
Seorang pelayan memandu Ayunda menuju private room yang disewa keluarganya untuk menikmati sarapan. Semua anggota keluarganya sudah berkumpul di dalam ruangan. Ayunda mengambil tempat duduk di samping ayahnya.
“Rey mana Yun?”
“Mas Rey masih tidur ma.”
“Kamu buas banget sih dek sampe si Rey tepar gitu,” goda Farel.
“Mana ada! Tengah malem mas Rey harus ke rumah sakit, ada pasien darurat katanya. Baru pulang tadi shubuh.”
“Iya, tadi om Fahri udah telpon papa. Katanya ada kecelakaan beruntun di tol pasteur. Semua korban dilarikan ke Ibnu Sina.”
“Ya ampun, aku masih trauma kalau dengar kecelakaan beruntun,” ujar Poppy.
Ayunda menyendokkan nasi goreng ke dalam piringnya sambil menyimak percakapan orang tua. Perutnya memang sudah keroncongan. Sehabis shalat shubuh Reyhan menggempurnya kembali. Mereka bermain sampai dua ronde, setelah itu baru suaminya bisa tidur.
“Pa, aku sebel deh sama dokter Burhan sama dokter Sammy. Gara-gara mereka tuh mas Rey harus ke rumah sakit. Yang nikah siapa yang ngga bisa diganggu siapa,” Ayunda menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya.
“Mama juga ngga suka sama dua orang itu. Mas tuh bertindak kenapa sih. Dokter Burhan tuh ngga puas-puas bikin masalah sama Rey. Dari mulai koas loh dia selalu berusaha ngejegal Rey, supaya keponakannya maju. Mas bertindak dong, percuma punya jabatan dan kekuasaan kalau anaknya ditindas diem aja. Anak kita ngga salah apa-apa, tapi selalu dijadiin kambing hitam sama orang itu.”
“Rey bisa mengatasinya,” jawab Regan santai.
Sarah berdecak sebal, Regan terlalu santai menanggapi masalah Burhan. Kalau dia yang ada di posisi Regan, mungkin sudah habis Burhan olehnya.
“Tenang aja kak, Rey sekarang menantuku. Kalau orang itu cari masalah sama Rey aku yang bakal maju kalau mas Regan ngga mau,” tukas Irzal.
“Ck.. sejak kapan kamu jadi kompor meledug Zal.”
Irzal tergelak melihat Regan yang kesal dengan ucapannya. Sementara Ayunda yang sedang asik menikmati sarapan melihat ada yang berbeda antara Farel dengan Ara. Biasanya kedua orang itu bila bertemu selalu beradu mulut. Ada saja bahan ledekan Farel untuk Ara. Demikian juga Ara, gadis itu selalu punya cara untuk membalasnya. Tapi kini keduanya seperti sedang mengalami perang dingin.
Usai sarapan Poppy mengajak Ayunda berbicara di dekat kolam renang. Keduanya duduk melihat Gemma, Gavin dan Nanaz yang asik berenang ditemani Akhtar dan Dimas. Sementara Rain dan Firly hanya berbaring santai di pinggir kolam.
“Gimana malam pertamanya?” goda Poppy.
“Ish bunda kepo.”
“Main berapa ronde?”
“Bunda!”
Poppy tertawa melihat putrinya yang tampak malu-malu. Lama Poppy memandangi wajah Ayunda. Rasanya baru kemarin dia mengandung dan melahirkannya. Kini anaknya itu sudah menjadi seorang istri.
“Yun.. mulai sekarang kurangi sifat manjamu. Sekarang kamu sudah menjadi seorang istri, mungkin saja sebentar lagi akan menjadi ibu. Jika ada masalah bicarakan baik-baik dengan suamimu. Jangan pernah mengumbar aib suami pada orang lain, termasuk kepada bunda atau ayah. Sebisa mungkin selesaikan masalah kalian berdua.”
“Iya bunda.”
“Kamu juga harus bisa mengendalikan rasa cemburumu. Percayalah pada suamimu. Kamu tahu kan bunda sama ayah pernah berpisah. Semuanya berawal dari kecemburuan bunda pada ayah. Jadi, bunda harap kamu mengambil pelajaran dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.”
“Iya bunda.”
“Ingat, jika suamimu menginginkanmu, jangan pernah menolak. Kamu harus bisa memuaskan suamimu. Jangan sampai dia mencari kepuasan di luar. Perut dan bawahnya harus terpuaskan.”
“Hmm.. kalau aku lagi halangan gimana bun?”
“Banyak caranya, nanti bunda kasih tahu.”
“Sekarang aja bun.”
“Nanti aja. Sekarang kamu balik ke kamar, jangan sampai Rey bangun, kamu ngga ada. Jangan lupa bawakan sarapan untuk suamimu.”
“Iya bun. Yunda ke kamar dulu ya.”
Ayunda berjalan meninggalkan kolam renang. Dia masih belum bisa berjalan cepat karena bagian bawahnya masih terasa nyeri. Saat memasuki lift, seorang lelaki sudah berada di dalam. Dia melemparkan senyum ke arah Ayunda yang hanya dibalas dengan wajah datarnya.
“Mau ke lantai berapa?”
Ayunda langsung memencet tombol 15 tanpa menjawab pertanyaan. Dia berdiri agak jauh dari lelaki itu sambil menyandarkan punggungnya ke dinding lift.
“Boleh kenalan? Aku Theo,” lelaki itu menyodorkan tangannya, tapi lagi-lagi Ayunda tak mengindahkannya.
“Ok... kalau kamu berubah pikiran, aku ada di lantai empat belas di kamar 1409.”
__ADS_1
Ayunda menoleh pada Theo kemudian mengangkat tangannya menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya. Theo langsung terdiam. Begitu sampai di lantai empat belas, dia keluar tanpa melihat ke arah Ayunda lagi.
Ayunda keluar dari lift begitu pintu terbuka. Koridor di lantai lima belas ini nampak sepi. Di lantai ini hanya tersedia empat buah kamar, dua suite room dan dua junior suite room. Semua kamar di lantai ini disewa oleh keluarganya. Kamar suite room diisi dirinya dan Dimas. Sedangkan junior suite room diisi oleh Elang dan Rain.
Ayunda membuka pintu kamar. Reyhan masih belum bangun dari tidurnya. Dengan gerakan pelan Ayunda naik ke atas ranjang. Diambilnya remote televisi, kemudian menyalakannya dengan volume kecil. Dia memilih-milih channel dengan remote di tangannya. Kemudian pilihannya jatuh pada drama Korea yang diputar salah satu televisi kabel. Ayunda merebahkan diri di samping Reyhan sambil menonton.
Pukul sebelas siang Reyhan baru terbangun. Matanya langsung menangkap sosok istrinya yang sedang duduk menyandar sambil bermain ponsel. Ayunda tengah asik berbalas chat dengan teman-temannya. Dia terkejut saat Reyhan mengusap perutnya.
“Mas.. udah bangun.”
“Hmm..”
“Mau makan?”
“Jam berapa sekarang?”
“Jam sebelas.”
“Nanti aja habis shalat dzuhur. Sayang sini...”
Reyhan merentangkan tangannya, kemudian meminta Ayunda berbaring di sana. Ayunda bergeser sedikit kemudian merebahkan kepalanya di lengan Reyhan.
“Udah makan?”
“Udah tadi sarapan bareng yang lain. Mas kalau masih ngantuk tidur lagi aja.”
Reyhan memainkan rambut Ayunda kemudian menyelipkannya ke belakang telinga. Kemudian ditariknya pinggang Ayunda hingga tubuh mereka merapat.
“Kamu mau bulan madu ke mana?”
“Hmm... kalau mas maunya kemana?”
“Di kasur aja.”
“Mas iihh... serius tau.”
“Serius Ayang, mau ke manapun tujuannya mas ngga keberatan. Asal aktivitasnya lebih banyak di kasur.”
Reyhan tergelak, senang rasanya menggoda istrinya seperti ini. Reyhan mencium leher Ayunda sampai melenguh karena suaminya itu kembali memberikan tanda merah di sana.
“Jadi kamu maunya kemana?”
“Ke Korea aja mas tapi pas musim dingin. Nanti kita jalan-jalan keliling Seoul, berkunjung ke Namsan Tower, ke Nami Island, Jeju Island. Jalan-jalan sambil pegangan tangan di bawah salju kayanya romantis ya. Gimana?”
“Terserah kamu aja. Asal pastiin tanggalnya biar mas bisa ajuin cuti. Sebentar lagi juga mas bakal mulai program fellowship.”
“Mas beneran mau ke Munich?”
“Belum tahu juga. Kamu mau ikut kan kalau mas jadi ke Munich?”
“Hmm.. kuliah aku gimana mas? Kan bentar lagi aku nyusun skripsi. Kalau aku ikut ke Munich bakal ketunda dong.”
“Cuti dulu aja gimana? Selama di Munich nanti kamu bisa ambil program ekstension.”
“Hmm..”
Ayunda hanya menggumam saja. Sebenarnya hati kecilnya tak ingin pergi ke Munich. Selain alasan kuliah, dia juga berat meninggalkan keluarganya. Sejak kecil Ayunda tak pernah tinggal jauh dari kedua orang tua dan kakaknya. Tapi sekarang dia sudah menjadi seorang istri dan mau tak mau harus mengikuti kemana suaminya pergi.
🍁🍁🍁
Farel baru saja akan pergi meninggalkan hotel ketika matanya menangkap Ara yang terlihat celingak-celinguk di depan lobi. Tak lama sebuah sebuah Toyota Yaris berhenti di depannya, Ara langsung masuk ke dalam mobil tersebut. Farel menduga kalau yang menjemput Ara adalah Yama. Tanpa membuang waktu dia segera mengikuti mobil tersebut.
Mobil yang dikendarai Yama terus melaju menuju daerah Setia Budi. Farel tetap menjaga jarak aman dengan mobil Yama. Setelah melewati jalan Sersan Bajuri, nampak mobil Yama berbelok ke arah kanan. Tak lama kembali berbelok menuju sebuah bangunan yang nampak seperti penginapan. Di dekat pintu masuk terpampang tulisan Arimbi Guest House and Private Pool. Yama memarkirkan mobilnya di depan pintu masuk lobi.
Farel memarkirkan mobilnya tak jauh dari mobil Yama. Dia berjalan menuju lobi, nampak Yama dan Ara sedang berbicara dengan resepsionis. Karena jarak yang agak jauh, Farel tak dapat mendengarkan percakapan mereka. Tak berapa lama Yama dan Ara beranjak pergi dengan dipandu oleh seorang karyawan. Farel bergegas mendekat ke meja resepsionis.
“Selamat pagi pak. Mau pesan kamar atau private pool?”
“Kalau pasangan yang tadi, mereka kemana?”
“Maaf pak, saya tidak bisa membocorkan privasi tamu.”
__ADS_1
“Perempuan tadi adik saya. Kalau terjadi sesuatu pada adik saya, apa kamu mau bertanggung jawab?”
“Maaf pak. Mereka menyewa private pool yang ada di lantai tiga.”
Farel bergegas menuju private pool yang dimaksud resepsionis tadi. Perasaannya mulai tak enak. Kalau hanya ingin berenang kenapa harus mengajak ke private pool. Suasana lantai tiga sangat lengang. Farel terus berjalan mencari ruangan yang dijadikan private pool. Kemudian matanya menangkap sebuah papan yang bertuliskan private pool di ruangan paling sudut.
Farel membuka pintu dengan kasar. Matanya membelalak melihat Ara yang hendak turun ke kolam hanya mengenakan bikini two pieces. Yama sendiri sudah berada di kolam. Bergegas Farel menghampiri Ara sambil memanggilnya.
“Ara!!”
Ara yang baru saja akan masuk ke kolam tersentak mendengar teriakan Farel. Dia menatap tak percaya kalau lelaki itu tengah berjalan ke arahnya. Hati Ara cukup ketar-ketir melihat wajah Farel yang mengeras. Farel menyambar handuk yang tersampir di atas kursi malas kemudian langsung menutupi tubuh Ara dengan handuk.
“Pakai baju kamu terus ikut abang pulang.”
“Ngga mau! Ara mau berenang.”
“Kalau cuma berenang ngapain kalian harus sewa private pool segala hah!! Pulang!”
“Ngga mau!! Abang aja yang pergi!!”
“Jangan tunggu abang marah Ra. Cepat pakai baju kamu.”
“Ngga!!”
“ZAHRA!!!”
Ara tersentak mendengar suara Farel yang menggelegar. Matanya sudah memerah menandakan pria itu benar-benar sudah diliputi amarah. Dengan tangan bergetar Ara mengambil pakaiannya kemudian menuju ruang ganti.
“Dan kamu!! Sekali lagi saya lihat kamu membawa Ara ke tempat yang tidak semestinya, saya sendiri yang akan mematahkan kakimu. Ingat itu!!!”
Ara keluar dari ruang ganti. Farel menyambar tas Ara yang ada di kursi kemudian menarik tangan gadis itu keluar dari private pool.
Farel mendorong Ara masuk ke dalam mobil kemudian menutup pintunya dengan kencang. Tak lama dia naik dan duduk di belakang kemudi. Honda CRV miliknya bergerak meninggalkan tempat tersebut.
“Bang Farel lebay. Aku sama Yama cuma mau renang aja.”
“Kalau tujuan kalian cuma berenang, kalian bisa ke kolam renang umum. Otak kamu di mana Ra? Ngga mungkin dia cuma pengen renang. Apa kamu ngga takut dia menaruh sesuatu dalam minuman kamu? Dan apa yang kamu pakai tadi hah? Bisa-bisanya kamu berpakaian seperti tadi di depan laki-laki yang bukan muhrim kamu.”
“Namanya juga berenang bang. Masa berenang pake piyama.”
“Tapi ngga harus pakai yang model seperti itu. Masih banyak model pakaian renang yang sopan. Yang tidak mengumbar aurat kamu.”
Ara tertunduk, dalam hatinya membenarkan ucapan Farel. Entahlah, dia memang sudah seperti orang bodoh jika berhadapan dengan Yama. Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Mau saja menuruti apa yang pemuda itu katakan. Bikini yang tadi dikenakan juga bukan keinginan Ara. Yama yang memaksa untuk memakainya.
“Mulai besok kamu ngga usah gaul sama dia.”
“Ya ngga bisa gitu dong. Aku bebas mau berteman dan bergaul dengan siapa aja.”
“Iya tapi pilih teman yang membawa kebaikan untukmu bukan yang seperti dia. Kamu kenapa sih belain dia terus.”
“Aku cinta sama Yama, puas abang??”
“Cih cinta monyet. Cintanya hilang tinggal monyetnya.”
“Biarin. Biar kata cinta monyet tapi Ara tuh normal, bisa jatuh cinta ngga kaya bang Farel. Umur udah tua tapi ngga punya pasangan juga.”
“Karena abang ngga mau sembarangan pilih pasangan kaya kamu.”
“Cih.. bilang aja ngga laku.”
“Kalau abang ngga laku, abang tinggal nikahin kamu, beres.”
“Ngga mau!!!”
Farel tak mempedulikan teriakan Ara, dia terus melajukan mobilnya. Karena masih kesal Ara memilih diam sambil bersidekap. Sesekali dia melirik ke arah Farel yang terlihat tak terganggu dengan aksi ngambeknya.
🍁🍁🍁
**Ini situasinya berbanding terbalik banget ya. Ay & Rey yg uwu, Farel & Ara yg kaya kucing lagi berantem🤣
Met malam Minggu semua.. jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like nya jangan lupa, vote nya kalau masih ada and komen kalian yang selalu bikin mamake semangat😘😘😘**
__ADS_1