
Azkia duduk termenung di sisi ranjang. Tangannya memegang jaket hodie berwarna hitam berbahan fleece. Pikirannya menerawang saat Elang memberikan jaket ini untuk menutupi tubuhnya. Hanin masuk ke dalam kamar, membuyarkan lamunan Azkia.
“Hayo bengong mulu, tar mati kaya ayam tetangga.”
Hanin mendudukkan bokongnya di samping sang kakak. Adik dari Azkia ini berusia 15 tahun dan akan masuk ke sekolah menengah atas. Hubungan keduanya terbilang akur dan harmonis. Mereka kerap berbagi cerita, saling menyayangi dan melindungi. Terlebih ayah mereka jauh dari sosok yang bisa dijadikan panutan dan pelindung keluarga. Walau usianya masih belia, tapi Hanin sudah cukup dewasa menyikapi setiap persoalan yang menerpa keluarganya.
“Itu jaket keramat kenapa dipegangin mulu?”
“Kemarin kakak ketemu sama pemilik jaket ini.”
“Serius kak? Terus gimana?”
Hanin nampak antusias. Semenjak Azkia menceritakan bagaimana Elang pernah menolongnya dulu, Hanin memang ingin bertemu dengan Elang untuk mengucapkan terima kasih. Dia juga berharap Azkia bisa berjodoh dengan Elang, walau pun hanya sebatas angan saja.
“Dia ngga ngenalin aku Han. Wajar sih, kejadiannya juga udah lama. Tapi aku seneng kok bisa ketemu dia lagi. Aku rencananya mau kembaliin jaket ini kalau ketemu dia lagi. Aku mau simpen di loker biar kalau dia ke mini market bisa aku kembaliin.”
“Ih ngapain dikembaliin. Itu kan jaket keramat, jimat kak Kia. Waktu kejadian si Fandy brengsek itu tiap malem kakak pasti mimpi buruk. Dan anehnya setiap aku selimutin kakak pake jaket ini kakak langsung tenang. pas kejadian terakhir kakak lihat Fandy juga gitu. Kakak baru bisa tidur pas aku selimutin pake jaket ini. Jangan dikembaliin kak.”
“Musyrik kamu, jangan bicara begitu.”
“Bukan musyrik kak. Tapi sugesti, secara ngga sadar alam bawah sadar kakak sudah tersugesti akan jaket ini. Mungkin lebih tepatnya pemilik jaket ini yang buat kakak merasa aman dan nyaman. Kalau menurut aku ngga usah dikembaliin. Ngga dapet orangnya minimal dapet jaketnya,” Hanin terkikik geli.
“Tapi ini bukan punya aku Han. Lagi pula dulu dia cuma minjemin aja.”
“Tapi kakak pernah cerita dia nolak waktu kakak mau kembaliin jaketnya.”
“Ya mungkin karena dia tahu pakaian kakak waktu itu udah amburadul.”
“Terserah kakak deh. BTW kakak udah tau namanya siapa?”
“Ngga.”
“Ambyaarr,” Hanin menepuk keningnya.
Azkia melipat jaket milik Elang lalu memasukkannya ke dalam paper bag. Besok saat bekerja, dia akan membawa jaket ini dengan harapan Elang akan kembali berbelanja ke mini market sehingga dia bisa mengembalikannya.
“Han, kamu rencana daftar ke sekolah mana?”
“Aku maunya sih SMK kak, biar begitu lulus aku bisa langsung kerja, ngga usah kuliah. Otak aku kan pas-pasan ngga kaya kakak yang pinter.”
“Kamu tuh. Tapi bagus juga kalau kamu mau masuk SMK, kakak sih dukung aja asal kamunya serius.”
“Tapi biayanya mungkin sedikit mahal kak. Kalo SMK kan banyak prakteknya.”
“Kamu berdoa aja ya, mudah-mudahan ada rejekinya. Kakak juga udah nabung sedikit demi sedikit buat sekolah kamu.”
“Makasih ya kak. Maaf kalau aku jadi beban buat kakak. Harusnya bapak yang bertanggung jawab untukku tapi....”
“Sudahlah jangan dipikirin. Kita ini saudara, sebagai saudara kita harus saling membantu. Selama ini kamu juga banyak bantu kakak keluar dari trauma.”
Azkia menarik Hanin dalam pelukannya. Di dunia ini hanya dua orang yang begitu disayanginya, ibu dan juga Hanin. Dia rela mengorbankan apapun untuk mereka berdua.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Elang sudah siap dengan setelan kerjanya, begitu juga dengan Farel. Hari ini secara resmi mereka akan bergabung dengan perusahaan. Irzal langsung memberi jabatan wakil CEO untuk anaknya itu karena yakin sang anak sudah memiliki kualifikasi yang cukup untuk memegang jabatan tersebut. Walau usia Elang masih terbilang muda, namun kepiawaiannya sudah teruji.
Kemampuannya terbukti saat menangani restoran Dimas di London. Selain dapat menyelamatkan restoran dari kebangkrutan, dia juga berhasil mengembangkan restoran dengan membuka dua cabang sekaligus, di Manchester dan Liverpool. Belum lagi dia juga berhasil mendongkrak pemasukan restoran yang berada di Milan, The Archipelago sempat menurun penghasilannya ketika Dimas jarang memantaunya secara langsung.
Elang tidak akan bekerja sendiri, dia akan dibantu oleh Farel yang akan menjadi asistennya. Virza, teman kuliah sekaligus anak dari Bara, orang kepercayaan Irzal. Virza akan bekerja sebagai sekretaris Elang. Dan jangan lupakan Jayden yang khusus dipekerjakan untuk membantu tugas-tugas Elang.
Elang dan Farel berpamitan pada Poppy. Wanita itu mendoakan kedua anaknya agar diberikan kemudahan dalam bekerja. Tak lupa doa terbaik untuk sang suami. Poppy mengantar tiga orang lelaki yang begitu disayanginya sampai ke teras. Elang dan Farel langsung menuju mobil mereka. Tak ingin mengganggu ritual kedua orang tuanya.
Poppy merapihkan kembali dasi yang dikenakan suaminya lalu mencium punggung tangannya. Irzal mencium kening istrinya kemudian menyatukan bibir mereka berdua. Beberapa kali Irzal memagut bibir istrinya. Itu adalah ritual yang tidak boleh dilupakan. Menurutnya, itu adalah salah satu cara untuk menjaga cinta dan keharmonisan hubungan mereka. Selesai dengan ritualnya, Irzal berjalan menuju mobilnya. Pak Darman, supir kepercayaan Irzal sudah menunggu di belakang kemudi.
Ballroom Humanity sudah dipenuhi oleh karyawan. Hari ini Irzal akan memperkenalkan Elang dan Farel secara resmi. Para karyawan memang sudah mendengar desas-desus akan hal ini. Namun mereka masih penasaran dengan sosok Elang, karena sebelumnya pemuda ini belum pernah menampilkan diri di depan publik.
Pintu ruangan terbuka, Irzal berjalan diikuti oleh Andri. Selain untuk memperkenalkan diri, hari ini juga dijadikan sebagai ajang perpisahan untuk Akbar, wakil CEO sebelumnya. Akbar akan pensiun dan posisinya digantikan Elang. MC acara mempersilahkan Irzal untuk maju ke depan.
Irzal membuka acara dengan sambutan singkatnya. Dia juga mengucapkan rasa terima kasihnya pada Akbar atas dedikasinya selama ini. Kemudian Irzal mempersilahkan Akbar untuk mengucapkan sepatah dua patah kata. Pria yang dulunya senior Irzal di kampus berjalan menuju mimbar. Walau rambutnya sudah beruban dan perutnya membuncit, karakter Akbar yang humoris tidak habis tergerus usia. Terdengar tawa dari penghuni ballroom saat Akbar menyelipkan candaan dalam pidato perpisahannya.
Selesai mengucapkan kata-kata perpisahan, Irzal kembali maju untuk memberikan cinderamata tanda terima kasih perusahaan atas dedikasinya. Lalu keduanya berfoto bersama. Irzal kembali ke atas mimbar lalu memanggil Elang yang akan menjabat wakil CEO sebagai pengganti Akbar.
Ratusan pasang mata mengikuti pergerakan Elang yang berjalan menuju mimbar. Pemuda itu nampak tenang sekali. Irzal menyambut dan mempersilahkan anaknya itu menuju mimbar. Tanpa dijelaskan pun semua yang hadir sudah paham kalau Elang adalah anak dari Irzal, karena kemiripan wajah mereka.
Elang naik ke atas mimbar. Pandangannya lurus ke depan melihat ratusan karyawan yang ada di hadapannya. Banyak karyawan wanita yang berdecak kagum melihat ketampanan anak sang CEO ini.
“Assalamu’alaikum wr. wb,” suara bariton Elang terdengar menggema di ruangan.
“Waalaikumsalam wr. wb.”
“Sebelumnya saya ucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya pada pak Akbar Permana atas dedikasinya selama ini. Tanpa kerja keras beliau, perusahaan tidak akan maju seperti sekarang ini. Terima kasih juga untuk rekan-rekan sekalian yang masih mau terus berjuang bersama kami memajukan perusahaan.
Perkenalkan, nama saya Elang Diaulhaq Ramadhan. Mulai hari ini saya yang akan menggantikan pak Akbar menempati posisi sebagai wakil CEO. Saya harapkan bantuan dan kerjasama dari rekan-rekan semua. Semoga kita bisa bekerja dengan baik membangun perusahaan ke arah yang lebih baik lagi.
“Waalaikumsalam wr. wb.”
Elang turun dari mimbar lalu kembali ke kursinya. Sang MC kembali mengambil alih acara. Dia mempersilahkan para karyawan kembali ke tempatnya masing-masing. Sebelumnya MC mengingatkan saat jam makan siang nanti, semua dinanti kehadirannya di EDR. Ada hidangan istimewa yang disiapkan perusahaan untuk mereka semua.
Elang, Farel, Virza dan Jayden berkumpul di ruangan yang akan ditempati Elang selaku wakil CEO. Sebuah meja kerja lengkap dengan kursi kebesaran terletak di dekat jendela besar yang menghadap ke jalan. Satu set sofa, kulkas mini, lemari kabinet turut melengkapi ruangan ini. Jangan lupakan toilet serta sebuah ruangan yang disediakan untuk beristirahat juga terdapat di dalamnya.
Jayden membuka pintu menuju kamar pribadi sang wakil CEO. Terdengar siulannya melihat kasur berukuran queen size, lemari pakaian dan kamar mandi di sana. Tak lama dia kembali keluar lalu mendaratkan bokongnya tepat di samping Virza.
“Pak bos, di lantai ini kan cuma ada ruangan bos, ruangan kangmas Farel, ruangan tuanku Virza sama ruangan gue. Asli lantai ini sepet banget, kaga ada pemandangan bagus. Kaga ada makhluk cantiknya. Di sini cuma ada gue, kangmas Farel ama dua manusia kutub,” Jayden menunjuk pada Elang dan Virza.
“Ada satu lagi. Sekretaris om Akbar bakalan jadi sekretaris gue. Jadi ada satu makhluk cantik di ruangan ini,” jawab Farel.
“Serius? Alhamdulillah. Eh gue ngga dikasih asisten atau sekretaris gitu?”
“Lo kan udah punya asisten PA.”
“Siapa?”
“Mbah Google,” jawab Elang, Farel dan Virza bersamaan. Jayden hanya mendengus kesal.
Terdengar ketukan di pintu, tak lama sosok yang dibicarakan masuk. Seorang wanita berusia 24 tahun masuk dengan beberapa dokumen di tangannya. Dia adalah Fitria, sekretaris yang mendampingi Akbar dulu. Fitria baru bergabung di Humanity dua tahun yang lalu. Namun karena kredibilitasnya, dia ditarik sebagai sekretaris sekaligus asisten Akbar. Baru satu tahun dia bertugas mendampingi Akbar, namun pria itu memutuskan untuk pensiun.
Andri sempat menawarkan pada Elang agar Fitria yang menjadi sekretarisnya tapi ditolak oleh pemuda itu. Dia lebih memilih Virza, sebagai sekretarisnya. Akhirnya Andri menempatkannya sebagai sekretaris Farel.
__ADS_1
“Selamat pagi pak. Ini dokumen proyek yang sedang dikerjakan pak Akbar.”
Elang menerima dokumen tersebut lalu membacanya sebentar. Jayden tak melepaskan matanya dari Fitria sejak wanita itu masuk ke dalam ruangan. Body Fitria terlihat aduhai dalam balutan blouse berwarna peach dan rok pencil hitam selutut.
“Proyek terdekat itu pembangunan koperasi untuk pengembangan peternakan sapi perah di Kuningan. Berapa orang yang terlibat langsung dalam proyek ini?”
“Total ada 10 orang pak. Tapi 3 orang sudah berada di Kuningan untuk pengurusan pembebasan lahan dan pengumpulan data peternak.”
“Ok, kalau gitu katakan pada yang 7 orang untuk bekerja di lantai ini mulai besok. Bawa semua dokumen terkait, kita akan pakai meeting room untuk ruang kerja. Saya mau akhir bulan ini semua persiapan sudah selesai. Hubungi juga tiga orang yang di Kuningan, minta laporan perkembangan mereka. Koordinasikan dengan pak Farel. Jangan lupa berikan jadwal saya seminggu ke depan dan apa yang harus saya follow up pada pak Virza.”
“Baik pak.”
“Satu lagi. Mulai besok saya ngga mau lihat kamu berpenampilan seperti ini. Kenakan celana panjang saja saat bekerja, jangan rok seperti itu, mengerti?”
“I.. iya pak. Kalau begitu saya permisi untuk menyiapkan semuanya.”
Fitria bergegas keluar dari ruangan. Dia mengusap dadanya begitu berada di luar. Walaupun masih muda namun Elang memilki aura kepemimpinan yang tak terbantahkan. Kata-kata tegas serta wajah dinginnya sempat membuat wanita itu ketar-ketir, belum lagi saat dia berkomentar tentang pakaian yang dikenakannya.
“Buah memang jatuh ngga jauh dari pohonnya. Like father like son,” gumam Fitria pelan seraya melangkahkan kakinya menuju ruangan Farel yang juga ruangannya.
“Sadis banget pak bos. Kaga lihat apa tadi Fitria mukanya tegang gitu, apalagi pas protes soal pakaiannya. Padahal menurut gue cara berpakaiannya masih wajar,” protes Jayden.
“Gue cuma takut kalau bang Farel ngga bakal konsen kerja kalo ngelihat Fitria pake baju ketat kaya gitu.”
“Sue lo, kenapa bawa-bawa gue,” sewot Farel. Jayden langsung terbahak, begitu juga Virza yang tersenyum tipis.
“Dih manusia kutub bisa juga senyum.”
Virza menjitak kepala Jayden yang mulutnya mirip radio butut. Elang segera melerai mereka dan meminta semuanya kembali ke ruangannya masing-masing. Dia sendiri langsung larut dalam pekerjaannya. Mempelajari dokumen yang tadi diberikan oleh Fitria.
🍁🍁🍁
**Duh mas El, mamake jadi tambah cinta😍
Setiap harinya mamake akan usahakan up 2 bab, karena mamake juga harus update Wild Romance di Gonovel. Jangan lupa ritualnya
Like..
Comment..
Vote..
Farel**
**Virza, si manusia kutub
Jayden, si radio butut
__ADS_1
Nah itu penampakan genknya mas El**