
Mata Azkia terus tertuju pada layar televisi di depannya. Sudah hampir dua jam lamanya dia menonton drama Korea terbaru yang direkomendasikan Ayunda. Elang yang berbaring di belakangnya mengeratkan pelukannya seraya memberikan kecupan-kecupan di sekitar leher dan bahu. Sang empu menggeliat kegelian namun tak membuat Elang menghentikan aktivitasnya.
Akhirnya penderitaan Elang berakhir seiring dengan berakhirnya drama Korea yang ditonton sang istri. Sebelumnya mereka memang telah membuat kesepakatan, Elang boleh bermain sebanyak dua kali tapi sebagai gantinya harus menemani sang istri menonton drama Korea selama dua jam.
Demi kepuasan batin adik kecilnya, Elang menyetujui perjanjian tersebut. Hatinya bersorak karena tak lama lagi kegiatan mereka di atas ranjang akan dimulai. Selama cuti nikah, Elang dan Azkia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Mereka keluar hanya saat Azkia kuliah saja. Dan di hari terakhir cutinya, mereka masih menghabiskan waktu di rumah.
“Udah beres drakornya. Sekarang tinggal bayarannya,” bisik Elang.
“Tapi aku laper mas. olahraga malam kan butuh tenaga juga,” rengek Azkia.
“Kamu mau makan apa hmm?”
“Makan sate kambing enak kayanya mas.”
Elang melihat jam di dinding, sudah pukul sepuluh malam. Walaupun enggan tapi demi kesejahteraan adiknya, akhirnya Elang setuju untuk mencari makan di luar. Azkia bergegas mengenakan sweater dan hijab, begitu juga Elang melapisi kaosnya dengan sweater. Udara Bandung akhir-akhir ini memang cukup dingin di malam hari.
“Naik motor ya mas.”
“Naik mobil aja, udah malam. Nanti kamu masuk angin.”
Azkia memberengut namun tetap mengikuti keinginan suaminya. Keduanya segera menaiki mobil. Elang melajukan kendaraannya menembus gelapnya malam. Mereka memilih membeli sate yang mangkal di jalan Diponegoro. Sate Kambing di sana memang cukup terkenal kelezatannya. Pembelinya pun tak pernah berhenti sejak sore.
Elang memarkirkan kendaraannya di dekat warung tenda. Terlihat masih ada beberapa pembeli yang masih mengantri. Mereka turun lalu menuju warung sate. Elang meminta Azkia menunggu di meja yang letaknya di luar tenda.
“El.”
Elang menoleh saat sebuah suara memanggilnya. Syifa bersama adiknya berjalan ke arahnya dari arah berlawanan.
“Wah kebetulan nih ketemu di sini,” senyum Syifa merekah melihat lelaki yang begitu dicintainya.
“Hmm.. aku pesen sate dulu. Kamu tunggu di sini aja sayang.”
“Iya mas.”
Elang bergegas menuju tenda, begitu pula dengan adik Syifa. Mereka mulai mengantri untuk memesan makanan tersebut. Tanpa dipersilahkan Syifa duduk berhadapan dengan Azkia. Matanya melihat Azkia dengan pandangan yang sulit diartikan.
__ADS_1
“Bagaimana rasanya menikah dengan Elang? Kamu pasti bahagia.”
“Alhamdulillah, aku bahagia menikah dengan mas Elang. Dia lelaki yang baik dan bertanggung jawab.”
“Hmm... dia memang baik dan bertanggung jawab. Tapi.. apa dia mencintaimu? Kudengar kalian dijodohkan. Aku ngga habis pikir apa yang om Irzal dan tante Poppy lihat darimu, sampai mereka memilihmu menjadi menantunya.”
“Mungkin karena mereka tahu aku mencintai anaknya dengan tulus.”
Syifa tersenyum miring, ketidaksukaannya pada sosok Azkia telah berubah menjadi kebencian. Selama hampir empat tahun dia menunggu Elang membalas cintanya tapi ternyata tak pernah menjadi kenyataan.
“Aku masih bisa terima ketika Elang lebih memilih Rain. Tapi kamu... cih kamu tidak pantas bersanding dengannya. apa kamu tahu menjadi pendamping seorang Elang Ramadhan, tidak hanya cukup dengan wajah cantik tapi dia juga harus berwawasan luas dan berkelas. Dia harus bisa mendukung pekerjaannya. Apa kamu sudah memenuhi kriteria itu? Kamu hanya gadis miskin, latar belakang keluargamu juga tidak bagus. Ayahmu kabarnya pernah menjadi narapidana. Jika rekan bisnisnya tahu soal latar belakangmu, apa yang mereka pikirkan?”
Azkia mengepalkan tangannya mendengar hinaan demi hinaan yang keluar dari mulut Syifa. Tapi sebisa mungkin ditahannya amarah yang bergemuruh hebat di dadanya.
“Kamu tahu berapa lama aku menunggu Elang? Aku bersabar ketika dia masih belum melepaskan Rain dari hati dan pikirannya. Aku bahkan mulai berhijab, karena aku tahu seperti apa perempuan idamannya. Aku selalu berada di sampingnya, membantunya mencarikan relasi saat dia menjalankan usaha restoran milik om Dimas. Banyak yang sudah kulakukan untuknya. Tapi kamu, tanpa permisi dan seenak jidatmu merebut Elang dariku.”
“Aku tidak merebutnya darimu. Hubungan kita mengalir begitu saja. Lagi pula tidak ada hubungan di antara kalian. Apa mas Elang pernah menyatakan cintanya padamu? Apa dia pernah menjanjikan untuk menikahimu? Lalu apa mas Elang pernah memintamu berhijab?
Kamu lakukan semuanya demi menarik perhatiannya. Kamu membantunya karena mengharapkan imbalan. Kamu berusaha memikatnya dengan segala yang kamu miliki tapi terkadang kita tidak tahu kemana hati akan berlabuh. Dan ketika kamu tahu hatinya bukan untukmu kamu mengungkit semua yang kamu lakukan untuknya. Kamu menuntut sesuatu yang sedari awal bukan milikmu.”
“Cih.. dasar wanita gila. Aku tidak takut dengan ancamanmu. Coba saja kalau kamu bisa merebut mas Elang. Tapi aku juga tidak akan tinggal diam. Aku akan pastikan untuk menyingkirkanmu. Dia suamiku, milikku, tak akan aku biarkan perempuan lain merebutnya dariku, termasuk kamu.”
Syifa tertawa mendengar ucapan Azkia. Sepertinya usaha wanita itu untuk menjatuhkan mental Azkia tidak berhasil. Istri dari Elang itu ternyata tidak mudah diintimidasi.
“Aku kagum dengan keberanian dan kepercayaan diri yang kamu punya. Sepertinya menyandang status sebagai menantu keluarga Ramadhan membuatmu sombong. Apa Elang tahu sifatmu yang sebenarnya? Dasar wanita licik.”
“Bukan status menantu yang membuatku percaya diri. Tapi cinta dan kasih sayang suamiku yang membuatku seperti ini. Aku peringatkan, jauhi mas Elang atau aku akan membuatmu menyesal.”
Syifa bertambah geram, Azkia selalu saja bisa menjawabnya. Dengan tangan terkepal dia menggebrak meja. Ketika dia hendak berkata lagi, suara Elang menginterupsinya.
“Sayang.. ayo pulang.”
Azkia berdiri seraya melemparkan senyumnya ke arah Elang. Dengan manja dia menggelayut di lengan Elang membuat Syifa semakin terbakar cemburu. Azkia segera menarik Elang menuju mobilnya, tak memberi kesempatan pada suaminya itu untuk berpamitan pada Syifa.
Sepanjang perjalanan Azkia hanya terdiam. Sejujurnya dia masih kesal dengan sikap Syifa tadi. Ucapannya tentang perasaan Elang pada Rain belum sepenuhnya hilang dan cukup mengganggunya. Elang melirik ke arah Azkia lalu mengusap puncak kepalanya, membuyarkan lamunan Azkia.
__ADS_1
“Apa yang kamu dan Syifa bicarakan tadi? Sepertinya serius sekali.”
“Kenapa?”
“Ngga apa-apa cuma penasaran aja. Terus kamu langsuang narik mas pergi jadi ngga sempat pamitan sama dia.”
“Mas kecewa? Kalau gitu kita putar balik saja. Mas bisa pamitan padanya.”
“Kamu kenapa sih? Kenapa marah-marah seperti ini?”
“Mas ngga usah pura-pura. Mas pasti dengar kan pembicaraan aku dengan Syifa.”
“Iya aku dengar dan aku kaget aja karena tahu sifat aslimu.”
Azkia terkejut, ada ketakutan menelusup dalam hatinya. Kecewakah Elang? Marahkah dia? Ditatapnya wajah Elang lekat-lekat. Elang melirik sekilas lalu menepikan kendaraannya. Dia melepas sabuk pengamannya lalu mendekatkan tubuhnya ke arah Azkia.
“Mas baru tahu kalau ternyata kamu buas juga seperti macan. But I like it. Mas adalah suamimu, milikmu. Pertahankan mas jika ada yang berani mengambil mas darimu seperti mas akan mempertahankanmu dari orang yang mau merebutmu dari mas.”
“Apa mas masih mencintai mba Rayna? Konon katanya cinta pertama itu sulit untuk dilupakan dan akan terus ada di dalam hati.”
“Rain memang cinta pertamaku. Darinya mas belajar untuk mencintai, belajar menerima kalau mencintai tidak harus memiliki, belajar menyembuhkan luka. Tapi kamu adalah cinta terakhir mas. Darimu mas menerima cinta yang tulus, kehadiranmu adalah obat untuk mas, darimu mas belajar untuk mengejar dan mempertahankan cinta, kamu adalah tempat mas untuk pulang, bersandar ketika letih, tempat mencurahkan segenap kasih sayang dan cinta sampai maut memisahkan kita. Tak ada perempuan yang mas inginkan selain dirimu, kamu satu untuk selamanya.”
Elang menelusupkan tangannya ke belakang leher Azkia lalu membenamkan bibirnya di bibir ranum sang istri. Menyesapnya perlahan baru kemudian memagutnya dengan penuh kelembutan. Azkia membalas ciumannya, keduanya saling memagut dan ******* tanpa mempedulikan di mana mereka saat ini. Elang melepaskan tautannya ketika merasa ada dorongan lebih dari dirinya.
“Kita teruskan di rumah.”
Elang kembali ke posisi semula, memasang seat belt-nya lalu menjalankan kendaraannya. Segurat senyum tercetak di bibir Azkia. Dia meraih tangan Elang lalu mengecup punggung tangannya. Elang balas mengecupnya.
🍁🍁🍁
**Hati² mas El, neng Az, Pebinor dan pelakor bermunculan nih.
Terima kasih buat semua doanya, Alhamdulillah anak mamake udah sehat lagi🤗
Jangan lupa like, comment and votenya😉**
__ADS_1