Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 4 : BIZZARE LOVE TRIANGLE Doa Tulus


__ADS_3

Hari terus berlalu, tak terasa hampir satu bulan berlalu semenjak insiden penabrakan oleh Bilqis. Ayunda membuktikan ucapannya saat itu, tak lagi memberikan kesempatan pada Reyhan. Tak ada lagi acara berbalas chat, seperti yang kerap mereka lakukan. Reyhan juga tidak lagi mengunjungi Ayunda di rumahnya dengan membawakan makanan kesukaan gadis itu. Semua yang mereka lakukan bersama terhenti begitu saja, seakan ada jarak yang begitu jauh di antara keduanya.


Hal ini berbanding terbalik dengan Firlan. Pria itu semakin dekat saja dengan Ayunda. Hampir setiap hari dia mengantarkan Ayunda ke kampus. Dia juga selalu menyempatkan diri menjemput atau makan siang bersama dengan gadis itu. Perasaan Firlan pada Ayunda juga semakin mendalam. Bahkan dia sudah meminta Ega melamar Ayunda untuknya.


Ayunda turun dari mobil yang dikendarainya kemudian masuk ke dalam Rose cafe. Entah ada angin dari mana Salsa meminta bertemu dengannya. Terlihat perempuan itu melambaikan tangannya ke arah Ayunda. Dengan cepat Ayunda menghampiri meja Salsa lalu duduk di hadapannya.


“Ada apa kakak mau ketemu denganku?”


“To the point banget Yun. Kamu ngga mau pesan makan dulu?”


“Ngga kak. Aku ada janji makan siang sama bang Ilan.”


“Ooh.. kalau gitu minum aja ya.”


Salsa mengangkat tangannya lalu memesan minuman untuk mereka berdua. Ayunda tertegun memandangi Salsa. Ada yang berbeda dengan perempuan itu. Sikapnya lebih ramah dan terlihat santai. Tidak seperti terakhir kali mereka bertemu.


“Bagaimana hubunganmu dengan Ilan?”


“Baik.”


“Syukurlah.”


Ayunda menatap Salsa lekat-lekat, rasanya tak percaya mendengar wanita di hadapannya ini mengucapkan hal tersebut. Salsa yang menyadarinya hanya tertawa pelan.


“Yun.. aku minta maaf atas sikap kasarku dulu. Aku akui, aku cemburu, aku marah karena Ilan bisa berpaling dariku dengan cepat. Awalnya aku tidak terima, aku tidak rela Ilan bersanding dengan perempuan lain. Tapi kemudian aku sadar, dalam hati Ilan sudah tidak ada diriku. Saat aku melihat bagaimana dia berusaha menyelamatkanmu tanpa mempedulikan keselamatan dirinya, aku sadar kalau dia mencintaimu.”


Pembicaraan terjeda ketika pelayan datang mengantarkan pesanan. Salsa menyeruput minuman dingin miliknya untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering, begitu pula dengan Ayunda.


“Semoga kamu dan Ilan bahagia Yun, aku doakan tulus dari dalam hatiku. Aku harap kamu tidak melakukan kesalahan yang sama sepertiku, melukai hatinya. Ilan laki-laki yang baik Yun, jangan pernah menyakitinya. Ketika dia mencintai seseorang, maka dia akan melakukan apapun untuk membahagiakannya. Aku yakin dia bisa membahagiakanmu.”


“Terima kasih kak. Maaf kalau aku sudah merebut bang Ilan darimu.”


“Kamu ngga merebutnya, aku yang sudah bodoh melepasnya. Aku doakan yang terbaik untuk kalian. Maaf kalau aku tidak bisa menghadiri pernikahan kalian nantinya. Aku akan kembali ke LA besok.”


“Kak Salsa mau bertemu dulu dengan bang Ilan?”


“Ngga Yun. Aku takut kalau bertemu dengannya, aku ngga bisa pergi, ngga bisa melepasnya. Sampaikan salamku padanya.”


Ayunda hanya mengangguk seraya menyeruput minumannya. Matanya menatap arah Salsa. Walaupun berusaha nampak tegar, namun gurat kesedihan terpancar dari matanya. Memang melepaskan orang yang kita cintai tidaklah mudah.


🍁🍁🍁


Firlan menjentikkan jarinya di depan wajah Ayunda. Gadis itu nampak melamun saat sedang menunggu pesanan makan siang mereka. Ayunda terkesiap lalu melihat ke arah Firlan.


“Kenapa bengong? Lagi mikirin apa hmm?”


“Sebelum ke sini tadi aku ketemu sama kak Salsa.”


“Salsa? Apa dia melukaimu?”


“Ngga bang. Kak Salsa cuma mau minta maaf sama pamit. Besok dia kembali ke LA. Dia bilang sudah bisa merelakan bang Ilan. Bang Ilan ngga mau nemuin dia dulu gitu?”


“Buat apa? Hubunganku dengannya sudah berakhir lama. Bertemu untuk apa? Mengenang masa lalu? Itu bukan hal yang penting lagi. Sekarang prioritas dalam hidupku itu kamu Yun.”


Firlan menggenggam tangan Ayunda, netranya menatap dalam ke arah mata hazel milik Ayunda. Gadis cantik itu memang mewarisi mata indah milik sang ayah. Ayunda tersenyum ke arah Firlan namun hatinya bertanya-tanya, mengapa tak ada debaran di hatinya ketika Firlan menyentuhnya.


Seorang pelayan datang mengantarkan pesanan mereka. Tanpa menunggu lama Ayunda segera menyantap pesanannya. Acara makan mereka diselingi pembicaraan, kadang Ayunda tertawa mendengar gurauan Firlan.


Selesai makan, Firlan memesankan desert untuk Ayunda. Gadis itu terpaku melihat creme brulee di depannya. Seketika ingatannya tertuju pada Reyhan. Mengingat Reyhan membuat dada gadis itu sesak.


“Kenapa ngga dimakan? Bukannya itu kesukaan kamu?”


“Kenyang bang,” bohong Ayunda.


“Masa?”

__ADS_1


Ayunda hanya mengangguk, akhirnya Firlan yang menghabiskan creme brulee tersebut. Ayunda coba mengalihkan pandangannya ke arah lain, berusaha untuk menepis bayang-bayang Reyhan. Tiba-tiba ponselnya berdering, tertera nama salah satu temannya di layar. Setelah berbicara sebentar, Ayunda mengakhiri panggilannya.


“Bang, aku mau ke rumah sakit dulu ya. Mau nengok temen yang lagi sakit.”


“Rumah sakit mana?”


“Ibnu Sina.”


“Aku antar ya.”


Ayunda mengangguk saja. Firlan bangun dari duduknya lalu menuju meja kasir disusul oleh Ayunda. Setelah menyelesaikan pembayaran, dia segera mengantarkan Ayunda ke rumah sakit.


🍁🍁🍁


“Rey!”


Reyhan berhenti melangkahkan kakinya, menunggu Bilqis yang berjalan ke arahnya. Tak lama gadis itu sudah berdiri di hadapan Reyhan. Sejenak dia memandangi Reyhan, sudah tak ada lagi debaran di dadanya.


“Ngapain kamu ke sini? Ada yang sakit?”


“Ngga.. aku sengaja mau ketemu kamu. Sibuk ngga?”


“Ngga.. ayo ke sana.”


Reyhan mengajak Bilqis menuju sofa yang ada di lobi rumah sakit. Ibnu Sina hospital memang dilengkapi lobi yang memiliki beberapa set sofa, khusus diperuntukkan bagi para pengunjung.


“Kamu serius mau nikah sama bang Za?” tanya Reyhan ketika baru saja mendudukkan bokongnya di kursi.


“Hmm.. dua minggu lagi Rey, doain ya mudah-mudahan lancar.”


“Apa karena ancaman papa Nino?”


“Awalnya iya, karena syarat dari papa. Tapi aku minta satu bulan buat mengenalnya dulu. Dan sekarang aku mantap mau nikah sama dia. Bang Za minta waktu satu bulan buat bikin aku jatuh cinta sama dia.”


“Ternyata ngga butuh waktu satu bulan buat bikin aku jatuh cinta sama dia. Mungkin karena bakat playboy-nya dia. Sebel aku, ternyata dia membuktikan ucapannya,” Bilqis terkekeh, begitu juga dengan Reyhan.


“Bagaimana dengan kamu Rey?”


“Apanya yang bagaimana?”


“Hubunganmu dengan Yunda?”


Reyhan tak langsung menjawab, dia berdiri lalu berjalan menuju mesin yang menjual minuman secara otomatis. Dia mengambil ponsel lalu men-scan barcode yang ada di ponselnya, kemudian memilih dua minuman kaleng. Tak lama minuman kaleng keluar dari mesin tersebut. Reyhan mengambilnya kemudian kembali ke tempatnya semula.


Satu minuman diberikan pada Bilqis dan satu lagi langsung dibukanya lalu meneguknya sampai habis setengah. Mendengar Bilqis menanyakan perihal Ayunda, membuat kerongkongannya terasa kering. Bilqis masih setia menunggu jawaban dari saudara sesusunya itu.


“Aku ngga ada hubungan apa-apa sama Yunda. Aku baru mulai pedekate aja, tapi ternyata sudah harus berakhir.”


“Maafin aku Rey. Karena aku Yunda jadi menjauhimu. Maaf...”


“Ini bukan salahmu Qis. Sejak awal memang tidak ada tempat buatku di hatinya. Dari dulu sampai sekarang hanya bang Ilan yang ada di hatinya,” Reyhan tersenyum getir seraya meneguk kembali minumannya.


“Apa kamu yakin? Aku rasa Yunda menyukaimu. Tolong Rey jangan menyerah, sebelum janur kuning melengkung, kamu masih bisa memperjuangkan cintanya. Please Rey jangan nyerah. Aku akan merasa bersalah sepanjang hidupku kalau kamu berhenti di tengah jalan seperti ini. Apa kamu mau empat tahun cinta dalam diammu berakhir sia-sia?


Ayo Rey semangat. Apa kamu mau aku bicara dengan Yunda? Demi kamu, demi menebus kesalahanku, aku akan bicara dengan Yunda, kalau perlu aku akan bersujud di depannya supaya memberikanmu kesempatan lagi.”


“Sudahlah Qis...”


Bilqis meraih minuman kalengnya, membukanya kemudian meneguknya. Berjuta penyesalan dan rasa bersalah menghantam batinnya. Melihat Reyhan yang terlihat menderita membuatnya ingin menangis. Kini dia benar-benar menyadari betapa egois dirinya hingga membuat orang-orang di sekitanya menderita.


“Tolong pertimbangkan lagi Rey, aku benar-benar berharap melihatmu dengan Yunda bersatu. Kalian cocok satu sama lain. Please perjuangkan lagi cintamu. Aku pulang dulu ya Rey, sekali lagi aku minta maaf.”


Bilqis berdiri diikuti oleh Reyhan. Gadis itu memalingkan wajahnya ke arah lain sejenak untuk menghapus sudut matanya yang berair. Reyhan yang menyadari itu mengusap puncak kepala Bilqis.


“Maaf Rey.. maaf..”

__ADS_1


Bilqis tak dapat menahan airmatanya lagi. Buliran bening itu akhirnya jatuh membasahi pipinya. Reyhan menarik Bilqis dalam pelukannya. Di saat yang bersamaan Ayunda memasuki lobi rumah sakit bersama dengan Firlan. Matanya menangkap Reyhan dan Bilqis yang sedang berpelukan. Rasa marah dan sakit langsung menjalari hatinya. Dia buru-buru mengajak Firlan menuju elevator.


“Aku tahu kalian saudara sesusu, tapi bukan berarti aku ngga cemburu melihat kalian berpelukan seperti ini.”


Reyhan mengurai pelukannya ketika mendengar suara Zahran. Pria itu sudah berdiri di samping mereka dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Reyhan hanya terkekeh melihat wajah cemburu Zahran. Bilqis menghapus airmatanya lalu mendekati Zahran.


“Ngga usah cemburu bang. Tenang aja, Bilqis udah bucin sama abang. Tadi dia bilang sendiri.”


“Rey!!”


“Beneran baby?”


“Mana ada!” elak Bilqis, wajahnya memerah.


“Bener bang, lihat aja tuh mukanya merah gitu,” ledek Reyhan lagi membuat Bilqis melotot ke arah dokter bedah itu.


“Aku titip Bilqis ya bang. Harap maklum kalau dia keras kepala, jitak aja bang kalo ngga mau nurut.”


“Rey!!”


“Jagain adik aku ya bang.”


“Cih.. adek.. umur kita cuma beda empat bulan Rey. Ngga usah berasa tua deh.”


“Biar cuma empat bulan, yang penting aku keluar duluan.”


Zahran menggeleng-gelengkan kepalanya melihat perdebatan unfaedah Reyhan dan Bilqis. Tiba-tiba ponsel Reyhan berbunyi. Dia membuka pesan di ponselnya.


“Aku pergi dulu ya, ada pasien darurat.”


“Iya Rey. Inget yang aku bilang tadi.”


Reyhan hanya mengangkat jempolnya lalu bergegas pergi meninggalkan dua sejoli itu. Zahran merangkul Bilqis kemudian melangkahkan kakinya keluar dari lobi.


“Kamu bilang apa emangnya ke Rey?”


“Aku cuma mau dia perjuangin lagi cintanya ke Yunda. Semua karena aku bang, hubungan mereka berantakan karena aku.”


“Kalau memang Rey dan Yunda berjodoh, mereka pasti bisa bersama lagi. Tapi kalau tidak berjodoh, kamu berusaha sekuat apapun untuk menyatukan mereka, tetap saja mereka tidak akan bersatu. Doakan saja yang terbaik untuk mereka.”


Bilqis menganggukkan kepalanya. Dalam hatinya berdoa, semoga saja Allah berkenan menjodohkan Reyhan dan Ayunda. Sebuah doa tulus yang dia panjatkan dari lubuk hatinya yang terdalam.


Sementara itu Reyhan mempercepat langkahnya menuju IGD, tanpa sadar dia melintasi Ayunda yang sedang menunggu lift. Ayunda menundukkan kepalanya, tak ingin terlihat oleh Reyhan. Setelah pria itu berlalu, Ayunda mengangkat kepalanya kemudian mengikuti pergerakan Reyhan sampai hilang di pintu masuk IGD.


Ingin rasanya Ayunda memanggil Reyhan, hanya untuk sekedar melihat wajah tampan dan senyumnya. Namun Ayunda hanya bisa menahan perasaannya, karena saat ini ada Firlan di sisinya. Tanpa gadis itu sadari, hatinya mulai merindukan Reyhan.


🍁🍁🍁


**Sedih lagi🤧


Kira² doa siapa yang akan terkabul? Doa Salsa atau Doa Bilqis?


Jangan lupa abis baca tinggalin jejaknya ya, like.. comment, vote.


Neng Ay, kemana hatimu akan berlabuh**



Ke bang Ilan?



Atau kak Rey?


__ADS_1


__ADS_2