Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 3 : YOU ARE MY DESTINY Otak Oleng Elang


__ADS_3

Elang menghempaskan tubuhnya di sofa begitu sampai di kediaman Dimas. Dia baru saja kembali dari butik milik Alea untuk membeli gamis, menggantikan milik Firly tempo hari. Dengan senang hati Firly menerimanya karena memang dia belum membeli yang baru untuk Sisil.


“Eh, kemarin tuh baju buat siapa El?”


“Kepo. Ibu hamil dilarang kepo.”


“Aturan dari mana tuh, ngarang aja lo.”


“Eh kepo itu bisa menyebabkan panu, kadas, kurap dan rorombeheun. Emang lo kaga malu pas lahiran nanti dokter ama bidan lihat badan lo penuh panu dan kawan-kawannya.”


“Mulut lo tuh ya El emang kaga ada enak-enaknya. Perlu gue cocolin sambel setan kayanya.”


“Udah.. udah.. kalian tuh kalau ketemu udah kaya kucing sama anjing aja, ngga ada akurnya.”


Firly hanya mencebikkan bibirnya. Elang menyandarkan punggungnya ke senderan sofa, tangannya mengganti-ganti saluran televisi yang tayangannya dirasa membosankan.


“El, makasih ya kemarin kamu sempetin ketemu sama calon investor buat restoran.”


“Iya om, kebeneran mereka ada di tempat yang sama. Proses pembangunannya nanti setelah winter katanya.”


“Iya.”


“Ily... sssttt.. Lo kaga tidur siang gitu?”


“Napa lo? Ngusir gue?”


“Iya, ngungsi sana. Ada yang mau gue obrolin sama om Dimas, penting,” Elang mengibas-ngibaskan tangannya.


“Wah tamu ngga ada akhlak, ngusir tuan rumah.”


“Sayang, itu kayanya Gemma udah bangun deh.”


Dimas mencoba mengalihkan perhatian Firly. Kalau tidak begitu bisa dipastikan pertengakaran antara Tom and Jerry akan terus berlangsung. Bisa pecah kepalanya. Firly menajamkan telinganya, benar saja terdengar suara Gemma memanggilnya. Dengan gerakan pelan Firly bangun lalu menuju kamar.


“Kamu mau ngomong apa El?”


“Hmm.. dulu om sama tante Sissy pacarannya kaya gimana?”


“Om sama tante Sissy ngga pacaran. Kamu tahu sendiri kan ayah kamu kaya gimana. Kita jalani aja apa adanya. Masing-masing dari kita tahu kalau saling suka dan mau serius.”


“Om suka jalan atau ngelakuin apa sama tante Sissy?”


“Kita jarang pergi berdua. Paling sering bertiga sama tante kamu. Nonton, makan di luar atau olahraga bareng. Gitu aja sih.”


“Pernah kontak fisik ngga om?”


“Hmm... paling cuma pegangan tangan aja, rangkul atau meluk. Lebih dari itu bisa digorok om sama ayah kamu.”


Elang terkekeh, ayahnya memang sangat ketat dalam urusan dengan lawan jenis. Bahkan Farel dan Ayunda pun tidak boleh sesukanya melakukan kontak fisik. Walaupun secara hukum Farel adalah kakak Ayunda namun di antara mereka tidak ada ikatan darah.


“Terus waktu sama Ily gimana? Sebelum kalian nikah.”


“Ehem.. kalau dengan Ily beda lagi ceritanya. Om adalah duda yang sudah tujuh tahun tidak merasakan belaian wanita. Berada dekat Ily itu merupakan godaan terberat. Lelaki yang sudah pernah menikah akan lebih sulit menahan godaan, karena dia sudah pernah merasakan bersentuhan, berhubungan intim. Begitu juga om waktu itu. Jujur, om ngga bisa menahan diri.”


“Om tidur bareng sama Ily sebelum menikah?”


Dengan kesal Dimas mengeplak kepala ponakannya yang tidak memakai filter saat berbicara.


“Cuma ciuman El. Otak kamu kenapa jadi ngeres gini? Ayo jujur, kamu kenapa nanya-nanya soal ini? Pasti kamu lagi deket kan sama perempuan? Baju yang kemarin pasti buat pacar kamu kan?”


“Pacar dari mana, cuma teman om.”


“Iya, teman tapi mesra.”


“Mesra dari mana, pegang tangan aja ngga berani. Bisa dimutilasi aku sama ayah.”


Dimas terbahak mendengarnya. Di antara para keponakannya, Elang terbilang yang paling awam dan polos urusan wanita. Hanya Rain dan Firly yang dekat dengannya.


“Aku penasaran gimana rasanya megang cewe.”


“Nikah El, pacaran setelah menikah itu enak. Kita bebas ngelakuin apa aja tanpa takut dikejar dosa. Jangan niru om, juga ayah kamu.”


“Emang ayah pernah? Sama siapa?”


“Sama bunda kamu lah.”


“Loh bukannya mereka dijodohin?”


“Iya. Tapi kamu tahu kan kalau mereka sempet pisah. Nah saat proses rujuk itu godaan terbesar buat ayah kamu. Kalau mau lebih jelas tanya sendiri sama ayah kamu,” Dimas menaik turunkan alisnya.


“Mana berani om.”


“Hahaha...”


Dimas kembali tergelak, tangannya mengusak kepala Elang. Dipandanginya wajah keponakannya ini, dibalik sikapnya yang dingin, ternyata dia bisa terlihat imut jika menyangkut urusan wanita. Elang menggaruk kepalanya yang tak gatal. Semenjak bertemu dengan Azkia dia kerap melakukan hal di luar nalar, berpikir yang tidak semestinya hingga membuat dirinya pusing dan bertanya-tanya.


🍁🍁🍁


Sepulang dari rumah Dimas, Elang tak langsung menuju rumahnya. Dia memutuskan mampir dulu ke mini market. Azkia terlihat sudah menunggunya di meja depan. Elang turun dari mobil lalu menghampirinya.


“Udah lama nunggu?”


“Ngga kok mas.”


“Mau pulang sekarang?”


Azkia hanya menjawab dengan anggukan. Baru saja mereka akan pergi, Syifa datang lalu mendekat ke arah mereka. Pandangan Azkia dan Syifa bertemu, untuk sesaat mereka saling menatap. Azkia melemparkan senyuman ke arah Syifa yang hanya dibalas senyum samar olehnya.


“El..”


“Gimana kabar adikmu? Maaf aku ngga sempat jenguk.”


“Alhamdulillah udah boleh pulang. Kebetulan nih ketemu di sini aku mau minta tolong.”


“Soal?”

__ADS_1


“Aku diminta papa ngelola salah satu restorannya. Kamu kan pengalaman tuh ngurus restoran. Sharing dong ke aku gimana caranya.”


“Ok bentar.”


Elang berjalan sedikit menjauh lalu mengambil ponselnya. Setelah berbicara sebentar, dia kembali ke tempat semula.


“Az, kamu pesen roti bakar dulu.”


“Rasa apa mas?”


“Terserah, ibu sama Hanin sukanya apa.”


“Buat dibawa ke rumah?”


Elang mengangguk. Syifa memperhatikan interaksi Elang dan Azkia. Dadanya bergemuruh melihat keakraban mereka. Terlebih Elang begitu perhatian pada gadis itu. Elang mempersilahkan Syifa duduk, lalu menyusul ikut duduk. Elang mulai membahas hal-hal yang berkaitan dengan manajemen restoran.


Lima belas menit kemudian Azkia kembali dengan membawa sekotak roti bakar. Saat yang bersamaan nampak Farel turun dari motor kemudian berjalan menuju Elang. Dia menarik kursi di dekat Syifa.


“Fa, kamu terusin aja ngobrolnya sama bang Farel. Aku harus pergi dulu.”


Kekecewaan tergambar di wajah Syifa. Matanya menyiratkan kemarahan ketika melihat ke arah Azkia. Elang yang tak pernah peka dan peduli dengan perasaan perempuan, melenggang pergi dengan tenangnya. Netra Syifa terus menatap Elang sampai mobil yang dikendarainya menghilang. Farel yang tahu perasaan Syifa pada adiknya hanya bisa menghela nafas saja.


Rintik hujan mulai membasahi kaca mobil. Elang menekan tombol wiper untuk menghapus titik-titik air di kaca depan mobilnya. Beberapa kali Azkia melirik pada Elang. Mulutnya sudah gatal ingin bertanya soal Syifa.


“Mba Syifa cantik ya mas,” Azkia membuka percakapan.


“Hmm..”


“Udah cantik, pinter, baik lagi. Pasti banyak yang suka sama mba Syifa.”


“Mungkin.”


“Termasuk mas El?”


Elang menoleh sekilas pada Azkia lalu kembali melayangkan pandangannya ke depan. Tak ada jawaban dari mulutnya, membuat Azkia semakin penasaran.


“Kayanya mba Syifa suka deh sama mas El.”


“Sok tau.”


“Aku tuh perempuan mas. Dari cara dia melihat mas aku tahu dia punya perasaan sama mas. Emang mas ngga tertarik apa sama mba Syifa?”


“Kamu ngga ada topik pembicaraan yang lebih berbobot gitu? Ngga penting banget pertanyaannya.”


Azkia mencebikkan bibirnya. Rasa penasarannya tidak bisa terpenuhi karena Elang memilih mengakhiri topik tersebut. Tak terasa mereka telah sampai di tempat tujuan.


“Mau mampir dulu mas?”


“Ngga, aku langsung ya. Salam buat ibu sama Hanin.”


“Iya, makasih mas.”


Azkia turun lalu berlari masuk ke gang karena hujan semakin deras saja. Elang segera menjalankan mobilnya. Dia langsung menuju rumah. Urusan Syifa sudah dipercayakan pada Farel.


Suasana rumah tampak sepi ketika Elang melangkahkan kakinya masuk. Hanya ada Irzal yang sedang duduk di ruang tengah seraya menikmati secangkir teh. Elang menghampiri sang ayah. Setelah mencium punggung tangannya, dia mendaratkan bokongnya di sisi Irzal.


“Di kamar, katanya lagi kurang enak badan.”


“Ayah tumben di sini ngga nemenin bunda.”


“Bundamu udah tidur.”


Irzal menyesap tehnya lalu meletakkannya kembali di meja. Melihat ayahnya yang terlihat santai, Elang bermaksud mengajaknya berbicara. Dia cukup penasaran dengan apa yang dikatakan Dimas tadi.


“Hmm.. yah, dulu waktu ayah sama bunda mau rujuk, gimana pendekatannya? Apa langsung rujuk gitu?”


“Ya ngga. Butuh waktu buat ayah ngeyakinin bunda kamu.”


“Apa aja yang ayah lakuin?”


“Bicara dari hati ke hati. Meyakinkan dengan sikap dan perbuatan.”


“Kata om Dimas, laki-laki yang sudah pernah menikah lebih sulit untuk menahan diri. Apa ayah dulu ngerasain hal seperti itu waktu proses rujuk dengan bunda?”


Irzal terdiam sebentar, mencoba mencerna pertanyaan Elang. Dia tersenyum tipis mengetahui kalau anaknya ingin tahu lebih banyak tentang hubungan antara pria dan wanita.


“Kenapa kamu ingin tahu?”


“Hmm...”


Elang bingung harus menjawab apa. Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Irzal merangkul bahu anaknya.


“Maksud kamu apa ayah ada kontak fisik sama bundamu begitu?”


“Hmm..”


Irzal tergelak melihat ekspresi anaknya. Diambilnya kembali cangkir berisi teh kemudian diteguknya sampai tak bersisa. Irzal meletakkan cangkir di atas meja, matanya masih terus menatap mata Elang.


“Ayo kita bicara, sebagai sesama lelaki bukan sebagai ayah dan anak. Apa yang mau kamu tanyakan?”


“Akhir-akhir ini aku cuma bingung aja sama perasaanku yah. Setiap dekat seseorang kaya ada dorongan dalam diriku untuk terus bersamanya, bahkan sempat tergoda untuk menyentuh tangannya, memeluknya,” suara Elang semakin pelan diakhir kalimat. Dia masih takut dengan reaksi sang ayah. Tapi Irzal terlihat tenang-tenang saja.


“Di usiamu yang sekarang, itu hal yang wajar. Ditambah perasaan yang kamu miliki membuat libidomu semakin tinggi. Tapi kamu bisa mengalihkannya dengan melakukan hal-hal lain, seperti olahraga atau melakukan kegiatan yang memicu adrenalin. Bekerja juga bisa membuatmu teralihkan. Kamu belum pernah menikah jadi untuk menahannya tidak akan sesulit orang yang pernah menikah.”


“Apa ayah pernah ngalamin yang aku rasain?”


“Sebelum menikah ngga, karena saat itu ayah lebih banyak menghabiskan waktu untuk kuliah dan melakukan hal lain, termasuk bekerja. Ayah jarang berinteraksi dengan wanita. Tapi saat berpisah dengan bundamu dan bertemu kembali dengannya itu adalah saat terberat. Terlebih bundamu masih membutuhkan waktu untuk rujuk, jadi yaa.. ayah tidak bisa menahan diri waktu itu.”


“Wah.. ayah nakal juga. Sebelum nikah lagi sama bunda ayah udah ngapain aja? Ciuman gitu?”


PLETAK


Sebuah sentilan mendarat di kening Elang. Pemuda itu mengusap keningnya yang terlihat merah karena sentilan Irzal lumayan keras.


“Ayah cuma meluk sama cium kening aja, dasar otak kamu ngeres.”

__ADS_1


“Ternyata ayah lebih kuat dari om Dimas,” gumam Elang pelan.


“Apa?”


“Ngga. Berarti aku boleh dong pegang tangan doang yah.”


Irzal hendak melayangkan lagi sentilannya namun secepat kilat Elang mengelak. Diambilnya bantal sofa sebagai tameng.


“El dengar. Menyentuh wanita itu seperti candu. Sekali kita mencoba maka tidak bisa berhenti. Awalnya pegangan tangan, lanjut rangkul, peluk, cium kening, pipi, bibir, setelah itu apa? Kamu bisa menjawabnya sendiri. Jadi, kalau kamu sudah punya calon, katakan saja, ayah akan melamarnya untukmu.”


“Aku juga belum tahu yah, apa yang sebenarnya kurasakan itu. Apa cinta atau simpati semata. Lagi pula aku juga ngga tahu perasaan dia ke aku gimana.”


“Apa perempuan itu dekat dengan lelaki lain juga?”


“Hmm.. senior di kampusnya.”


“Dengan siapa dia lebih banyak menghabiskan waktunya? Denganmu atau dengannya?”


“Sepertinya bersamaku yah.”


“Apa dia mengajakmu bertemu keluarganya?”


“Iya. Aku sudah berkenalan dengan ibunya. Kalau dengan adiknya belum pernah bertemu.”


“Yakinkan dirimu lalu kejar dia. Beritahu ayah kalau kamu sudah siap melamarnya.”


Irzal menepuk bahu Elang lalu beranjak menuju kamar. Elang terdiam merenungi kata-kata ayahnya. Tak lama dia pun berdiri, diambilnya paper bag yang tersimpan di sofa lalu naik ke atas. Elang berdiri di depan kamar Ayunda kemudian mengetuknya. Pintu kamar terbuka, wajah Ayunda lengkap dengan rambut acak-acakan muncul dari baliknya.


“Belum mandi sore ya.”


“Ember.”


“Dih anak gadis jorok banget. Mandi sana, pake baju ini sama hijabnya sekalian terus ke kamar mas ya.”


“Mas beliin baju buat Yunda?”


“Hmm.. buruan mandi sana!”


Ayunda membuka paper bag di tangannya. Sebuah gamis berwarna fanta pink lengkap dengan hijabnya ada di dalamnya. Ayunda bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Walaupun bingung kenapa kakaknya itu tiba-tiba membelikannya gamis tapi tetap saja gadis itu senang. Siapa yang tidak senang dibelikan pakaian dengan kualitas premium pula.


Setengah jam berlalu, Ayunda telah siap. Wajahnya terlihat cantik walau hanya dipoles bedak dan lipgloss saja. Hijab yang dikenakannya semakin menambah aura kecantikannya. Ayunda keluar dari kamar bertepatan dengan kedatangan Farel. Pemuda itu sedikit terkejut melihat penampilan sang adik.


“Alhamdulillah adik abang udah dapet hidayah.”


“Ish abang. Ini baju dibeliin mas El, tadi aku disuruh pake terus setor muka ke kamarnya.”


“Tumben.”


“Makanya aku juga heran.”


Ayunda mengetuk pintu kamar. setelah mendengar suara Elang menyuruhnya masuk, Ayunda membuka pintu. Elang yang baru selesai berpakaian berbalik badan ketika pintu terbuka. Sejenak dia terpana melihat penampilan adiknya. Dia menggerakkan jarinya meminta Ayunda mendekat lalu memutar jarinya. Ayunda menurut saja, dia memutar tubuhnya. Farel yang penasaran memperhatikan dari dekat pintu.


Elang terus menatap Ayunda dari atas sampai bawah lalu tersenyum ke arahnya. Entah mengapa yang ada dalam pandangannya saat ini adalah Azkia yang tengah tersenyum padanya.


“Cantik ngga mas?”


“Cantik... banget.”


“So pasti Yunda gituloh.”


“Mas boleh peluk?”


Ayunda merentangkan tangannya, Elang mendekat lalu memeluk adiknya itu. Elang memeluk Ayunda cukup lama, matanya terpejam membayangkan wanita yang dipeluknya saat ini adalah Azkia. Kesadaran Elang kembali, dilepaskan pelukannya itu.


“Cantik dek, kapan kamu mau berhijab?”


“Asal mas El beliin bajunya buat Yunda.”


“Boleh, kalau perlu mas beliin satu lemari penuh buat kamu.”


“Hmm.. nanti deh. Aku masih punya waktu setahun lagi hehehe...”


“Maksudnya?”


“Ayah ngasih toleransi waktu setahun lagi mas. Kalau ngga..”


“Kalau ngga apa?”


“Aku bakalan digundulin ayah.”


“Hahaha... sini mas gundulin sekarang.”


“Enak aja ngga mau.”


Ayunda langsung ngacir keluar kamar. Farel yang sedari tadi hanya diam di depan pintu, kini masuk menghampiri Elang.


“Udah pulang lagi bang. Udah beres privatnya sama Syifa?”


“Udah cuma bentar. Dia tuh mau privatnya sama elo.”


“Gue bukan guru privat.”


“Eh El, tadi lo meluk Yunda mesra banget. Lo lagi bayangin siapa pas meluk Yunda?”


Wajah Elang memerah mendengarnya. Tanpa menjawab, Elang mendorong tubuh Farel keluar dari kamar seraya menendang bokongnya. Farel hanya terbahak melihat adiknya yang salah tingkah. Elang segera menutup pintu kamarnya, tak mempedulikan teriakan Farel yang terus bertanya.


🍁🍁🍁


**Ya ampun mas El imut banget sih. Pasti pas lagi meluk Yunda, mas El bayangin mamake ya kan.. ya kan..💃💃💃


Udah dua ribu kata lebih nih, jadi jangan pelit buat ninggalin jejak ya gaaaeesss..


Like..


Comment..

__ADS_1


Vote**..


__ADS_2