Four Seasons Of Love

Four Seasons Of Love
SEASON 2 : BITTER SWEET ROMANCE Berpisah


__ADS_3

Kandungan Rain saat ini sudah memasuki usia dua belas minggu. Hubungan keduanya sendiri masih belum ada kemajuan berarti. Rain masih belum mau tidur satu kamar dengan Akhtar. Terkadang Akhtar menginap di rumah Nino karena Rain tidak mau melihat wajahnya.


Akhtar menerima semua penolakan sang istri dengan sabar. Tak pernah sekali pun dia membantah atau marah walau Rain bersikap kasar padanya. Tekadnya sudah bulat untuk mempertahankan pernikahan mereka. Dia yakin suatu saat nanti Rain akan luluh.


Hari ini Akhtar sengaja pulang cepat demi membelikan istrinya bubur kacang hijau. Sarah mengatakan kalau Rain sedang ingin makan bubur tersebut. Setelah memindahkan bubur ke dalam mangkok, Akhtar bergegas menuju lantai atas. Terlihat Rain sedang duduk berbincang dengan Reyhan di balkon.


“Sayang, ini mas bawakan bubur kacang untukmu.”


Rain tak menjawab, malah melihat Akhtar dengan pandangan malas. Akhtar baru akan berbicara lagi ketika terdengar suara Gara dari arah belakangnya.


“Bumil... ini pesenan bubur kacang lo.”


Tanpa mempedulikan Akhtar, Gara begitu saja melewatinya lalu berjongkok di depan Rain. Dengan senang Rain menerima bubur kacang pemberian Gara. Hati Akhtar mencelos melihatnya. Reyhan melirik ke arah kakak iparnya. Sebenarnya hatinya tak tega melihat sikap Rain padanya. Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa karena tahu betapa keras kepalanya sang kakak.


Rain memakan bubur pemberian Gara dengan lahap. Senyum Gara mengembang melihat wanita yang dicintainya makan dengan lahap bubur pemberiannya. Dalam hatinya menertawakan Akhtar yang hanya diam terpaku melihat itu semua.


“Gue balik ya Rain. Itu bubur abisin. Besok-besok kalau lo mau sesuatu tinggal bilang aja sama gue, ok. Gue bakal jadi sahabat siaga buat elo.”


Gara melirik ke arah Akhtar yang tampak berusaha menahan emosinya. Sengaja Gara mengusak puncak kepala Rain sebelum beranjak pergi. Rain melemparkan senyuman semanis madu pada sahabatnya itu. Namun wajahnya berubah masam saat bersitatap dengan sang suami.


“Mas, jangan di situ, aku mual lihat mas.”


“Dihabiskan buburnya terus jangan lupa susu hamilnya sayang.”


Akhtar meninggalkan Rain yang masih menikmati bubur kacang hijau. Fisiknya sudah cukup lelah hari ini. Mendapat perlakuan tak mengenakkan dari sang istri tentu saja membuatnya kesal. Oleh karenanya dia memilih untuk menyingkir.


“Kak, kok lo tega banget sih sama bang Akhtar. Jangan gitu lah, biar gimana juga dia masih suami elo.”


“Biarin aja. Dia harus ngerasain apa yang gue rasain dulu.”


“Mau sampai kapan lo begini? Udah dua bulan loh kak. Lo ngga lihat apa pengorbanan bang Akhtar selama ini. Jangan jadi istri durhaka lo.”


“Cih, dia duluan yang jadi suami durhaka. Lagian lama-lama gue ilfil juga sama dia.”

__ADS_1


“Astaghfirullah, istighfar kak. Gue tau lo masih marah, kesel sama bang Akhtar. Gue juga marah waktu dia nuduh anak yang lo kandung bukan anaknya. Tapi itu karena salah paham kak. Kasih dia kesempatan buat nunjukkin kalau dia menyesal dan merubah sikapnya. Gue juga cowok kak, gue bisa ngerasain apa yang dia rasain sekarang. Lo ngga lihat tadi, gimana reaksinya ngelihat lo lebih milih bubur dari Gara? Jangan terlalu lama dan hanyut dengan kemarahan elo kak. Gue cuma ngga mau nanti lo nyesel. Kadang kita ngga pernah tahu gimana berharganya seseorang sebelum kita kehilangan orang itu. Jangan sampai lo ngalamin itu.”


Reyhan bangun dari duduknya, sebelum pergi, dia menepuk pundak sang kakak pelan. Rain terdiam merenungi semua ucapan Reyhan. Dia cukup tahu bagaimana pengorbanan Akhtar akhir-akhir ini, namun tetap saja itu masih belum bisa mengobati rasa sakit hatinya pada pria yang begitu dicintainya. Rasanya dia masih ingin Akhtar merasakan penderitaan lebih lama lagi.


🍁🍁🍁


Menjelang malam Akhtar masuk ke kamar Rain untuk mengambil pakaian ganti. Dia sengaja tak memindahkan baju-bajunya agar punya alasan untuk masuk dan bertemu dengan sang istri. Sering Rain memindahkan pakaiannya ke lemari di kamar tamu, namun Akhtar kembali memindahkannya.


Rain baru saja keluar dari kamar mandi ketika Akhtar sedang mengambil pakaian dari dalam lemari. Akhtar terlihat mengacak-acak isi lemari dan itu membuat Rain kesal karena baru saja dia merapihkannya.


“Mas, kalau ambil baju pelan-pelan dong jangan diacak-acak gitu. Lagian nyari baju apa sih? Makanya itu baju ngga usah dimasukin ke lemari ini lagi biar mas ngga bolak-balik masuk ke kamar.”


“Emang ada masalah kalau mas masuk ke kamar ini? Ini kan kamar kamu, kamu itu istri mas. Jadi salahnya dimana?”


“Aku eneg lihat mas bolak-balik mulu. Mending mas tinggal di rumah papa Nino aja gih atau balik ke apartemen. Ngga ada gunanya juga mas di sini, yang ada bikin aku kesel terus. Mood aku langsung jelek kalau lihat mas.”


Akhtar menghentikan kegiatannya lalu berbalik badan. Kakinya melangkah mendekati sang istri yang berdiri tak jauh darinya. Refleks Rain berjalan mundur, mencoba menghindari Akhtar.


“Mas mau ngapain? Jangan deket-deket, cepet ambil bajunya terus keluar, aku mau istirahat. Awas kalau mas berani macem-macem...”


“Mas mau ngapain? Aku serius mas, aku ngga mau deket-deket sama kamu! Kalau kamu ngga mau keluar juga aku bakalan teriak nih.”


Akhtar menghentikan langkahnya di depan Rain. Tubuh keduanya hanya berjarak beberapa inci saja. Dada Rain berdebar, ini kali pertama mereka berada dalam jarak yang begitu dekat pasca pertengkaran. Akhtar semakin mencondongkan tubuhnya ke arah Rain. Tangan Rain menahan dada Akhtar untuk memberi jarak.


“Mas pikir dengan melakukan ini aku akan berubah pikiran? Justru dengan mas bersikap seperti ini makin membulatkan tekadku untuk berpisah darimu. Di hati ini sudah tidak ada ruang lagi untukmu.”


“Oh ya? Ayo kita buktikan.”


Akhtar menarik tengkuk Rain lalu membenamkan bibirnya di bibir sang istri. Mata Rain membulat, tak menyangkan Akhtar akan menciumnya. Bibir Akhtar mulai bergerak ******* bibir ranum istrinya. Tak ada balasan dari Rain, namun Akhtar tak menyerah. Dia terus saja ******* dan memagut bibir itu, tangannya pun mulai bergerak menelusuri tubuh sang istri.


Tubuh Rain seperti tersengat aliran listrik ketika Akhtar menyentuh bulatan kenyalnya. Ciuman Akhtar pun semakin dalam, hingga akhirnya Rain terbawa suasana. Perlahan dikalungkan tangannya ke leher Akhtar, dia mulai membalas ciumannya. Cukup lama keduanya terhanyut dalam ciuman yang membara. Kerinduan akan sentuhan seketika menyergap keduanya.


Akhtar mulai menyusuri leher jenjang istrinya. Terdengar desahan dari bibir Rain. Untuk sesaat Rain menikmati semua sentuhan Akhtar, tapi kemudian kesadarannya kembali. Dengan cepat dia melepaskan diri dengan mendorong tubuh Akhtar.

__ADS_1


“Pergi mas... aku mau tidur.”


Rain melangkah melewati Akhtar yang hanya berdiri tanpa berusaha menahannya. Rain langsung naik ke atas kasur, menutupi tubuhnya dengan selimut lalu memejamkan matanya. Dadanya masih berdebar mengingat interaksinya barusan. Akhtar mengambil asal pakaiannya lalu berjalan keluar kamar. Dia memutuskan untuk pergi, memaksakan keinginannya takut membuat Rain semakin membencinya.


Baru saja Akhtar hendak memejamkan matanya ketika Jayden menghubunginya. Rasa kantuk Akhtar menguap ketika mendengar penuturan Jayden. Sahabatnya itu telah berhasil melacak keberadaan pria yang telah membantu Vanya. Dia kedapatan beberapa kali bertemu dengan Chalissa. Hati Akhtar mulai tak tenang, dia takut sesuatu yang buruk akan menimpa istrinya.


Malam berganti shubuh, namun sedetik pun Akhtar belum memejamkan matanya. Semalaman dia berpikir keras menerka-nerka apa yang dilakukan Chalissa dengan pria tersebut. Setelah dipikirkan masak-masak, Akhtar memutuskan untuk menemui Irzal. Dia bermaksud meminjam anak buah Irzal untuk menjaga sang istri. Selesai shalat shubuh, dia mulai bersiap.


Regan menatap kursi kosong di meja makan yang biasa ditempati Akhtar. Tak biasanya menantunya itu pergi tanpa sarapan bersama. Diliriknya Rain yang nampak tak peduli. Sarah yang juga penasaran dengan ketiadaan Akhtar, mencoba bertanya pada putrinya itu.


“Rain, suamimu mana? Tumben ngga sarapan bareng?”


“Ngga tau ma.”


“Sampai kapan kamu akan bersikap seperti ini nak?”


“Sampai rasa sakit ini menghilang. Aku masih belum puas menghukumnya pa.”


“Jangan terlalu lama berkubang dengan rasa marah dan bencimu Rain. Ingat anak dalam kandunganmu. Cepatlah berdamai dengannya.”


“Kita mungkin ngga akan kembali bersama lagi ma. Aku membiarkan dia di sini sampai anak ini lahir. Hatiku mantap untuk berpisah dengannya.”


“Rain! Pikirkan lagi nak. Menjadi seorang janda dengan seorang anak itu bukan hal mudah. Jangan ambil keputusan gegabah.”


“Benar Rain. Jangan mengambil keputusan dalam keadaan emosi,” sambung Regan.


“Aku udah pikirkan ini baik-baik ma. Maaf aku selalu menyusahkan kalian. Aku memaksakan diri menikah dengannya dan akhirnya harus seperti ini. Tapi aku ngga mau tersakiti lagi ma, pa. Cukup sampai di sini saja dia membuatku terluka.”


Rain bergegas pergi meninggalkan meja makan. Dia tak ingin mendengar lagi ucapan-ucapan kedua orang tuanya. Beberapa hari ini Rain memang sudah memantapkan diri untuk berpisah. Bahkan dia sudah berkonsultasi dengan pengacara yang khusus menangani percerain.


🍁🍁🍁


**Nah loh Rain beneran pengen cerai. Gimana gaessss? Mereka pisah atau tetap bersama? Kasih pendapat kalian ya di kolom komentar, kalau banyak yg komen, mamake bakal up lagi😁

__ADS_1


Jangan lupa sekarang hari Senin nih. Vote nya ya kalau kalian berkenan, juga like and comment nya jangan ketinggalan. Love you all, happy Monday😎**


__ADS_2