
Berita panas tentang cinta segitiga Chalissa-Akhtar-Rain tersebar cepat di media sosial. Bukan itu saja, nama perusahaan pun ikut terseret sebagai imbasnya. Tombak yang kesal perusahaannya kalah bersaing tender dengan Rakan Putra Group menggunakan momen ini untuk menjatuhkan nama baik perusahaan Regan tersebut. Dia membetulkan ketika wartawan menanyakan perihal informasi orang tua kandung Akhtar didapat dari Regan.
Bola panas terus bergulir tak tentu arah, setiap lima belas menit sekali Chalissa mengunggah berita terbaru yang menyudutkan Rain. Bahkan dia telah melakukan beberapa wawancara dengan pencari berita secara live. Jayden bekerja keras menghapus setiap berita yang keluar tapi sepertinya Chalissa mempekerjakan banyak orang untuk mengunggah berita yang sengaja dibuatnya hingga pria blasteran itu cukup keteteran.
“Jay..”
Jayden menghentikan aktivitasnya ketika mendengar suara sang ayah. Bimo masuk ke kamarnya lalu duduk di sisi sang anak.
“Kamu masih hapusin video yang Lissa unggah?”
“Iya pa. Tuh cewek bener-bener ya nyebelin abis.”
“Udah kamu ngga usah urusin itu. Yang penting sekarang kamu cari bukti kongkrit buat menyangkal semua tuduhan Lissa. Ini papa sudah dapatkan bukti soal keterlibatan Tombak. Ini bisa dipakai untuk menyangkal semua isu buruk soal perusahaan papa Rain.”
“Makasih pa. Tapi kenapa ngga kalian aja yang bongkar?”
“Pak Irzal ngelarang kita ikut campur. Dia cuma minta dicarikan bukti yang kongkrit dan berikan pada pak Regan dan pak Nino untuk konferensi pers besok.”
“Ayah Irzal emang the best deh, diam-diam menghanyutkan.”
“Oh iya soal Jordy kamu udah ketemu?”
“Belum pa, tuh orang kaya belut susah banget ditangkepnya.”
“Gampang, cari di mana ada party, ladies and sex di situ dia pasti berada.”
“Wah bener juga. Makasih lo pa.”
“Makasihnya nanti kalau kamu udah bawa calon mantu buat papa.”
“Dih...”
Bimo mengusak puncak kepala anaknya kemudian meninggalkannya kembali di kamarnya yang penuh dengan peralatan multi media.
Sementara itu di kediaman Regan, Nino tengah berkunjung untuk mematangkan rencana konferensi pers besok. Tombak yang melancarkan balasan rupa-rupanya mulai mendekati satu per satu calon investor yang akan menggarap proyek bersama Rakan Putra Group dan Traum Design, hingga ada beberapa yang terhasut dan mengundurkan diri.
“Jadi gimana mas? Ada kabar dari Bayu atau Ridho?”
“Ada dua calon investor yang menarik diri dan setelah diselidiki itu perbuatan Tombak.”
“Itu orang udah kaya tikus aja, kasak-kusuk sana-sini,” geram Nino.
“Pa, besok aku mau ikut konferensi pers dengan kalian,” ucap Rain begitu bergabung dengan keduanya.
“Ngga usah, kamu diam aja di rumah. Biar papa dan papa Nino yang atasi ini semua.”
__ADS_1
“Ngga bisa pa, Rain pokoknya mau ikut. Masalah ini awalnya karena masalah aku dan mas Akhtar. Jadi biar aku ikut membereskannya pa.”
Nino hanya mengangkat bahunya saja. Dia cukup paham menantunya ini anak yang keras kepala. Regan menghela nafas panjang seraya menyandarkan punggungnya ke sofa.
“Sekarang jawab dengan jujur. Apa benar setelah menikah Akhtar masih bertemu dengan Lissa?”
Bukan hanya Rain, Nino pun cukup kaget mendengar pertanyaan sang besan. Dengan hati cemas dia melihat ke arah menantunya.
“Iya pa, tapi mas Akhtar pergi atas seijin Rain kok.”
“Ya ampun Rain. Apa sih yang ada di otak kamu? Kamu sadar sudah memberikan celah pada suami kamu untuk berselingkuh?”
“Tapi mereka ngga ngapa-ngapain kok cuma makan aja.”
“Cuma makan tapi setiap hari iya? Jadi setelah menikah Akhtar lebih sering makan bersama Lissa dari pada bersamamu begitu?”
“Kenapa sih papa selalu nyalahin mas Akhtar? Apa papa ngga lihat bagaimana mas Akhtar sekarang? Dia udah berubah pa, waktu itu dia terpaksa menemui Lissa karena Lissa terus mengancam bunuh diri dengan mogok makan. Aku ngga punya pilihan lain selain mengijinkannya pa.”
“Lalu besok kalau Lissa mengancam bunuh diri kalau tidak dinikahi Akhtar kamu juga mengijinkannya untuk menikahi Lissa?”
“Pa... aku kecewa sama papa.”
Rain berlari naik ke kamarnya. Regan mengusap wajahnya kasar. Hatinya sakit terus saja bertengkar dengan sang anak karena permasalahan yang sama.
“Maafkan aku No. Kamu juga ayah dari seorang anak gadis, kamu pasti paham bagaimana perasaanku. Putriku yang kurawat sejak kecil, yang kusayang dan kulindungi dengan segenap nyawaku, mana bisa aku melihatnya menangis. Jujur aku masih belum bisa mempercayai Akhtar sepenuhnya.”
“Aku mengerti mas. Awal mula kesalahan ada di anakku dan aku benar-benar minta maaf. Tapi aku mohon mas maulah membuka hati sedikit untuk Akhtar. Jika dia sudah mencintai seorang wanita, dia akan melakukannya dengan sungguh-sungguh.”
“Mudah-mudahan saja No.”
Mereka meneruskan pembahasan untuk konferensi pers. Besok Ridho dipastikan ikut bergabung mewakili perusahaan. Setelah tak ada lagi yang perlu dibahas, Nino pun pamit pulang. Regan sendiri memutuskan untuk menemui Rain di kamarnya. Gerakan tangan Regan hendak mengetuk pintu kamar terhenti ketika mendengar anaknya sedang berbicara di telepon.
“Kamu habis bertengkar lagi dengan papa?”
“Aku kesel mas, papa selalu aja nyalahin mas. Kenapa papa ngga bisa melihat mas yang sekarang. Kenapa papa sekarang keras kepala banget.”
“Karena dia papamu dan sangat menyayangimu Rain. Mas sadar sudah melakukan kesalahan hingga akhirnya papa bersikap seperti itu pada mas. Mas akan terima dan menunggu sampai papa benar-benar bisa menerima mas. Tapi kamu ngga boleh bersikap seperti itu pada papa sayang. Minta maaflah sebelum kamu tidur.”
“Tapi mas..”
“Rain, apa kamu tega menjerumuskan suami kamu ke dalam neraka karena durhaka pada orang tua?”
“Ngga mas,” Rain menggelengkan kepalanya.
“Kalau begitu sekarang kamu temui papa dan minta maaf padanya. Mas tutup dulu ya, assalamu’alaikum.”
__ADS_1
“Waalaikumsalam.”
Rain mengakhiri panggilannya. Setelah berbicara dengan suaminya, hatinya sedikit menyesal telah bersikap kasar pada Regan. Dia beranjak dari ranjang lalu keluar kamar. Namun Rain terkejut mendapati Regan tengah berdiri menyandar di samping kamarnya.
“Papa.”
“Kamu mau kemana nak? Tadinya papa mau berbicara denganmu tapi sepertinya kamu sedang serius berbicara dengan seseorang. Apa itu Akhtar?”
“Iya pa.”
“Sekarang papa boleh bicara?”
Rain mengangguk lalu kembali ke kamarnya diikuti oleh Regan. Rain duduk di sisi ranjang. Saat Regan hendak menarik kursi, Rain menahannya dan memintanya duduk di sampingnya, Regan pun menuruti.
“Rain...”
“Pa.. maafin Rain,” Rain memeluk Regan dari samping.
“Maafin Rain pa. Papa pasti sedih gara-gara sikap Rain tadi. Rain tahu papa seperti itu karena sayang sama Rain. Rain juga sayang sama papa dan Rain mau papa juga sayang sama mas Akhtar seperti sayang ke Rain dan Rey.”
“Maafkan papa nak. Papa hanya takut Akhtar akan menyakitimu lagi. Papa ngga mau anak papa yang sangat berharga ini bersedih karena dia,” Regan mengusap lembut punggung anaknya.
“Tapi sekarang mas Akhtar juga anak papa.”
“Iya nak, maafkan papa. Papa akan berusaha mempercayai Akhtar, kalau dia akan membuatmu bahagia.”
“Aku bahagia pa, sangat bahagia. Kalau papa mau menerima mas Akhtar maka kebahagiaanku pasti akan bertambah.”
Rain mengurai pelukannya lalu melihat wajah sang papa. Gurat-gurat halus sudah memenuhi hampir seluruh wajahnya menandakan usianya yang sudah tak lagi muda. Wajah teduhnya senantiasa dapat menenangkan hatinya.
“Apa Akhtar tahu masalah Lissa?”
“Ngga pa. Aku sengaja ngga bilang takut ganggu kerjaannya. Aku juga udah minta Jayden blokir ponselnya supaya berita soal Lissa atau soal perusahaan ngga masuk ke hpnya.”
“Hmm.. sekarang tidurlah, besok kamu mau ikut kan?”
“Iya pa.”
“Kalau begitu kamu tidur sekarang.”
Regan bangun dari duduknya kemudian membantu Rain untuk berbaring. Diselimuti tubuh putrinya hingga sebatas leher lalu mengecup keningnya sekilas. Setelah mematikan lampu, Regan keluar dari kamar Rain.
🍁🍁🍁
Semoga di hari ini kita mendapatkan keberkahan, Jum'at berkah, semoga lancar rejekinya, sehat jasmaninya dan bahagia selalu. Jangan lupa buat mamake bahagia juga dengan like, comment n vote kalian😉
__ADS_1