anak sendiri. Tapi coba kalian berpikir juga dari sisi Kia. Ngga mudah untuk dia menerima ini semua. Terlebih hidupnya sejak kecil sampai dewasa sangat sulit. Sudah banyak hal menyedihkan yang dia alami. Tidak mudah baginya menerima dan melupakan begitu saja apa yang telah dialaminya. Aku akan berusaha membujuknya, begitu juga Elang tapi semua keputusan kami serahkan pada Kia. Kami juga tidak ingin terlalu memaksanya.”


“Iya Zal, kami mengerti. Terima kasih atas pengertiannya.”


“Cobalah kamu bujuk kembali Erik untuk operasi. Bagaimana dengan Dirga? Apa dia sudah diberitahu?”


“Sudah om. Tapi perusahaan di sana sedang ada sedikit masalah. Mungkin baru lusa om Dirga ke sini.”


Irzal mengangguk-anggukkan kepalanya. Matanya kemudian tertuju ke arah bed. Erik terbaring lemah di atasnya. Setelah meminum obat, dia kembali tertidur. Dokter memang melarangnya banyak bergerak. Kondisi jantungnya benar-benar lemah saat ini.


“Kalau begitu aku permisi dulu. Aku akan berbicara dengan Kia. Berdoa saja semoga Allah melembutkan hatinya.”


Iqbal mengantar Irzal sampai ke depan pintu. Sehabis menjenguk Erik, Irzal memutuskan pulang ke rumah. Semua pekerjaan sudah dilimpahkan pada Elang. Sedikit demi sedikit dia sudah mulai menyerahkan tanggung jawab perusahaan pada anaknya itu. Karena dalam waktu dekat dirinya berencana untuk pensiun.


Saat sampai, kondisi rumah nampak sepi. Poppy masih berada di yayasan dan Yunda belum pulang dari kampus. Ketika dia melintasi ruang tengah, matanya menangkap Azkia tengah duduk di halaman belakang. Irzal melangkahkan kakinya ke sana lalu duduk di samping menantunya itu.


“Sedang memikirkan apa?”


Azkia terkejut begitu mendengar suara Irzal sudah berada di sampingnya. Seketika lamunannya buyar. Diciumnya punggung tangan sang mertua.


“Tumben ayah udah pulang.”


“Hmm.. ayah pengen istirahat aja di rumah.”


“Ayah sakit?” Azkia menelisik wajah Irzal.


“Ngga.. emang kalau ayah istirahat di rumah harus pas sakit aja?”


“Ngga gitu yah, Kia cuma takut aja ayah sakit. Bentar ya yah.”


Azkia berdiri lalu beranjak ke dapur. Dengan cepat dia menyiapkan teh hijau untuk Irzal. Tak lama dia kembali lalu memberikan secangkir teh pada mertuanya.


“Makasih nak,” Irzal menyeruput teh di dalam cangkir lalu meletakkannya di atas meja.


“Bagaimana keadaanmu sekarang?”


“Maksud ayah?”


“Perasaan kamu. Akhir-akhir ini kan banyak yang terjadi padamu. Terutama soal papa dan kakakmu. Bagaimana tanggapanmu tentang mereka?”


“Aku ngga tahu yah. Apa salah kalau aku masih belum menerima mereka? Rasanya hati ini masih sakit yah. Bertahun-tahun aku juga ibu hidup dalam penderitaan. Dan itu semua secara ngga langsung disebabkan olehnya. Aku masih belum bisa memaafkannya yah.”


Azkia menundukkan kepalanya. Membahas tentang Erik kerap membuat dadanya sesak. Irzal mengusap puncak kepalanya.


“Ayah mengerti apa yang kamu rasakan. Tapi ayah harap kamu tidak terlalu lama memendam kemarahanmu, jangan sampai kemarahanmu berubah menjadi kebencian yang nantinya akan memunculkan dendam. Benci dan dendam hanya akan mengeraskan hatimu. Allah saja yang Maha Sempurna dan memiliki segalanya mau memaafkan hamba-Nya yang penuh dengan dosa. Lalu kenapa kita yang jauh dari kata sempurna justru enggan membukakan pintu maaf. Ayah tidak memaksamu untuk memaafkan ayahmu secepatnya, berdamailah dulu dengan hatimu. Ikhlaskan semua yang sudah terjadi. Itu akan membuat hatimu tenang.”


Azkia mendengarkan semua petuah Irzal dengan sungguh-sungguh. Dia berbicara dengan lemah lembut tanpa ada penekanan atau paksaan di dalamnya, membuat perasaan Azkia menghangat.


“Apa papa baik-baik saja yah?”


“Sejujurnya dia saat ini sedang sakit. Dia harus menjalani operasi pemasangan ring pada jantungnya. Tapi dia belum mau melakukannya sebelum bertemu denganmu dan mendapat maaf darimu. Kalau kamu sudah siap, temuilah dia. Bicaralah dengannya dari hati ke hati.”


“Terima kasih yah untuk semua nasehatmu. Andai saja aku punya ayah sepertimu, mungkin aku tidak akan semarah dan sebenci itu pada papa.”

__ADS_1


Airmata Azkia yang sedari tadi ditahannya tumpah juga. Di satu sisi, hatinya sedih mendengar kondisi Erik. Tapi di sisi lain, rasa marahnya masih belum hilang. Irzal mengusap kepala Azkia dengan lembut. Azkia menghapus airmatanya, lalu melihat ke arah Irzal.


“Ayah ngga menyesal punya menantu sepertiku? Sejak awal aku selalu merepotkan.”


“Hahaha.. kamu ngomong apa sih nak? Ayah bersyukur mempunyai menantu sepertimu. Kamu adalah pendamping terbaik untuk Elang. Bunda, Yunda dan Farel juga menyayangimu. Jangan pernah berpikir seperti itu, ayah ngga suka.”


“Iya yah, maaf.”


“Ayah istirahat dulu. Pikirkan yang ayah katakan tadi.”


Irzal beranjak dari duduknya lalu melangkah menuju kamarnya. Di ruang tengah dia berpapasan dengan Poppy yang baru pulang. Poppy langsung mencium punggung tangan suaminya.


“Tumben aa udah pulang. Ngga ada kerjaan di kantor? Atau aa sakit?”


“Hmm.. badan aa pegal-pegal nih, kayanya perlu dipijat.”


“Mau aku panggilin mang Ihin?”


“Ngga usah, kamu aja yang mijatnya. Lebih enak pijatan kamu daripada mang Ihin.”


Poppy menatap curiga pada suaminya. Sepertinya pijatan yang dibutuhkan saat ini bukanlah pijatan biasa.


“Ayo ke kamar, pijatin aa. Atau mau aa gendong ke kamarnya.”


“Dasar.. udah tua masih mesum aja,” Poppy memukul lengan suaminya. Irzal hanya tergelak lalu merangkul sang istri menuju kamar mereka.


🍁🍁🍁


Elang keluar dari ruang kerja pribadinya lalu masuk ke dalam kamar. Di atas kasur terlihat Azkia sedang duduk melamun dengan kepala bertumpu pada kedua lututnya yang tertekuk. Elang merangkak naik ke atas kasur lalu mendaratkan kecupan di pipi sang istri. Azkia tersadar dari lamunannya.


“Mikirin apa sayang?”


“Papa mas. Kata ayah, papa lagi dirawat di rumah sakit. Harusnya dia operasi pemasangan ring di jantungnya tapi papa ngga mau sebelum bertemu denganku.”


“Lalu? Apa kamu mau menjenguk papa?”


“Aku ngga tau mas. Jujur aku masih marah dan kecewa padanya. Seandainya waktu itu papa mencari ibu, mungkin saja aku dan ibu ngga akan menderita. Ibu tidak perlu menikah dengan bapak.”


Elang menaruh telapak tangannya di pipi Azkia, ibu jarinya mengusap pipi lembut itu. Azkia menundukkan pandangannya, netra keduanya bertemu.


“Jika papa menemukan ibu dan ibu tidak menikah dengan bapak, maka tidak akan ada Hanin di antara kalian. Belum tentu juga tante Medina akan menerima ibu dan juga dirimu. Dan mungkin kita tidak akan bertemu sayang.”


“Astaghfirullahaladziim.. aku seperti orang yang tidak bersyukur saja mas.”


Elang bangun lalu duduk berhadapan dengan Azkia. Menatap wajahnya dengan penuh kelembutan.


“Selalu ada hikmah dibalik semua kejadian yang menimpa kita. Percayalah semua yang terjadi sudah menjadi ketentuan Allah. Kita hanya perlu menjalaninya dan meyakini kalau itu yang terbaik untuk kita. Mas tahu ini ngga mudah untukmu. Tapi jika dengan memaafkan dan melupakan semuanya membuat hidup kita lebih tenang, kenapa ngga sayang?”


“Mas benar. Mas mau bantu aku kan? Rasanya aku ngga sanggup kalau harus melalui semua ini sendirian.”


“Mas selalu di sampingmu dan mendukungmu.”


“Terima kasih mas.”


Azkia menyandarkan kepalanya di dada Elang. Setelah berbicara dengan Irzal tadi siang dan kini dengan suaminya, sedikit demi sedikit Azkia berusaha mencoba membuka hatinya untuk Erik.


“Bagaimana kalau besok kita jenguk papa?”


“Iya mas.”


“Kalau sekarang si adek yang mau nengokin kamu.”

__ADS_1


Elang menaik turunkan alisnya. Azkia memutar bola matanya, tahu kemana arah pembicaraan suaminya. Namun tak ayal dia mengangguk. Elang tak menyia-nyiakan kesempatan, langsung saja disambarnya bibir Azkia. Gara-gara masalah croping foto dirinya dengan Syifa, Azkia menghukumnya tidak ada jatah ehem-ehem selama beberapa hari.


🍁🍁🍁


Suasana di kamar perawatan VVIP sedikit canggung ketika Azkia dan Elang datang berkunjung. Deski memilih duduk di sofa, menjauh dari sang adik karena takut tidak nyaman dengan keberadaannya. Erik memandang tak berkedip ke arah Azkia. Tak percaya sang anak mau menjenguknya.


“Kia.. ini benar kamu nak?”


“Ehem.. gimana keadaan om?” Azkia masih terlalu canggung untuk memanggil Erik dengan sebutan papa.


“Tolong katakan padanya untuk segera menjalani operasi. Dia sudah terlalu lama menunda operasi,” Iqbal langsung menyambar sebelum Erik menjawab.


“Jangan dengarkan dia nak. Papa baik-baik aja. Terima kasih sudah mau menengok papa.”


“Kalau om baik-baik aja, ngga mungkin om berada di sini dengan peralatan medis terpasang di tubuh.”


Erik terdiam menengar ucapan putrinya. Ada sedikit kebahagiaan menyusupi hatinya. Meskipun Azkia belum sepenuhnya bisa menerimanya, tapi dia sudah sangat bersyukur.


“Apa om serius mau menebus semua kesalahan om?”


“Tentu saja nak. Papa akan melakukan apa saja untukmu. Katakan apa yang kamu inginkan.”


“Jalani operasi secepatnya. Om harus tetap hidup, om harus mengganti semua kesedihan yang kualami, harus mengganti semua waktu yang hilang. Buktikan kalau om benar-benar menyesali semuanya. Apa om bisa melakukannya?”


Airmata Erik mengalir mendengar semua itu. Dia hanya menganggukkan kepalanya saja. Lidahnya terlalu kelu untuk digerakkan. Iqbal menghembuskan nafas lega, akhirnya Erik bersedia untuk melakukan operasi. Bergegas dia keluar ruangan untuk bertemu dengan dokter yang menangani sahabatnya itu.


“Aku pulang om. Tolong kabari kapan om akan menjalani operasi.”


“Bo.. bolehkah papa memelukmu?”


Azkia menoleh pada suaminya meminta persetujuan. Elang menganggukkan kepalanya. Dengan langkah pelan dia mendekati Erik. Diraihnya tubuh pria itu, Erik menangis tersedu dalam pelukan putrinya. Mata Azkia pun nampak berkaca-kaca. Diam-diam Deski tersenyum bahagia menyaksikan interaksi keduanya. Dia menyusut genangan air di sudut matanya.


Iqbal datang bersama dengan dokter Rudi. Keduanya tertegun menyaksikan momen haru antara ayah dan anak tersebut. Setelah beberapa saat Azkia melepaskan pelukannya. Hijabnya sedikit basah oleh airmata Erik. Dia beringsut mundur lalu berbalik ke arah suaminya. Elang menarik Azkia dalam dekapannya. Dia tahu sang istri membutuhkan pelukannya.


Dokter Rudi mendekat lalu mulai memeriksa keadaan Erik. Suster yang bersamanya memberikan catatan medis pasien.


“Bagaimana dok?” tanya Iqbal sedikit cemas.


“Jika kondisinya stabil, lusa kita bisa melakukan operasi.”


“Alhamdulillah..”


Setelah memeriksa Erik, dokter Rudi dan suster meninggalkan ruangan. Erik menatap Azkia yang berada dalam dekapan suaminya.


“Nak.. apa papa boleh minta sesuatu?” ucap Erik pada Elang.


“Katakan saja om.”


“Sebelum papa dioperasi, bisakah papa bertemu dengan Kia?”


“Gimana sayang?”


Azkia hanya mengangguk pelan. Erik tersenyum bahagia. Apapun yang terjadi nanti, dia sudah pasrah. Yang penting hubungannya dengan Azkia sudah ada perubahan baik.


🍁🍁🍁


**Memaafkan dan melupakan adalah hal tersulit yang dilakukan ketika hati sudah tersakiti terlalu dalam. Tapi dengan memaafkan dan mengikhlaskan semuanya, tanpa sadar kita sudah menjejakkan diri kita satu tingkat lebih tinggi dari sebelumnya. So.. jangan pernah ragu untuk memaafkan orang yang berbuat salah pada kita☺️


Ngga kerasa ya kisah cinta mas El dan neng Az sudah sampai di sini. Tinggal beberapa episode lagi, kita bakal masuk ke season empat. Siap² pisah sama pasangan uwu ini🤧


Scroll lagi ya.. mamake mau promosi novel mamake yang lain😁

__ADS_1


Jangan lupa like, comment n votenya kalau belum kepake😘😘😘**


__ADS_2